Feeds:
Pos
Komentar

Bismillahirrahmanirrahim…

[[[ Hello guys! Thank you for spare your time to read this not so that important post but I really appreciate you whoever gave me insight and positive suggestion. I’m really happy having you guys around ^ ^ ]]]

Through this post, I want to cherished the moment. Alhamdulillahirrabil’alamin.

I know that I am a visionary. Sometimes I feel relieved because I already plan everything in every situations, but… I always feel anxiety for anything that not happen yet and I don’t like having that feeling…

Seringkali saya merasakan bahwa saya terlalu mengkhawatirkan masa depan yang belum terjadi, harusnya yang saya khawatirkan adalah saat ini. Hari ini. Yang bahkan belum selesai saya jalani. Pernah ngga sih dirimu bertanya pada diri sendiri? “1 tahun lagi aku mau ngapain yak?”, “Kira-kira acara besok lusa gimana nih? sukses ngga yak?”, “Duh, ini laporan kapan ya selesainya?” Pertanyaan ngga penting itu muncul. Padahal katanya, untuk apa mengkhawatirkan masa depan sedangkan si “saat ini” saja belum menginjak waktu petang.

Dari satu tahun saya bekerja di sekolah yang sama, saya yang cepat bosan ini menjadi belajar. Belajar untuk cherished the moment, menghargai momen yang ada. Saya sangat percaya bahwa waktu yang kita habiskan di dunia ini hanya sementara, sebentar banget! Dan ya… untuk saat ini, saya benar-benar ingin menghargai waktu yang sedang saya jalani.

Sempat saya khawatirkan tentang rezeki berupa materi, “apakah cukup?” “apakah bisa saya hidup dengan jumlah sebegitu?”. Kemudian Allah tunjukkan tentang rezeki yang Allah berikan bahkan sejak dalam kandungan lewat ceramah aagym… Dulu ketika kita dalam janin, apakah Allah membiarkan kita? Oh tidak! Allah beri rezeki kita lewat makanan yang ibu kita makan, lalu kita tumbuh besar dari kecil hingga memiliki kaki, tangan dan jantung yang berdetak di dalam perut ibu. Saat kita lahir ke dunia, bayi yang masih kecil belum bisa kerja, belum bisa melakukan apa-apa, Allah berikan rezeki lewat air susu ibu, saat air susu ibu kering, Allah berikan rezeki dari air susu sapi… Allah tidak membiarkan kita. Kemudian kita bertumbuh dan berkembang. Saat dewasa, Allah berikan kita rezeki berupa kekuatan untuk mencari nafkah dan beribadah padanya… Jadi intinya, Allah telah jamin rizki kita sejak bahkan kita masih di dalam kandungan… Bahkan saat kita belum bisa apa-apa, Alla berikan itu… Jadi mau mengkhawatirkan apa?

Pesan seorang ustadz, bukan rizki kita yang harusnya dikhawatirkan, tapi akhir kehidupan kita yang masih belum jelas. Ke surga atau neraka? begitu katanya… saya berpikir, benar juga kata beliau. Saya teringat bahwa kita akan meninggal saat rizki kita sudah Allah selesaikan dan terpenuhi… Jadi sebenarnya memang Allah sudah catatkan bagi kita masing-masing tentang apa saja dan sampai kapan saja kita mendapatkannya di dunia… Harusnya yang diri ini ingat bukan “sudah dapat berapa?” tapi “sudahkah bersyukur?”

Allah Maha Kaya. Satu asma Allah itulah yang seharusnya diri ini ingat pula… Allah mempunyaiiii segalanya di dunia. Allah mengurus makhluk-Nya dan tidak tidur…

Kemarin saat saya menginap di suatu tempat yang berada diatas bukit, saya menafakuri pemandangan yang saya lihat di malam hari… Saat itu indah sekali lampu kota terlihat dari kejauhan, berkelap-kelip seperti bintang gemintang yang jatuh ke bumi. Salah satu stadion juga terlihat dari tempat saya berdiri. Melalui pemandangan yang saya lihat dan tampak kecil, saya menyadari kelemahan saya bahwa penglihatan ini sangatlah terbatas. Motor yang berada dikejauhan saja hanya terlihat lampunya dan tidak terlihat jelas siapakah pengemudinya, namun Allah Al-‘alim, Ia mengetahui siapa dan apa yang ada dipikiran si pengendara tersebut… Allahu Akbar… Saya tau apa? Saya bisa apa? Itulah mengapa di dzikir pagi-petang, kita benar-benar menunjukkan kelemahan kita pada Allah dan memohon agar jangan sampai urusan yang sedang kita hadapi, kita jalani hanya dengan kekuatan kita, padahal kita lemah… “Kalau Allah ridha, manusia tidak ridha, terjadi tidak? Pasti terjadi. Kalau Allah tidak ridha, manusia ridha. Terjadi tidak? Pasti tidak akan terjadi.” Bahwa ketawakalan adalah tidak PD pada apa yang telah kita bisa, tetapi menunjukkan ketergantungan kita pada Allah ta’ala dalam setiap urusan…

Waktu mendengar ceramah sih, mudah banget. Tapi prakteknya hmm…. pasti banyak sekali lika-likunya… ada doa yang saat ini saya sukai… doanya:

ALLAHUMMA A’INNI ‘ALA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI ‘IBADATIK [Ya Allah, tolonglah aku agar selalu berdzikir/mengingat-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu].”

Yuk baca artikel kesukaan saya ini https://rumaysho.com/627-dzikir-dan-syukur-yang-sebenarnya.html

Seringkali perasaan tidak sabaran itu muncul, mungkin saat itu diri ini sedang alpha dari mengingat Allah… 😥 Siapalah diri ini yang cuman remahan kerupuk udang 😥

Tetapi… Alhamdulillah… Menahun Allah ajarkan ilmu… Semoga Allah merahmati kita… Cherished the moment by do good deeds and say “Alhamdulillah…”


The event that I’ve joined already finished. I’m really happy to be the part of the committee. I learnt how to manage my time, how to treat others and how to straighten up my intention only because of Allah… It was hard once but when I tried, Alhamdulillah Allah helps me… I’ll miss the view from the 4th floor! One story once was told by Shaikh that I remember was about Uthman Ibn ‘Affan… His story is remarkable… I realize why we should learn from sahabah, the companions of Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam

Bismillahirrahmanirrahim…

Sudah lama rasanya tidak menulis di sini ya, 2 bulan waww!. Setelah hari ini saya ikut lokakarya di Bandung Creative Hub oleh MDC, saya memutuskan untuk menulis di sini. Ingin berbagi juga, barangkali di sana (kamu, iya kamu, siapa pun itu), yang sedang dalam pencariannya ingin tahu “Boleh kah saya menggambar makhluk bernyawa?” dapat menemukan pandangan lain dari tulisan ini. Saya sama seperti kamu, yang dulu mencari-cari kebenaran yang padahal sudah benar-benar ada dihadapan mata…

Saya seorang penggambar. Penggambar makhluk bernyawa, manusia. Jika dilihat di wordpress ini, ada gambar manusia yang berhasil saya buat sebagai ilustrasi tulisan, meski terbilang saya masih pemula dalam menggambar. Saya juga tau, kalian Muslim para-penggambar-makhluk-bernyawa-lainnya juga pernah ditegur dengan hadits yang memang sering dibahas dalam beberapa kajian tentang haramnya menggambar mahkluk bernyawa. I know what you feel… *bro fist*

Dulu, saya pun abai akan hadits tersebut dan dengan ego saya sendiri menempatkan hawa nafsu yang pertama bahwa “Ah, boleh kok menggambar makhluk bernyawa kan niatnya ngga disembah juga”, itu kata saya dahulu. Bahkan saya juga sama seperti yang lain, mencari “pembenaran”, sehingga menggambar makhluk bernyawa ini memiliki dukungan agar tetap berlanjut. Namun, saya salah… Beberapa hari yang lalu, seseorang yang saya kira tak akan mengingatkan saya tentang haramnya menggambar muncul… men-capture hadits yang pernah saya baca itu… Dengan kata-kata yang baik, beliau menyampaikannya pada saya… Saya tertohok, bukan karena sosok siapa yang mengingatkan saya akan hal itu (lagi). Tapi, atas keputusan Allah ta’ala yang menunjukkan kembali jalan yang benar untuk saya melalui ucapan beliau… Hingga akhirnya, keputusan terakhir saya adalah ikut lokakarya yang hari ini terlaksana, saya akan benar-benar memutuskan apakah akan tetap menggambar makhluk bernyawa atau tidak sama sekali. Maka, saya melepas “pembenaran” yang sempat dijadikan dalil oleh saya untuk tetap menggambar makhluk bernyawa selama mengikuti lokakarya tersebut. Hingga, diakhir pematerian, saya memutuskan “Ya…. Aku mendengar dan aku taat. Saya berhenti menggambar manusia karena Allah ta’ala telah mengingatkan diri ini untuk benar-benar berhenti darinya”…. Sedih?… Iya… Saya harus menghapus folder foto berisi referensi gambar yang saya kumpulkan… Ditambah, project saya tahun ini mungkin akan berubah total… Tapi saya yakin, Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.

Muslim itu bagaikan satu tubuh, kita saling bersatu dan menasehati satu sama lain. Sebenarnya, beberapa kawan saya sering mengingatkan saya untuk berhenti menggambar makhluk bernyawa saat kuliah dulu. Bahkan mengirimi video kajiannya. Hmm… care banget yak… Kami bersama nonton kajian itu dan akhirnya saya pun tidak menggambar cukup lama. Hingga saya membeli satu buku yang membahas tentang menggambar itu haram?!, Saya menemukan ada beberapa sampaian yang memang menyatakan bolehnya menggambar, dari situ saya mulai yakin untuk kembali menggambar makhluk bernyawa… Panjang perjalanan, saya terus dan terus latihan menggambar manusia, dari yang tidak bisa akhirnya bisa meski masih memerlukan jam terbang yang tinggi… Saya yang akhirnya bisa menggambar itu tentu harus berhenti sepenuhnya jika memutuskan untuk tidak mengambar makhluk bernyawa, kan? Tapi hey! Ingat, di dunia ini Allah tidak hanya menciptakan makhluk bernyawa! Allah juga menciptakan makhluk lain dan benda lain yang bisa kita jadikan objek gambar! begitu ucap diri ini dalam hati sebagai penyemangat…

Saya tau, tidak mudah untuk melepas apa yang sudah kita sukai, apa yang sudah menjadi kebiasaan kita kan? Coba simak kisah pada tulisan ini… Click here! Semoga kalian menjadi yakin, bahwa sebelum lahirnya kita ke dunia, ada kisah terdahulu yang menceritakan untuk melepas ego dan keuntungan pribadi demi menjalankan perintah Allah… Aturan yang Allah tetapkan bukan untuk mengekang kita tapi untuk melihat sejauh mana keta’atan kita terhadap Allah. Bahkan bukan hanya menggambar saja yang diatur oleh Allah, hal kecil seperti masuk kamar mandi dengan kaki kiri sambil berdoa, makan dengan tangan kanan dan berdoa pun juga diatur oleh Allah… untuk apa? untuk kebaikan kita pula… :’)

Pada slide terakhir lokakarya, ada kalimat “Jadi, masih mau menggambar?” kurang lebih seperti itu. Saya jawab dalam hati Oh tentu masih mau! Mungkin dari sini Allah ta’ala memberikan saya kesempatan untuk tidak hanya melihat dan terpaku pada satu objek gambar “manusia” saja, di sini lah saatnya saya memulai kembali dari awal untuk belajar menggambar objek lain… Saya tidak tau seberapa lama akan tiba saatnya menguasai teknik gambar objek lain… Tapi semoga saat itu segera tiba, hingga diri ini benar-benar lupa bagaimana caranya menggambar makhluk bernyawa…

Sekiannn.

Semoga Allah ta’ala sampaikan kita pada Ramadan tahun ini… dan memberkahi setiap waktunya…

Minggu || 28-April-2019
4:34PM
@Bandung, saat hujan mulai turun dan suara rintikannya begitu merdu

How’s Life?

Bismillahirrahmanirrahim…

In the middle of doing reports after school. The thought of me wanting to write about how my working life is just came out. I’ve never updated about my “work” at twitter even ahhahaha~ because it’s different! what’s the difference? hmmm should I write it here?

Anyway, every time I post something here, I will definitely read it again in my next journey. Just to make sure that myself know how much I grow up and be thankful for what I have now… Ah thank you wordpress for being here with me the whole time :’) I also hope this post can make anyone be thankful for what they are and do right now…

So… actually, working is not my option after I graduated from university. All my passion and ambition is to study abroad. But… Allah knows my best and I never know, that working is also a good beginning for me to try after graduated…. I sent my CV and else to several schools and told to myself, any school is alright as long as Allah rida with it… how could I know if Allah rida or not? it was long ago, I always pray to have comfortable environment for me to work, after I got call from the school where I am today, I immediately set my other goals, I changed it… one of them is I want to work with ihsan (I want to work wholeheartedly because of Allah)…

So day by day had passed, after finished my 6 months contract (it was because I’ve never thought to continue my work but to chase my goal studying abroad hahha), I made another 6 months contract there…. Hoping that I could learn more from this school, because everyday is a new day for me…

At my first week, I remember that I couldn’t do anything hahhaha, that’s because I was placed in kindergarten, with zero experience I was blank… (I used to teach at kindergarten but that’s only for one day! for my class’ assignment!) I should change the diaper, I should put him to sleep, I should cut his nails. Like wow! I’ve never done it and here I should do it? to be honest, how tired I was at my first week, because I am a Special Needs Assistant who have to handle a really special kid… parents of special needs children must be really strong right? I appreciate them so much for their hard work to raise their children

Day by day had passed, I really enjoy working in the school where I am right now… The teachers really are nice and friendly, yes they are!

I am still having a question till now, how can they work so that long? will I do the same thing? maybe… only Allah knows my future ahead.

Never think that Allah puts aside all of your prayers to him… He knows best for you! even now, I would never feel disappointed to not get accepted for studying abroad. I feel so happy and grateful instead… Alhamdulillah… Seeing my friends uploaded the picture of sakura… snow… posted some beautiful pictures of where they are right now made me jealous of course! and that jealousy was turned into prayer and hope, wishing someday I can visit those countries…

May Allah gives us His rahmah to our journey…

when we went to city hall park

5:43PM
25 Feb 2019 / Senin
@Bandung, where my mafumafu-san serenade me with his voice hahaha

Ia berlari begitu kencang hendak menggapai tali temali yang terikat pada kapal pesiar langit, tali yang menjuntai ke bumi agar ia bisa pergi bersama kapal pesiar langit.  Namun, seseorang memanggil namanya. Teriakan yang menggelegar dihatinya. Bersegera ia menoleh ke belakang. Seseorang  berkemeja biru dengan air mata diujung sana berdiri tegak. Tubuhnya turun naik seakan telah lelah ia berlari. Ia yang tadinya berlari mengejar tali terhenti, menatap si kemeja biru yang masih bercucuran air mata. Ia berlari kearahnya namun tersungkur jatuh tiba-tiba, air matanya mengalir begitu deras, ia tak bisa menggapai si kemeja biru. Ia berteriak memanggil namanya. Si kemeja biru pula memanggilnya dan hendak menggapai tangannya. Kemudian akar pohon menjalar begitu cepat diantara mereka. Si kemeja biru tertohok melihat ia yang terperangkap dalam perangkap akar pohon. Si kemeja biru  berlari dan bisa menyentuh ia dari balik perangkap. Mereka berpelukan seperti ada yang salah, ada yang keliru. Masing-masing saling membutuhkan satu sama lain. Namun mereka hanya berjarak sebuah perangkap. Si kemeja biru hendak bertahan di sisi ia. Tetapi, awak kapal pesiar langit menariknya keatas, untuk ikut bermigrasi dengan penduduk lain. Ia melihat kearah kemeja biru yang tak bisa berkutik ketika dibawa paksa oleh awak kapal pesiar langit. “Tunggu aku!” seru kemeja biru hampir sampai diufuk. “Tunggu aku!” serunya lagi. Ia hanya diam dengan sisa air mata terakhir yang mampu ia keluarkan dari mata besarnya. Tak mampu ia menangis, tak mampu ia untuk dapat menepis rasa sedihnya. “Aku… Tak akan bisa menunggu… Sampai kapal pesiar langit karam. Itu tidak akan pernah terjadi selamanya…” ucap Ia sambil memeluk lututnya. 

Bismillah…

IMG_20181118_115136.jpg

Alhamdulillah, I finished reading Never Ending Hijrah. The book that waken me up and inspire me. Thank you Ms. Fina for recommend me the book! She was the person that told me to read it, fortunately there are 2 of this book at our school library so I lend it immediately. Ah I really need to read more books before this year ended. I realize my time was spent too much from watching…

Hijrah… Sesuatu yang dalam pandangan saya identik dengan anak muda gaul yang jauh dari ngaji yang akhirnya jadi sering ikut ngaji dan masih tetap bisa main… Dan rasanya pandangan saya selama ini salah atau mungkin lebih tepatnya terlalu sempit. Hingga akhirnya buku Never Ending Hijrah memberikan saya sebuah pencerahan.

Oh iya, ini bukan tentang ulasan dari buku yang telah saya baca itu, tapi lebih ke mengapa sih buku itu bisa sampai menggugah saya dan menginspirasi saya…

Buku tersebut berisi cerita tentang sepasang suami istri yang tinggal di sebuah negara nan jauh dari Indonesia. Mereka menebarkan manfaat di negeri tempat mereka tinggal, juga tak luput membantu negara asal mereka pula meski jarak memisahkan. Perjuangan mereka dari kecil hingga berumah tangga diceritakan. Begitupula pandangan mereka tertuang dalam cerita…

Saya dibuat terkagum dengan kehidupan mereka yang terangkum dalam buku. Di mana mereka masih bisa menjalankan sunnah dan berislam secara kaffah di negeri orang. Berbeda dengan buku-buku lainnya yang saya baca tentang diaspora yang sukses di negeri orang, di dalam buku Never Ending Hijrah ini bahkan terdapat tulisan motivasi dan penggugah dari penulis lainnya…  Seakan membuat tali temali yang terikat kuat dengan cerita yang disuguhkan sebelumnya …

Eitsss, tentu isi cerita bukanlah fiksi, tetapi nyata adanya. Hingga membuat diri saya yang muda dan terkesan idealis ini lebih membuka pikiran bahwa… You should change the way you think, the way you do, the way you act because of Allah din… That’s what I told myself. Rasanya,  Allah benar-benar memberikan pelajaran kepada saya melalui buku tersebut dan memberikan arahan pada saya untuk menjalani kehidupan di dunia sebagai bekal di akhirat kelak…

Dear teman-teman… Para pemuda… Saya sangat menyarankan untuk membaca buku ini. Jangan lupa baca basmalah sebelum membaca agar ilmunya barokah dan Allah ridho…

MasyaAllah… Bagi saya, pembahasan pada buku tersebut terbilang lengkap. Banyak bertebaran resensi maupun review buku tersebut yang bisa kalian cari jikalau penasaran dengan apa sih isinya hingga membuat saya menyarankannya…

Ah! Banyak sekali dari isi buku tersebut yang bisa dijadikan pengingat. Pokoknya this book is awesome!

Baru saya menyadari kalau beberapa bulan kebelakang wordpress ini tidak terisi oleh tulisan baru. Saya masih memikirkan konten apa lagi yang harus saya tulis selanjutnya 🙂

12:15

@Rumah Purwakarta

Sekelumit

Bismillahirahmanirrahim…

Alhamdulillah. I met with my lovely best friend since high school, Inggrid. We shared some stories of our struggle as fresh graduate and as newcomer in work environment. We knew that we also faced some plus and minus. Many time we could find difficulties, it made our heart becoming weak. Well that’s life, isn’t it? We could not prevent all of the problems, but we could deal with it, InsyaAllah…

Tentu saya berbahagia setelah berbulan-bulan tak berjumpa–meski sering menyapa lewat twitter–akhirnya saya bisa bertemu dengan sahabat saya. Percakapan kami tak jauh dari membicarakan aktivitas masing-masing. Karena kami saling percaya, satu sama lain mampu mendengarkan keluh kesahnya.

Kami sama-sama fresh graduate, well masih kah fresh? mungkin masih, karena baru setahun kurang kami lulus dari almamater masing-masing. Awalnya setelah skripsi selesai, berat beban di punggung terlepas begitu hebatnya, membuat diri jadi ringan. Sampai-sampai terlupa, ada dunia lain yang harus dimasuki setelah lulus dari perkuliahan.

“Selamat masuk ke dunia kerja!” begitu ungkap seorang teteh yang saya kenal baik, setelah mengabari bahwa saya telah lulus sidang skripsi. Saya dulu hanya menanggapi biasa saja, karena rencana saya saat itu adalah langsung lanjut S2 dengan berburu beasiswa. Namun, Allah ta’ala menuliskan takdir yang lain untuk saya sehingga akhirnya saya terjun payung pula dalam dunia kerja.

Saya dan Inggrid saling bercerita tentang kekhawatiran kami. Saya yang  khawatir karena baru saja akan pindah ke tempat kerja yang lain, yaitu sekolah yang baru dan Inggrid yang bercerita tentang sekelumit kisah antara dia dan koleganya. Lagi-lagi satu permasalahan yang menyatukan kami, kenyamanan. Iya ngga grids? Iyain aja ya hahahaa (In case Inggridious baca tulisan ini 🙂 )

Saya paling susah untuk merasa nyaman di awal menginjakkan kaki di lingkungan baru sebenarnya, namun saya yakin semua butuh proses sehingga kenyamanan itu bisa kita temukan, tapi dasar saya-nya kadang kurang sabar, jadi ingin segera cepat-cepat nyaman, kalau tidak nyaman maka saya akan pergi. Titik.

Apakah yang lain pula merasakan hal yang sama? Apakah mereka juga butuh adaptasi yang lama? Bagaimana untuk menumpas ketidaknyamanan yang dirasakan? Beragam pertanyaan muncul dalam benak saya. Saya sejujurnya merasa khawatir dengan lingkungan kerja yang baru. Khawatir saya tidak nyaman dan memilih untuk pergi dalam waktu yang terbilang singkat. Jika muncul rasa tidak nyaman itu bahkan saya jadi bertanya-tanya pada diri, apakah menjadi guru adalah keinginan saya? Meski dahulu ketika kuliah saya dapati bahwa mengajar adalah pekerjaan mulia yang mengasyikkan. Terutama berinteraksi dengan anak-anak.

Sambil menuliskan ini, saya jadi berpikir banyakkk…. begituuu banyaakk halll…

Ibu saya adalah seorang guru, begitu juga bapa. Ibu dan bapa bahkan telah lama mengajar. Saya yakin ada pula kesulitan yang dihadapi oleh ibu dan bapa. Namun memilih untuk tetap bertahan meski pahit. Aah… indah sekali… Ingin pula saya memiliki rasa kecintaan pada pekerjaan yang saya geluti. Ah din baru saja beberapa bulan dirimu bekerja, tapi sudah banyak mengeluh. hmm… keluhan ini jadi refleksi diri pula kedepannya….

Beberapa video pernah membuka mata saya tentang pekerjaan…

dan

Diri ini masih belum berpengalaman untuk menyikapi persoalan di lingkungan pekerjaan dari sisi manapun. Semoga Allah ta’ala mempermudah langkah saya dalam menghadapi masalah yang mungkin muncul, karena hidup tidak selamanya mulus.

Barangkali pekerjaan yang sekarang akan meninggalkan jejak yang baik bagi saya di masa depan. Sama seperti ketika saya mengajar murid pertama saya sejak bulan Januari. Pada awalnya sangat sulit sekali, hingga butuh adaptasi yang begitu lama. Hingga akhirnya saya mampu untuk dekat dengannya.

Keinginan saya masih sama, tahun depan saya sudah belajar lagi. Duduk di bangku kuliah… Entah akan terwujud atau tidak… Atau tiba-tiba berganti haluan… Wallahu’alam


6:42PM
23 Juni 2018
@ Rumah Pwk
Menghitung hari libur yang menipis. Diri ini malah mencari-cari tanggal merah pada kalender untuk bulan-bulan kedepannya.

Air yang Menggenang

Bismillahirohmanirohim…

Let me quote one of someone’s words at the opening event ceremony that I’ve joined couple days ago.

“Ibarat air. Jika ia mengalir maka ia akan memberikan manfaat ketika melewati jalurnya. Sedangkan, jika air diam saja dalam suatu tempat atau wadah, maka air hanya akan berubah warna dan berbau. Seperti manusia yang bergerak mencari ilmu. Seperti para salafus shalih mereka pergi menuntut ilmu begitu jauh, dan ilmu itu bermanfaat bagi penerimanya.”

Baru saja berlalu beberapa hari yang penuh makna bagi diri saya. 10 hari yang bermakna dan membuat saya bermuhasabah tentang keadaan diri yang penuh ke-alpha-an ini.

Pada awalnya muncul keraguan untuk ikut, karena saya harus kembali ke Bandung sedangkan rumah masih menjadi tempat terenak untuk berpuasa dengan keluarga. Namun, ada suatu bagian dari acara yang sangat menarik bagi saya, yaitu tentang mempelajari Alquran dari suatu matan. Saya benar-benar membawa kepala saya yang masih kosong ke acara yang saya ikuti itu. Tanpa terlebih dahulu membaca referensi sehingga ada gambaran. Hingga sampailah pada hari-H yang ibaratnya saya menampung banyak air dengan gelas kaca saya yang masih kosong, ia meluber. Tak sanggup menampung semuanya.

Pada pematerian pertama saya benar-benar melongo, tidak mengerti satupun apa yang tengah dibahas. Ditambah lagi kitabnya berbahasa Arab, hingga saya yang belum pernah belajar bahasa Arab tetap melongo. Kecepatan penjelasan pemateri benar-benar ngebut, dan lagi teman-teman lain sudah ada yang memahami sehingga bisa menjawab pertanyaan dari pemateri dengan begitu lancar. MasyaAllah, ketika pematerian rasanya saya bagai butir debu di antara kumpulan benih emas yg bertebaran. Apa kabar kamu din?

Dari semua kemelongoan itu saya sadar. Saya tidak tau apa-apa.

Selama acara saya mempelajari qiroat dan matan. Itu merupakan pengalaman baru bagi saya. Meski banyak melongo, tetapi pada hari berikutnya saya mencoba berusaha mengikuti alurnya sedikit-sedikit. Dari sana pun saya baru menyadari bahwa ilmu memang harus dihafal untuk menjaganya. Itulah mengapa setiap peserta diharapkan untuk dapat menghafalkan materi agar ilmu yang diterimanya dapat ia jaga meski ia berada jauh dari bukunya.

Setiap hari, terutama pada Materi pertama yang dimulai selepas subuh, saya dibuat terkagum dengan Alquran. Banyak yang tidak saya ketahui ternyata. Ketika diri merasa sudah tau banyak, rasanya itu hanyalah kesombongan diri saja. Sesudah belajar pun saya merasa bahwa ilmu yang saya dapatkan itu ibarat saya mencelupkan jari keluasnya samudera kemudian mengangkat jari saya yang terkena air, nah, sebegitulah rasanya ilmu yang baru saya dapatkan. Hanya sanggup membasahi bahkan tidak setetespun ia jatuh. Sangat sedikit.

Lagi, saya tersadar untuk bersegera mendongkrak diri agar terus bergerak maju. Kerja boleh. Namun, menuntut ilmu di majelis harus tetap dilakukan. Saya jadi berkeinginan untuk dapat belajar banyak tentang Alquran. Jadi, ada yang mau bopong saya ke Mekah atau Madinah? Saya ingin sekali ke sana sejak lama. Berharap Mekah dan Madinah adalah kota di luar negeri yang dapat saya kunjungi pertama kali. Ah… saya hanya sanggup berdoa dan ikhtiar sekemampuan saya saja.

Hmm… Pada 10 hari itu pun saya bertemu dengan teman-teman yang baik hati. Mereka sangat ramah dan bersahaja sekali. Semoga saya dapat bertemu dengan mereka suatu saat nanti.

Ingin rasanya membagi banyak hal di sini. Tapi, sepertinya sekian saja curhatan saya tentang 10 hari yang penuh makna itu. Semoga Allah ta’ala memberikan usia panjang yang barokah untuk saya dan siapapun yang membaca ini…


13 Juni 2018
29 Ramadan 1439H
9:40PM
@ Rumah Purwakarta

Ramadan sudah dipenghujung waktu. Sedih rasanya harus melewati Ramadan. Alhamdulillah Allah ta’ala memberikan usia yang panjang kepada saya dan mengizinkan saya untuk bisa merasakan Ramadan tahun ini. Ramadan… ku kan rindu…