Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Februari, 2014

Sehari Jadi Puitis

Itu sebenarnya dilebay-in *lirik judul*

Assalamu’alaikum 😀
bagaimana kabarmu disana? Alhamdulillah, saya sehat disini. Jaga kesehatan mu ya 🙂 agar tidak sakit dan optimal dalam melakukan pekerjaan yang ingin kau jalani (^ w ^) *smile* *cheese* *jahe~*

Saya diminta untuk baca puisi didepan kelas tadi. Well, itu bukan karena saya ini jago dalam pembacaan puisi.

Semua berawal dua minggu yang lalu, ketika kami PKh-B diminta untuk mengumpulkan contoh jurnal dari berbagai sumber(mata kuliah B. Indonesia). Dan ternyata Ibu dosen saya yang super cantik ituh (beneran cantik looh~ senyumnya manis, kalau bercanda itu lucu wajahnya, kalau kaget malah ramah wajahnya, itu menurut saya, heee *oke malah jadi ngetik kecantikan beliau.__.*), beliau kira-kira bilang begini, "jika ditemukan jurnal yang sama maka pemilik contoh jurnal tersebut harus membaca puisi". Lega lah saya. Loh kok? Lega? Maksud L? *gaya anak alay* Alhamdulillah, karena hanya diminta untuk baca puisi, bukan cari contoh jurnal ulang yang pastinya bakalan ribet lagi=__=.

Dengan deg-degannya, ternyata firasat saya benar. Ada 4 jurnal yang sama dengan saya #JlebMomentPisan. Dan tidak hanya 4 orang termasuk saya yang harus baca puisi. Tapi beberapa orang lainnya. Satu persatu mereka mulai membaca puisi yang mendadak dibuat tadi. Makin deg-deganlah saya. Dan lucu nya Ibu dosen meminta kami untuk membuat puisi yang temanya tentang cinta. Olohok lah saya. Gimana bikinnya-__-

Waktu menunjukkan bahwa mata kuliah B. Indonesia selesai. Saya dan Jannah (yang sama-sama terlantar akibat menemukan jurnal yang sama) akhirnya menunda pembacaan puisi hingga minggu depan. Ketika minggu depan itu datang, Ibu dosen tidak masuk. Dan akhirnya hari inilah saya dan jannah membaca puisi karya kami masing-masing.

Sebelum tampil pakai suit dulu lagi-__-. Anehnya saya yang menang suit malah kebagian maju duluan. -__- #HidupIni TidakAdil #okesipp *ih alay ya.__.* rasa degdegan itu muncul, jadi saya bacanya agak terburu-buru (biar cepat selesai juga sih hehee~)

Ini puisi yang saya buat dipagi hari tadi dan dibacakan didepan kelas,

10
9
8
Hitung mundur kulakukan
Agar jantung berdegup kencang
Mengingat senyum kemarin malam
7
6
5
Langkah terhenti
Didaun pintu rumahmu
Mengingat langkah kita kemarin pagi
4
3
2
1
Kulihat kau di sofa
Terduduk santai tak berkutik
Mengingat janji kita untuk selalu bersama
0
Hening
Ternyata kau tiada
Dan hanya aku yang tau
Beku tubuhmu
Hingga ku peluk
Aku tak menangis
Hanya hati yang tersedu
Tak terima
Ruhmu tak ada disisiku

Entah apa yang saya pikirkan ketika membuat puisi ini. Mungkin kah dia? *Ceilee~* *tsaaah* Kambing._.
Setelah baca puisi itu indah bicara sesuatu pada saya.
Kelihatannya sih dia agak gereget gitu dan bilang, “kamu gugup ya? makanya baca kecepetan.”
Dan dia mencoba mengingat-ingat isi puisi saya itu *iya gituh?*
Saya sih yakin dia lagi jatuh cinta pada seseorang.__.
Iya kan ndah?
aku yakin kamu baca postingan ini.__. mwuwahahaaaaa~ ( > n < )~ dan bakalan komentar nanti didepan mata kita yang terlihat sama :v

Ya, mungkin puisi tadi yang saya buat di pagi hari saking ngelindurnya jam kuliah(ta’ kira sudah telat-__- ternyata malah berangkat kepagian-__-) hanyalah sebuah gambaran perasaan In*dah Ri*stiani XD wahahaaaa~ :v

Sudahlah, mungkin secara tak sadar saya membuatnya karena sesuatu hal. Hehe100x9999x1000x990x0

Read Full Post »

Obrolan 5 jam

Entah mengapa tergerak untuk ngetik disini-____-” mungkin efek obrolan 5 jam saya dengan karib saya, Indah dan Jannah (duo mauutzz~)
Memang bener ya kalau cewek-cewek pada ngobrol pasti ngalor ngidul kemana-mana
mungkin kalau dibikin list tentang obrolan tadi tuh gini kali ya
1. ngobrolin kenapa mata indah bisa bengkak (saya sama jannah ngira dia nangis gara-gara komputernya yang tiap 7% gagal install-__- dan indah keukeuh ngga mau dibilang matanya bengkak gara-gara dipipisin kecoa-__-)
2. ngobrolin tentang capuccino c*incau yang laku banget (kebetulan kita-kita *ceilee* lagi minum itu)
3. ngobrolin tentang akhir dari cerita Doraemon dan disitu kita bener-bener bingung dari kisah masing-masing yang pernah ditonton dan dibaca
4. ngobrolin tentang contek mencontek
5. ngobrolin sogok menyogok
6. ngobrolin masa lalu jannah (itu sebenarnya banyak banget ceritanya, panjang pula cerita dia *udah kayak episode di sinetron yang pake season-season itu-___-)
7. ngobrolin kawan-kawan kita yang kita nyatakan sudah siap mental untuk nikah *ehem uhukkk* berdasarkan status facebook dia.__.
8. ngobrolin salah satu kawan kita yang kepo pisan.__.
9. bantuin indah install ulang komputer dia (dan berhasil sampai indah sujud syukur dan ternyata pas malemnya si komputer kece kesayangan indah itu tidak kuat menanggung beban *jiiah~* hingga harus kembali error
10. ngobrolin double degree
11. ngobrolin kuliah
12. dengerin cerita jannah tentang guru nya yang bertemu jodoh secara soap drama banget (dan bikin gemes juga agak agak iri~)
13. ngobrolin tentang conan
14. ngobrolin kawan2 yang ada diluar daerah
15. ngobrolin salah satu UKM
16. Dan super bosen dengerin jannah bilang adadan-adadan. *untung saya dan indah dengan sabar dengerin dia nyanyi adadan-adadan-___-*
17. dengerin jannah baca status facebook orang kenceng-kenceng (padahal saya sama indah lagi serius-serius nya ngeliatin layar komputer yang terus terusan restart sendiri dan tiba-tiba shut down)

obrolan yang agak ngga berbobot.__. tapi penting banget buat dibahas :v
bagian terseru nya adalah ketika kita bertiga keluar hanya untuk beli es krim-__- *saking kabita na gara-gara ngomongin es krim juga ( = n = )*

Dan kalau boleh OOT (gaya nya indah)
tadi pagi itu rasanya tenaga saya terkuras habis karena segerombolan anak-anak yang saya sukai hiperaktif banget (ntah karena faktor apa yang membuat mereka seperti itu dan saya kewalahan menanganinya, biasanya ada pendamping di sisi saya *tsaaah*) tapi saya senang melihat mereka pagi-pagi~ terutama syahril yang ternyata masih mengenal wajah sayaaaa~ ( Q n Q ) *nangis bahagia*
darisana saya tau, mana anak yang berbakat, mana yang rajin, mana yang malas(selalu bilang tidak bisa tanpa berpikir panjang.___.”), mana yang tidak ingin belajar sama sekali. Dan tetap saja, ketika Salma bilang “ka.. udah ka belajar nyaa… mau pulaaang… ” dan seakan ngga ingin banget belajar. Minggu depannya toh dia tetap hadir 🙂 meski begitu artinya salma sendiri mempunyai semangat~ good job Salma!.

Dikelas itu ada Susanti yang super pintar dan perhatian pada temannya. Bisa dibilang dia anak yang berbakat. Ada juga wahyu yang cerdas ituuuuuu saya senenng banget kalau semua siswa seperti dia *looooh, maksudnya mau maju ke depan tanpa harus diperintah ini itu. ( TT n TT )
Dan ketika jannah dan indah bilang, “aku jadi mikir, waktu SD aku gitu ngga sih..” seakan-akan pikiran mereka mundur kebelakang mengingat masa lalu yang pernah mereka lalui. Saat itu pulalah pikiran saya menerawang(?), mencari-cari laci “waktu SD”. Mungkin saya lebih parah dari mereka. Saya sulit diajari(terutama matematika, saya tidak suka matematika-___- ketika kelas 2 SMP dan kelas 3 SMA saja saya memiliki kenangan indah bersama MTK *lope*), saya itu pendiam (saking diemnya kadang jadi yang paling invisible di kelas=___=), saya juga kadang malah tidak memperhatikan guru (mungkin dulu saya termasuk anak yang “punya dunia sendiri”), dan nilai saya selalu tidak membanggakan =___= (saya belajar ngga sih waktu SD?-_-).

Lalu, teringatlah wajah Ibu saya. Sudah bertahun-tahun beliau mengajar tanpa ada rasa lelah. Pasti sangat pusing ketika harus memperhatikan kebutuhan 20 bahkan 40-an anak di satu kelas yang kesemuanya itu memiliki kepribadian yang sangat berbeda dan bertolak-belakang. Toh saya bisa apa sih. Ketika ada seorang orang tua murid misalnya, mengeluh tentang anaknya kepada sang guru yang sebenarnya tidak hanya memikirkan nasib anak ibu itu dan harus berusaha mengoptimalkan dirinya bagi tercapainya kebutuhan seluruh siswa *jihaaa~* itu adalah hal yang berat. Maka dari itu, jangan meremehkan jurusan PGSD dan PGPAUD (dan saya salut pada mereka yang siap ambil resiko menghadapi anak-anak :”3 ). Guru lah yang membuatmu kini berdiri, menghadap ke depan (dan tentu juga itu semua kehendak Allah). Guru itu jembatan, jembatan bagi murid menemukan sesuatu yang baru baginya.

Ingatkah kamu, kapan pertama kali kamu bisa membaca? dan siapakah nama guru yang mengajari mu membaca dan menulis?

Ingatkah kamu kapan pertama kali kamu belajar perkalian? dan siapakah nama guru yang mengetesmu tentang perkalian sebelum masuk kelas?

Ingatkah kamu siapa nama guru yang terakhir kali memelukmu ketika kau masuk ke sekolah yang kau inginkan? Pasti kau lupa, mungkin sang guru juga lupa. Tapi berbagai kejadian itu pernah ada, meski terlupakan. :”) *tsaaah~*

Read Full Post »

Ya.. Bukan senja yang menangis hingga mendung tadi sore
Tapi aku
Hal sepele yang membuat air mata ini tiba-tiba keluar dari pelupuk mata
Sebelumnya sempat kutahan
Namun rasa hati semakin bergetar hingga tak bisa lagi aku tahan meski sebentar
Kerinduan
Itu yang di rasakan oleh ku yang berada jauh dengan mereka, orang tua ku
Beginilah sebuah jarak
Memisahkan kami
Ya.. airmata yang jatuh adalah sebuah kerinduan pada sosok kedua orangtuaku
Sesederhana sebuah kecupan ditangan keduanya tangisan ini
Sesederhana serangkai kata “hati-hati di jalan” tangisan ini
Sesederhana ketika bercanda dengan mereka tangisan ini
Ya.. sesederhana itu
Namun tetap airmata terus mengalir mengingatnya
Kadang rasa khawatir muncul
Apakah dunia ini terlalu menyilaukan hingga aku tak bisa memandang akhirat?
Apakah rasa cinta dunia ini hadir?
Aku tak tau
Tapi rasa cinta di hati pada Ibu dan Bapak semoga tak pernah pudar
Sejalan dengan roda kehidupan yang tak macet oleh maksiat
Insyaa Allah

Read Full Post »

62541741b25caba456d48a9ca3ebc750-d6rhruk

Ariana begitu ia dipanggil. Sosoknya yang kadang tak disadari ini selalu muncul di hampir setiap kasus pembunuhan. Dia bukan seorang pembunuh. Bukan pula seorang detektif yang dapat memecahkan kasus dengan tepat. Dia hanya seorang mahasiswi jurusan teknik agroindustri yang selalu menuruti hawa nafsunya untuk mengejar berita disana-sini demi keingintahuannya. Rasa ingin tahunya melebihi apapun, ia rela bolos kuliah hanya agar bisa mewawancarai pelaku pembunuhan mutilasi. Ya, tanpa ada rasa takut. Hanya ada gemetar dan adrenalin yang begitu kuat ia rasakan ketika berhadapan langsung dengan si pelaku. Kasus di bulan ini sungguh berbeda baginya. Membuatnya terus menerus menerka siapa pelaku pembunuhan yang membingungkan dan mengherankan ini.
Semua berawal di bulan Januari, ketika pemberitaan di media massa dihebohkan dengan kasus pembunuhan yang jarang terjadi. “Kasus Pembunuhan Si Cantik” begitu yang selalu diungkap atau Ariana sendiri memiliki tagline “Cantik Bisa Tewas” agak aneh memang, namun itu sesuai dengan kepribadian Ariana yang unik.
“Ar, mau kemana lagi sekarang?” Tanya Furin, sahabat baik Ariana. Sebenarnya namanya Ferry, entah mengapa Ariana begitu senang memanggilnya Furin. Katanya suara Furin seperti lonceng musim panas di jepang, begitu merdu ketika Ariana mendengarnya. Ariana mengernyitkan dahi, “Biasa..” jawabnya. Rasanya Furin sudah bosan mendengar kata “biasa” yang sering di ucapkan Ariana.
“Selalu saja begitu, kamu sudah bolos beberapa kali. Dosen juga hampir mencoret nama kamu dari daftar nama yang mengontrak mata kuliahnya. Kamu ini, kenapa ngga peduli sih sama masa depan kamu?” Furin menggelengkan kepalanya. Sudah pusing hanya memikirkan tingkah sahabatnya ini.
“Aku peduli kok sama masa depan aku. Aku ngga mau tuh diliputi rasa penasaran dikehidupan aku. Maka dari itu lah aku mengejar-ngejar informasi.” Tutur Ariana meyakinkan.
“Kenapa kamu ngga duduk aja? Nanti juga toh pelakunya bakalan ketemu meski kamu ngga ngejar informasi.” Furin menegak es teh manisnya. Siang ini memang panas. Ditambah rasa kesalnya pada Ariana.
“Kamu ngga tau sih sensasi dapat informasi langsung dari pelakunya.” Ariana cuek kemudian menyuapkan siomay ke mulutnya sambil terus mengatur jadwal pencarian informasi di notes kecil yang selalu menemani nya itu.
“Terserah deh. Selamat berjuang. Semoga ada salah satu pelaku yang jatuh cinta sama kamu dan ngajak kencan!” Furin angkat kaki, meninggalkan Ariana yang tidak peduli dengan kata-katanya tadi.
Jam menunjukkan pukul 3 sore, saatnya beraksi. Ariana mempercepat laju motor kesayangannya. Kali ini tujuannya adalah menuju lokasi kejadian perkara. Pelaku pembunuhan yang satu ini awalnya selalu melakukan aksinya dilokasi yang sama, didepan salon kecantikan daerah yang ramai orang berlalu-lalang. Namun, setelah kasus ini diungkap di media massa dan mulai ditemukan titik temu pelaku. Pembunuh ini mengubah taktiknya. Lokasi pembunuhan ia ubah menjadi disekitar daerah prostitusi. Dan target pembunuhannya tetap seorang wanita yang dinilai cantik bagi si pelaku, wanita berambut panjang hitam mengkilat, bibir yang merah merona dan tubuh yang tinggi semampai, juga bertahi lalat di ujung dagu kanannya. Pihak berwajib menyatakan bahwa pelaku pembunuhan ini adalah seorang pria yang diperkirakan memiliki permasalahan dalam hubungan dengan lawan jenis.
Ariana memarkirkan motornya didepan sebuah rumah kecil yang tampak tidak terurus.
“Cari siapa?” Tanya seorang wanita paruh baya dengan rokok yang bertengger di bibirnya yang menghitam.
“Oh, bu.. permisi.. mau numpang parkir motor..” ucap Ariana pelan dan sopan. Kaget rasanya melihat Ibu tersebut muncul tiba-tiba dari balik pagar rumahnya yang cukup tinggi.
Ibu tersebut kemudian membukakan pintu pagar dan dengan dagunya memerintahkan Ariana untuk memasukan motornya ke halaman rumah.
“Tidak apa bu disini saja..” kata Ariana ngeyel. Sebenarnya ia agak takut juga, si ibu tampak menyeramkan dan raut wajahnya sangat tidak ramah.
“Masukan saja ke halaman, kalau disitu nanti ada yang nyuri..” ucap si Ibu sambil sesekali menghisap batang rokoknya.
Ariana mengangguk dan akhirnya menuruti perintah si Ibu.
“bukan orang sini kan.” Tebak si Ibu yang memicingkan matanya.
“I-iya bu.” Ariana tersenyum dan menunduk takut. Tangannya gemetaran memegang notes kecil dan sebuah pulpen warna-warni.
“Gadis macam kamu harus hati-hati kalau kesini. Bisa-bisa dikira wanita sini. Mahasiswa ya?” ucap si Ibu lalu menyuruh Ariana mengikutinya untuk duduk dibangku halaman.
“Iya bu.. sebenarnya ada yang harus saya selidiki disini.” Ucap Ariana bak detektif.
“kamu dari kepolisian hah?” si Ibu melototkan matanya dan mengepulkan asap rokok tepat didepan wajah Ariana.
“bu-bukan bu.. saya hanya mahasiswa biasa..” jawab Ariana sambil menahan nafas agar tidak menghirup asap rokok yang bisa membuatnya batuk.
“menyelidiki apa?” Tanya Ibu itu lagi dan terus melihat Ariana dengan tatapan tidak suka.
“tentang pembunuhan yang terjadi disini bu…”
Setelah mendengar kata-kata Ariana tadi, si Ibu merasa tertohok dan menyuruhnya untuk tetap diam ditempat dan kemudian beliau pergi meninggalkannya sendirian di bangku halaman itu. Ariana merasa bingung dan menuruti perintah si Ibu untuk tetap di tempat duduknya.
Seseorang menepuk bahu kanan Ariana. Ariana melonjak kaget dan memejamkan matanya karena takut.
“Hei..” kata seorang pria yang tadi menepuk bahunya.
Ariana membuka matanya perlahan, berharap bukan sosok om-om menyeramkan yang akan menghabisinya.
Pria itu begitu tampan, tubuhnya tegap dan rambutnya tersisir rapi. Dia tersenyum hangat pada Ariana. Seakan membuat Ariana terlupa bahwa dia ada di tempat yang cukup berbahaya baginya.
“bukan warga sini ya?” Tanya pria itu sambil menatap mata Ariana.
Ariana mengangguk.
“tadi aku dengar kamu sedang menyelidiki kasus pembunuhan disini ya? Wah, keren. Kamu bukan penyelidik kan?” Tanya pria itu lagi dan mengambil posisi duduk tepat disamping Ariana.
“I-iya.. saya penasaran jadi saya datangi saja lokasi ini langsung.” Jawab ariana gugup.
“Saya Reksi. Mahasiswa juga, sama seperti kamu.”ucap Reksi ramah lalu mengulurkan tangannya pada Ariana. Ariana mengangguk tanpa menjabat tangan Reksi.
“Nama mu?” Tanya Reksi pada Ariana. Reksi menangkap sesuatu yang menarik dari sosok Ariana.
“Ariana.” Jawabnya singkat. Rasanya ingin segera lari dari tempat ini. Andaikan ada Furin, dia pasti akan membantu Ariana yang kini sedang ketakutan.
“Nama yang bagus, secantik wajah mu…” ucap Reksi. Ariana membelalakkan matanya. Ada hawa aneh yang dia rasakan, apakah mungkin.
“Akan aku ceritakan padamu, tentang kasus pembunuhan si cantik itu.” Kata Reksi lalu menggenggam tangan Ariana erat. Keringat mengucur deras dari dahinya. Ingin rasanya berteriak tapi..itu tidak mungkin dia lakukan ditempat seperti ini.
“Pembunuhan yang terjadi di bulan Januari itu begitu menghebohkan ya. Saya saja kaget, ternyata bisa seheboh itu. Padahal hanya gadis biasa yang parasnya tak cantik yang dibunuh. Semua terjadi di depan salon kecantikan, ya..saya tak bisa melawan hasrat saya untuk menghujamkan pisau di jantung nona itu..” perlahan Reksi menarik nafas panjang dan tersenyum. “habis, tahi lalat didagunya begitu mengganggu saya. Dia terlihat seperti..” Reksi terdiam dan menunjukkan wajahnya yang sedih. “seperti Ibu tiri saya.. yang sangat saya cintai namun menolak cinta saya mentah mentah!” kini raut kesal yang terlihat di wajah Reksi. Arian menelan ludah, ternyata benar pikirnya. Reksilah pelakunya, namun mengapa bisa semudah itu. Apakah memang seperti ini psikopat itu? Dengan mudahnya mengatakan apa-apa yang ia lakukan tanpa rasa khawatir dan takut? Oh tidak aku akan mati, pikir Ariana.
“kamu bayangkan saja Ariana. Rasa cinta saya begitu besar padanya, melebihi ayah saya sendiri. Namun, dia menolak untuk lari bersama saya dan memilih untuk bisa bersama ayah saya yang sudah renta dan memang memiliki segalanya, uang, mobil, rumah mewah. Segala yang diinginkan oleh wanita itu!” jelas Reksi dan memperkuat genggaman tangannya.
“M-mengapa? Mengapa kau mencintai Ibu tiri mu. Padahal kamu mengetahui bahwa dia begitu mencintai ayahmu.” Tanya Ariana, meskipun dia agak takut untuk angkat bicara.
Reksi menatapnya serius, “ ibu tiri itu adalah sahabat saya sendiri, sahabat yang saya cintai sejak 6 tahun lalu. Saya terus mengikutinya kemanapun ia pergi, dan ternyata ia ada diwilayah ini sekarang. Baru saya ketahui bahwa dia adalah seseorang yang menjual dirinya. Maka dari itu, setiap malam saya datangi dia. Meminta dia untuk kembali pada saya dan menghentikan pekerjaan kotornya ini. Setiap kali dia menolak, saya berlari keluar. Menenangan diri dan menghabisi nyawa wanita yang terlihat mirip dengannya. Saya tidak berani menyentuhnya, maka dari itu, saya membunuh wanita yang mirip dengannya.” Ucap Reksi tenang lalu melepaskan genggaman tangannya. Ariana bernafas lega dan tersenyum puas. Ia tidak lupa untuk merekam pembicaraannya tadi dengan Reksi melalui handphonenya. Ya, ini bisa jadi barang bukti!
“Kau temannya Ferry ya?” Tanya Reksi seakan tau.
“ha?” Ariana terbelalak. Mengapa Reksi bisa tau, dan… mengapa dia menatap dengan sorot mata ingin membunuh.
“Dia kakak saya. Dan dia selalu menyuruh saya untuk melupakan wanita itu. Dan baru saya tau, dia dekat dengan wanita yang selalu berusaha menyelidiki kasus-kasus pembunuhan yaitu kamu. Ketika kau ada di lokasi pembunuhan pertama saya. Saya pun ada disana. Melihat mu, memperhatikan mu. Dan ternyata kita berjodoh hingga bertemu disini. Yang jelas, saya benci Ferry. Dan saya benci kamu! Gara-gara kamu, nanti saya tidak bisa melihat wajahnya lagi jika saya dipenjara! Gara-gara kamu dia bisa memarahi saya habis-habisan! Gara-gara kamu saya tidak bisa lagi mengikuti kemana dia pergi! Gara-gara kamu dia bisa berurusan dengan polisi nanti!!! ”
Sebilah pisau tertancap di perut Ariana. Tamat sudah. Tak akan ada lagi penyelidikan. Tak aka nada lagi adrenalin. Semua gelap.
——————————————————–
Reksi menelan ludah, mengatur nafas dan denyut jantung yang tak karuan karena kekesalannya yang ia tahan. Kemeja birunya bersimbah darah. Ia menengadahkan kepalanya sambil tersenyum puas. Nafas kebebasan.
Wanita dengan tahi lalat di dagu kanannya itu terbujur kaku. Diam. Mata nya terbelalak, mulutnya tersumpal oleh rambut panjangnya yang digunting paksa oleh Reksi. Bibir merahnya koyak hingga terlihat giginya yang putih. Telinga kanannya terlempar ke kiri, karena Reksi begitu kuat mengguntingnya. Lantai di bawah mereka begitu merah oleh darah. Isi perut sang wanita terurai keluar. Daerah pergelangan kaki nya patah. Tubuh wanita itu sudah terlihat tak berbentuk. Tanpa rasa takut, Reksi melempar tubuh wanita itu dari jendela salon.
“pergilah kau kebencian! Pergilah kau rasa kesal! Aku mencintainya dasar bodoh!” ucap Reksi.
————————————————–
Ariana merasa mual di perutnya, sosok mayat itu ia lihat langsung di tempat kejadian perkara. Sosok Reksi disana. Memperhatikan gadis berambut pendek itu yang mendekat ke arah Furin.

=*==*==*==*==*==*==*==*==*==*==*==*==*==*==*==*==*
“”HAH UDAH GITU DOANG?“” mungkin itu yang akan kamu katakan setelah baca ini=___=”
sebenarnya panjang cerita yang akan saya buat. Namun, yaaaah~ begitulah saya~ ingin mengakhiri segalanya dengan cepat XD heheeee~

Nama tokoh Ariana terinspirasi dari manga Dawn Aria (Akatsuki no Aria) karya Akaishi Michiyo. Meskipun kepribadiannya berbeda._. tapi namanya cocok~ hehee
Sebenarnya penamaan tokoh menjadi salah satu bagian yang tersulit bagi saya (oke lebaaaayy~). Kadang namanya kurang pas kadang kurang berkarater.__.’ Yah begitulah~ hehe..
tapi Alhamdulillah karya saya yang ini bisa saya publikasikan di wordpress iniiii~ :”D *claps* meskipun terbilang “biasa saja” atau “level standar” tapi tak apalah~ bisa saja ini menjadi batu loncatan untuk karya yang selanjutnya ya uffuu.
Dan sejujurnya nama beken Furin itu saya temukan dari komik XD muhaahahaaaaa! Ketika sedang mencari inspirasi penamaan tokoh, eh nemu deh “furin” ya sudah saya masukan saja~ meskipun Furin hanya muncul sebentar saja di cerita pendek ini, dan tentu jadi bagian yang penting. Reksi sendiri saya temukan disebuah buku kece penuh inspirasi, disana ada kata “Leksikal”..Leksi..sikal..Reksi.. ya! Reksi.. itu reaksi saya ketika menemukannya.
Saya juga agak kesulitan cari referensi cerita, saya gugling deh tuh.. dan cari2 tentang berbagai kasus p*embunuhan di Indonesia dibarengi rasa degdegan baca postingan dari berbagai situs. Rampung juga akhrinya cerpen ini dalam 2 hari. Alhamdulillah :”D
Kalau bisa sih kasih komentar tentang cerpen yang satu ini :”) agar kedepannya saya bisa lebih baik lagi. Heheee

Read Full Post »