Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Desember, 2013

Musim Hujan Telah Tiba

Rainby Lady-Tori
Musim hujan telah tiba. Itu yang kurasakan meski hujan baru mengguyur kotaku semenjak 2 hari yang lalu. Pakaian yang kemarin ku cuci pun belum kering. Padahal cucianku yang lain sudah menumpuk untuk segera dicuci. Aku hanya menyeruput teh naga yang baru ku buat. Wangi khas yang terhirup hidungku membuat tenang. Gemericik hujan yang mengenai genteng kost-anku begitu merdu, seperti lagu alam yang sengaja di putar. Sekarang sudah pukul 1 siang namun langit terlihat seperti jam 6 pagi, gelap karena mendung yang menggantung dan hujan yang belum reda. Aku bosan sebenarnya berada di kamarku. Penghuni kamar kost-an yang lain sudah pulang kampung. Tinggal aku sendiri. Seharusnya aku juga sudah berada di rumah, tapi sesaat sebelum pulang aku baru ingat kalau orang tua ku sedang berada di Malang. Dan jika aku berada dirumah sekarang tentu aku akan bingung. Aku tidak bisa mengendarai motor, jadi pastinya aku tak akan bisa kemana-mana. Karena tempat aku tinggal agak sedikit terpencil juga.

Kuputuskan jam 2 nanti jika hujan belum reda juga akan aku paksakan diri untuk pergi keluar. Berjalan-jalan di tengah hujan sepertinya menarik. Akan aku abadikan beberapa momen nantinya melalui kamera ku. Mungkin saja bisa aku ikutkan lomba foto di kampus. Hehe

Jam 2, ternyata hujan belum reda. Dan dengan semangat membara ditengah hujan, aku berjalan pergi. Melewati jalanan becek. Menuju suatu tempat yang aku tak tau. Aku biarkan langkah kaki ku yang membawaku pergi. Aku harap hari ini menyenangkan.
umbrella_I_by_letzte_Regen

Seakan mendapat ilham. Aku merasa mendapatkan sebuah ide. Aku mengambil handphone ku dan mulai mengetik di note. Kata-kata untuk hujan yang turun.

Hujan memiliki rahasia dibalik rintikannya.
Aku sadar.
Aku mengerti.
Bahwa aku mencintai derasnya hujan sore ini.
Mengingatkan aku pada masa kecil.
Dimana aku menari dibawahnya.
Menari bersama seiring jatuhnya air hujan keatas payung coklatku.
Tanpa merasa malu ketika teman sebayaku yang lain menatapku heran.
Hujan.
Dimana kedatangannya aku ketahui dari wanginya tanah basah.
Dan katak yang berbunyi riang menyambutnya.
Meski petir sesekali menggelegar seakan marah.
Namun, hujan tetap deras mengguyur tanah.
Berjuta-juta payung mengembang ketika beratus rintikanmu jatuh menyentuh bumi.
Beratus-ratus anak kecil berlarian menjemput kawannya untuk di ajak menari dan bernyanyi riang dibawah rintikanmu.
Biarkan hujan turun.
Jangan kau kutuk.
Karena darimana kah air yang kau minum?
Hujan.
Sejuta misteri ketika kau reda.
Akankah pelangi datang?
Saat kau dan sinar matahari menyatu.
Memanggil pelangi.
Untuk mengukir dirinya di langit.
Hei!
Tak akan ada pelangi di langit ketika tak ada hujan dan sinar mentari.

Segerombol anak kecil berlarian di hadapanku. Salah satu diantaranya terus menendang bola plastik. Dan yang lainnya mencoba merebut bola itu darinya. Mereka terlihat gembira meski tubuh mereka penuh lumpur. Mereka pun terlihat tak khawatir dengan omelan ibunya nanti ketika melihat kondisi seragamnya.
Hujan.
Rasanya masih belum bisa memotret. Masih ingin menikmati tiap rintikan hujannya meski sepatu basah total.
Aku melangkah lagi. Menuju tempat yang tak pasti. Hanya menikmati hujan. Dan jalanan yang basah juga daun yang berguguran.
walking_in_the_rain_by_13idiotbox

Iklan

Read Full Post »

Selembar Kertas Putih

Selembar kertas putih
Kau hanya memandanginya
Berharap ada sepatah kata yang mampu mewakilkan segala perasaanmu
Kemudian kau torehkan dengan pena yang beberapa kali sudah kau celupkan kedalam tinta
Kau hanya tak ingin menyakitinya
Kau tak akan mampu melihatnya nanti
Namun sebenarnya emosi telah memuncak
Ingin kau luapkan segalanya
Kemarahanmu
Kebencianmu
Kekesalanmu
Semua padanya kau ingin tujukan
Semua padanya kau ingin tunjukkan

Mengapa kau menghindar?
Mengapa kau selalu kesal?
Padanya kau tersenyum manis
Padanya kau berlemah lembut
Sedang padaku
Kau berwajah masam
Kau berwajah bosan
Tak mau dekat denganku
Menjauh selalu
Kau takut?
Kau malu?
Saat dekat denganku?
Ada yang salah denganku?
Dengan penampilanku?
Katakanlah
Tak perlu merasa sungkan
Toh padaku kau selalu menyinggung sinis
Aku tau bahwa diriku mudah marah
Namun, tentu bisa kutahan kemarahan itu jika kau langsung bicara
Bukan terdiam
Diam
Aku benci diam tanpa meninggalkan sepatah kata
Lebih baik aku mendengar cacian pahit namun berarti
Cacian yang dapat mengubah diriku
Cacian yang membuat aku tau
Bagian mana dari diriku yang tidak kau sukai
Hanya itu

——————————————————————-
Kita tak akan pernah tau.
Mungkin saja kawan yang kita benci adalah orang yang ternyata selalu mendoakan kita. Sambil mengingat wajah kita, dia berdoa.
Bahkan mungkin sobat dekat kita tak pernah menyebut nama kita disetiap doanya. Lupa bahwa kita selalu tertawa dengannya. Setiap hari dilalui dengan candaan tanpa tangis.
Sempat terlintas di bibir kita atau hati kita, kata-kata kasar yang kita lontarkan padanya sahabat kita yang sangat kita benci hanya menatap wajahnya.
Disitu, saya sendiri merasa kalah.
Saya berwajah masam padanya.
Sedang ia dengan tulus tersenyum.
Hei, dia dapat pahala
dan mungkin saya sendiri dapat murka

Read Full Post »