Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Maret, 2014

Kira-kira begitu *lirik judul* *fokus judul*
Sebelum memulai, yuk deh lihat video klip si unyu favorit saya waktu kecil. Sherina. Dengan lagunya yang berjudul Pelangiku (^ n ^)/*

Titik-titik hujan, masih membasahi
Kala kau menyapa, Pelangiku
Ingin ku berlari, jumpa bidadari
Bawalah aku pergi bersamamu

Bisikan kisah yang lucu
Nyanyikanlah lagu merdumu
Merah, kuning, jingga dan ungu
Sentuhkan warnamu dalam gaunku

Ingin ku menari hingga kau sembunyi
Rindu pelangiku datang lagi

Ingin ku berlari, jumpa bidadari
Bawalah aku pergi bersamamu

Bisikan kisah yang lucu
Nyanyikan lah lagu merdumu
Merah, kuning, jingga dan ungu
Sentuhkan warnamu dalam gaunku

Ingin ku menari hingga kau sembunyi
Rindu pelangiku datang lagi
Rindu pelangiku datang lagi

Put A Rainbow In Your Life

Bagaimanakah perasaanmu ketika mendengarkan lagu itu?
Kalau aku sih rasanya terputar kembali rekaman masa kecil dahulu
Yang tak terusik oleh berbagai teknologi yang mengganggu
Bermain dengan kawan sepulang sekolah menjadi hal yang paling ditunggu
Ya..
Bahagianya masa kecil kita dahulu, bukan? ๐Ÿ™‚
Acara televisipun belum dirasuki oleh berbagai acara yang tidak mendidik
Rasanya bahagia benar masa kecil dahulu

Surat menyurat
Membeli Majalah Bobo
Menulis buku harian
Bermain masak-masakan
Bermain lompat karet
Menghapal lagu anak-anak
Bersepeda
Menjahili teman
Pulang kerumah sebelum adzan maghrib
Rasanya rindu saat-saat seperti itu ( TT w TT )

Berimajinasi tanpa batas
Kreatifitas tanpa cela
Bahagialah tiada tara ( ; v : )/*

Ketika ukiran pelangi masa kecil memudar dimakan usia
Pelangi kedewasaan muncul dengan realita yang dibawanya
Merah Kuning Hijau
Berganti menjadi
Hijau Hijau Hijau $$
Tak bisa berseluncur di lengkungannya
Hanya duduk mematung dikejauhan memandanginya
Menatapnya penuh harap
Harap Pelangi tak lagi memudar

Berganti senyuman dari sang langit
Pelangi perlahan menghilang
Kemanapun ku cari
Ukir pelangi tak bisa terkejar

Terimakasih rintik hujan
Telah mengundang ia datang
Terimakasih sinar mentari
Telah mengajaknya untuk datang

Meski sebentar ku sapa ia
Namun ukirnya masih terbayang

Kaulah Pelangi ๐Ÿ™‚

Read Full Post »

Aku pandangi wajahnya yang sedang tertidur. Sesekali Ibu mendengkur, mungkin kelelahan karena seharian bekerja. Kulit wajahnya nampak mengendur, sudah tua ibuku. Tangannya yang dulu memapahkupun kini terlihat kurus.
“Ibu..” panggilku perlahan, aku tak ingin ia terbangun karena suaraku yang lirih karena menangis.
Jam menunjukkan pukul 11 malam, namun mataku masih terbuka. Ingin terus ku pandangi wajah ibu selama mungkin. Ku dorong kursi rodaku menuju kamar mandi. Aku ambil air wudhu dengan susah payah menahan tubuhku yang berat. Perlahan aku basuh tubuhku dengan air wudhu. Sambil menyeka mata yang tadi berlinang airmata. Lagi aku angkat tubuhku, dengan kaki yang tak bisa menahan berat tubuh, apa daya diri ini. Aku dorong lagi kursi roda ku menuju kamarku yang berada tepat disamping kamar ibu, sebelum itu ku lirik kamar ibu. Ibu masih terlelap dalam mimpinya. Aku hamparkan sajadahku disamping tempat tidur. Lagi, dengan susah payah aku turun dari kursi roda. Dan memakai mukena dengan satu tangan utuh yang kumiliki.
Sambil menangis karena mengadu pada-Nya, aku terus khusyu’ shalat. Doa yang sama yang selalu aku panjatkan pada Allah yang Maha Mendengar isi hati hamba-Nya, Yang Mengetahui apapun yang ada dalam diri hamba-Nya.
Dengan terbata-bata, dengan airmata yang terus jatuh membahasa wajahku, aku berdoa
“Ya Rabb, tubuh hamba tidaklah sempurna. Namun Ya Rabb.. Izinkan hamba membantu ibu meski sedikit kemampuan yang hamba miliki. Ya Rabb terkadang kecewa yang terlintas, terkadang keputus-asaan yang hadir dalam diri. Namun Ya Rabb, ada semangat yang berikan pada hamba untuk membantu Ibu. Ibu yang hamba sayangi.”
Ku akhiri doa itu untuk Ibuku.
Andaikan kaki ini bisa melangkah pasti. Andaikan kedua tangan ini mampu. Biar ku peluk Ibu hingga kubawa lari dari kesusahan ini.

Read Full Post »

Kala itu

Tak perlu lagi bibir itu mengucap namaku
Kucukupkan saja sekian
Sudah berulang
Tak sampai di titik temunya
Bukankah langit perlahan mendung?
Selaras dengan langkah yang melemah
Tanpa peneduh
Tanpa pelindung
Tetesan hujan membasahi tubuh
Itukah senyuman
Ketika petir menggelegar
Bertanya cahaya tanpa batas
Kiranya kau siap ditinggalkan?
Padaku
Inilah tawa
Ketika hujan mereda
Menghentikan nyanyiannya
Berdendang ia
Dibalik duka yang ku miliki
Kisah itu
Sebuah lembaran tabu
Semu tak berujung
Bayang tak menghitam
Bisik tak tergerak
Itukah Masa
Berjalan tak henti
Kembalipun enggan ia
Pergilah
Agar aku tak senantiasa masam
Namun, terimakasih
Sungguh terimakasih
Atas asa kau bagi
Atas airmata kau luap
Boneka cantik
Tak henti bermanis wajah

A_Little_Rain_Bouncing_by_Bonavista_Tim

Read Full Post »

Impian Adinda

Impian Adinda. Hanya sekedar kedipan mata dihadapan kilauan lilin yang berpendar. Sebegitu kecilnya impian Adinda berkesempatan untuk terwujud. Teringat oleh Adinda akan kata seorang kakak tingkatnya di suatu UKM, “mimpi hanya akan jadi impian semata jika tidak diiringi oleh keseriusan.” begitu katanya. Kata itulah yang membuat Adinda berpikir keras, dan semakin yakin bahwa mimpinya itu hanya sebuah impian, namun adinda begitu serius akan keinginannya itu.

Impian Adinda yang kini ingin ia capai adalah pergi ketempat ini :

universitas-islam-madinah

Bukan hanya pergi kesana. Namun menuntut ilmu dengan serius disana. Adinda merasa pesimis dan berceloteh sedih dihatinya,
“bisa kah aku kesana?”
“meneruskan pendidikanku disana?”
“tanpa perlu orang tuaku mengeluarkan uang?”
“aku harap aku bisa. ya, aku berharap sebisa yang aku mampu.”

Insyaa Allah ada jalan. Meski tak tau muncul darimana namun pasti ada jalan menuju kesana. Adinda berusaha untuk serius dan tak henti berdoa. Semoga terwujud.

Read Full Post »


Just click “Watch on Youtube” to watch this video full perfectly ( ^ ^ )

Well, i’ve been watching this video the whole time *exaggerated* teehe. First time i’ve seen it on NHK World, and at that time i felt i was in love with this song. Especially the deep inside meaning of its lyrics. I’ve got this Flowers will Bloom‘s lyrics on Youtube, credits to Marisadesilva

Hana wa Saku Project — Hana wa Sakuใ€€”Flowers will bloom”
Song written for the victims of the Japan Earthquake 3.11.11
Lyrics: Iwai Junji
Composition: Kanno Yoko
Singer: Marisa de Silva (www.marisadesilva.com)
Pianist: Megumi Okamoto
Timelapse footage provided by http://www.timelapse24.com
Editor: Asher Bingham

–English Translation by Naomi Suzuki–
1.
Can you feel the spring breeze on the white snow-covered road
It brings to mind my old hometown that I’ll never see again
I was always chasing rainbows then, I did want to change myself
I’m just holding on to my faith while I’m longing for my loved one
I can hear you sing to soothe the soul, I can hear you sing to be at ease
I can see you smile through the sorrow, I can see you smile after weeping

Flowers will bud and bloom again, for you who will come into the world someday
Flowers will bud and bloom again, have I done any good to stay in your heart

2.
Beyond the night sky I see the first dawn light in the darkness
It takes me back to the good old days That will never come again
Sometimes I hurt the one I loved and hurt myself, only to cry
I just hold on, hold on now, longing for my loved one
I can feel your thoughts, our ties to one another, I can feel your thoughts, coming home to me
I can see the gleam of dawn in your eyes, I believe you’re in the dawn you’ve started life again

Flowers will bud and bloom again, for you who will come into the world someday
Flowers will bud and bloom again, have I done any good to stay in your heart

Flowers will bud and bloom again, for you who will come into the world someday
Flowers will bud and bloom again, for you who will be in love with someone someday

–Kanji–
็œŸใฃ็™ฝใชใ€€้›ช้“ใซใ€€ๆ˜ฅ้ขจ้ฆ™ใ‚‹
ใ‚ใŸใ—ใฏใ€€ใชใคใ‹ใ—ใ„
ใ‚ใฎ่ก—ใ‚’ใ€€ๆ€ใ„ๅ‡บใ™

ๅถใˆใŸใ„ใ€€ๅคขใ‚‚ใ‚ใฃใŸ
ๅค‰ใ‚ใ‚ŠใŸใ„ใ€€่‡ชๅˆ†ใ‚‚ใ„ใŸ
ไปŠใฏใŸใ ใ€€ใชใคใ‹ใ—ใ„
ใ‚ใฎไบบใ‚’ใ€€ๆ€ใ„ๅ‡บใ™

่ชฐใ‹ใฎๆญŒใŒ่žใ“ใˆใ‚‹
่ชฐใ‹ใ‚’ๅŠฑใพใ—ใฆใ‚‹
่ชฐใ‹ใฎ็ฌ‘้ก”ใŒ่ฆ‹ใˆใ‚‹
ๆ‚ฒใ—ใฟใฎๅ‘ใ“ใ†ๅดใซ

่Šฑใฏใ€€่Šฑใฏใ€€่Šฑใฏๅ’ฒใ
ใ„ใคใ‹็”Ÿใพใ‚Œใ‚‹ๅ›ใซ
่Šฑใฏใ€€่Šฑใฏใ€€่Šฑใฏๅ’ฒใ
ใ‚ใŸใ—ใฏไฝ•ใ‚’ๆฎ‹ใ—ใŸใ ใ‚ใ†

ๅคœ็ฉบใฎใ€€ๅ‘ใ“ใ†ใฎใ€€ๆœใฎๆฐ—้…ใซ
ใ‚ใŸใ—ใฏใ€€ใชใคใ‹ใ—ใ„
ใ‚ใฎๆ—ฅใ€…ใ‚’ใ€€ๆ€ใ„ๅ‡บใ™

ๅ‚ทใคใ„ใฆใ€€ๅ‚ทใคใ‘ใฆ
ๅ ฑใ‚ใ‚Œใšใ€€ๆณฃใ„ใŸใ‚Šใ—ใฆ
ไปŠใฏใŸใ ใ€€ๆ„›ใŠใ—ใ„
ใ‚ใฎไบบใ‚’ใ€€ๆ€ใ„ๅ‡บใ™

่ชฐใ‹ใฎๆƒณใ„ใŒ่ฆ‹ใˆใ‚‹
่ชฐใ‹ใจ็ตใฐใ‚Œใฆใ‚‹
่ชฐใ‹ใฎๆœชๆฅใŒ่ฆ‹ใˆใ‚‹
ๆ‚ฒใ—ใฟใฎๅ‘ใ“ใ†ๅดใซ

่Šฑใฏใ€€่Šฑใฏใ€€่Šฑใฏๅ’ฒใ
ใ„ใคใ‹็”Ÿใพใ‚Œใ‚‹ๅ›ใซ
่Šฑใฏใ€€่Šฑใฏใ€€่Šฑใฏๅ’ฒใ
ใ‚ใŸใ—ใฏไฝ•ใ‚’ๆฎ‹ใ—ใŸใ ใ‚ใ†

่Šฑใฏใ€€่Šฑใฏใ€€่Šฑใฏๅ’ฒใ
ใ„ใคใ‹็”Ÿใพใ‚Œใ‚‹ๅ›ใซ
่Šฑใฏใ€€่Šฑใฏใ€€่Šฑใฏๅ’ฒใ
ใ‚ใŸใ—ใฏไฝ•ใ‚’ๆฎ‹ใ—ใŸใ ใ‚ใ†

่Šฑใฏใ€€่Šฑใฏใ€€่Šฑใฏๅ’ฒใ
ใ„ใคใ‹็”Ÿใพใ‚Œใ‚‹ๅ›ใซ
่Šฑใฏใ€€่Šฑใฏใ€€่Šฑใฏๅ’ฒใ
ใ„ใคใ‹ๆ‹ใ™ใ‚‹ๅ›ใฎใŸใ‚ใซ

–Romaji–
Masshirona yuki michi ni harukaze kaoru
watashi wa natsukashii ano machi o omoidasu
kanaetai yumemo atta kawaritai jibunmo ita
ima wa tada natsukashii ano hito o omoi dasu

dareka no utaga kikoeru
dareka o hagemashiteru
dareka no egao ga mieru
kanashimi no mukou gawani

hana wa hana wa hana wa saku
itsuka umareru kimi ni
hana wa hana wa hana wa saku
watashi wa nani o nokoshita darou

yozorano mukouno asano kehaini
watashi wa natsukashii ano hibi o omoidasu
kizutsuite kizutsukete mukuwarezu naitarishite
ima wa tada itooshii ano hito o omoidasu

dareka no omoiga mieru
dareka to musubareteru
dareka no miraiga mieru
kanashimino mukougawani

hana wa hana wa hana wa saku
itsuka umareru kimini
hana wa hana wa hana wa saku
watashi wa nani o nokoshita darou

hana wa hana wa hana wa saku
itsuka umareru kimini
hana wa hana wa hana wa saku
watashi wa nani o nokoshitadarou

hana wa hana wa hana wa saku
itsuka umareru kimini
hana wa hana wa hana wa saku
itsuka koisuru kimi no tame ni

Read Full Post »