Feeds:
Pos
Komentar

Archive for November, 2014

Lelah itu Pasti

Bismillah…
tergerak untuk bercerita lagi disini πŸ™‚
Pertama kalinya saya pulang malam banget dari kampus. Jam sepuluh lebih baru keluar dari gedung PKM universitas saya. Bukan tanpa alasan, tapi saya ikut membantu melipat kartu suara untuk PEMILU di universitas saya awal Desember nanti.

Terasa banget letih dan lelahnya. Seakan tak ada kata selesai ketika berada disana. Inilah konsekuensinya menjadi panitia pelaksana. Harus rela menyisakan waktunya untuk dihabiskan dengan persiapan dan kerjasama antar panitia.

Lelah itu pasti. Toh ketika kita tidak ikut organisasi apapun pastilah perasaan lelah akan tetap hadir. Yup, sempat terpikirkan oleh saya untuk tidak mengikuti organisasi apapun semester nanti. Bagaimana rasanya ya? Karena saya rasa akhir-akhir ini saya benar-benar lelah berorganisasi *huft bayangkan belum pernah ada yg seperti saya rasanya didunia ini-_-* Tapi suatu hari nanti saya pasti akan merindukan yang namanya “menghabiskan waktu untuk berorganisasi” :”) Alhamdulillah, dengan banyaknya organisasi yang saya ikuti, saya jadi bisa setidaknya mengatur jadwal-jadwal dengan baik πŸ™‚ Tidak seperti saya yang dulu sebagai mahasiswa baru yang belum bisa mengatur waktu hingga akhirnya banyak yang terbengkalai.

Jangan takut untuk berorganisasi. Tapi ya kalau dipikir-pikir. Saya itu pendiam banget -_____- . Ya ampun din kapan kamu bisa untuk lebih membuka diri alias lebih cerewet(0___0)

Iklan

Read Full Post »

Helai Kapas

Helaian kapas yang masih segar berterbangan diatas kepalaku. Tentu saja masih segar, baru saja ia keluar dari cangkangnya yang diterpa angin. Sebenarnya aku sangat khawatir jika buah dari pohon kapas itu jatuh membentur kepalaku yang tidak menggunakan pengamanan selain jilbab keunguan yang aku kenakan.

Bukan tanpa alasan aku berada tepat dibawah pohon kapas. Ya, aku sedang menunggu seseorang. Layaknya cerita di novel aku menunggu seseorang tersebut dibawah pohon. Ditemani helai-helai kapas yang terbang perlahan dimainkan angin semilir petang. Berbekal tas gendong abu berisi buku tebal yang kubawa, aku menunggu sosok seseorang yang kutunggu untuk muncul. Selesai sudah tilawahku sore ini. Aku terinspirasi dari kawan-kawanku yang tangannya hampir tak lepas dari Al-Qur’an kecuali ketika mereka makan, tidur dan hendak ke kamar mandi. Oke, aku tau aku agak sedikit berlebihan dalam mengungkapkannya. Tapi memang sudah hal yang biasa bagiku melihat kawan-kawanku kemana-mana memegang al-qur’an dan melakukan tilawah. “Agar waktu kita dimanfaatkan dengan baik.” ucap sobatku, Kisrah. Tak heran kawanku itu benar-benar menjadi pembicara yang luar biasa. Sebenarnya sih dia agak pendiam seperti aku *uhukk* sekalinya berbicara, pasti membuat yang mendengarnya terdiam dan mengangguk-angguk kecil. Membuat orang lain terpengaruh secara positif dan menggiring mereka untuk lebih penasaran lagi tentang kepribadian kawanku itu.

Bukan, bukan Kisrah yang aku tunggu sekarang ini. Dibawah naungan bayang pohon kapas. Dia sobatku yang lain, yang sekelas denganku di bangku kuliah. Seorang lelaki. Bodoh. Bukan, bukan dia yang bodoh tapi aku. Aku hanya sendirian menghadapinya, eh maksudku aku hanya sendirian untuk menemuinya. Seharusnya ada kawanku yang sama-sama perempuan yang kini menemaniku untuk berhadapan dengannya. Yang aku tau bahwa seorang wanita tak boleh berduaan dengan seorang lelaki karena yang ketiganya setan. Aku juga takut jika muncul perasaan suka pada lelaki yang akan aku temui ini. Meski sudah ada benih yang tertancap, belum kusirami dan aku beri pupuk. Tetap aku merasa khawatir. 15 menit berlalu begitu cepat. Bagiku itu terasa lama karena ingin sekali aku cepat-cepat sampai rumah. Mengistirahatkan tubuh yang kesana-kemari karena banyaknya tugas yang harus dikerjakan dihari ini. Letih. Itu yang aku rasakan. Inilah konsekuensi seseorang yang terlalu banyak tugas.

Semakin lama, semakin banyak helaian kapas yang berjatuhan. Buah pohon kapas inipun mulai ada yang berjatuhan. Terpaksa aku mengambil buku super tebalku itu untuk kupakai melindungi kepala. Aku tak mau pulang dalam keadaan benjol tak karuan. Germerisik dedaunan terdengar syahdu ditelingaku. Teringat ketika aku berada di Ireland, Limerick tepatnya. Teduhnya awan begitu terasa ketika hujan akan turun. Berjalan menuju Sungai Shannon adalah hal yang aku sukai. Pohon yang daunnya bergemerisik sama seperti suara gemerisik dedaunan pohon kapas ini. Ya, kenangan itu masih ada. Tersimpan sampai sekarang.

Lelaki ini, yang dulu sempat aku temui di Ireland. Hanya sebentar pertemuan kami. Namun, setelah pertemuan pertama itu, aku harus menemuinya kembali. Allah subhanahu wata’ala menentukan aku untuk bertemu dengannya lagi. Jam tangan. Hanya karena jam tanganlah aku harus bertemu dengannya hari ini. Menunggunya dibawah pohon kapas yang entah mengapa harus begini. Aku tau, jam tangan ini sangat berharga baginya dan yang pasti jam tangannya itu sangat mahal dan berbeda dari jam tangan yang lainnya. Ada tulisan timbul diatasnya. Braille.

Akhirnya ia datang, dengan tongkat yang ia ketuk ke tanah penuh bebatuan. Aku memperhatikannya dari jauh dan berdiri menatapnya. Khawatir ia tersandung karena jalanan tak begitu mulus. Langkahnya nampak percaya diri. Seakan ia sudah mengenali jalan ini. Terhentilah ia sejenak di samping ku. Kemudian berkata, “Wanda?”. Aku mengiyakan dan kembali duduk. Aku kira dia akan meminta maaf atas keterlambatannya. Ternyata ia hanya berkata bahwa ia akan segera pergi dan akan bertemu orang lain lagi. Ya aku maklumi ia tidak tau dirinya telat karena jam tangannya ada padaku. Sigap aku berikan jam tangan miliknya itu. Ia tersenyum dan berterimakasih. Tanpa ada kata-kata yang keluar dari mulutnya ia kembali berbalik arah menuju tempat ia datang untuk kembali menemui seseorang yang lain. Aku mengikutinya dari belakang.

Lelaki itu berumu sekitar 20-an. Masih terlampau muda. Jika kamu mengajaknya bicara. Kau pasti akan terkaget-kaget karena seakan kita melihat ensiklopedia berjalan. Ya, lelaki itu sangat pintar dan begitu banyak ilmu yang dia miliki.

Nampaknya ia tau aku mengikutinya dari belakang. Ia berkata, “Sebaiknya kau cepat pulang. Kurasa temanmu yang bernama Kisrah itu masih menunggumu di toko kelontong dekat sini.” Selintas helaian kapas terbang kehadapan wajahnya. Memberikan kesan syahdu yang muncul.

Read Full Post »

Kedatangan Kalian

Mereka datang…
Membaca tulisan yang sengaja aku tempel di dinding kosanku agar aku ingat…

Mereka datang…
Mendiktekan tulisan yang tertera diatas kertas putih itu…
Sengaja ku hias agar aku selalu membacanya…

Mereka datang…
Memberiku peringatan dan alarm bahwa aku harus memulai kembali…
Jejak impian yang aku tuliskan dengan berbekal pulpen, pensil dan pensil warna…

Membangkitkan semangat agar aku berusaha lebih baik lagi…
Berjuang!!! :”)

Read Full Post »

Bismillah…

Lagi-lagi tergerak untuk mengetik. Hanya tergerak saja πŸ™‚

Seorang mahasiswa pasti tak asing lagi jika melihat mahasiswa lain tinggal di Masjid/Mushola. Yup, ada kook mahasiswa yang tidak tinggal di kos-kosan atau rumah keluarga terdekatnya. Rasanya ingin tau mengapa :”D

Ada rasa kagum pada mereka.. menjaga rumah Allah.. membersihkannya.. adzan disana.. tak lupa berdzikir mengingat-Nya…. itu keren πŸ™‚ Masya Allah ….

Read Full Post »

Deretan Kata

Deretan kata, yang ku tulis, dalam buku bersampul hijau.

Deretan kata, yang ku tulis, dengan pulpen berwarna merah.

Deretan kata, yang ku tulis, diawal November.

Deretan kata, yang ku tulis, tak pernah ku ucap lagi.

Kecuali, dalam doa.

Ku sisihkan tangisan itu dalam baris doa yang ku panjatkan.

Ketika bisu dibiasakan.

Tak ubahnya cicak di dinding yang terdiam melihat gerik nyamuk.

Terpaku.

——————————————————-
awal November, seakan jadi saksi bahwa aku harus berubah menjadi orang yang lebih baik lagi! bahkan harus!

Read Full Post »