Feeds:
Pos
Komentar

Bismillah…

7 Agustus kemarin, masih kulihat teman-teman satu departemen dengan wajah yang stress dan panik. Karena batas pengumpulan berkas untuk sidang tanggal 16 Agustus dimajukan menjadi tanggal 7.  Aku yang sedang duduk di dekat ruang departemen, memperhatikan wajah mereka satu persatu. Ada yang bahkan tak menyapaku, padahal biasanya ia menyapaku, sambil menjinjing banyak berkas di tas jinjingnya. Temanku yang lain bahkan membawa setumpuk buku yang belum sempat ia fotocopy bagian yang dikutipnya. Semua orang tampak sibuk kecuali aku yang sedang menanti dosen untuk bimbingan saat itu. Aku terlihat santai, iya… santai… bahkan terlampau santai. Karena aku yakin, Allah ta’ala akan mengizinkan aku ikut sidang di bulan Agustus ini. Meski bukan ditanggal 16 Agustus bersama puluhan orang lainnya.

Ah, ya. Mungkin aku akan rindu saat-saat ini. Saat di mana aku menunggu dosen selama tiga jam dan ketika bertemu sang dosen menjawab, “besok saja ya, masih ada kegiatan.” Yang artinya aku menunggu dengan berujung kepada kesia-siaan karena tidak bimbingan. Mungkin juga aku akan kangen ketika dosen berkomentar agak miring pada hasil penelitianku. Ya, itu karena aku kurang memahami. Aku yang salah… padahal banyak referensi sudah dibaca dan mulai dipahami ternyata… pemahaman yang aku tuangkan pun tetaplah salah… MasyaAllah… perjuangan seorang pelajar itu… seperti ini…

Lelah menunggu… lelah dikomentari… lelah dengan revisi… Ah ya Allah.. rasanya ingin sekali berteriak mengeluh sekuat-kuatnya. Sekencang-kencangnya. Memang hanya Allah ta’ala yang paling mengerti kondisi hamba-Nya. Hanya Allah ta’ala yang mampu menerima segala tangis dan keluhan yang senantiasa hadir sambil berdoa mengharap pada-Nya.

Tau kah? Aku pribadi merasa… setiap kali dosen tersenyum ketika bimbingan, saat itulah aku juga turut bahagia. Meski ada coretan, meski ada sedikit kata-kata yang agak nyelekit itu tak mengapa. Karena senyuman itu mendukung diri ini untuk menjadi optimis pula. Jika sang dosen tak tersenyum. Biarlah diri ini yang tersenyum menanggapi. Sudah cukup banyak pula mungkin, pekerjaan yang beliau harus kerjakan, ditambah lagi beban melihat mahasiswanya yang cemberut. Tak enak juga lihat orang lain cemberut, ya?

Aku belajar dari seorang teman yang mungkin dia tak sadari, bahwa senyumnya telah menyelamatkan aku. Saat itu dia menyapaku, dia yang biasanya tidak pernah tersenyum pada siapa pun. Tiba-tiba tersenyum sambil menyapaku. Menanyakan bagaimana  kondisi diriku. Ia tersenyum. MasyaAllah… senyum terindah yang aku dapat lihat pada hari itu. Hingga aku mengucap syukur pada Allah ta’ala telah membuatku bahagia meski sekedar dari senyuman rekah seorang temanku itu… masyaAllah… masyaAllah… hingga saat itu aku ingin juga melakukan hal yang sama pada siapa pun ketika berjumpa… Rasulullah shallallahu alaihi wasalam memang benar, bahwa tersenyum kepada saudaramu adalah sedekah. Aku berbahagia dengan senyuman yang diberikan orang lain padaku.

InsyaAllah, 30 Agustus nanti aku akan di sidang. Sidang pendadaran. Iya, sidang skripsi. Skripsi ku adalah skripsi tertipis, haha… namun, yang aku harapkan, skripsi yang telah aku kerjakan adalah skripsi jujur apa adanya. Bukanlah sebuah manipulasi… Aku yakin, akan banyak komentar bermunculan terkait skripsiku ini… namun, hanya Allah ta’ala yang akan membantuku menjalaninya.

Senyum yang membahagiakan… aku ingin sekali, ketika aku tersenyum, orang lain pun ikut bersama tersenyum bahagia. Aku ingin sekali orang lain juga tersenyum kepada yang lain.

Terkadang hati selalu menduakan Allah ta’ala… padahal kunci kesuksesan bukan berada pada dosen pembimbing, bukan pula nilai yang tertera, bukan pula koneksi teman, bukan pula kepintaran… namun kesuksesan diraih karena Allah ta’ala… Ya… carilah keridhoan Allah din… gapailah… karena cita-cita terbesar seorang muslim adalah melihat wajah Allah ta’ala… melihat wajah penciptanya yang peduli kepadanya dan tak putus memberikan nikmat sampai ia mati. Allah ta’ala yang harus selalu kau ingat din… Allah ta’ala yang harusnya kau cari keridhoan-Nya…

Ya Allah… Ya Rabb… maafkan makhluk-Mu yang selalu lupa. Selalu banyak masalah dan dosa…  Ingatkanlah selalu diri ini Ya Rabb… akan senantiasa bersyukur, bersabar dan sholat…

Temanku yang akan merayakan kebahagiannya esok hari dengan acara wisuda. Semuanya aku harap berbahagia… Alhamdulillah… Allah mencatatkan jalan hidup manusia dengan sebaik-baiknya, sehingga kitalah yang perlu berprasangka baik pada apa yang Allah pilihkan… apa yang telah Allah ta’ala pilih…


3:13 pm
21 Agustus 2017
Di Kossan sendiri untuk terakhir kalinya(?)

Iklan

Kita yang Berjuang

Bismillah…

Judulnya sok asyik gitu ya hahaha 🙂 karena saya merasa asyik bisa nulis lagi di sini setelah lama tidak menanggapi challenge Nulis Random 2017. Awalnya semangat sih, tapi… akhirnya malah jadi kayak menikmati “libur” sementara ahhaha~

Kita yang berjuang. Kita? “Lo aja kali guwe enggak~” jadi inget dulu ada yang sering dijawab gitu kalau ada kata “Kita” yang terucap, kapan ya? SMP? SMA? lupa lah sayaa~ tapi rasanya jawaban itu kurang tepat jika dijawab oleh yang sama-sama mahasiswa akhir. Karena mahasiswa akhir lagi berjuang mengerjakan skripsi. Tersumak eeeh termasuk saya 🙂

Saya lagi berjuang niiih. Kamu juga kan?? iya kamu yang lagi baca tulisan iniih, kita sama-sama berjuang saat ini dan mencoba untuk mengalahkan rasa malas dan menunda itu.

Ah, saya baru sadar akhir-akhir ini kalau jadi deadliner itu ngga baik. Enak sih bisa santai di awal dan menunda-nunda, tapi di akhir capek banget. Eh saya deadliner bukan ya saat ini? kok kayak iya yaaa ngga koook X”3 tidaaaakkkk tidaaaaaaaaakkkkk *ngetik ini sambil geleng-geleng seriussssann* karena saya masihmengerjakan dengan penuh semangat saat iniii… godaan “nanti aja diiin” itu sering muncul, tapi seiring saya melihat teman yang juga sedang mengerjakan skripsweet dengan penuh semangat dan perjuangan mental baja tulang besi kaki kawat(?) saya jadi terinspirasi super pooolll. Apalagi kalau udah ada yang lulus sidang waaah waaaah waaahhhh semakin ingin cepat-cepat merasakan berdiri dihadapan dosen dan merasakan degdegan jelasin hasil penelitian yang mirip seperti nunggu hasil SNMPTN ahahhaha X”3 (akhir-akhir ini udah ngga pernah rasain degdegan pengumuman sih, jadi kangen LOL~)

Kamu! Iya kamu! yang lagi males yang lagi nunda! huh! Ingat! skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai kata Pak Anies Baswedan dan itu bener banget! Kalau saya sih melawan malas dan menunda itu dengan pergi dari kamar koss… ke perpus contohnya, jadi bisa lebih semangat gituuuh…. dan lagi kalau saya ke perpus adaaa ajaa yang nyapa, “eh adin!” :’3 terus patanya-tanya “udah sampai mana?” meski saya ngga pernah nanya itu, karena jujur, ngga enak nanyanya. Saya yang juga sering ditanya begitu, ngga enak jawabnya, khawatir yang nanya pace-nya masih jauh dari saya 😦 kalau saya mah sih it’s okay~ kalau denger temen udah jauh, karena kapasitas saya memang berbeda dengan doi, ya kann? saya mah sering nanya-nya, “target sidang kapan?” biar dia inget tuh kapan kudu mempersiapkan diri. Eitsss, memang sih ada beberapa orang yang terkesan “basa-basi” kalau nanya “skripsi udah sampai mana?” ah, semakin bertambah usia saya, semakin saya bisa membaca gesture seseorang yah hmmm… semoga bukan terkesan suudzon sih, but that is common gesture yang orang lain pun kayaknya masih bisa deh baca makna sebenarnya dari gesture yang ditunjukkan.

Kalau ada yang nanya begitu, jawab aja, kadang sih saya lihat dulu orangnya kayak apa, kalau dia bakalan respon prihatin ya saya cuma senyumin dan bilang “hmmm… sampai mana yaaa heuu~ masih segitu aja sih…” padahal udah sampai mana ciikk wkkwkwk~

Kembali lagi deh ke bahasan deadliner. Ternyata yah! enakan ngga jadi deadliner! istirahatnya bisa lebih cepet! pokoknya saya ngga mau ah jadi pemalas 😦 apalagi mahasiswa akhir tuh salah satu pantangannya malas ngerjain skripsi malah nonton drakor. Drakor atau anime itu godaan ya? iya godaan, kata temen sayah Enung waktu ngobrol depan ruang jurusan nunggu Pak Nia.

Akhir kata (eh ini kita akhiri saja ya, saya mau lanjut aktivitas lain lagi hahaha~). “Success is from Allah alone. So, go towards Allah and Allah will bring you closer to success” InsyaAllah akan menulis lagi jika saatnya tiba bagi saya untuk berkeinginan nulis di wordpress kesayangan iniiii~ :’3

Berjuanglah kita mahasiswa akhirr. Berjuanglah. Jadikan segala tujuan hanyalah karena Allah supaya jadi ibadah 🙂

=====================================

Bandung, 18 Juli 2017
Ketika laptop jadi teman setia. Kasian dia capek. Semoga kamu kuat ya menemani sampai lulusnya bahkan sampai nanti…

Bismillah…

Ciye banget judulnya hahaha 🙂 and yeah, love is normal… semua orang pun pasti pernah merasakan namanya jatuh cinta. Jika bukan pada manusia bisa jadi dirasakan pada sesuatu yang lain. Seperti benda atau tumbuhan atau suasana alam. Mungkin saja. Saya tidak tahu 🙂

Kalau saya? Tentu pernah dong. Teman saya @InggridWandana yang tau bagaimana saya dulu pernah suka pada seseorang di masa SMA. Betapa banyaknya rahasia antara saya dan Inggrid masih tersimpan begitu rapat dalam dada kami. Hanya Allah ta’ala yang tau betapa dulu saya dan Inggrid berbagi cerita tentang rasa dan asa. Inggrid adalah sahabat saya hingga sekarang, Alhamdulillah 🙂

Beberapa orang mengatakan, suka dan jatuh cinta juga kagum itu 3 perasaan yang berbeda. Saya yakin pun begitu. Jatuh cinta itu memang membuat mabuk? Iya mabuk. Segala apapun yang dilakukan doi, selalu baik di mata orang yang jatuh cinta, iya atau tidak? Hahhaha… 2 pantun pernah saya baca di buku novel remaja dulu. Jika cinta sudah melekat, tahi kucing rasa alpukat. Jika cinta sudah terpatri, kentut pun wangi stroberi. Jorok sih. Tapi bener. Saya saja sampai tertawa membaca pantun itu hahaha :)) Itulah kenapa menasihati saudara kita yang jatuh cinta itu sulit, soalnya ya gitu… tahi kucing rasa alpukat, dia udah dibuat mabuk sama doi.

Kalau saya? Jujur, saya pribadi paling menghindari dengan yang namanya jatuh cinta. Takut. Jujur saya takut. Perasaan degdegan yang ngga penting itu selalu datang ketika doi tiba-tiba menghubungi berasa apa gituh ya(padahal mah orangnya diujung sana biasa aja kali). Ya Allah, rasanya dosa banget punya perasaan suka dan cinta sama seseorang tuh. Tapi ya… sekali lagi, itu normal… dan semoga takutnya saya untuk jatuh cinta pun adalah normal :’)

Saya belum pernah sih sampai jatuh ke lubang pacaran. Alhamdulillah. Kenapa lubang? Karena dalamnya gelap banget. Sekalinya terjurumus bisa jadi lebih dalaaammmmm lagiiii tenggelam. Tapi, Insya Allah selalu ada jalan bagi dirimu yang mau berubah kok :’)

Dirimu pernah jatuh cinta? Ceritakan dong di kotak komentar :’) anonim juga boleh hahaha :))

Saya pernah baca tulisan yang super bagus banget yaitu Aku Mencintaimu Utuh Tak Tersentuh, sampai saya buat cerpennya juga karena saking super bagus pisan itu tulisan buat anak SMA yang lagi jatuh cinta hehhe, saya sampai print juga dan kasih lihat ke teman-teman SMA saya dulu. Semoga mereka masih ingat isi tulisan itu. Intinya cobalah untuk tidak mengumbar rasa yang entah berlabuh di mana kelak. Mungkin saja orang yang dicinta itu tak membersamai dalam mahligai kehidupan. (Iya din makhluk megane 2D itu ngga akan pernah membersamai mu :’) ) Karena jodoh itu seperti kematian yang kita tidak tau kapan ia akan datang mengetuk pintu rumah dan dengan sopannya meminta izin pada sang pemilik rumah, hehe… dan lagi temans, kita tidak tau yang mana yang akan datang duluan. Pernikahan ataukah kematian kan? Hmmmm…

Tau kah? Jatuh cinta itu super menyiksa. SUPER! Doi cuma kirim pengingat aja, udah baper (bawa perasaan) udah mikir jauh ke mana-mana. Doi nge-like status wanita lain aja, cemburunya udah kebangetan (padahal doi bukan syapah syapah plis~), doi update pengingat aja rasa udah berbunga-bunga padahal itu mah cuma #self_reminder untuk dia, eh kitanya udah GR. Waduuuuh waduuuuuh hati udah siaga 1, hampir meledak tapi masih ditahan heheh. Apalagi kalau udah dihadapkan sama oppa-oppa gitu, meski umur udah disebut noona, manggil cowok korea jadi oppa semua gegara di Sunda mah ke yang muda juga manggil Aa atau Akang, aigoo~ :3

Tulisan ini bukan mengajak untuk stop jatuh cinta, seperti yang sudah saya katakan itu normal meski kadang ada sebagian orang berlebihan menyikapinya sampai-sampai berpacaran dianggap salah satu bukti “cinta” padahal isinya mah hawa nafsu doang 😦 Kalau beneran cinta mah datangi Orangtuanya langsung Teteh… Akang… Nikah deh sampai punya keturunan yang membanggakan Rasullullah karena ummatnya ada banyak kelak ❤ Saya pun pernah jatuh cinta, hampir pula berpacaran. Tapi, Allah berkehendak lain, hingga memperlihatkan pada saya siapa laki-laki itu sebenarnya hingga saya tau pada akhirnya. Saat saya menyukainya, semuanya serasa ada dibalik tabir, saya tidak melihat adanya sesuatu yang lain kecuali kebaikan pada dirinya. Yah, itulah jatuh cinta girls. Dibuat mabuk 🙂 Kamu yang tau pasti perasaan yang hinggap di hati mu itu. Apakah jatuh cinta ini kelalaian? Karena diri terlalu disibukkan oleh perasaan, bukannya mengingat Allah ta’ala, ya… mungkin saja… :’)

Ah ya, dirimu masihlah muda. Nikmatilah hidup ini, sibukkan diri menuntut ilmu. Baik di majelis ilmu mau pun lewat buku. By the way, tulisan ini pun jadi self reminder saya juga. Karena saya paling sering scroll baca tulisan terdahulu di wordpress saya ini daaannn merasa lucu karena tulisan saya yang dulu berasa masih kanak-kanak hahaha :))

Dirimu yang sedang jatuh cinta. Virus Merah Jambu itu merambat kuat hingga membuatmu mabuk cinta. Duhai, semoga dirimu temukan bahwa cinta pada Allah ta’ala adalah yang terpenting. Cinta pada manusia seringkali buat kecewa di hati apalagi pada seseorang yang belum pasti. Hanya Allah ta’ala yang memberikan jaminan keselamatan dunia akhirat. Semoga diri ini tersadarkan bahwa hidup akan baik-baik saja tanpa pacaran. Aktivitas pacaran yuk hentikanlah. Lebih baik perbaiki diri kearah positif yang membuat bangga. Untuk dirimu yang belum pernah pacaran dan berkomitmen untuk tidak pacaran. Semoga istiqomah 🙂

Purwakarta

21 Mei 2017

8:16pm

Ketika keluarga berkumpul, itu adalah kebahagian pula 🙂

Puisi Tanpa Judul

002

Jika hidup ibarat tanah, maka tak indah jika tak ada tanaman. Diriku kan gersang, tanpa hadirnya ia yang datang menorehkan cerita.

Ia memang tak sering muncul menyapaku, hanya akhir-akhir ini saja ku mulai merangkai cerita dengannya…
Seperti yang lainnya ia biasa saja, tak ada yang istimewa…
Detik demi detik ceritaku bertambah… ia semakin ku kenal. Ia tak sebeku es lagi, tak sedingin angin malam beriring hujan.
Ia mulai bercerita, bahwa ia ingin bercerita pada seseorang yang ingin mendengarnya tanpa ia undang.
Ia ingin berbagi pada seseorang yang datang tanpa ia pikir sebelumnya.
Ia tak suka bercerita, ia penyimpan rahasia, tapi tak semua cerita harus ia simpan… karena ia butuh berbagi kisah…
dan ia datang menyapaku, hingga tak bisa ku hitung berapa kali ia menyapaku akhir ini…
Ia tak merindu, namun ia ingin dirindu… ahhh sudahlah.
yang jelas ia bukan orang asing dan biasa lagi bagiku. Ia sahabat lamaku yang menjadi orang baru
BY E.R.F

——————————————————————————

:: Behind the (poem) story ::
Masihlah diri ini ada di Sumedang saat itu. 2 April 2017. Merasa kesepian karena tak ada yang bisa diajak bicara selain suara hati. Tiba-tiba seorang teman nan baik hati muncul dengan sebuah pernyataan bahwa ia kangen. Aku sambut pernyataan itu, aku jawab seakan dia benar-benar sedang menyapaku. Aku rasa, itulah caranya mencoba menarik diriku dari kesepian (haha). Aku mengobrol dengannya melalui chatting, tidaklah kami bertatap muka. Ku katakan padanya untuk membuatkan satu puisi sebagai bukti bahwa dia benar-benar kangen (haha). Satu teman ini memang terlalu baik, hingga rela menyisakan waktunya membuat puisi diatas. Terima kasih, meski kata ini terlampau telat untuk diucapkan 🙂

Kamu Tahu, Tidak?

img_0016Bismillah…

Tulisan ini akan penuh dengan kalimat, “kamu tahu tidak?” Karena aku hanya ingin bercerita. Bercerita kisah Pe-pe-el dan sebagainya. Tulisan pertama di bulan Februari.

Kamu tahu, tidak?
Awalnya merasa kecewa karena harus berada jauh dari kota kembang. Perlahan-lahan, semakin bisa untuk meyakinkan diri berada disini. Tidaklah lama, hanya perlu bersabar. Selalu bersabar itu kuncinya. Tak mudah menyerah juga salah satunya.

Kamu tahu, tidak?
Ada gunung yang kehijauan terlihat setiap kali berangkat menuju sekolah. Menanjak, kelelahan, tapi gunung dan kabut yang menghiasinya seperti memberikan semangat tersendiri

Kamu tahu, tidak?
Aku belajar banyak kosakata baru BISINDO di sini. BISINDO khas anak-anak murid. Mereka dengan senang hati mengajari aku. Meski aku guru Pe-pe-el. Aku bertanya, “isyarat S-u-r-g-a, apa?” sambil mengeja kata “Surga” dengan abjad jari. Kemudian mereka memberitahukannya. Pelajaran yang paling menyenangkan aku ajarkan adalah Agama Islam di kelas XII.

Kamu tahu, tidak?
Sudah sangat merindukan rumah. Kossan. Kampus. Ternyata, kehidupan kampus juga ada memori indah yang menyisa. Rumah dengan kenyamanannya. Kossan dengan ketersendiriannya dan Kampus dengan lika-liku aktivitasnya.

Kamu tahu, tidak?
Di sini sering hujan. Sehingga bisa terus berdoa. Karena berdoa di waktu hujan termasuk waktu mustajab.

Kamu tahu, tidak?
Aku sering meneriakan, “I love you, (nama murid),” ketika mereka sedang mengerjakan tugas yang aku berikan. Semua bergeming. Diam. Tidak mendengar yang aku teriakkan. Karena teriakan kata itu hanya untuk memberi aku kekuatan. Meski sejujurnya aku katakan pada mereka tanpa bahasa isyarat. Aku mencintai mereka sungguh-sungguh.

Kamu tahu, tidak?
Ada murid yang difficult to deal with dan aku hampir menangis dihadapannya. Hahahaaa… sambil menatapnya lama. Mataku memandangnya berkaca-kaca, sedangkan ia menunduk ke bawah, memainkan sepatunya. Namun kemudian aku duduk dihadapannya, berharap perhatiannya kembali kepadaku. Aku usahakan segala macam cara. Aku harus bisa menarik perhatiannya, lebih dari sepatu yang dimainkannya mau pun permen yang dia kunyah bukan di jam istirahat.

Kamu tahu, tidak?
Pelajaran yang paling sulit aku jelaskan adalah Bahasa Indonesia. Karena kekurangan yang aku miliki, sungguh, tantangan terbesar adalah mengajarkan berbahasa tertulis. Maafkan gurumu ini, muridku… Diri ini harus banyak belajar lagi, agar apa yang disampaikan bisa kalian pahami…

Kamu tahu, tidak?
Ada seorang anak berinisial D yang kadang menyebalkan terkadang ingin sekali aku beri kasih sayang karena sedang lucu-lucunya. Dia anak yang paling rajin salim tangan jika bertemu dengan guru. Paling komunikatif dan hiperaktif.

Kamu tahu, tidak?
Kenapa gambar ilustrasinya seperti itu? Karena… aku hanya ingin menggambar…

Kamu tahu, tidak?
Ada dua tawaran untuk bisa pergi ke Jepang. Tawaran pertama datang dari seorang teman yang menghubungi bahwa ada program untuk bisa berada satu tahun ke Jepang. Tapi, bermodalkan seharga 1 kali naik haji. Tawaran kedua adalah pergi selama beberapa hari di Jepang, seharga 2 laptop baru. Wah. Lebih baik menabung buat naik haji ya? InsyaAllah, Allah kan memberikan jalan lain untuk bisa pergi ke negara impian itu 🙂 Hanya perlu bersabar sambil terus berusaha, ya? Persiapkan diri di tahun selanjutnya, ya?

Kamu tahu, tidak?
Aku ingin sekali menggambar sekolah tempat aku pe-pe-el. Ingin pergi mendaki gunungnya.

Kamu tahu, tidak?
Aku kangen pada sahabatku I, yang katanya menanti tulisanku di wordpress ini. Kangen pada D, untuk bisa berbincang banyak hal. Kangen A, yang semoga dirinya dikuatkan di kota lainnya.

Kamu tahu, tidak?
Aku ingin menulis banyak hal di sini. Tapi khawatir terkesan mengeluh. Bisa aku pastikan, aku akan lancar berbahasa isyarat sepulangnya dari sini :’)

Sumedang
4:35pm
Ketika yang lain sedang sibuk dengan aktivitasnya untuk mempersiapkan mengajar esok hari

Butir Ingatan

Illustrasi oleh Adinda

Setiap orang memiliki butir ingatannya sendiri. Butir-butir itu berterbangan disekitar mereka, menunggu saat yang tepat untuk dapat merasuk pada bagian ingatan. Melalui aroma parfum yang pernah ia hirup, melalui bunyi yang pernah ia dengar, melalui alunan lagu yang dulu pernah dinikmati. Melalui banyak hal butir itu bisa melesat masuk. Kemudian memberikan ingatan yang sempurna untuk hari seseorang, mengingat kembali masa lalu yang pernah ia lewatkan dan sempat ia terlupakan.

Sama seperti aku, yang tetiba merasakan kehadiran aku yang dulu. Ditemani sebuah buku Anak Ini Mau Mengencingi Jakarta? Aku terhanyut ke dalam setiap cerita yang disuguhkan. Pertama kali terhisap dalam karya Ahmad Tohari yang aku baca dalam bahasa Indonesia. Meski sebelumnya aku membaca karyanya yang sudah diterjemahkan menjadi Kind Looking Eyes dan juga Karyamin’s Smile, aku tetap menyukai gayanya dalam bercerita.

Aku menemukan diriku lagi. Diriku yang suka membaca, diriku yang terlalu adiktif pada buku. Apapun itu. Komik. Majalah Bobo hingga KaWanku yang sempat aku beli. Novel Anak hingga Dewasa dan agak thriller hingga membuat aku mual dibuatnya. Ada diriku yang dulu, aku temukan ia. Ketika aku menyentuh buku, membaca ceritanya. Membaca sambil berbaring atau telungkup kemudian terduduk, itulah aku yang dulu.

Butir ingatan yang berterbangan itu berhasil masuk pada ingatanku. Melalui aroma buku yang aku hirup, melalui sentuhan lembar per lembar buku yang aku buka dari sore hingga malam ini. Melalui aroma kamar ketika menyendiri. Tidak bersama handphone dan deringnya yang membuat berisik. Tidak bersama internet yang membuat aku lupa diri akan waktu. Tidak juga bersama pensil warna yang akhir-akhir ini sering sekali bersinggungan denganku diatas kertas mana pun yang bisa aku lukis. Kini, hanya aku, dan buku. Kami berdua bersama.

Teringat lagi bahwa dulu, jalan ke toko buku adalah waktu terfavorit sepanjang masa. Ketika Bapak bersedia menghabiskan uangnya agar anaknya bisa membeli buku yang anaknya mau. Buku apa pun, beli di mana pun, bapak tetap bersedia mengeluarkan rupiah dari dompetnya.

Aku. Buku. Tak kenal waktu. Membaca hingga terkantuk. Membaca hingga menangis karena suguhan cerita. Membaca hingga berlembar buku berhasil masuk menyeruak seakan menjadi film yang terputar. Diriku yang dulu kembali muncul. Halo. Apa kabar? Ia menyapa diriku hangat sambil menggenggam sebuah buku yang aku kenal. Aku kangen bersamamu lagi, mau kah kembali ke duniaku? Ia bertanya pada ku sambil mengayunkan buku dalam genggamannya. Aku dibuat tersenyum oleh diriku yang dulu. Aku sangat merindukanmu, merindukanmu sebelum sempat handphone dan internet memisahkan kita berdua, katanya lagi. Dia mengulurkan tangannya yang kosong, mencoba mendapatkan perhatianku lagi.

Aku merindukan aku yang dulu, aku meraih tangannya dan menjabatnya, mengucap terima kasih dan tenggelam dalam kabut bersama diriku yang dulu. Butir ingatan itu membawa ku begitu jauh. Membawa pada ingatan yang telah lalu.

Pernahkah kalian merasakan hal yang sama denganku? Butir ingatan apa yang berhasil memasuki ingatanmu hingga merindukanmu yang dulu? Ceritakanlah, agar kisah ini menjadi alasan bagimu dan menjadi jalan bagi butir ingatan lain untuk merasuk.

 

Purwakarta

7 Januari 2017

7:40pm

Ketika jemari merindu untuk menulis diatas keyboard laptop. Ketika diri ini selalu merasa ingin menulis sehabis membaca buku.

Bismillah,

Hari istimewa karena saya memposting tulisan di sore hari (biasanya jadi cewek malam, postingnya malam-malam hehe). Sore ini langit tampak cerah. Saya saja sangat menikmatinya ketika saya berjalan menuju pulang bersama seorang teman, sebut saja D. Barusan saya mengunjunginya. Bukan tanpa alasan, karena memang ingin sekali pergi menemuinya. Sudah lama tidak bertemu dengannya. Berbincang lama. Mampir ke asramanya, yang terasa seperti tengah mengunjungi asrama orang Malaysia, haha, di sana menggunakan bahasa daerah dan itu terdengar seperti bahasa Melayu bagi saya.

Lagi Hush dari Lasse Lindh masih mengalun, ketika saya mengetik di sini. Saya merasa bahagia karena masih bisa berjalan di hari yang cerah ini. Akan lebih menyenangkan jika bisa dihabiskan dengan seseorang yang suka jalan-jalan menikmati angin, menikmati sinar cerah mentari meski buat gerah. Sayangnya, D harus pergi untuk mengajar, sehingga saya tidak terlalu lama bersamanya. Hanya sepanjang 1 film yang kami tonton bersama di kamarnya.

Dalam perjalanan pulang sungguh sangat menyenangkan, saya bisa melihat bayangan saya sendiri. Biasanya sore-sore sudah disuguhi mendung yang menggantung dan hujan yang terus turun hingga malam tiba. Tapi, kali ini istimewa, karena matahari begitu cerah menyinari, awan putih berarak oleh angin kencang, langit biru menunjukkan pesonanya. Ah, suasana yangg sangat saya nantikan.

Pernahkah merasakan saat di mana tiba-tiba merindukan masa lalu. Merindukan wewangian yang dulu pernah terhirup. Merindukan cahaya yang dulu pernah menyinari. Dalam benak saya, saya kangen sekali semester awal kuliah. Di ruangan yang begitu luas, di mana belum di pusingkan tugas. Saya masih mengatakan pada diri sendiri saat ini, bahwa yang sekarang bukanlah diri saya. Diri yang mulai merasakan lelahnya perkuliahan, merasakan sedih dan kecewa ketika dosen tidak ada atau tim dosen yang missed communication sehingga berpengaruh pada mahasiswanya yang akhirnya kebingungan. I miss those moments. Dear my old self, please, please I beg you to be with me again. I miss you. Dulu saya suka sekali bangun super pagi untuk menantikan pergantian cahaya gelap menjadi terang, untuk memotret langit pagi. Tapi… sekarang…

Sungguh, diri ini harus benar-benar berubah menjadi yang lebih baik lagi 🙂

Saya yang kini senang sekali pergi sendiri, untuk pergi ke suatu tempat menyendiri di sana. Karena seringkali, teman yang saya ajak memiliki agendanya tersendiri. Sangat sedih menerima penolakannya, jadi, lebih baik pergi sendiri saja. Meski lebih baik pergi bersama teman 🙂 Berdua lebih menyenangkan, karena memang bisa lebih banyak berbicara dari pada beramai kemudian ada seseorang yang tertinggal. Sedih ya…

Hai langit, semoga esok kita dapat bertemu lagi 🙂

3:47 pm

22 Desember 2016

Bandung, di kala sendiri bersama sebotol teh dingin.