Feeds:
Pos
Komentar

Archive for April, 2014

Semua orang punya mimpi. Tapi tidak semua mimpi yang mereka miliki dituangkan diatas kertas. Iya kaaaan? Lagipula siapa yang mau mengabadikan “mimpi spektakuler luar binasa” mereka diatas kertas?. “toh mimpi itu hanya sesuatu yang kita inginkan namun tak mungkin kita capai” ucap seseorang dengan nada pesimis.
Saya dulu punya mimpi, atau lebih baik kita sebut saja sebagai keinginan yaaaa~ πŸ˜€ ketika kelas 3 SMA dahulu. saya ingin sekali berkuliah di UP*I. Saya tuangkanlah mimpi itu diatas kertas dalam bentuk tulisan, “Goes to UP*I Bandung* dan ditempel di dinding kamar. “Masuk syukur, ngga masuk juga syukur deh” ucap saya dengan nada yang hampir sama dengan orang yang pesimis diatas tadi πŸ™‚
Namun Alhamdulillah, pengumuman SNMP*N diumumkan 1 hari lebih awal dan hasilnya. Saya lolos di UP*I Bandung :”) *aaa sugoi naa~ Masya Allah :D*
Kembali beberapa tahun yang lalu, ketika saya kelas 3 SMP dahulu. Saya yang terbilang anak biasa-biasa saja ini menuliskan nama sebuah SMA yang nantinya disanalah saya akan mendulang ilmu. “Goes to SMAN 1 P*urwakar*ta” itu yang saya tulis dan kemudian saya tempel didinding kamar, dekat dengan meja belajar. Sehingga tiap kali saya menyiapkan buku pelajaran untuk esok hari, saya menatap itu tulisan sambil berkaca-kaca. “Bisa masuk situ ngga yaaa”. Alhamdulillah, berkat kasih sayang ALLAH (bukan karena tulisan yang bikin saya jungkir balik itu) saya bisa lulus masuk SMA ituuu huweeeeeee D”:
Bukan berarti setiap mimpi/keinginan yang kita tulis diatas kertas dapat tercapai seluruhnya dalam waktu dekat, pasti ada beberapa yang diberi penangguhan hingga waktu yang tepat atau mungkin ada beberapa keinginan yang tidak tercapai namun digantikan dengan tercapainya tujuan lain yang malah tidak direncanakan sebelumnya dan baru terbersit dihati saja. ALLAH Maha Adil.

Tapi…
ada rasa pesimis yang mampir ketika saya pandangi lagi ke-24 mimpi yang saya tempel didinding kamar kos..
“serius din itu mimpi LO?”
“kayaknya sih tuh mimpi ga bakalan tercapai din”
“mimpi yang bener2 mimpi keles”
“mimpi di siang bolong noh”

itulah kata-kata yang selalu hadir meneriaki semangat hingga putus asa lah jadinya :”)

Hingga, pada akhirnya saya pun menanggalkan ke-24 mimpi itu. Dan menggantinya dengan 1 mimpi yang Insyaa Allah tercapai dalam waktu dekat ini :”D
“Adinda adalah seorang Cerpenis” πŸ˜€

Kau gantungkan mimpimu hingga ke angkasa
Tak perlu kau takut untuk terjatuh
Bahkan gravitasi itu yang buatmu melambung ketika terpeleset
Buka matamu
Hanya itu yang harus kau lakukan
Tapi 24 mimpi itu sudah diambang batasnya :”/

Read Full Post »

Sedang mengetik sambil ditemani lagu soundtrack salahsatu drama korea yang kawan saya sukai πŸ™‚

Tumben-tumbennya saya rajin baca buku minggu ini. Mungkin ini pelampiasan kebosanan saya selama mengerjakan tugas kuliah yang ngga ada habisnya *tarik ulur nafas*. Alasan lainnya mungkin karena saya pulang ke rumah. Dan lebih memiliki waktu luang yang cukup banyak. Harus dimanfaatin nih weheee~
3 majalah sudah saya babat habis kemarin. Kini garapan saya adalah 3 novel yang barusan saya beli di toko buku. 3 boo~ ngga tanggung tanggung :”3 novelnya agak tipis kok *menurut saya* jadi semalaman ini dibaca pasti beres deh :v *kayaknya sih gitu yaa*

Memang bener ya, buku/bacaan itu gudangnya ilmu. Baik ilmu yang haq (yang benar sebenar-benarnya) maupun ilmu yang seharusnya ngga kita serap. Itulah mengapa kita harus menyaring dulu setiap informasi yang kita dapat. Jangan asal nerimo. Bukan kayak milih pasangan dengan mata tertutup *eeeeh eeeh kok itu sih perumpamaannya XD*.

Kepingin deh bikin cerpen yang benar-benar menggugah pembacanya :”) . Taukah kamu, saya begitu terpukau dengan para cerpenis dan pendongeng yang mengambil tema seputar dunia anak-anak. Mereka benar-benar jago dalam pemilihan alur cerita. Ada saja sebuah hikmah yang bisa dipetik dari setiap cerita yang mereka paparkan. Indah nyaaaaa :”) Itulah juga alasan saya mengapa mulai sering membaca. Dengan membaca pengetahuan saya semakin luas. Kosakata sayapun akan semakin bertambah. Dengan begitu, ide akan mengalir dengan lancarnya Insyaa Allah :”D

Hiyaaaatttt *banting bantal* tak sabar rasanya ingin mulai membuat cerpen anak πŸ˜€ dan melihat cerpen itu terpampang dihalaman salah satu majalah anak yang kece abizzz:”) heheee~

Ide memang selalu harus dijemput yaaa :”) manja beuudddht~ tapi harus tetap optimis ya DIN :> love u~ *looooh

γŒγ‚“γ°γ‚ŠγΎγ—γ‚‡γ†γ­γƒΌ para penulis pemula πŸ˜€ semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk membuat tulisan yang memberi manfaat pada sesama manusia πŸ˜€
CAYYYOOOOOO (>w<)/

Read Full Post »

Inilah Adinda

Tulisan ini hanya sebuah pemaparan tentang Adinda, pemilik sekaligus pengisi rutin wordpress ini. Semoga dengan tulisan ini, kamu lebih mengetahui seperti apa sosok Adinda sebenarnya. Semoga Adinda dimasa yang akan datang akan membaca ulang tulisan ini sambil tersenyum kemudian berucap, β€œSeperti ini kah adinda yang dahulu? Kini aku sudah berubah menjadi lebih baik.” Insyaa Allah C:

Dia sering disapa Adinda. Lahir dengan mata bulat dan menonjol (orang bilang belo) ditengah keluarga sederhana yang dirahmati Allah.
Adinda kecil sangat suka bermain masak-masakan. Muncul keinginan dalam hatinya ketika melihat sebuah iklan di televisi tentang mainan masak-masakan yang bahan masakannya terbuat dari lilin malam yang bisa di bentuk secantik mungkin. Ingin rasanya memiliki mainan itu. Namun sayang, keinginan itu tidaklah tercapai. Adinda melampiaskannya dengan bereksperiman menggunakan berbagai macam bahan makanan. Tak ayal, Bapak dimandatkan sebagai penyicip pertama. Adinda memiliki mimpi menjadi seorang koki. Dan mengadu kepada Bapak untuk disekolahkan ditempat para koki menuntut ilmu. Mimpi itu pun hanya menjadi buaian dikala melamun, tak tercapai jua. Keinginan untuk menjadi seorang koki masih tertanam kuat dihati Adinda hingga kini.

Ketika sadar bahwa impian awalnya untuk menjadi seorang koki tandas. Adinda masih memiliki impian lain yang ingin ia capai dimasa mendatang. Ia berdoa, semoga masih ada harapan bagi impian lainnya untuk bisa terwujud nyata.

Pertama, Adinda ingin sekali menjadi seorang penulis. Cerita horror, cerita mengharukan. Itulah yang ingin ia tuangkan dalam tulisannya. Bercerita banyak hal yang ia rasakan dan ia alami, kemudian dibekukan dalam bentuk tulisan dan disebarluaskan agar orang lain mengambil sepercik hikmah didalamnya. Sedikit demi sedikit, Adinda terus mengisi wordpressnya. Berharap ada yang membacanya dan memberinya semangat melalui komentar yang di lontarkan melalui kotak komentar :”)
Impian Adinda yang kedua adalah menuntut ilmu disuatu kota yang terletak diluar negeri sana. Impian ini baru dibangunnya dalam hati. Semoga terwujud pasti. Dikota itu ia akan menuntut ilmu yang haq dan Adinda akan kembali pulang untuk menyebarkan kembali atas apa yang ia dapatkan selama dikota itu, tepatnya di universitas yang menjadi incarannya kini.
Impian Adinda yang ketiga adalah menjadi seorang guru yang memberikan keteladanan pada siswanya. Membagikan ilmu yang Adinda dapatkan selama beberapa tahun menuntut ilmu diberbagai tempat dan kondisi. Tanpa ragu, memberikan siswanya ilmu yang bermanfaat dunia dan akhirat.
Impian Adinda yang keempat adalah impian yang baginya sulit. Sulit melangkahkan jejak pertama untuk meraihnya. Sulit untuk mempertahankan impian ini untuk tetap hadir dalam hati yang selalu goyah *asseeekk :v* #Eh_Serius_Ini. Impian yang sangat ingin Adinda raih namun kemalasan dan kebodohan Adinda selalu mengikuti bayangannya.

Itulah keempat impian Adinda. Keempat impian terbesar yang Adinda miliki. Mudah-mudahan tercapai. Tak mengapa butuh waktu lama dalam proses meraihnya.

Terlihat begitu besarnya keinginan Adinda bukan? jika dilihat dari impian yang dimilikinya. Padahal Adinda memiliki kekurangan.
Adinda adalah seorang yang pemalu. Adinda adalah seorang yang pendiam. Adinda adalah seorang yang hanya mampu berkomentar lewat tulisan. Selalu oranglain tak menyadari akan kehadiran Adinda. Ketika perkuliahan dan Adinda mengacungkan jarinya untuk bertanya, oranglain tak pernah menunjuknya agar Adinda menanyakan rasa penasaran yang ia miliki. Oranglain tak percaya akan apa yang Adinda katakan, karena Adinda selalu berbicara dengan nada yang kurang meyakinkan dan terdengar sok pintar juga menyebalkan.

Hanya lewat tulisan Adinda mampu untuk merangkai berbagai kata menjadi sebuah kalimat dan ratusan paragraf. Dari tulisan juga Adinda ungkapkan apa yang ada dalam dirinya. Memahami dirinya sendiri lewat tulisan yang ia ketik atau tulis.

Adinda ingin sekali ada orang yang membaca tulisanya dan hasil karya yang ia miliki kemudian mengomentarinya sehingga terbangunlah rasa percaya diri Adinda bahwa ia “ada” dan “selalu ada” dalam kondisi apapun dan situasi apapun.
Adinda berharap ada yang melirik tulisannya sambil mengkritik isi didalam tulisan yang Adinda buat sendiri.
Dari WordPress, Adinda buka lembaran pertama. Mulai mengetik dan menerbitkannya.

Adinda yang kini. Semoga bisa berubah kearah positif sejalannya waktu.
Inilah Adinda, dengan keterbatasan yang ia miliki.
Adinda tak ingin dimengerti. Karena tak akan pernah ada yang mengerti dirinya secara utuh kecuali Allah, Pencipta-Nya.

Adinda waktu SMA dulu

Adinda waktu SMA dulu

Read Full Post »

Bias Cahaya

Lilin kecil itu berpendar menari-nari ketika hembus angin menyapa apinya yang kecil. Dania hanya memandangi bayangan tangannya, diam. Seakan tak ingin angkat bicara pada orang disampingnya, Yanda.
“kemarin, mati lampu. Sekarang mati lampu. Apa mau nya sih perusahaan listrik negara ini?” keluh Yanda yang kesal lantaran rencana nonton pertandingan bola yang ia ingin saksikan di tv gagal total.
“lilin juga tinggal satu nih!” gerutu Yanda lagi.
Dania memutar bola matanya, bosan rasanya sedari tadi mendengar keluhan Yanda yang tak ada putus-putusnya. Tiap menit mengeluh saja kerjaannya.
“Dania.. kita pergi ajalah kerumah nenek. Tinggal jalan kaki ini. 20 menit juga nyampe kan? kayaknya disana ngga mati lampu deh” ajak Yanda.
“20 menit dari hongkong! hampir satu jam tauk! belum lagi diluar hujan lebat banget, ada petir pula!” tolak Dania mentah-mentah.
“pengen nonton pertandingan nih!” bujuk Yanda. Dania menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
Yang benar saja, keluar di tengah hujan lebat demi nonton orang yang ngejar-ngejar satu buah bola! pikir Dania.
“Nikmati aja mati lampu kali ini. Jarang-jarang kan ngga nonton pertandingan. Toh hasilnya bisa kamu lihat tuh di twitter nanti. Pasti deh masuk trending topic” ucap Dania yang masih memainkan bayangan tangannya di dinding.
Yanda menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan jengkel.
“Kamu ngga tau sih Dan gimana rasanya jadi penggila bola. Beda nonton secara langsung sama dapat hasilnya tanpa nonton itu.” elak Yanda. Bibirnya cemberut. Berharap listriknya cepat hidup dan ia bisa nonton pertandingan di tv.
“yah, terserahlah…” ucap Dania lalu berdiri dari tempat duduknya.
“eh eh eh.. mau kemana?” tanya Yanda panik. Ia takut jika ditinggal sendirian diruang keluarga. Di umurnya yang genap 16 tahun ia masih saja penakut.
“ke dapur mau minum..” ucap Dania sambil melenggang pergi tanpa melihat raut wajah Yanda yang berubah menjadi ketakutan.
“ikut deh.. aku juga haus..” kata Yanda lalu mengikuti dibelakang Dania.
“beuuh.. takut ya?” tanya Dania dengan nada mengejek. Sepupunya yang satu ini memang agak menyebalkan tapi kadang jiwa penakutnya bangkit.
“ngga juga sih. Emang beneran haus.” jawab Yanda sambil menutupi ketakutannya.
Dania mengangkat bahunya tanda tak percaya.

“PLOP!” semua lampu dirumah menyala.
Yanda kaget bukan main.
“kirain petir, ternyata lampu yang nyala.” celetuk Dania kemudian meneguk minuman yang dipegangnya. Dilihatnnya Yanda yang berdiri disampingnya tampak syok.
“Lebay amat sih. Buruan tuuuh nyalain tv nya nonton pertandingan. Masih main kan?” kata Dania sambil menepuk Yanda agar ia sadar.
Yanda mengangguk perlahan dan segera berjalan cepat menuju ruang keluarga. Cara jalannya terlihat aneh dan kikuk. Dania pun menyipitkan matanya ke arah punggung Yanda yang semakin menjauh.
“Eh, tadi ada bercak merah ya di punggungnya Yanda?” tanya Dania kemudian berjalan menuju ruang keluarga.

“Dan..” seseorang menepuk pundak Dania dari belakang. Dania meloncat kaget. Dilihatnya Yanda tengah heran menatapnya.
“Lebay amat sih cuma ditepuk doang.” ujar Yanda sambil mengernyitkan jidat.
“Untung lampu udah nyala. Jadi bisa nonton pertandingan niih..” ucap Yanda sambil tersenyum senang, dan hendak berlari ke ruang keluarga.
Dania terheran-heran, bukannya tadi Yanda sudah ke ruang keluarga ya?
“Yan.. ini kamu kan?” tanya Dania takut-takut. Lalu mengecek apakah kedua kaki Yanda menapak atau tidak.
“Ya aku lah. Nih! cubit deh!” ucap Yanda sambil menyodorkan tangan kanannya. “Lagian tadi pas mati lampu kamu ngomong sama siapa sih di ruang keluarga? Temen kamu?” tanya Yanda balik.
Kepala Dania pening. Tadi siapa yang mengobrol dengannya?
“Daritadi tuh aku ada di lantai 2. Ngecek jalannya pertandingan lewat twitter. Lah kamu, malah ngobrol sama siapa tauk. Aku panggil-panggil untuk ke lantai 2 malah ngga nyahut.” ucap Yanda.
Kepala Dania makin pening. Ia tidak percaya bahwa yang tadi diajaknya ngobrol adalah Yanda versi hantu.
“Eh itu tv siapa yang nyalain?” tanya Yanda. Diliriknya di ruang keluarga tak ada siapapun. “Beneran ada temen kamu kan?” tanya Yanda makin khawatir. Dania menggelengkan kepalanya berat. Diliriknya ruang keluarga, tv nya memang menyala dan ada Yanda disana. Bukan Yanda manusia, tapi Yanda yang punggungnya berpunuk daging merah dan berbintik-bintik besar yang terus melambaikan tangannya kearah Dania. Bibirnya berucap, “Kemarilah, pertandingan akan segera berakhir.”
Dania pingsan. Berharap ketika ia bangun nanti, tak akan ada Yanda manapun dihadapannya.

—————————————————–
Cerita macam apa iniiiiii???
Tadinya saya merencanakan genrenya Romance. Eh dasar pikiran, akhir ceritanya malah horror beginiiiih=__=
Sebenarnya saya ikutan merinding ketika ngetik ini cerita.__.’ dingin pulaaa dikamar kosan saya ini. Tak apa lah yaaa. Memang udah dasarnya harus jadi penulis cerita horror nan mellow kali yaaaa wkwkwkkwkk XD
Kalau mau komen cerita diatas boleh bangeeeetttt ~ *sedang menunggu tukang komen datang*

——————————————————
OOT Curhatan lain
Hari ini jemari tergerak lagi untuk menari di atas keyboard laptop kesayangan πŸ™‚
Cerita hari ini, begitu menyenangkan…
Setiap hari, selalu ada motivasi yang saya dapatkan…
Alhamdulillah…
Entah darimana datangnya “luapan semangat” selain dari Yang Maha Kuasa.

dalam setiap perjalanan
ku tempuh ilalang tinggi nan tajam
ku gali-ku gali tanah agar menemukan terowongan itu

Read Full Post »

Tq, Fachin

When I’m all alone at that day
Don’t know how to do, pretty sure my close friend would not helping me out from this boredom feeling
And then you come
With all your texts
telling me your feeling at that time
asking me what am I doing right now
Yea, just you who can understand me
We never see each other
I never hear your voice
We just chit chat around like we have meet before
You are not a stranger for me
You are someone who can cherish me up in every texts you’ve sent
Every stickers you sent on LINE are your expressions
Every pictures you sent are your moods
When I went to Yogyakarta. I wish that I could meet you
But sadly you were very busy with your prepared for national examination
You told me that you had 5 Try Out in a week!
When you gone, somewhere.
And if I lost contact with you
I don’t know who can cherish me up then
Maybe, when someday you busy with your college
I don’t know who can make my day then

Perhaps you forget
about one of the Flumpool song that I really love to listen
Zanzou
Every lyrics, every tone
Reminds me of you

Thank you so much, Fachin
Dear My lovely friend
Don’t forget to cross your heart
Promise that we will meet someday
Somehow, i really want to have a chit little chat with you in our real life

γ‚γ‚ŠγŒγ¨γ†γƒ•γ‚‘γƒγƒ³γ€γ†γ‚Œγ—γ‹γ£γŸ

γ‚γ‚ŠγŒγ¨γ†γƒ•γ‚‘γƒγƒ³γ€γ†γ‚Œγ—γ‹γ£γŸ

Fachin knows that I'm in love with someone who wears glasses. And then she drew this for me. As she know that me kinda Glasses Fetish LOL

Fachin knows that I’m in love with someone who wears glasses. And then she drew this for me. As she know that me kinda Glasses Fetish LOL

ι€γ£γ¦γγ‚ŒγŸγƒ‘γƒƒγ‚»γƒΌγ‚Έ
ε±Šγ„γ¦γ‚‹γ‚ˆβ€¦δ»Šγ‚‚
The message you sent to me still reaches me, even now
*Flumpool – Mistumeteitai*

Read Full Post »