Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Mei, 2014

Hari ini mendung menggelayut di langit Bandung, tepatnya daerah setiabudi-daerah kampus saya. Karena rasa bosan yang melanda, saya membuka salah satu jejaring sosial. Scroll down-scroll down, itu yang saya lakukan. Sambil membaca status orang lain dan apa yang mereka posting. Tiba-tiba mata saya tertuju pada suatu postingan senior saya, beliau membagikan tautan disalah satu grup. Melihat judul dari tulisan tersebut saja sudah membuat saya tertarik untuk membacanya, Terdampar di Negeri Sakura: Sebuah Kilas Balik. Sebuah tulisan yang dibuat oleh salah seorang wanita yang kini berkuliah di Jepang, Izza Pranatasari.

Terus dan terus saya baca kata perkata yang ada dalam tulisan tersebut. Sambil membayangkan perjuangan Izza meraih cita-citanya. Saya tergugah. Membuka mata begitu lebar. Itukah perjuangan? Hingga harus menitikan semangat demi meraih impian terbesar?
Saya melihat foto yang Izza tambahkan dalam tulisannya, terlihat senyumannya merekah disamping bunga sakura yang bermekaran. Betapa irinya saya.

Dulu sayapun membayangkan diri saya berada di negeri itu, Jepang. Menuntut ilmu disana dan kembali ke tanah air dengan membawa sejuta pengalaman yang ingin saya bagikan. Impian itu kandas, saya hapus sendiri. Karena ketidak yakinan saya dan kepesimisan yang selalu hadir dalam benak saya. Impian itu berganti, saya ingin sekali pergi ke Madinah, kota dimana saya mendulang ilmu agama dan pulang membawa sejuta ilmu untuk dibagikan kepada saudara muslim saya. Kemudian impian itu berganti lagi, saya ingin pergi ke Malaysia, melanjutkan studi di negeri jiran itu. Mungkin karena budayanya yang tidak terlalu jauh dengan budaya di Indonesia-lah yang mebuat saya tertarik untuk menuntut ilmu disana. Ketiga impian yang lagi-lagi kandas karena kepesimisan saya.

Tapi, yang pasti. Tulisan yang dibuat oleh Izza. Membuat saya kembali tergugah. Bagaimana bisa kita meraih sesuatu tanpa berusaha sebelumnya? Hujan tak akan tiba di desamu ketika angin tak berhembus kearah desamu. Ada asap karena ada api. Harus ada pemicu untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Rasanya saya ingin mulai lagi untuk berjuang meraih impian terbesar saya. Insyaa Allah, Allah ta’ala ‘kan memudahkan jalan saya untuk meraihnya.

1513736_10152434750102258_2826826470866863153_n

Tiada yang lain
Bukan pula orang lain
Allah ta’ala yang mengetuk hatiku
Bukan karena tulisan itu
Tapi Allah ta’ala yang mengetuk hatiku
Membantuku untuk membuka mata
Kembali berpikir untuk mengingat impian terdahulu
“Masih adakah jejak impian itu?”
“Masih adakah keinginan untuk mencapainya?”
Ketika hatiku diketuk
Tuk
Tuk
Tuk
Perlahan dengan rahmat Allah ta’ala
Akan ku coba lagi mengingat impian yang sempat ada
Sambil terus berdoa dan berusaha semampuku
Karena Allah subhanahu wa ta’ala ‘kan beri kemudahan

1534302_646165148753839_2015037296_n

Iklan

Read Full Post »

Antara Amar dan Fira

Fira memandangi botol kaca miliknya, hanya ada cairan bening dan bunga krisan didalamnya. Namun, Fira tampak asyik dengan aktivitasnya itu. Tanpa berkutik, dengan senyum yang sama. Sesekali ia mengetuk botol kaca itu, terdengar suara dentingannya yang begitu kecil.

“Hei!” Amar, sepupu dari Fira menepuk bahu Fira perlahan. Fira hanya menoleh kearahnya sebentar kemudian mengalihkan pandangannya kearah botol kaca itu lagi. Fira terus melakukan aktivitas yang sama. Seakan dikepinggirkan oleh Fira, Amar merasa jengkel. Bahunya naik turun seakan memendam amarah yang ada pada dirinya.
“Tau gak kamu udah berapa lama mandangin botol ini?” tanya Amar dengan nada tinggi, Fira masih tetap dengan keteguhannya. Tersenyum pada botol itu sambil mendentingkannya.

Amar semakin jengkel, diambilnya botol kaca itu dengan kasar dari atas meja. Fira melongo, menatap Amar sambil bertanya-tanya dalam hati mengapa sepupunya sebegini garangnya. Amar hampir melemparkan botol yang digenggamnya. Namun, dengan ekspresi wajah khawatir akan botol kaca miliknya, Fira dengan gesit mencegah Amar melempar botol itu. Fira mencoba berkata jangan, tapi hanya suara parau yang keluar dari mulutnya.
“PRANG!” botol itu pecah. Air bening didalamnya mengalir membasahi lantai marmer kamar Fira, bunga krisanpun seakan ikut layu karena dilepaskan dari tempat asalnya. Fira jatuh terduduk, dengan lutut yang terlipat diatas lantai. Memandangi botol kaca yang sudah berkeping itu dengan sedih. Amar terdiam, masih dengan kekesalan didadanya. Fira memungut lima bunga krisan yang masih utuh, seakan memberikan mereka nafas baru. Ia bersegera memasukan air kedalam gelas minumnya, bunga krisan yang layu itu kemudian ia masukan kedalam gelas yang hampir penuh terisi air.

Kembali, Fira mendentingkan gelas kaca itu, terdengar suara dentingan kecilnya. Amar terdiam, ia dibuat lelah oleh Fira-sepupunya sendiri. Dengan retardasi mental yang dimiliki Fira, sekaligus kebisuan. Amar merasa jengkel dengan kekurangan Fira. Tak bisa mengikuti perintah dengan baik. Tak bisa menjawab dengan baik. Untuk apa dia hidup, itu yang selalu dipikirkan oleh Amar. Belum hilang kebenciannya pada sosok Fira yang kini berumur 16 tahun. Ibu dari Amarlah yang merawat Fira yang saat itu berumur 7 tahun. Fira ditinggalkan oleh Ibunya sendiri. Begitupun Ayahnya yang tak peduli akan kekurangan Fira. Amar yang seumur dengan Firapun harus dibuat repot akan tingkah laku Fira yang sangat tidak wajar. Ia teringat, ketika ia pulang sekolah dulu. Ia harus menjemput Fira di Sekolah khusus bagi anak-anak seperti Fira. Ia juga harus terus menggenggam tangan Fira agar ia tak banyak tingkah selama perjalan pulang. Tak ayal, Amar selalu diejek oleh kawan-kawannya. Ia dibilang pacarnya Fira bahkan sampai dijuluki sebagai pawang orang gila. Amar terus saja menahan rasa malu dan kesalnya didalam hati. Kemudian, kebencian itu semakin memuncak ketika Ibu Amar meninggal dunia, beberapa bulan lalu. Kesedihan yang mendalam menyergapi hati Amar, seiring dengan rasa khawatir akan dirinya sendiri. Amar pikir, paman dan bibinya-orang tua Fira akan mengasuhnya. Sama halnya ketika Ibu Amar merawat Fira dengan tulus. Kenyataan sungguh pahit, paman dan bibinya tak berminat untuk merawatnya. Begitupun kerabat lainnya yang enggan hidup dengan Amar yang terus berdampingan dengan Fira. Akhirnya ia memutuskan untuk tetap tinggal dengan keadaannya yang seakan sebatang kara. Dengan Fira yang terus berada disampingnya.

Kenangan yang berputar dikepalanya membuat Amar pening bukan main. Ia memejamkan matanya sambil memijat keningnya dengan kedua tangan. Di umurnya yang kini 16 tahun, Amar harus bekerja sambil bersekolah. Selain itu Fira menjadi tanggung jawab terbesarnya. Begitu berat hidupnya, sesekali ia ingin mengusir Fira. Tapi, mana mungkin ia biarkan saudaranya sendiri merasakan pahitnya hidup diluar sendirian. Ditambah lagi dengan keadaan Fira yang berbeda daripada remaja lainnya. Selalu Amar membelikan makanan untuk Fira, sehabis ia pulang bekerja sebagai penjaga toko. Dimalam hari, sambil mengerjakan PR, Amar membantu Fira untuk belajar. Mengerjakan pertambahan, pengurangan, menulis dan menggambar. Amar seakan jadi orang tua sekaligus guru juga teman bagi Fira. Hanya Amar yang selalu ada disisi Fira.

Tiba-tiba Amar merasakan tepukan dibalik punggungnnya yang gagah. Fira terus menepukkan tangannya kepunggung Amar sampai Amar menoleh.
“Kau mau apa?” tanya Amar dengan nada agak rendah. Ia tak ingin lagi menghancurkan kesenangan Fira. Ia tak ingin lagi membenci Fira. Ia tak ingin lagi mencoba untuk menghindari Fira.
Lagi, Fira mencoba membuka kukupan tangan Amar dari wajah Amar. Perlahan Amar membuka matanya, dilihatnya sepupunya yang tersenyum tepat dihadapannya. Fira mengeluarkan batangan coklat miliknya dari kantung bajunya. Memotong sedikit batangan coklat dan hendak menyuapkannya kedalam mulut Amar. Amar terdiam, sambil memandangi wajah Fira-sepupunya. Dilihatnya wajah sepupunya yang sudah remaja itu dengan kasih sayang. Sambil balas ternsenyum, Amar membuka mulutnya, membiarkan Fira menyuapkan potongan coklat itu kedalam mulutnya. Setiap kunyahan coklat itu, seakan meluluhkan hati Amar yang sebelumnya kesal, merubahnya menjadi kasih sayang bagi sepupunya-Fira.

Meski dengan kekurangan yang dimiliki. Fira masih memiliki rasa kasih sayang terhadap Amar. Ketika Amar pergi, Fira terus mondar-mandir dikamarnya menanti Amar untuk pulang. Tanpa henti. Ketika ia kelelahan, ia pandangi botol kaca miliknya sambil mendentingkannya. Dan ketika Fira mendengar suara ketukan dari pintu, sambil melompat-lompat riang Fira membukakan pintu untuk Amar. Bahkan saat Amar memberikan coklat untuk Fira, ia senang bukan main. Bagi Fira itu adalah kasih sayang yang sesungguhnya. Fira mencoba menghibur Amar dengan coklat. Sama seperti dirinya yang berubah bahagia karena coklat yang diberikan Amar untuknya.

——————————————-
Se-patah du-a patah kata ๐Ÿ™‚
Semangat mengukir hari dengan kebaikan
ใŒใ‚“ใฐใ‚Šใพใ—ใ‚‡ใ†๏ผ

Read Full Post »

10277005_447628995381236_2917947894026025066_n

Terkadang kita memang sering terlupa, akan lisan yang sudah semestinya kita jaga.
Apakah kita tau bahwa kata-kata yang kita lontarkan pada seseorang bisa membuat hatinya terluka? Tidak.

“Menyakiti seseorang sama saja dengan mudahnya melemparkan sebuah batu kedalam lautan. Tapi, apakah kamu tau seberapa dalam batu tersebut dapat tenggelam?.”

Ketika kata-kata, perilaku, dan sikap kita yang kasar pada seseorang diibaratkan sebagai sebuah batu yang kita lemparkan. Dimana lautan diibaratkan sebagai hati orang yang disakiti hatinya oleh kita. Batu tersebut terus saja tenggelam dalam lautan sebelum kita mengucap maaf padanya.
Bersyukurlah kita jika orang tersebut adalah orang yang sabar meski telah kita sakiti dengan lisan kita berkali-kali.
Patut khawatirlah kita jika ternyata dari lisanlah orang-orang terdekat kita menjauh.

Sebuah kata mutiara pernah saya dapatkan, begini isinya :
“Menegur jangan sampai menghina, mendidik jangan sampai memaki, meminta jangan sampai memaksa, memberi jangan sampai mengungkit.”

Contohlah sosok Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam. Meski bercanda, tapi candaan beliau begitu bermakna, berisi sebuah pelajaran yang dapat dipetik hikmahnya.
Beliau, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling kuat dalam menghadapi cobaan.

Suatu hari, setelah Nabi shallallahu alaihi wa sallam berdakwah di kabilah Ibnu Abdi Ya Lail bin Abdi Kulal dan beliau diusir, beliau begitu berduka dan gundah. Beliau berjalan gontai, hingga tiba di daerah Qarni Ats Tsaโ€™alib.

Tiba-tiba beliau merasa ada awan yang menaunginya, sehingga beliau segera menengadah ke langit. Ternyata Malaikat Jibril menampakan dirinya dari balik awan dan segera menyapanya dan berkata:

ุฅู†ูŽู‘ ุงู„ู„ู‡ูŽ ุนุฒู‘ูŽ ูˆุฌู„ู‘ูŽ ู‚ุฏ ุณู…ุน ู‚ูˆู„ูŽ ู‚ูˆู…ููƒ ู„ูƒ ูˆู…ุง ุฑูŽุฏู‘ููˆุง ุนู„ูŠูƒูŽ . ูˆู‚ุฏ ุจุนุซ ุฅู„ูŠูƒ ู…ู„ูŽูƒูŽ ุงู„ุฌุจุงู„ู ู„ุชุฃู…ุฑูŽู‡ ุจู…ุง ุดุฆุชูŽ ููŠู‡ู…

โ€œSejatinya Allah telah mendengar tanggapan dan sikap kaummu terhadap seruan dakwahmu. Karena itu Allah mengutus Malaikat penunggu gunung untuk engkau perintahkan sesuka hatimuโ€

Segera Malaikat penungggu gunung menyapa aku dan berkata:

ูŠุง ู…ุญู…ุฏู ! ุฅู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‡ูŽ ู‚ุฏ ุณู…ูุน ู‚ูˆู„ูŽ ู‚ูˆู…ููƒ ู„ูƒูŽ . ูˆุฃู†ุง ู…ู„ูŽูƒู ุงู„ุฌุจุงู„ู . ูˆู‚ุฏ ุจุนุซูŽู†ูŠ ุฑุจู‘ููƒ ุฅู„ูŠูƒ ู„ุชุฃู…ุฑูŽู†ูŠ ุจุฃู…ุฑููƒ . ูู…ุง ุดุฆุชูŽ ุŸ ุฅู† ุดุฆุชูŽ ุฃู† ุฃูุทุจู‚ูŽ ุนู„ูŠู‡ู… ุงู„ุฃุฎุดุจูŽูŠู†ู

โ€œWahai Muhammad! Allah telah mendengar tanggapan dan ucapan kaummu kepadamu, sedangkan aku adalah Malaikat yang ditugasi mengurusi gunung. Aku diutus untuk engkau perintahkan apa saja yang engkau suka. Bila engkau suka, niscaya aku akan timpakan dua gunung Akhsyabain kepada merekaโ€

Mendapat penawaran ini, Nabi tidak merendah diri dan tidak membalaskan perasaannya. beliau menunjukkan sikap seorang yang memiliki jiwa besar. Beliau lebih memilih untuk memaafkan dan kemberi tangguh. Bahkan beliau membalas kejelekan dengan kebaikan.

Beliau menjawab tawaran Malaikat Penunggu gunung dengan bersabda,

ุจูŽู„ู’ ุฃูŽุฑู’ุฌููˆ ุฃูŽู†ู’ ูŠูุฎู’ุฑูุฌูŽ ุงู„ู„ู‡ู ู…ูู†ู’ ุฃูŽุตู’ู„ูŽุงุจูู‡ูู…ู’ ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุนู’ุจูุฏู ุงู„ู„ู‡ูŽ ูˆูŽุญู’ุฏูŽู‡ู ู„ูŽุง ูŠูุดู’ุฑููƒู ุจูู‡ู ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง

โ€œTidak, bahkan Aku sangat berharap semoga Allah melahirkan dari mereka orang-orang yang akan beribadah hanya kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapunโ€
(HR. Bukhari โ€“ Muslim)

Begitu besar jiwa beliau, shallallahu alaihi wa sallam. Demikian juga ketika usai dari perang Uhud, yang padanya beliau terluka di wajah dan daninya, beliau juga membuktikan kebesaran jiwanya. Sambil mengusap darah dari wajahnya beliau berdoa:

ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุงุบู’ููุฑู’ ู„ูู‚ูŽูˆู’ู…ููŠ ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ูู…ู’ ู„ุงูŽ ูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ููˆู†ูŽ

โ€œYa Allah, ampunilah ( jangan Engkau timpakan siksa yang membinasakan/beri tangguh) kaumku, karena sejatinya mereka adalah orang-orang yang tidak tahuโ€˜ (Muttafaqun alaih)

Ya Allah, lapangkan dada kami untuk dapat meneladani akhlaq Nabi- Mu. Amiin.

โ€”
Penulis: Ustadz DR. Muhammad Arifin Baderi, Lc., MA.

Artikel Muslim.Or.Id

Kita juga sepatutnya ingat. Ketika hati kita disakiti oleh seseorang. Begitu sakit hingga kita ingin sekali memaki pada orang tersebut. Ingatlah, mungkin Allah ta’ala ingin menggugurkan dosa kita. Lewat kesabaran atas apa yang kawan kita katakan. Meski buat sakit, ingin menangis sejadi-jadinya. Ingatlah, kitapun pernah melupakan Allah ta’ala atas rezeki yang Allah berikan pada kita. Padahal jika kita hitung rezeki yang Allah berikan. Berupa nikmat penglihatan, pendengaran dan lainnya. Tak akan pernah bisa kita hitung dan kita balas. Masya Allah.

Allah subhanahu wa ta’ala menebarkan kasih sayangnya melalui jalan manapun. Sabar. Ikhlas. Tawakal. Insyaa Allah kan kau raih surga-Nya. Dan kelak melihat anugerah terindah, yaitu memandang wajah-Nya.

Jangan lupa untuk meminta maaf pada orang yang pernah kita sakiti hatinya, sebelum kita mati.
Jangan lupa untuk memaafkan orang yang pernah menyakiti hati kita juga, sebelum kita mati.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
ู…ูŽู†ู’ ุนูŽุธูŽู…ูŽุชู’ ู…ูุตููŠู’ุจูŽุชูู‡ู ููŽู„ู’ูŠูŽุฐู’ูƒูุฑู’ ู…ูุตููŠู’ุจูŽุชููŠุŒ ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ุณูŽุชูŽู‡ูŽูˆู‘ูŽู†ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ู…ูุตููŠู’ุจูŽุชูู‡ู

โ€œSiapa saja yang terasa berat ketika menghapi musibah, maka ingatlah musibah yang menimpaku. Ia akan merasa ringan menghadapi musibah tersebut.โ€(Disebutkan dalam Bahjatul Majalis wa Ansul Majalis, Ibnu โ€˜Abdil Barr, hal. 249, Mawqiโ€™ Al Waroq.)

Read Full Post »

*ceileeee judulnyaaa bikin saya terharu~

Sebenarnya…
Apa sih hidayah itu?
Judul sinetron jaman doeloe itu bukan?
Eh?
Hidayah itu..
nama majalah itu kan ya?

Yup! benar sekali! hehee
tapi bukan kedua “hidayah” diatas yang ingin saya bahas disini.

Dalam Quran surah Al-A’raaf ayat 178, Allah ta’ala berfirman :

{ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽู‡ู’ุฏู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ููŽู‡ููˆูŽ ุงู„ู’ู…ูู‡ู’ุชูŽุฏููŠ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูŠูุถู’ู„ูู„ู’ ููŽุฃููˆู„ูŽุฆููƒูŽ ู‡ูู…ู ุงู„ู’ุฎูŽุงุณูุฑููˆู†ูŽ}

โ€œBarangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk (dalam semua kebaikan dunia dan akhirat); dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi (dunia dan akhirat)โ€

Begitu juga dalam Quran surah Al-Kahf ayat 17, Allah ta’ala berfirman :

{ู…ูŽู† ูŠูŽู‡ู’ุฏู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ููŽู‡ููˆูŽ ุงู„ู’ู…ูู‡ู’ุชูŽุฏู ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูŠูุถู’ู„ูู„ู’ ููŽู„ูŽู†ู’ ุชูŽุฌูุฏูŽ ู„ูŽู‡ู ูˆูŽู„ููŠู‹ู‘ุง ู…ูุฑู’ุดูุฏู‹ุง}

โ€œBarangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk (dalam semua kebaikan dunia dan akhirat); dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun yang dapat memberi petunjuk kepadanyaโ€ (QS al-Kahf:17).

…..hidayah adalah sebab utama keselamatan dan kebaikan hidup manusia di dunia dan akhirat. Sehingga barangsiapa yang dimudahkan oleh Allah Taโ€™ala untuk meraihnya, maka sungguh dia telah meraih keberuntungan yang besar dan tidak akan ada seorangpun yang mampu mencelakakannya. (Muslim.Or.Id)

Berbahagianya kita, ketika hidayah menyapa kalbu. Menyentuhnya dengan perlahan. Hingga merasuk kedalam hati. Buat pelupuk mata bahkan tak sanggup menahan tangis bahagia. Pertanda syukur pada Allah ta’ala.

Hijrahnya kawan saya pula-lah yang membuat saya tergerak untuk bisa mengetik disini.
Awalnya dia berkata pada saya yang tengah duduk disampingnya. “Aku pingin pakai kerudung panjang..” ucapnya pelan pada saya. Saya tersenyum bahagia ketika mendengarnya, mungkin ia tak melihatnya. Kemudian perbincangan kami berbelok ke arah lain hingga ucapan ia diawal menjadi terlupakan untuk dibicarakan lebih lanjut. Saya begitu penasaran, apa yang membuatnya begitu ingin memakai jilbab syar’i.

Saya ingat sekali ketika itu hari Rabu, ada presentasi. Saya duduk paling belakang karena berniat makan bandros *uhuukk*. Tiba-tiba dia, sebut saja Hud berjalan mendekati saya, kemudian duduk tepat disamping saya yang sedang memakan bandros dengan nikmatnya (maklum belum sarapan).
Hud berkata, “aku pingin pindah kosan….” dan ia terus bercerita. Curhatan dia tentang kosannya yang sudah tidak nyaman lagi (menurut dia). Dan akhirnya, terungkit lah lagi pembicaraan waktu itu, sebelumnya ia bertanya pada saya berapakah bayaran di pesantren yang dekat dengan kampus saya. Sayangnya saya tidak tau sama sekali karena saya bukan anak pesantren disitu. Akhirnya saya berikan dia nomor kawan saya yang lebih tau. Lanjut lagi ia bercerita mengapa dia berniat untuk berjilbab syar’i. Alasan yang ia ungkapkan pada saya begitu membuat saya terharu (padahal saya sedang makan, dan malah hampir nangis mendengarnya). Betapa Allah ta’ala menyentuhkan hidayah padanya begitu lembut. “aku takut yang lain bilang aku ngga pantes pakai kerudung panjang..” ucapnya lagi.

Alhamdulillah, hud kini sudah memulainya. Jilbab yang tadinya tipis, ia rangkap menjadi dua agar terlihat tebal dan menutupi auratnya. Ia pun mulai memakai manset dipergelangan tangannya. Masya Allah, ketika saya melihatnya. Saya merasa sangat bahagia sekaligus senang. Kawan saya yang satu ini bisa berubah karena hidayah dari Allah dan semoga istiqomah dalam menjalankan segala perintah-Nya.

Begitu juga dengan kawan saya, Ang. Ia berubah begitu drastis. Kerudung yang dipakainya kini berubah menjadi lebar. Ia ikut mentoring dan terus berusaha merubah dirinya kearah yang lebih baik lagi. Saya kagum padanya.

Hidayah datangnya dari Allah. Hidayah adalah kasih sayang dari-Nya. Betapa tidak, Allah menunjukkan jalan yang lurus pada kita selaku hamba-Nya yang lemah dan bodoh hanya agar kita berbalik arah agar tak tersesat.

Masya Allah, semoga hidayah masih dapat menyentuh kalbu kita. Sebelum hati ini menghitam karena dosa yang pernah kita perbuat.
allah_yg_esa_by_yana8nurel6bdkbaik-d6xb07j

Read Full Post »

Ketika hati tersentuh
Ketika airmata jatuh membaca tulisan tentang Ibnu Taimiyah
Betapa kekaguman saya semakin bertambah
Kadang tak habis pikir
Apakah masih ada seseorang yang seperti beliau di dunia kini?
:”)

ห™ฮ‡โ€ขโ— Irila's Logo โ—โ€ขฮ‡

Co-past

Seringkali kita mendengar nama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Namanya begitu harum di tengah-tengah kaum muslimin karena pengaruh beliau danย  karyanya begitu banyak di tengah-tengah umat ini.

Berikut adalah cerita dari murid beliau Ibnul Qayyim mengenai keadaannya yang penuh kesusahan, begitu juga keadaan yang penuh kesengsaraan di dalam penjara. Namun di balik itu, beliau termasuk orang yang paling berbahagia.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

โ€œAllah Taโ€™ala pasti tahu bahwa aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih bahagia hidupnya daripada beliau, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Padahal kondisi kehidupan beliau sangat susah, jauh dari kemewahan dan kesenangan duniawi, bahkan sangat memprihatinkan. Ditambah lagi dengan siksaan dan penderitaan yang beliau alami di jalan Allah Taโ€™ala, yaitu berupa siksaan dalam penjara, ancaman dan penindasan dari musuh-musuh beliau. Namun bersamaan dengan itu semua, aku dapati bahwa beliau adalah termasuk orang yang paling bahagia hidupnya, paling lapang dadanya, paling tegar hatinya dan paling tenang jiwanya. Terpancarโ€ฆ

Lihat pos aslinya 453 kata lagi

Read Full Post »


Credit for kapkara.deviantart.com who took this amazing photo!

Andri memainkan benang layangannya. Menariknya kemudian mengulurkannya. Itu yang ia lakukan sedari siang. Menanti kawannya yang nanti akan menyusulnya menerbangkan layangan.
“Aku bosan.” ucap Mala, bibirnya ditekuk. Andri hanya meliriknya, kemudian memalingkan wajah kearah layangan putih biru miliknya.
“Pulang sana.” ucap Andri cuek. Ia tak ingin mendengarkan keluhan gadis cengeng itu. Tak lama pasti dia akan menarik bajunya dan mengajaknya untuk cepat pulang karena cuaca yang begitu panas.
Mala lebih menekukkan bibirnya, berharap Andri mengerti perasaan bosannya dan bersegera membereskan layangannya.
“Apa asyiknya main layangan. Cuma tarik ulur benang aja kan? Gampang banget. Engga ada tantangannya sama sekali.” ujar Mala sambil memanyunkan bibirnya. Andri menyipitkan matanya kearah Mala, matanya seakan berkata “seriusan lo bilang ini gampang?”. Kemudian mereka berdebat kecil namun berujung pada diamnya masing-masing dari mereka.

Tak lama Putra datang menenteng 3 layangan ditangan dan punggungnya. “Woii!” Putra memberi salam khasnya. “Maaf telat, tadi di suruh mama tidur siang.” ucap Putra dengan wajah bete. Andri menahan tawa. Mala tampak terlihat lebih bosan dari sebelumnya. “Mal, pegangin ini nih. Terus jalan sampai sana ya.” perintah Putra pada Mala sambil menyerahkan layang-layang putih merah miliknya. Dengan kode anggukan kepala Putra, Mala kemudian melepaskan layang-layang itu dari tangannya dan kembali ketempat duduknya semula, dibawah rimbun pohon rambutan.

Lama. Andri dan Putra masih asyik memainkan layangan mereka. Mala yang tetap dalam bosannya mencoba menahan rasa kantuk. Semilir angin yang menyapa rambut sebahunya seakan memaksa dia untuk menutup matanya yang sipit. Mala mendongkakkan kepalanya, melihat gumpalan-gumpalan awan yang terlihat seperti gulali warna-warna yang sering dijual dipasar malam. Sambil sesekali mengedip-ngedipkan matanya karena angin yang lumayan kencang, Mala terus memandangi gumpalan awan yang terus bergerak mengikuti arah angin. Harusnya aku bawa buku gambar, biar bisa gambar-gambar selama nunggu Andri, sesal Mala dalam hati. Tak terasa, rasa kantuknya benar-benar tak tertahankan. Gemerisik dahan pohon rambutan. Nyanyian burung yang terbang melintas. Angin semilir yang terkadang kencang dan lembut. Itu sudah cukup untuk mendukung Mala agar tertidur dalam rasa bosannya.

Sinar matahari menyorot tepat dimatanya, membuat Mala silau. Dilihatnya sekeliling, semuanya putih seperti kapas. Dimana aku?, batin Mala. Ia heran. Kenapa ia berada ditempat ini? Mala terbelalak, ia kaget bukan main. Ia berada diatas awan! Bagaimana caranya ia terbang sampai ketempat ini? Mala mencoba berdiri diatas awan tempat ia tertidur tadi. Awan itu terbuat dari air laut yang menguapkan? Kalau aku jatuh karena awan tak bisa menahan bebanku bagaimana?, Mala khawatir. Dan akhirnya memilih untuk duduk sambil menatap awan yang terlihat seperti kue bulat. Perutnya keroncongan, ia begitu kelaparan. Ketika ia melihat Andri lewat depan rumahnya, tanpa berpikir panjang ia langsung berlari menghampiri Andri dan memaksa untuk ikut. Meski Andri menolak dan terus berkata, “ntar nangis lagi!” sambil menyingkir dari Mala. Mala tetap mengejarnya dan berusaha agar Andri mengajaknya main. Karena Mala sudah mengerjakan PR dan ingin sekali main di tanah lapang. Mala tertunduk. Bagaimana caranya aku bisa turun?, ucapnya. Dilihatnya benda kecil berwarna putih dengan garis biru yang mendekatinya. Mala memfokuskan pandangannya kearah benda yang terus bergerak mendekat kearahnya itu.
“Layangan Andri!” teriaknya girang. Seakan ada pencerahan baginya untuk bisa turun.
Hup! Hup! Hup! Ia melompati tiga gumpalan awan kecil tanpa rasa takut. Mendekati layangan putih-biru milik Andri. “Semoga Andri tau aku ada diatas sini!” ucap Mala penuh harap. Ia menarik-narik benang layangan dan mencoba menyibak awan agar Andri bisa melihatnya yang berdiri dibalik awan. Nihil. Gumpalan awan begitu lekat satu sama lain. Hingga Mala kesulitan menyibaknya. Beberapa kali mencoba menyibak awan. Tetap ia tak bisa. Mala mulai putus asa. Airmata hampir jatuh dari pelupuk matanya. “Tolooong akuuuu…” ucap Mala lirih. Sedih dan sendirian dibalik awan tebal. Tiba-tiba ada angin kencang yang mengguncangkan awan tempat Mala berdiri. Mala jatuh terduduk. Dan awan makin menggumpal mengelilinginnya. Membuat Mala sesak. Suatu suara memanggil namanya dengan keras, “Mala! Mala! Mala!” Mala berteriak minta ampun. Ia tak ingin terjebak didalam gumpalan awan. Suara itu semakin jelas dan semakin keras. Mala terus berteriak dan mencoba bergerak menyelamatkan dirinya.

“Mala! Oyy Mala!”
Mala membuka matanya. Dilihatnya Andri dan putra menatapnya keheranan. Dirasakannya airmata mengalir dipipinya. Buru-buru Mala menghapus airmata itu.
“Tuh kan cengeng! lagi tidur aja nangis!” ejek Andri. Putra tertawa terbahak mendengar ucapan Andri tadi.
“Jadi itu mimpi ya?” tanya Mala pada Andri. Andri dan Putra saling tatap keheranan dan mengangkat bahu tanda tak mengerti.
Langit berganti warna menjadi jingga. Awanpun kompakan berubah warna jadi jingga. Angin berhembus tak sekencang tadi siang.
Tiga anak kecil berjalan pulang beriringan. Mala yang berjalan disamping Andri tertawa-tawa mengingat mimpinya yang menyeramkan itu. Sedangkan Andri dan Putra terbahak mengejek mendengar cerita Mala yang aneh itu. Mala membalikan tubuhnya kearah tanah lapang. Dilihatnya gumpalan awan yang berbentuk seperti senyuman. Begitu manis. Aku tau sebenarnya kamu itu baik. Meneduhkan sinar mentari yang menyengat. Membawa air hujan yang begitu berat. Bersedia menjadi penghias langit baik pagi maupun siang. ucap Mala dalam hati.
Dari kejauhan, Andri dan Putra yang meninggalkan Mala berteriak, “Buruan oyy!” Mala buru-buru berlari menuju mereka. Dengan senyuman merekah meski tadi sempat menangis ketakutan karena mimpinya yang unik.

Biarlah Awan Tersibak Angin
Bergerak kesana kemari
Meneduhkan orang yang kepanasan
Warna putih suci yang ada pada dirinya
Melambangkan betapa tulusnya ia dengan pekerjaan yang ia emban
Awan
Berkawan Angin

Ketika musim panas mampir dikota kembang. Dan sengatan matahari membakar kulit tiap penuntut ilmu yang berjalan menuju kampusnya.
Bandung, 5-Mei-2014 9:30pm

——————————————————————–

#latepost Catatan Kemarin Malam :
Ketika itu, airmata keluar dari beberapa mata milik sahabat. Teringat keluarga di rumah. Perasaan wanita memang palih mudah tersentuh oleh hal-hal yang kecil. Itulah mengapa, wanita itu bagaikan kaca. Mudah sekali retak, begitu rapuh.
Sesi curhat dimulai. Keluarga. Dirumah. Kami mengingatmu disini. Mungkin tak sebanyak engkau memikirkan kami wahai Ibu dan Bapak. Ketika kami disini, terkadang airmata mengalir. Betapa kami ingin bersama denganmu. Berlindung dalam pelukan dan senyumanmu.
Rasa Rindu. Kangen. Selalu hadir ketika kami kelelahan disini. Ingin rasanya menangis dibalik punggungmu Ibu. Agar hanya suara isakku yang terdengar olehmu. Bukan air mata tanda lelah yang nantinya kau hapus hingga aku merasa malu.
Ketika waktu bergulir menguras umurku. Akankah aku ada? disaat aku benar-benar harus bersama mu Ibu.

Read Full Post »

Tumblr Adinda

baru teringat kalau saya dulu punya tumblr :))
Pandora Chain
mengapa saya pakai nama itu?
Saya suka banget sama manga Pandora Hearts. Meski ceritanya serius banget dan cuma diselingi sedikit lelucon.

Saya jatuh cinta pada Oz awalnya, kemudian beralih jadi suka sama Leo (karena dia pakai kacamata._.) kemudian beralih jadi suka sama Elliot yang kelihatannya sudah teken kontrak sama Humpty Dumpty :)) wahahaaa :v jadi kangen pengen beli lagi Pandora Hearts XD *jangan baca online karena bakalan bingung dan ngga ngerti.__. apalagi yang translated to English =___=”*

Dan entah mengapa, setiap yang saya posting di tumblr, mengingatkan saya pada sosok saya yang dulu :v
Check this out!
——————————
Posted : Dec 28, 2011
1235pandorachaintumblr

Waktu lagi demen sama live action nya Death Note yang Change the World :)) ini salah satu pesannya L pada Near.

——————————
Posted : Dec 28, 2011
1235pandorachaintumblr1

Cocok banget kalau dipasangin sama gif yang ini>>
anohana

——————————
Posted : Dec 29, 2011
1235pandorachaintumblr2
Saya kenapa ya waktu posting yang satu ini? -_____-

——————————
Posted : Dec 29, 2011
1235pandorachaintumblr3
Pas lagi sok-sok-an kehilangan ide XD

——————————
Posted : Dec 31, 2011
1235pandorachaintumblr4
Tuuuhkaaaan jadi ingat impian jaman duluuu :”>

——————————
Posted : Jan 7, 2012
1235pandorachaintumblr5
Ini tuh kalau ngga salah, sehabis baca manga Knighting Knight :”>
Rikuri to Ron-chan wa sugoi ne~ :”3
Waktu itu minjam komiknya ke Devita. Saya main ke rumahnya waktu itu dan nemu tumpukan komik yang bikin mata saya bling-bling ga jelas XD dan memohon untuk dipinjamkan beberapa komik X”D seneng bangeeeettt ~ :3 sankyu Devita-san ๐Ÿ˜€

——————————
Posted : Jan 15, 2012
1235pandorachaintumblr6
Saya inget banget kalau saya dulu pernah kenal dengan seseorang yang super baik lewat social network :”> ufufuuu~ tapi semenjak ada “sesuatu”, akhirnya kami tak pernah lagi sering berbincang :”>

—————————–
Posted : Jan 15, 2012
1235pandorachaintumblr7
Selalu, ketika kita sudah melalui masa-masa itu. Rasanya hanya kebahagiannya yang mampir di memori. Padahal pernah juga kita rasakan betapa bosan dan kesalnya kita dahulu selama melewatinya :”>
Apakah dulu saya ada masalah? sampai-sampai posting di tumblr? XD

—————————–
Posted : Jan 15, 2012
1235pandorachaintumblr8
sok-sok-an jadi pujangga.__.’

—————————–
Dan setelah itu, saya cuma share foto, reblog, like hal-hal yang agak kurang penting.___.

Saya suka banget sama kata-kata yang ini ๐Ÿ™‚
1235pandorachaintumblr9

Suka sama gif yang ini :”>
smiletumblr_m1tqpwCsQj1qaeynmo1_r2_500

Suka foto yang satu ini ๐Ÿ˜€
1235pandorachaintumblr10

juga iniii XD
1235pandorachaintumblr11

Dan jadi ngiler kepengen kalau lihat yang ini :9
1235pandorachaintumblr12

Ahahahaaa XD
padahal saya udah ganti laptop :”D tapi ternyata ada beberapa kenangan saya yang tersimpan di tumblr X”D wahahaaa ~

Read Full Post »

Older Posts »