Feeds:
Pos
Komentar

Kamu Tahu, Tidak?

img_0016Bismillah…

Tulisan ini akan penuh dengan kalimat, “kamu tahu tidak?” Karena aku hanya ingin bercerita. Bercerita kisah Pe-pe-el dan sebagainya. Tulisan pertama di bulan Februari.

Kamu tahu, tidak?
Awalnya merasa kecewa karena harus berada jauh dari kota kembang. Perlahan-lahan, semakin bisa untuk meyakinkan diri berada disini. Tidaklah lama, hanya perlu bersabar. Selalu bersabar itu kuncinya. Tak mudah menyerah juga salah satunya.

Kamu tahu, tidak?
Ada gunung yang kehijauan terlihat setiap kali berangkat menuju sekolah. Menanjak, kelelahan, tapi gunung dan kabut yang menghiasinya seperti memberikan semangat tersendiri

Kamu tahu, tidak?
Aku belajar banyak kosakata baru BISINDO di sini. BISINDO khas anak-anak murid. Mereka dengan senang hati mengajari aku. Meski aku guru Pe-pe-el. Aku bertanya, “isyarat S-u-r-g-a, apa?” sambil mengeja kata “Surga” dengan abjad jari. Kemudian mereka memberitahukannya. Pelajaran yang paling menyenangkan aku ajarkan adalah Agama Islam di kelas XII.

Kamu tahu, tidak?
Sudah sangat merindukan rumah. Kossan. Kampus. Ternyata, kehidupan kampus juga ada memori indah yang menyisa. Rumah dengan kenyamanannya. Kossan dengan ketersendiriannya dan Kampus dengan lika-liku aktivitasnya.

Kamu tahu, tidak?
Di sini sering hujan. Sehingga bisa terus berdoa. Karena berdoa di waktu hujan termasuk waktu mustajab.

Kamu tahu, tidak?
Aku sering meneriakan, “I love you, (nama murid),” ketika mereka sedang mengerjakan tugas yang aku berikan. Semua bergeming. Diam. Tidak mendengar yang aku teriakkan. Karena teriakan kata itu hanya untuk memberi aku kekuatan. Meski sejujurnya aku katakan pada mereka tanpa bahasa isyarat. Aku mencintai mereka sungguh-sungguh.

Kamu tahu, tidak?
Ada murid yang difficult to deal with dan aku hampir menangis dihadapannya. Hahahaaa… sambil menatapnya lama. Mataku memandangnya berkaca-kaca, sedangkan ia menunduk ke bawah, memainkan sepatunya. Namun kemudian aku duduk dihadapannya, berharap perhatiannya kembali kepadaku. Aku usahakan segala macam cara. Aku harus bisa menarik perhatiannya, lebih dari sepatu yang dimainkannya mau pun permen yang dia kunyah bukan di jam istirahat.

Kamu tahu, tidak?
Pelajaran yang paling sulit aku jelaskan adalah Bahasa Indonesia. Karena kekurangan yang aku miliki, sungguh, tantangan terbesar adalah mengajarkan berbahasa tertulis. Maafkan gurumu ini, muridku… Diri ini harus banyak belajar lagi, agar apa yang disampaikan bisa kalian pahami…

Kamu tahu, tidak?
Ada seorang anak berinisial D yang kadang menyebalkan terkadang ingin sekali aku beri kasih sayang karena sedang lucu-lucunya. Dia anak yang paling rajin salim tangan jika bertemu dengan guru. Paling komunikatif dan hiperaktif.

Kamu tahu, tidak?
Kenapa gambar ilustrasinya seperti itu? Karena… aku hanya ingin menggambar…

Kamu tahu, tidak?
Ada dua tawaran untuk bisa pergi ke Jepang. Tawaran pertama datang dari seorang teman yang menghubungi bahwa ada program untuk bisa berada satu tahun ke Jepang. Tapi, bermodalkan seharga 1 kali naik haji. Tawaran kedua adalah pergi selama beberapa hari di Jepang, seharga 2 laptop baru. Wah. Lebih baik menabung buat naik haji ya? InsyaAllah, Allah kan memberikan jalan lain untuk bisa pergi ke negara impian itu 🙂 Hanya perlu bersabar sambil terus berusaha, ya? Persiapkan diri di tahun selanjutnya, ya?

Kamu tahu, tidak?
Aku ingin sekali menggambar sekolah tempat aku pe-pe-el. Ingin pergi mendaki gunungnya.

Kamu tahu, tidak?
Aku kangen pada sahabatku I, yang katanya menanti tulisanku di wordpress ini. Kangen pada D, untuk bisa berbincang banyak hal. Kangen A, yang semoga dirinya dikuatkan di kota lainnya.

Kamu tahu, tidak?
Aku ingin menulis banyak hal di sini. Tapi khawatir terkesan mengeluh. Bisa aku pastikan, aku akan lancar berbahasa isyarat sepulangnya dari sini :’)

Sumedang
4:35pm
Ketika yang lain sedang sibuk dengan aktivitasnya untuk mempersiapkan mengajar esok hari

Butir Ingatan

Illustrasi oleh Adinda

Setiap orang memiliki butir ingatannya sendiri. Butir-butir itu berterbangan disekitar mereka, menunggu saat yang tepat untuk dapat merasuk pada bagian ingatan. Melalui aroma parfum yang pernah ia hirup, melalui bunyi yang pernah ia dengar, melalui alunan lagu yang dulu pernah dinikmati. Melalui banyak hal butir itu bisa melesat masuk. Kemudian memberikan ingatan yang sempurna untuk hari seseorang, mengingat kembali masa lalu yang pernah ia lewatkan dan sempat ia terlupakan.

Sama seperti aku, yang tetiba merasakan kehadiran aku yang dulu. Ditemani sebuah buku Anak Ini Mau Mengencingi Jakarta? Aku terhanyut ke dalam setiap cerita yang disuguhkan. Pertama kali terhisap dalam karya Ahmad Tohari yang aku baca dalam bahasa Indonesia. Meski sebelumnya aku membaca karyanya yang sudah diterjemahkan menjadi Kind Looking Eyes dan juga Karyamin’s Smile, aku tetap menyukai gayanya dalam bercerita.

Aku menemukan diriku lagi. Diriku yang suka membaca, diriku yang terlalu adiktif pada buku. Apapun itu. Komik. Majalah Bobo hingga KaWanku yang sempat aku beli. Novel Anak hingga Dewasa dan agak thriller hingga membuat aku mual dibuatnya. Ada diriku yang dulu, aku temukan ia. Ketika aku menyentuh buku, membaca ceritanya. Membaca sambil berbaring atau telungkup kemudian terduduk, itulah aku yang dulu.

Butir ingatan yang berterbangan itu berhasil masuk pada ingatanku. Melalui aroma buku yang aku hirup, melalui sentuhan lembar per lembar buku yang aku buka dari sore hingga malam ini. Melalui aroma kamar ketika menyendiri. Tidak bersama handphone dan deringnya yang membuat berisik. Tidak bersama internet yang membuat aku lupa diri akan waktu. Tidak juga bersama pensil warna yang akhir-akhir ini sering sekali bersinggungan denganku diatas kertas mana pun yang bisa aku lukis. Kini, hanya aku, dan buku. Kami berdua bersama.

Teringat lagi bahwa dulu, jalan ke toko buku adalah waktu terfavorit sepanjang masa. Ketika Bapak bersedia menghabiskan uangnya agar anaknya bisa membeli buku yang anaknya mau. Buku apa pun, beli di mana pun, bapak tetap bersedia mengeluarkan rupiah dari dompetnya.

Aku. Buku. Tak kenal waktu. Membaca hingga terkantuk. Membaca hingga menangis karena suguhan cerita. Membaca hingga berlembar buku berhasil masuk menyeruak seakan menjadi film yang terputar. Diriku yang dulu kembali muncul. Halo. Apa kabar? Ia menyapa diriku hangat sambil menggenggam sebuah buku yang aku kenal. Aku kangen bersamamu lagi, mau kah kembali ke duniaku? Ia bertanya pada ku sambil mengayunkan buku dalam genggamannya. Aku dibuat tersenyum oleh diriku yang dulu. Aku sangat merindukanmu, merindukanmu sebelum sempat handphone dan internet memisahkan kita berdua, katanya lagi. Dia mengulurkan tangannya yang kosong, mencoba mendapatkan perhatianku lagi.

Aku merindukan aku yang dulu, aku meraih tangannya dan menjabatnya, mengucap terima kasih dan tenggelam dalam kabut bersama diriku yang dulu. Butir ingatan itu membawa ku begitu jauh. Membawa pada ingatan yang telah lalu.

Pernahkah kalian merasakan hal yang sama denganku? Butir ingatan apa yang berhasil memasuki ingatanmu hingga merindukanmu yang dulu? Ceritakanlah, agar kisah ini menjadi alasan bagimu dan menjadi jalan bagi butir ingatan lain untuk merasuk.

 

Purwakarta

7 Januari 2017

7:40pm

Ketika jemari merindu untuk menulis diatas keyboard laptop. Ketika diri ini selalu merasa ingin menulis sehabis membaca buku.

Bismillah,

Hari istimewa karena saya memposting tulisan di sore hari (biasanya jadi cewek malam, postingnya malam-malam hehe). Sore ini langit tampak cerah. Saya saja sangat menikmatinya ketika saya berjalan menuju pulang bersama seorang teman, sebut saja D. Barusan saya mengunjunginya. Bukan tanpa alasan, karena memang ingin sekali pergi menemuinya. Sudah lama tidak bertemu dengannya. Berbincang lama. Mampir ke asramanya, yang terasa seperti tengah mengunjungi asrama orang Malaysia, haha, di sana menggunakan bahasa daerah dan itu terdengar seperti bahasa Melayu bagi saya.

Lagi Hush dari Lasse Lindh masih mengalun, ketika saya mengetik di sini. Saya merasa bahagia karena masih bisa berjalan di hari yang cerah ini. Akan lebih menyenangkan jika bisa dihabiskan dengan seseorang yang suka jalan-jalan menikmati angin, menikmati sinar cerah mentari meski buat gerah. Sayangnya, D harus pergi untuk mengajar, sehingga saya tidak terlalu lama bersamanya. Hanya sepanjang 1 film yang kami tonton bersama di kamarnya.

Dalam perjalanan pulang sungguh sangat menyenangkan, saya bisa melihat bayangan saya sendiri. Biasanya sore-sore sudah disuguhi mendung yang menggantung dan hujan yang terus turun hingga malam tiba. Tapi, kali ini istimewa, karena matahari begitu cerah menyinari, awan putih berarak oleh angin kencang, langit biru menunjukkan pesonanya. Ah, suasana yangg sangat saya nantikan.

Pernahkah merasakan saat di mana tiba-tiba merindukan masa lalu. Merindukan wewangian yang dulu pernah terhirup. Merindukan cahaya yang dulu pernah menyinari. Dalam benak saya, saya kangen sekali semester awal kuliah. Di ruangan yang begitu luas, di mana belum di pusingkan tugas. Saya masih mengatakan pada diri sendiri saat ini, bahwa yang sekarang bukanlah diri saya. Diri yang mulai merasakan lelahnya perkuliahan, merasakan sedih dan kecewa ketika dosen tidak ada atau tim dosen yang missed communication sehingga berpengaruh pada mahasiswanya yang akhirnya kebingungan. I miss those moments. Dear my old self, please, please I beg you to be with me again. I miss you. Dulu saya suka sekali bangun super pagi untuk menantikan pergantian cahaya gelap menjadi terang, untuk memotret langit pagi. Tapi… sekarang…

Sungguh, diri ini harus benar-benar berubah menjadi yang lebih baik lagi 🙂

Saya yang kini senang sekali pergi sendiri, untuk pergi ke suatu tempat menyendiri di sana. Karena seringkali, teman yang saya ajak memiliki agendanya tersendiri. Sangat sedih menerima penolakannya, jadi, lebih baik pergi sendiri saja. Meski lebih baik pergi bersama teman 🙂 Berdua lebih menyenangkan, karena memang bisa lebih banyak berbicara dari pada beramai kemudian ada seseorang yang tertinggal. Sedih ya…

Hai langit, semoga esok kita dapat bertemu lagi 🙂

3:47 pm

22 Desember 2016

Bandung, di kala sendiri bersama sebotol teh dingin.

Bismillah,

tumblr_nsqnvhkocs1rv4wc4o1_1280

“Musim Gugur Telah Datang!” itulah yang ingin sekali saya katakan, jika saya berada di negara yang tengah merayakan kedatangan pergantian warna daun itu. Sayangnya, saya tidak berada di negara yang bermusim gugur, tapi rasanya senang ikut merasakan kehadirannya, meski melalui jepretan foto dari orang-orang yang tidak saya ketahui.

Musim gugur, kenapa ya, indah sekali?

Kenapa menjadi musim yang saya sukai meski saya pun belum pernah merasakannya sekali pun? Karena seringkali fotografer di luar sana menyajikan keindahan musim gugur lewat jepretan kamera milik mereka. Seakan musim gugur turut bergaya dalam senandung “klik klik klik” yang dinyanyikan kamera itu.

Musim gugur, kenapa ya, indah sekali?

Rasanya sudah dari dulu mengagumi film dengan setting tempat musim gugur, salah satunya adalah The Odd Life of Timothy Green, di tambah lagi alur cerita yang disajikan luar biasa membuat saya terhanyut dalam film. Angin musim gugur yang kencang. Cahaya matahari yang jingga, seakan dia lah yang bekerjasama dengan pepohonan mewarnai dedaunan hingga menjadi jingga pula. Tak lupa, hujan yang senantiasa datang, menitikkan airnya seperti memberikan daun jingga itu kesempatan untuk bisa merasakan air ketika ia masih berada pada ranting.

Musim gugur, bisa kah kita bertemu?

Musim gugur, hanya Allah ta’ala berikan kesempatannya pada sebagian negara di dunia. Agar bumi yang kita pijaki ini masih bisa dipijaki hingga Allah menetapkan kiranya kapan ia harus berhenti berputar. Ada kah kiranya waktu untuk saya bisa memijaki negara yang memiliki musim gugur? Sebelum kiranya saya berada di bawah tanah tanpa pernah melihat indahnya jingga dedaunan dari satu bukit dikejauhan? Dari jalanan yang di payungi daun berguguran?

Musim gugur, bisa kah aku datang menemuimu?

We’ve been so far away. I doubt that I could see you. I hope the day will come, when you already to meet my feet touch your ground that covered by leaves. When I’m ready to see you smiled at me through the leaves that fly from its branches. Then, I would say, “Autumn has arrived.”

tumblr_notyh8vcy41rza3wxo1_1280

10.11 pm

Purwakarta

Biarkan Aku

starry%e9%98%bf%e6%98%9f-6

Art by starry阿星

“Tak bisa, kita tak bisa saling melengkapi,” begitu katanya, tanpa menatapku. “Sungguh, lebih baik kita berpisah,” ucapnya, mengambil tas gendong besar miliknya kemudian beranjak dari tempat duduk.

Aku terdiam, tidak menghentikannya, tidak pula bergerak untuk segera menarik tangannya. Aku… tidak mengerti tentang apa yang harus aku katakan padanya.

Perlahan ia berjalan, meninggalkan bangkunya yang tepat menghadap padaku. Aku berteriak, “Mengapa?!” Ia menghentikan langkahnya. Tanpa menatapku, dengan wajah tertunduk, memunggungiku. Orang ini bukanlah dia yang aku kenal.

“Mengapa lagi-lagi ada orang lain yang merusak? Mengapa?!” aku kembali berteriak.

Aku ingin berterima kasih ke pada angin yang mebuat suasana berhawa panas antara aku dan dia menjadi sejuk. Meski hatiku terus berkecamuk.

“Aku ingin menyalahkan orang lain! Tapi siapa?! Aku yang salah? Lagi-lagi aku yang salah?!” hati berkecamuk ini berbuah air mata. Aku tak tau, apakah kedua mata yang dibingkai kacamata miliknya itu juga menangis? Aku tak tau.

Tangan kiri miliknya yang memakai jam tangan itu mengepal. Aku yakin, deretan kata panjang itu akan ia ucapkan. “Biarkan aku sendiri!” Benar apa yang aku katakan barusan, bukan?. “Ini bukan tentang orang lain. Tapi, tentang mimpiku yang sungguh terhambat jika aku terus bersamamu. Aku harus membuangmu di sini. Selamanya. Biarkan aku. Sungguh, biarkan aku sendiri. Menggunakan buku lainnya untuk dapat aku tulis. Untuk dapat aku gambar. Sungguh! Jangan berteriak di kepalaku! Akan ada orang lain yang lebih baik menyertaimu, dan orang itu bukanlah aku!”

Akhirnya ia pergi, meninggalkan aku beserta angin melambaikan lembar yang sempat ia torehkan tinta diatasnya. Ia meninggalkanku, untuk kesekian kalinya.

Aku, buku coretan yang ia miliki 2 tahun lamanya. Aku, yang ia anggap sebagai penghalang mimpinya. Hanya karena aku, bukanlah yang ia beli tapi diberi, oleh seseorang yang ia benci. Mengapa benci itu harus menerpaku juga? Aku tak mengerti. Biarlah. Biarkan aku sendiri. Biarkan dia sendiri.

Bersamaan dengan angin yang mereda, seorang wanita mendatangiku, lalu tersenyum. “Sungguh bagus gambar ini!” katanya. Aku geli ketika ia membuka lembaranku.

“Biarkan aku sendiri,” ucap wanita itu, membaca kalimat pada lembar akhir yang lelaki itu tulis.


Ketika di Bandung. Sendirian lagi. Adakah yang berkenan bermain ke sini? Yang aku harap bukan hawa dingin yang menusuk kaki. Butuh teman bicara, meski hanya menertawakan diri sendiri dan kisahnya.

Bandung di kala sendiri.

7.16 pm

13 Desember 2016. Selasa.

Bismillah.

Sebelum waktu berakhir, 7 Desember menjadi 8 Desember, di mana orang lain akan berulang tahun setelahku.

Selamat ulang tahun untukku. Untuk Yuzuru Hanyu. Umur kami sama, namun rezeki yang Allah berikan sungguh berbeda. Di usianya yang menginjak sama denganku, sudah banyak medali yang ia raih. Juara dunia figure skating di sana sini. Sedangkan aku di sini, masih belajar banyak hal, masih memikirkan banyak hal tentang masa depan. Malu rasanya, sudah dewasa namun berpikiran begitu rendah, masih ada rasa pesimis. Ya Allah, untuk apa mengkhawatirkan dunia? Raihlah mimpi dengan doa dan ikhtiar. Insyaa Allah usaha tidak akan mengkhianati hasil bukan?

Tadi pagi mendapat sms dari bapak, kalimat terakhir membuat sedih. “Bapak sayang teteh,” Masyaa Allah, diri ini bahkan merasa rasa sayang ku terhadap bapak masihlah jauh dari rasa sayang bapak terhadapku. Bahkan Allah bisa jadi lebih mencintai bapak ketimbang diriku mencintai bapak.

Hanya segelintir orang yang mengucapkan, “Selamat ulang tahun” untukku. Tak mengapa, karena aku ingin hanya diriku yang merayakannya sendiri. Ulang tahunku tidaklah penting bagi orang yang tidak mengenalku dekat, bukan? Karena ujungnya hanya menjadi penghias nisan.

Ya Allah, masih banyak impian yang belum teraih. Mungkin esok? Atau nanti di hari lain ia bisa terwujud. Allahu’alam. Hanya Allah yang tau.

Selamat ulang tahun untukku. Perempuan yang beranjak dewasa. Yang tengah menitikkan air matanya, mengingat bahwa umur sudah bertambah kian hari, di tiap detiknya. Semoga cita mu tercapai. Jika pun belum, janganlah bersedih hati, karena pilihan Allah adalah yang terbaik.

CERPEN: Dia

Aku melihatnya penuh selidik, menerka tentang apa yang sedang dia bicarakan dengan seseorang di hadapannya. Kedua tangan mereka terus bergerak, saling menimpali satu sama lain. Aku masih penuh selidik, menerka tentang apa yang sedang dia bicarakan.

Akhirnya dia memandangiku dari jauh, mimik wajahnya menandakan bahwa ia terkaget melihat aku berdiri dikejauhan, menatapnya masih dengan dahi yang mengernyit. Ia tersenyum, melambaikan tangan dan berlari kearahku.

“Janji jam 11. Datang jam 9, sangat pagi!” isyaratnya dari jauh. Kali ini aku mengerti apa yang ia ucapkan padaku. Ia menggunakan isyarat yang aku pelajari di kampus.

Aku dan dia sungguh berbeda. Ketika dia berbincang denganku, ketika dia berbincang dengan kawan seperti dirinya, akan sangat berbeda. Ah, aku hanya ingin benar-benar mengenalnya.

“Gak apa-apa. Aku tahu, kamu pasti datang lebih pagi!” balasku. Dia tersenyum kemudian segera membawaku ke tempat pertemuan.

Sekumpulan orang berada di sana. Saling berbincang lewat isyarat. Isyarat yang hanya sedikit aku pahami, isyarat yang hanya bisa aku temukan diluar kelas.

“Di sini dilarang keluar suara ya,” ucap seseorang berambut cepak kepadaku, ia berkata dengan wajah yang menurutku kurang ramah. Tidak seperti dia yang menyambutku dengan senyuman. “Dilarang keluar suara ya,” ucapnya lagi, kini pada yang lain. Pada seseorang dibelakangku, seorang wanita yang baru saja datang dengan wajah kebingungan. Aneh, si rambut cepat menyuruh untuk tidak keluar suara, tapi dirinya yang sejak tadi nyerocos.

“Kak, di sini tempat latihan isyarat itu kan ya?” tanya wanita dengan wajah yang masih bingung itu.

Aku mengangguk, “iya, baru ya? Sini duduk dekat saya saja,” tawarku. Wanita itu tersenyum, manis sekali.

“Saya Nada,” ia memperkenalkan dirinya sambil menyerahkan tangannya agar aku jabat.

Aku balas tersenyum dan menjabat kedua tangannya, “Saya Zara,” jawabku dengan isyarat.

Suasana semakin ramai pada pukul setengah sebelas, kelas belum di mulai karena dia belum juga membuka kelas dengan ucapan “selamat siang” dan senyuman khas darinya.

“Kamu tau kelas ini dari siapa?” tanyaku pada Nada yang sedang memperhatikan dia yang tadi tertawa-tawa dengan temannya.

“Ah, ya? Kenapa kak? maaf tadi melamun hehe” Nada gelagapan, arah matanya berbalik kearahku kemudian sejenak menatap dia yang sekarang memperhatikan kami dari jauh.

“Kamu tau kelas isyarat ini dari siapa?” tanyaku ulang.

Nada berdehem, “dari dia kak,” jari telunjuk lentiknya menunjuk kearah dia, kemudian wajahnya menjadi wajah tersipu.

“Dia? Ozi maksudmu?” tanyaku lagi.

“Iya kak, dia mantan pacarku di SMA. Dia keren sekali loh kak, meski memang agak terlambat ketika awal semester di kelas 1, tapi dia bisa menyusul dengan mengukir prestasi. Dia sangat keren.” Jawab Nada dengan mata berbinar, matanya tak henti memandang Ozi. Ozi yang tadi menjemputku, Ozi yang tadi menyambutku dengan senyuman yang aku sukai.

“Eh? lalu kalian pacaran?” tanyaku lagi.

“Hmmm, bisa dibilang begitu kak. Kami saling suka, dia pun sangat perhatian ke pada saya. Dia selalu mengantar saya pulang sampai ke depan pintu rumah. Dia juga selalu membantu saya ketika ada yang menjahili. Dia sangat peka terhadap sekitar. Kami sering berdua kemana-mana, sampai-sampai orang mengira kami pacaran. Dan aku pun menyetujuinya, kak.” jawab Nada. Senyumnya semakin merekah ketika Ozi mendekati kami.

Ozi berbincang dengan Nada, dengan suara yang begitu jelas. Dia mengatakan bahwa Nada tampak sangat berbeda, baru kali ini mereka berjumpa.

Dia sangat berbeda. Ketika berbincang denganku, ketika dia berbincang dengan kawan sepertinya, ketika dia berbincang dengan Nada. Tapi senyum itu masihlah sama. Bagaimana aku harus mengartikan perasaan yang ada? Aku hanya ingin mata itu tertuju ke padaku saja.

======================================

Ketika dua orang teman berkata, bahwa sudahlah lama diri ini tidak menulis di WordPress, itulah saatnya jemari ini tersadar untuk menceritakan suatu kisah di sini.

Purwakarta

7:58am

11-22-2016