Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Februari, 2015

Sendiri

tumblr_nkdth5LIUG1qaxegno1_1280

Semua orang mengembangkan payung yang mereka bawa. Begitu juga aku yang ikut mengembangkan payung biruku. Karena hujan turun tepat di pukul dua siang ini. Awan pembawa hujan terlihat sangat gelap. Orang-orang yang tak membawa payung berlarian mencari tempat berteduh yang aman agar tetes hujan tidak mengguyurnya terlalu banyak. Aku sedikit kerepotan karena belanjaan yang ku bawa cukup banyak. Sebelumnya Hikki menelponku, ia akan berkunjung sebentar ke apartemen. Dia bilang bahwa dia sangat merindukanku. Bohong besar. Rabu kemarin ia juga datang ke apartemenku sampai meminum cukup banyak cappucino instant yang ku miliki. Hari ini sengaja aku pergi berbelanja. Membeli banyak buah daripada cappucino instant dan bubuk coklat susu.

Sesampainya di apartemen, hujan masih belum reda. Baru saja aku membuka pintu, Hikki menelponku lagi.
“Ya? Ada apa?” tanyaku padanya di ujung telpon.
“Murayya. Sebentar lagi aku kesana. Kamu tak perlu membukakan pintu untukku. Aku akan masuk sendiri.” ucapnya santai. Sepertinya ia tengah didalam kereta.
“Tapi kamu harus ketuk pintu. Itu sudah konsekuensi seorang tamu. Agar aku juga tau kalau kamu datang.” ujarku sambil menenteng belanjaan yang cukup berat ke dapur.
“Iya. Tenang saja. Aku akan mengetuk pintu kok.” balasnya. Kemudian menutup telponnya.

Hikki. Tentu saja itu bukan nama aslinya. Aku memanggilnya seperti itu sedari dulu. Kawan lamaku sejak SMA. Lelaki yang terlalu banyak penggemar namun tak pernah memiliki banyak teman. Hanya aku sahabat satu-satunya. Wanita pendiam yang menjadi ketua manga-kurabu. Sedangkan ia adalah pemanah andalan sekolahku. Perkenalan kami sangatlah singkat. Saat itu aku membawa banyak lembaran manga yang belum sempat anggotaku susun. Mereka mengerjai aku hingga akhirnya aku harus merapikannya sendiri. Saat itu tak sengaja anak panah Hikki hampir mengenai wajahku. Lembaran yang kubawa semuanya jatuh berserakan.
“Maaf. Maaf. Aku tak sengajar. Biar aku bantu.” katanya yang berlari kearahku dengan panik. Jantungku berdegup kencang terkaget, karena ujung anak panah lumayan tajam. Jika saja tidak meleset dan tepat mengenai wajahku. Mungkin aku akan mati. Hikki beringsut membantuku mengumpulkan lembaran.
“Kamu Murayya kan? Aku pernah membaca komik buatanmu!” ucap Hikki girang. Aku hanya tersenyum dan masih shock bahwa orang dihadapanku itu hampir saja membunuhku.
“Lain kali aku akan mengunjungi base manga kurabu ya! Aku ingin membaca banyak komik buatanmu!” Hikki bersemangat.

Ya, masa itu. Ketika dia terus saja menempel padaku hingga aku bosan bertemu dengannya selalu. Tapi, aku juga merasa senang karena ada yang mendukungku untuk terus menggambar. Meski sekarang ini, aku menyerah. Aku lelah.

Ketukan pintu terdengar ditelingaku. “Murayya. Aku datang.” ucapnya. Kemudian terdengar langkah kakinya mendekat kearah dapur. “Ah! aku kira kau ada dikamar. Tadinya aku mau diam-diam mencuri isi kulkasmu, hehe.” katanya jail. Benar saja, ia membuka kulkasku dan mengambil yoghurt.

“Aku dengar kamu mau berhenti buat komik. Itu bohong kan?” tanya Hikki tiba-tiba. Aku menatapnya. Tau darimana dia? Seingatku, aku hanya memberitahukannya pada editor.

“Ya, aku berencana berhenti. Aku sudah dapat pekerjaan baru di sebuah toko kue.” jawabku singkat. Hikki balas menatapku serius.

“Benar? Aku kira kamu akan lebih serius untuk menggambar.”

“Aku bosan untuk saat ini. Aku ingin mencoba hal lain.”

“Bosan?” ujarnya dengan nada yang tak percaya. “Parah sekali.” komentarnya

Aku terdiam, raut wajahnya berubah. Ia kembali berkata, “Langit pagi hari yang aku kagumi berubah menjadi mendung. Seperti sekarang ini, turun hujan. Mungkin sinar matahari juga tak sanggup merasuki awan mendung itu.”

Aku masih terdiam. Aku menangkap maksudnya.

“Oh iya, mungkin ini terakhir kalinya aku mengunjungimu. Aku akan pergi ke Ireland lusa.” katanya dengan santai. Ireland? bahkan aku tidak tau itu. Seakan aku melihat ia begitu berbeda saat ini.

“Jangan kangen.” pesannya. Aku hanya tersenyum. Aku pasti akan sangat merindukannya. Karena ia satu-satunya pencuri yang aku izinkan masuk ke apartemenku.

Aku tidak bertanya mengapa ia pergi. Pasti pekerjaannya yang membuatnya harus pergi. Ataukah mungkin ada hal lain yang membuatnya harus pergi. Ireland. Jarak yang sangat jauh yang harus ia tempuh. Perbedaan waktu yang sangat kentara dengan kota ini.

“Aku pamit ya. Aku cuma ingin makan yoghurt saja kok. Oh ya, boleh aku bawa tiga lagi?” Hikki meminta izin. Aku mengangguk. Bawalah, kalau bisa kamu bawa juga aku dan perasaanku bersamamu.

“Sampai jumpa. Aku akan pulang dua tahun lagi. Cukup lama. Tapi setidaknya makananmu tidak akan cepat habis karena selama dua tahun tidak ada yang makan selain kamu.” Hikki tersenyum. Ia pun pergi. Tanpa aku antar sampai depan pintu. Karena aku hanya terus duduk. Bergeming.

Aku berdiri. Membereskan makananku. Dan bersegera mengambil yoghurt yang masih tersisa dikulkas. Namun, pandangan mataku tertuju pada suatu benda yang sebelumnya tidak ada di dalam kulkasku. Sebuah kotak kayu yang kecil. Diatasnya ada secarik kertas.

“Maaf. Aku pergi meninggalkanmu. Ireland adalah tempat yang baik untukku beristirahat. Disana ada nenekku. Mungkin beliau bersedia untuk merawaktu. Aku sakit. Kau tidak tau? Karena aku memang merahasiakannya darimu. Pandangan mataku mulai tidak jelas. Katanya aku hampir buta, dan hanya menunggu waktu saja. Aku berhenti bermain panah. Namun, aku masih membaca komik yang kamu buat. Teruslah menggambar. Meski aku tak akan lagi bisa membaca komikmu dan tertawa karena ceritanya yang lucu. Maaf. Aku tidak lagi bisa menjadi penggemarmu. Tapi, aku harap kamu masih bisa menerimaku sebagai teman meski yang ku kenali bukan lagi wajahmu tetapi suaramu. Tunggu aku, meskipun aku bukan Hikki yang dulu lagi.”

Aku terhenyak. Tak percaya. Isi kotak itu adalah fotoku dengannya ketika kami sama-sama pergi ke toko buku sepulang sekolah. Hikki. Kamu masihlah temanku meski kau tidak mampu melihatku lagi. Sampai kapanpun aku masihlah temanmu.

Hujan masih turun. Mataku berkaca-kaca. Aku memandang keluar jendela. Berharap satu kedipan mata membawa Hikki kembali kehadapanku lagi. Agar aku bisa mengatakan padanya. Bahwa aku akan menunggunya. Dan berharap ia kembali secepatnya.

Iklan

Read Full Post »

Bismillah…

Assalamu’alaikum, bagaimana kabarmu saudaraku seiman?
Sudah lama saya tidak memposting sesuatu yang berguna untuk diceritakan kepada kalian. Namun, sebelum memulainya. Maukah kamu menonton video dibawah ini? πŸ™‚

Semoga koneksimu lancar sehingga tak ada hambatan ketika menyaksikannya ya sobat πŸ™‚

Apa pendapat kalian?
Apa perasaan yang bersarang di hati setelah menonton tayangan di atas?
Bersyukur atas nikmat penglihatan yang Allah subhanahu wata’ala berikan
Terkagum atas yang pemuda itu ungkapkan
Malu karena kita tidak seperti pemuda yang bersemangat itu

Masya Allah, sudah beberapa kali saya menonton tayangan tersebut.
Tetap airmata saya selalu jatuh ketika membaca pernyataan sang pemuda, semangatnya, dan asanya yang menembus kuat di azzamnya
Alhamdulillah, Allah subhanahu wata’ala memberikan kita nikmat penglihatan
Namun, dosa selalu terukir di hati atas pandangan yang beredar tak kenal objek
Memandang kepada sesuatu yang haram

Biarlah…
Pandangan itu terarah pada suatu yang Allah subhanahu wata’ala ridhoi

Semoga Allah subhanahu wata’ala melindungi kita semua πŸ™‚

Read Full Post »

Menuju Senja

Langit sore menggoreskan segaris warna jingga. Senja hampir datang disambut sinaran yang meredup dari matahari yang sudah bekerja keras untuk hari ini. Barisan burung membentuk formasi segitiga, bersamaan mereka terbang kearah sang pemimpin terbang. Seorang lelaki masih mengenakan seragam SMA-nya tengah menikmati pemandangan langit yang luar biasa sore ini. Ia berdiri diantara bunga mawar yang bermekaran. Menopang kedua sikunya diatas pagar besi yang mengarahkan pandangan matanya kepada bukit yang kehijauan. Betapa ia menyukai harum bunga mawar yang semerbak. Sesekali ia membetulkan posisi volume hearing-aid yang ia kenakan. Mendengarkan suara yang masih ia bisa dengarkan. Suara menuju senja, begitu ia sebut. Nametag di baju SMA-nya bertuliskan, Yusa Niar. Anak pertama dari tiga bersaudara. Anak sulung yang menyukai pemandangan sama seperti kesukaannya dalam melukis. Ia mulai mengeluarkan buku sketsa yang selalu menemaninya disaat suasana mendukung untuk kembali menggambar. Ia keluarkan juga pensil warna yang hampir menipis.

Yusa mulai membuat goresan pertama ketika seorang perempuan yang tak sengaja lewat memperhatikannya yang tampak serius. Wanita itupun duduk dikursi yang mengganggur, tepat di samping Yusa yang menggambar sambil berdiri tegak. Wanita itu mulai mengeluarkan catatan hariannya. Menuliskan kata-kata yang ia sedang hadapi saat ini. Menceritakannya kembali seakan bukan ia yang tengah memperhatikan Yusa menggambar. Wanita itu menyunggingkan seulas senyuman kearah Yusa yang tidak menyadari dirinya ada tepat disampingnya. Pandangan mata sang wanita tertuju pada hearing-aid yang dikenakan Yusa. Ia menunduk kemudian menghela nafas panjang. Hampir menangis.

Pemandangan dihadapan Yusa seakan berpindah keatas lembar buku sketsa yang digenggamnya. Yusa tersenyum puas sekaligus bangga. Kali ini ia menggambar dengan serius. Selain itu Suara Menuju Senja sangat mendukungnya. Yusa memberikan isyarat terimakasih kepada pemandangan dihadapannya. Memberikan senyuman kepada langit, bukit dan warna jingga menuju senja. Terimakasih untuk sore ini, kata Yusa dengan bahasa isyarat. Wanita yang duduk tadi beranjak, berdiri sejajar dengan Yusa. Ia menepuk pundak kanan Yusa pelan. Yusa menoleh, dilihatnya wanita yang menepuknya tersenyum ramah. “Hai.” sapa sang wanita. “Nara.” ucapnya lagi. Yusa memperhatikan gerakan bibir sang wanita yang cepat. Hearing-aidnya mati otomatis. Nara tersenyum, dan mengeja namanya menggunakan abjad isyarat. Yusa mengangguk dan mengeja namanya juga dengan abjad isyarat. “Aku tau namamu. Aku lihat nametagmu.”. Yusa baru tersadar, akan lebih mudah jika ia menunjukkan nametagnya. Namun, Nara membuatnya terheran. Sangat jarang orang yang bisa berbahasa isyarat diluaran sini. Bahkan kondisi lingkungan yang seperti ini membuat Yusa harus berusaha mengucapkan kalimat yang ia rasa akan terdengar aneh di telinga oranglain. “Gambarmu bagus! Keren!” puji Nara sambil menepuk punggung Yusa. Yusa mengangguk agak tersipu.

Akhirnya Yusa dan Nara bercerita satu sama lain. Bahwa Nara juga sangat menyukai tempat ini. Apalagi bunga mawar mulai mekar. “Senja paling indah.” kata Yusa. Nara mengangguk.

Senja berakhir. Langit mulai gelap. Yusa dan Nara harus kembali pulang. “Sampai jumpa. Lain kali kita ngobrol lagi ditempat ini.” pesan Nara. Pandangan mata Nara tak bisa lepas dari Yusa yang terus tersenyum tulus. “Yusa… mau aku beritahukan sebuah cerita?” tanya Nara. Yusa mengangguk. “Suamiku mirip sekali denganmu. Ia sama sepertimu. Aku dengannya berkomunikasi hanya lewat isyarat. Dia sangat suka menggambar. Katanya hanya aku satu-satunya wanita yang akan ia gambarkan wajahnya diatas kanvas. Tapi…” gerakan tangan Nara terhenti. Setitik airmata terjun bebas dari matanya. Yusa terkaget. “Ia telah meninggal seminggu yang lalu. Ini pertama kalinya lagi aku berkunjung kemari. Suamiku sangat menyukai pemandangan disini sama sepertimu. Ketika melihatmu tadi rasanya aku benar-benar melihatnya kembali.” Yusa terdiam, ia hanya bisa menatap Nara yang menangis. Yusa tau rasanya luka ditinggalkan oleh orang yang disayangi. “Terimakasih” ucap Nara pada Yusa setelah menghapus airmatanya. Kemudian melangkah pergi. Yusa hanya terpaku.

—————
Lagi-lagi terinspirasi dari Payung Teduh. Teduh sekali lagu Menuju Senja-nya:”)

Read Full Post »

Secara paksa aku membuka kunci pintu rumahku. Layaknya seseorang yang hendak membobol isi rumah. Ya tentu saja, membobol rumahku sendiri. “Cepat! Cepatlah kunci! Bersahabatlah denganku kali ini saja!” ucapku terburu-buru. Akhirnya setelah bergelut lama dengan kunci dan lubang pintu yang macet aku bisa masuk rumah dengan tenang. Lagi, aku kunci kembali pintu. Seakan belum ada yang pulang selain aku dan orang lain tak tau bahwa aku sudah pulang. Aku melangkah gontai menuju kamarku. Melihat kasurku yang begitu empuk langsung kurebahkan tubuhku diatasnya. Aku lelah. Beberapa hari aku berjalan kaki. Backpacking sendirian. Lelaki sepertiku haruslah kuat. Mandiri ditengah perjalanan menuju beberapa tempat yang aku tentukan sendiri. Dari seluruh perjalanan tak ada yang tidak berkesan bagiku. Tetapi, yang kurindukan kali ini adalah bantalku. Bantal yang sering aku hempaskan kepalaku diatasnya dan aku ciumi wangi yang ada di sarungnya. Ya ampun, aku seperti Narcissus. Makhluk mitologi itu. Ia menyukai pantulan wajahnya diatas air, tapi aku menyukai wangi shampoo yang kupakai sehari-hari dan hanya bisa aku cium wanginya dari bantalku ini. Parah.

Kedua mataku hampir terpejam. Namun, tertangkaplah oleh kedua daun telingaku suara yang tidak ingin aku dengar. Bel pintu. Aku ingin istirahat! Siapa pula yang menganggu waktu istirahatku sekarang ini? Kudiamkan saja. Siapa tau sang penganggu itu bosan menunggu dan pergi bahkan mengira rumah ini kosong tak ada siapapun. Tetapi, bel pintu semakin kencang terdengar dan membuatku kesal. Akhirnya aku paksakan kedua kakiku melangkah menuju pintu. Aku intip lubang pintu dengan mataku yang meredup minta istirahat. Seseorang sedang menghadap ke jalanan. Seorang wanita dengan potongan rambut yang ku kenal. Ia berbalik badan dan kembali memencet bel pintu dengan telunjuknya. Begitu kasar dan tidak sabaran. Raiyyan. Sepupu yang paling aku hindari dari saudaraku yang lainnya.

Aku membuka kunci perlahan. Aneh sekali. Kenapa ia lancar ketika aku buka. Dasar pintu tidak bersahabat. Rantai penutup pintu masih kupasang karena aku tau ia pasti akan menerobos masuk. “Ada apa?” tanyaku padanya dengan nada yang tidak ramah sama sekali. Ya ampun, aku ingin sekali ia segera angkat kaki. “Kenapa pakai rantai pintu? Takut aku menerobos masuk?” tanya Raiyyan balik. Tepat sekali. Ia akan mendapatkan poin sempurna jika memang hal ini masuk ke dalam daftar pertanyaan kuis di televisi. “Aku cuma mau kasih ini kok. Nasi goreng plus telur ceplok.” katanya sambil menunjukkan bekal yang dibungkus kain. Mencurigakan, untuk apa bekal di bungkus kain bagus begitu? “Terimakasih. Tapi, pulanglah. Aku tidak lapar.” Aku menutup perlahan pintuku tanpa menatapnya. Sebelah tangannya menahan pintuku. “Begitukah caranya pria memperlakukan seorang wanita?” ucapnya. Kini mataku bertemu dengan pandangan matanya. Lagi, dia selalu mengucapkan kalimat manteranya. Kalimat yang membuat aku membukakan pintu rumahku untuknya.

“Nah, gitu dong dari tadi.” katanya agak mengejek. Raiyyan masuk menerobos. Langkahnya melompat-lompat seperti kelinci mencari wortel. Aku berjalan terseret. Siapapun tolong aku sekarang juga. Sengaja aku terburu-buru masuk agar Raiyyan tak melihatku sudah sampai di rumah. Matanya memang sejeli elang. Ia tau kapan mangsanya menyelundup dibalik ranting ataupun rerumputan. Rambutnya yang sebahu itu juga tidak akan menghalangi pandangan matanya. Pasti.

“Eits, Dirga. Mau kemana?” tanya Raiyyan yang sepertinya sudah membuka bungkusan bekal itu. Berisik sekali. Aku terus melangkah menuju kasurku. Kasurku memanggilku untuk kembali. Kasur lebih aku butuhkan untuk sekarang ini. “Dirga! Makanlah dulu!” ia menarik tanganku. Parah. Raiyyan kuat sekali. Ataukah akunya saja yang begitu lelah hingga tidak mampu lagi menolaknya. “Aku membuat nasi goreng ini susah payah. Selalu dan selalu aku cek kembali daftar resepnya agar tidak salah memasukan bahan. Hargailah sedikit usahaku ini.” bibir Raiyyan begitu cepat melaju dibanding kereta Shinkansen yang tengah melaju optimal. Cerewet sekali. Malas aku angkat sendok plastik yang ia bawa. Lebih terlihat seperti sendok makan bayi. Aku tengok nasi goreng yang tersaji didalam kotak bekal. Bekal anak TK? Nasi gorengnya ia hias sedemikian rupa membentuk wajah yang tengah mengedip manja. Ya ampun. Aku menggelengkan kepalaku perlahan. “Kenapa? Lucu kan?” Raiyyan tersenyum bangga.

Perlahan aku suapkan sendok pertama. Rasanya, lumayan sih. Ya… tidak kusangka nasi gorengnya enak juga. Mungkin aku sedang lapar jadi nafsu makanku lebih tinggi. “Enak kan?” tanya Raiyyan lagi. Aku bayar berapapun bagi siapa saja yang mampu membuat mulutnya berhenti berbicara untuk saat ini.

“Ceritakan perjalananmu kepadaku sekarang!” paksa Raiyyan dan memulai aksinya untuk mencatat. Sebuah buku dan pulpen sudah ia genggam kuat. Kebiasaan. Ia selalu seperti ini tiap kali aku pulang dari perjalanan yang jauh. Memaksa aku untuk bercerita seakan itulah caraku melunasi hutang makanan yang selalu ia bawa. “Yang aku butuhkan bukan makanan. Tapi waktu istirahat. Tidur.” ucapku agak kesal. Aku beranjak pergi dari meja makan. “Dirga! mau kemana lagi sih? kamu belum cerita, kan?” teriaknya lagi. Aku menoleh ke arahnya. “Sabar. Aku ambilkan jurnalku dulu.”

Aku bongkar tasku yang usang. Mencari buku jurnal yang sering aku isi selama perjalanan. Setiap perjalanan aku menggunakan buku jurnal yang berbeda. Karena perjalanan kali ini aku lakukan dari bulan Desember 2014. Maka, aku menamakannya Jurnal Desember ’14. Jurnal itu sudah ditanganku. “Mana jurnalnya?” tanya Raiyyan menyelidik. Aku menyerahkan jurnal yang sampulnya dari dedaunan kering yang sengaja aku tempelkan. “Wah, keren juga. Lain kali bawakan aku oleh-oleh yang seperti ini.” pintanya. Aku tersenyum simpul, “oleh-oleh cerita untukmu sudah lebih dari cukup.”

Hujan tiba-tiba turun. Tanpa mendung yang tidak aku perhatikan sebelumnya. Raiyyan membuka tiap lembaran jurnalku. “Baiklah. Aku pulang. Akan aku kembalikan jurnal ini jika tulisanku sudah selesai.” pamitnya dan mulai beranjak dari tempat duduknya. Tapi ia terkaget dengan hujan deras diluar. “Tadi cerah.” ia menengok kearahku dengan tatapan terheran. Aku bergeming. “Aku pinjam payung.” ucapnya agak memelas. Aku menunjuk ke tempat payungku ditumpuk. Dekat daun pintu utama. “Akan ku kembalikan kalau aku kesini.” ucapnya lagi sambil memilih payung yang ingin ia gunakan. Pemilih. Aku berjalan kearahnya. Langsung mengambilkan payung bertutup transparan untuknya. “Wah. Ini bagus.” pujinya sambil membuka tutup payung transparan itu. Pasti payung itu kesakitan karena sudah lama tidak ada yang membuka persendiannya sekasar itu.

Aku membukakan pintu. Tanpa harus aku usir lagi, Raiyyan melangkah keluar dan mengembangkan payungnya. Baru saja aku hendak masuk ia berteriak ditengah hujan yang begitu deras. “Dirga. Aku lebih suka kalau kamu bercerita langsung. Jujur saja. Jurnalmu ini tidaklah rapi.” Ia kemudian melambaikan tangannya yang memegang bekal dan jurnal milikku. Aku tersenyum lagi. Raiyyan melangkah agak melompat-lompat.

“Aku akan bercerita padamu suatu hari nanti. Secara langsung. Tentang kisah perjalananku yang sebenarnya.” ucapku perlahan padanya yang berjalan menjauh. Suara hujan yang deras begitu mendominasi. Tentu saja, jurnal yang kutulis itu aku reka. Hanya fiksi belaka. Raiyyan tak akan tau sebelum ia melihat halaman terakhir yang aku tuliskan. Ya, ia pasti akan datang lagi kerumahku sambil berteriak-teriak kesal. Akan aku nantikan saat itu datang. Jika aku ada di rumah, hal apa lagi yang bisa menghiburku selain menjahilinya. Aku tertawa sendiri. Kembali mengunci pintu yang macet.

Selamat datang hujan. Biarkan nada rintikanmu menidurkan aku yang kelelahan ini.

——————————————
tumblr_nj6afcO0RZ1rfp1lho1_1280

Seperti yang biasa kau lakukan
Ditengah perbincangan kita,
Tiba-tiba kau terdiam
Sementara ku sibuk menerka apa yang ada di fikiranmu.

Sesungguhnya berbicara dengan mu
Tentang segala hal yang bukan tentang kita,
Mungkin tentang ikan paus dilaut
Atau mungkin tentang bunga padi disawah.

Sungguh bicara denganmu tentang segala hal yang bukan tentang kita,
Selalu bisa membuat semua lebih bersahaja…

— sedikit potongan lirik lagu dari Payung Teduh berjudul Mari Bercerita. Membuat saya ikut bersahaja terimakasih, juga telah menjadi inspirasi untuk judul tulisan yang apa adanya ini πŸ™‚

Read Full Post »