Feeds:
Pos
Komentar

 

Aku melihatnya lagi. Ia tampak baik-baik saja. Masih dengan senyuman yang ku kenal 10 tahun yang lalu, bahkan lebih. Ingin sekali bertemu dengannya. Menyapanya melalui senyuman, hingga aku dapat melihat senyum khas darinya. “Apa kabar mu?” Itu yang hendak ku tanyakan padanya. Meski aku tau, sejujurnya aku ingin menerima jawaban yang lebih dari sekedar “aku sehat”.

Dari kisahnya, selama kita berpisah sekian tahun. Aku pasti. Aku yakin. Bahwa ada hal yang dapat membuatku bangga terhadapnya. Senang bisa mengenalmu. Senang bisa turut dalam cerita kehidupanmu. Ingin sekali segera bertemu. Menyapa. Bersalaman. Bercerita banyak hal. Meski yang aku inginkan adalah kedua bibirmu yang berbicara banyak kisah. Terima kasih. Aku sangat berterima kasih. Atas hari-hari dalam pertemuanmu denganku. Dari awal. Sejak melihatmu. Aku merasa sangat kecil bagai debu. Ingin ku raih apa yang kau raih. Ingin aku gapai apa yang telah kau gapai. Tetapi, kita sungguhlah berbeda. Bahagianya menjadi dirimu, bukan? Aku rindu, membaca blogmu yang kini tak lagi kau urusi. Dia sudah berdebu, kau tau? Kau sangatlah luar biasa dalam pandangan mataku. Bahkan ketika fotomu yang muncul, aku merasa sangat bahagia.

 

Terimakasih…

Terima kasih banyak…

 

Untuk teman yang tidaklah dekat. Untuk teman yang ku kenal sejak lama.

 

Kala sendiri.

17.52

Purwakarta

Bismillahirahmanirrahim…

Seorang sahabat meminta saya untuk menceritakan pengalaman 3 hari saya menjadi Rapporteur. Saya rasa saya perlu mengabulkan permintaannya. Karena sahabat saya ini adalah salah satu alasan mengapa saya tetap mengisi wordpress ini.

img-20160924-wa0030

Alhamdulillah, saya diberikan kesempatan oleh Allah ta’ala untuk menjadi bagian dalam kegiatan Governing Board Meeting (GBM) SEAMEO SEN pada 21 hingga 23 September 2016. Saya dan kedua teman saya (Verra dan Dheru) dimandatkan untuk membantu Rapporteur, di bawah bimbingan Ibu Mazmi dan Ibu Moni yang keduanya kami anggap sebagai Ibu kami. Ibu Mazmi dan Ibu Moni keduanya merupakan warga negara Malaysia. Sehingga dalam 5 hari kami bekerja bersama, kami disuguhkan bahasa Malaysia. Unik sekali. Jika tidak mengerti, saya dan kawan berbicara dalam bahasa Inggris.

Apa yang saya rasakan selama jadi Rapporteur?
Saya merasa sangat beruntung dan bahagia. Banyak pengalaman yang dapat saya petik selama berhari-hari berada di sana. Rapporteur bertugas untuk mencatat perjalanan meeting, tentu berbeda dari meeting yang pernah saya hadiri. Di dalam ruangan yang super dingin, hingga mengetik percakapan pun dengan jemari yang terasa kaku hehee🙂

Uniknya, ketika mengikuti GBM, saya seperti sedang melakukan test listening TOEFL versi Asia Tenggara. Di mana perwakilan setiap negara asia tenggara yang hadir membawa logatnya masing-masing. Itu lhoo, contohnya ketika teman saya Dheru berbicara bahasa Indonesia masih dengan medok jawa mengikuti. Sungguhlah unik🙂 Saya dan kawan, dituntut untuk bisa memahami sekaligus harus mempertajam pendengaran kami. Tentu, kali pertama bagi saya pribadi disuguhkan percakapan dalam Bahasa Inggris selama beberapa hari berturut-turut. Alhamdulillah, karena sering menonton vlog bule-bule(an) di youtube saya jadi bisa mempertajam pendengaran saya, hehe.

Jika di check di twitter saya ( @adindaqt ), saya sering men-tweet foto di spot yang sama. Di mana saya duduk di tempat itu untuk mencatat jalannya acara. Meski seringkali mengandalkan rekaman dari kedua kawan saya untuk menulis laporan dan mengecek kembali ucapan participants. SEAMEO SEN juga memiliki facebook fanpage, silakan di like SEAMEO SEN.

Selama di sana, saya benar-benar keluar dari zona nyaman. Siap menghadapi tantangan setiap harinya karena menjadi Rapporteur merupakan bagian dari tanggung jawab. Saya berpikir untuk bisa pergi ke suatu tempat lainnya di mana saya bisa belajar lebih. Sebagai penuntut ilmu, rasa malas seringkali muncul. Lingkungan baru atau aktivitas baru bisa jadi menjadi pemicu untuk bisa bersemangat lagi. Baru saja saya membaca artikel Fatwa Ulama tentang Fenomena Lemah dan Lesunya dalam Menimba Ilmu, di semester 7 ini harus lebih bersemangat lagi ya!

Insyaa Allah, aktif di UKM atau di Himpunan akan membawa pada pengalaman dan pelajaran baru. Mungkin lelah akan lebih kentara terasa namun setelah melawati serangkaian nano-nano perasaan, akan bertemulah pada titik di mana kesyukuran muncul, karena pernah menjadi bagian darinya.

Diakhir acara, setelah dinner seorang Bapak dari Brunei Darussalam (yang lebih terlihat seperti Kakek super keren bagi saya) mengucapkan terima kasih, layaknya saya telah melakukan pekerjaan yang luar biasa di beberapa hari terakhir. Saya tersentuh sekali dan hanya bisa tersenyum sambil berucap “thank you for coming here, sir”. Selain itu, saya juga bertemu dengan seorang Bapak, Dr. Jess dari SEAMEO Biotrop yang memiliki program untuk melatih anak autis belajar berkebun. Ketika saya mendengar ide yang dilontarkannya, saya merasa kagum, dan menyadari bahwa ada banyak ide yang muncul untuk membantu anak-anak berkebutuhan khusus untuk dapat mandiri bekerja setelah lulus dari sekolah. Asalkan guru mau mengeksplorasi kemampuan anak didiknya dan berusaha mencari organisasi yang mau mendukung idenya itu. Bapak super keren itu pun berucap “I adore you” kepada saya dan Dheru setelah kami mengatakan bahwa kami adalah mahasiswa Pendidikan Khusus yang merupakan calon guru bagi anak berkebutuhan khusus.

Alhamdulillah, aktivitas selama 5 hari yang di dalam tiga harinya saya banyak belajar ini membawa saya kepada kesyukuran. Allah ta’ala tau yang terbaik bagi makhluk-Nya. So, jangan pernah suudzon pada keputusan Allah yang telah dituliskan untuk kita sebagai makhluk-Nya.
10505345_1464716197111369_7153744117694080340_n

====================================

1:00 pm

Senin, 26 September 2016

Kemarin kembali mendengar suara Inggrid setelah lama tidak berbincang. Kangen sekali. Esok hari akan bertemu dengan Novia. Senangnya :’)

 

Bismillah…

“Ketika Bukan Aku yang Terpilih”, terpilih apa atuh, hehe…

Rasanya sudah lama ketika hasil telah diumumkan. Tapi, rasa syukur masihlah tetap ada karena Allah ta’ala telah menuliskan kisah yang indah dalam hidup seorang seperti saya ini. Seperti yang teman dekat saya telah ketahui, bahwa saya ingiiinnnnn sekali pergi ke suatu negara. Negara yang menjadi impian saya sejak dari kecil. Keinginan yang terus meningkat, ikhtiar berusaha dilakukan. Sampailah pada sebuah kesempatan untuk berada satu tahun di negara itu. Tapi, bukanlah saya yang terpilih untuk pergi.

Pergi menikmati langit yang berbeda. Pergi untuk menikmati disiplinnya. Pergi untuk bisa berkenalan dengan kawan dari belahan dunia lain. Pergi untuk suatu alasan agar saya bisa belajar lebih. Sedih? Tentu! Siapa yang tidak? Kecewa? Saya rasa tidak, rasa kecewa tidaklah ada, saya sangat berterima kasih kepada Pak Dosen yang mewawancara saya saat itu. Melalui lisan beliau lah diri ini dikuatkan. Kemudian Allah ta’ala membantu diri ini mengolah hati. Diriku pun ikut senang ketika salah seorang teman terpilih untuk pergi. Seperti rasa senang ketika mengetahui teman SMA saya pergi juga ke negara itu. Alhamdulillah…

Betapa bijaknya bapak saat itu memberi kekuatan, bapak lah orang pertama saya beritahu. Masih terngiang kata-kata bapak ketika berucap “Allah pasti punya pilihan terbaik buat teteh. Selalu husnuzhon pada Allah nak.” kurang lebih begitu, air mata tak terbendung, meski bapak tak melihat saat itu. Sengaja aku sembunyikan. Menangis karena penolakan itu? oh bukan. Menangis karena perkataan bapak, betapa Allah ta’ala teramat baik dengan memberikan banyak kekuatan. Alhamdulillah…

Kemudian sahabat J pun sama, dengan bahasanya yang unik dia berkata bahwa “Insyaa Allah pasti diganti dengan yang lebih baik ya din. Mungkin Allah sayang ama kalian yang cewe kalau harus ke sana tanpa mahrom eheheee,” lucu sekali. Terima kasih J.

Allah ta’ala selalu memberikan rasa tenang. Bahkan ketika scroll facebook. Entah mengapa rasanya ingin sekali berterima kasih pada orang-orang yang berbaik hati membagikan tulisannya, posternya, kata mutiara-nya di facebook. Dari jalan mana pun Allah tetap melindungi hati ini. Dari rasa sedih yang berlebihan. Dari rasa kecewa yang tidak perlu. Karena rasa sayang Allah ta’ala melebihi amarah-Nya.

Di mulai dari sekarang hingga nanti. Jangan lah pernah menyerah. Semoga dunia bukan lah tujuan utama.

Ketika Allah ta’ala belum juka memakbulkan do’a yang selama ini terucap, itu karena Allah menundanya atau akan menggantinya dengan yang lebih baik, Insyaa Allah…

11329945_993162770728802_7617727618851428269_n

Lega Sudah

Bismillah…

Lega Sudah…

Untuk apa? Diri ini sudah hampir merasa lega untuk beberapa hari ke depan. Apakah kegiatan yang dijalankan ini terasa berat? Sebut saja KKN. Karena memang ini namanya.

Lelah ku sebut? Ya Lelah… fisik… perasaan… hati ini… sangat lelah… Namun Allah ta’ala selalu menguatkan dengan kondisi yang melemah ini. Bukan tempat yang menjadi masalah, bukan pula teman-teman yang berada di samping dan sudah sudi bersama selama beberapa minggu. Tapi karena diri ini saja…

Perasaan lega akan terasa, ketika sudah sampai rumah. Istirahat. Istirahat sebelum menghadapi banyak hal lainnya. Sudah cukupkan saja. KKN yang satu ini sudah cukup memberi pelajaran. Meski sudah bersyukur selama berada di KKN, tapi sudah, cukup saja hanya sekali aku rasakan perasaan campur aduk ini.

Berhari-hari dalam perasaan lelah yang sama. Perasaan sakit yang sama. Serta perut kenyang yang sama.

Ah, rasanya banyak ketidaksyukuran yang banyak disebutkan. Sedang Allah ta’ala, aku yakin, memberikan banyak pelajaran kepada makhluk-Nya yang satu ini.

Allah ta’ala sangatlah baik. Meski diri sering meronta-ronta dalam kemaksiatan namun Allah ta’ala masih tetap memberikan kebaikan-Nya. Hingga mata kembali terbuka. Terbuka selebar-lebarnya. Terkadang menutup mata lagi secara perlahan.

“TOLONG! AKU BUTUH DI TOLONG DI JAM SEPERTI INI. ORANG LAIN BICARA TERUS! AMBIL ALIH TERUS! TOLONG IKAT MULUTNYA! IKAT DIRINYA! SUNGGUH LELAH MENDENGAR SUARANYA BERGEMA DI RUANGAN INI!” begitu ingin aku berteriak di 9:28 pm ini. Maafkan, diri ini masih memiliki sakit yang mendalam. Meski mungkin separuhnya yang lain memiliki rasa sakit yang sama pula.

========================================

9:29 pm

2-Agustus-2016

Subang

Kala hati berdiam, sudah ingin tidur. Sudah lelah berkompetisi dalam volume suara.

Bismillahirrahmanirrahim…

Alhamdulillah, atas apa yang telah Allah ta’ala berikan kepada diri ini.

Diri yang menguat hatinya kemudian melemah dan kembali menguat… begitu selalu…

Alhamdulillah, malam ini menjadi malam ke-6 berada di Subang. Berada di sini, di tempatkan dengan orang-orang yang banyak tertawa. Ikut bahagia… Alhamdulillah.

Malam kemarin kami makan baso bersama-sama. Naik motor beriringan, rasanya syahdu sekalii… Langit juga tampak sangat cerah hingga bulan dan bintang terlihat terang-benderang di langit malam. Di tambah lagi malam ini, malam minggu, kami beriringan pergi. Pergi ke sebuah tempat yang tidak pernah diri ini datangi di malam minggu karena sangaaaaattt jauh dari rumah. Tapi, karena berada di Subang dan jaraknya lumayan dekat, ditambah lagi malam minggu, akhirnya kami memilih berjalan-jalan. AAK! suka sekali jalan-jalan. Karena berada di rumah sangat bosan sekali :’) Sayangnya, gerimis malam datang hingga membuat niat kami hampir diurungkan. Alhamdulillah tetap jadi…

Nampak jelas titik cahaya

Dari pagi hingga petang

Bukit itu terlihat dari kejauhan

Ingin terus memandanginya selalu

Dengan sepeda yang ingin sekali aku kayuh di pagi harinya

Hanya untuk melihat bukit itu saja

Ingin sekali

Ya, ingin sekali…

Hujanku,

Tak apa kau datang

Namun,

Semoga Allah ta’ala mengizinkan diri ini melihat bukit itu

Serta langit pagi

Juga udara pagi

Yang menyapa

=====================

Sabtu, 18 Juni 2016

14 Ramadan 1437 Hijriah

Subang

Ditulis dengan senyuman di sebuah kamar

 

Coba, Pertama Kali

Bismillahirrahmanirrahim

Ketika yang lain tertawa dan tangan masih sibuk mengetik

Tugas belum terselesaikan

Alhamdulillah, Allah ta’ala memberi kekuatan

Sampai saat ini

Semoga terlaksana dengan lancar

Ketika hati menguat

Aku baik-baik saja

Aku baik-baik saja di sini

Sambil terus berharap terus baik-baik saja

Tau kah?

Diriku ikut tertawa

Bersama lainnya

Ya Rabb

Kuatkanlah hati ini agar tidak lagi melemah

Bersedih untuk hal yang tidak perlu lagi

=========================

Senin, 13 Juni 2016

9 Ramadan 1437 H

8:37 pm

Subang

 

Aku Berangkat

Aku Berangkat.
Menuju kota tempat menuntut ilmu.
Bandung.
Tadi pagi, hati ini berangsur tenang setelah sebelumnya dia berkecamuk begitu dahsyat.
Tadi pukul setengah tujuh, dengan motor yang dikendarai bapak, aku berangkat.
Mengejar waktu.
Mengejar pukul 6.
Bersama kepergianku dari rumah. Aku pandangi langit pagi.
Aku berbisik dalam hati,
“Langit, temani aku sampai Bandung. Aku pun ingin bertemu denganmu di tempat KKN nanti…”
Langit pagi.
Allah ta’ala membuat langit pagi tadi berwarna jingga.
Terus dan terus… aku pandangi hingga sampai di tempat.
Ya Allah…
Hati yang sebelumnya menangis, kini menguat. Sebelumnya berteriak kini mereda.
Dalam perjalanan menuju Bandung.
Bersamaan dengan deru mobil. Aku terus mengetik.

Semoga diri ini dapat bertahan. Selama jauh dari keluarga yang dicintai.
“Jauh” hanyalah jarak bukan?

===================
06.27
Minggu
KM 111
Tol menuju Bandung

Padamu

Ku dapati diriku memeluk tubuhku sendiri

Menguatkan isi hati di dalamnya

Menepuk pundak yang turun karena lelah

Wahai tubuh, sudahkah kau bersyukur?

Bersama lisan yang tak henti mengeluh

Sudahkah kau memohon ampun?

Atas apa yang dirimu kerjakan?

Membuat dirimu sedih bukan main?

Allah ta’ala memberikannya padamu

Ya, cobaan itu

Agar dirimu kuat

Senantiasa bersama tubuh itu akan ada,

Hati yang menjadi kuat

Bersyukurlah

Bertaubatlah

Pintu taubat, tidak akan tertutup

Hingga nafas diujung tenggorokan

=======================

2:45pm

10 Juni 2016

Purwakarta

Ketika diri dirasa lelah

Allah ta’ala sesungguhnya tengah menguatkan

Ya Allah…

Ya Allah…