Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juni, 2015

Bismillah…

Besok merupakan hari terakhir memposting tulisan dalam rangka #NulisRandom2015

Sedih ya, seperti kehilangan alasan untuk memposting di wordpress… hehe…

Tapi, saya akan terus berusaha untuk tetap produktif.

Meski tak ada koneksi internet. Saya tetap akan terus menulis.

Meski tidak diposting di wordpress. Saya tetap akan terus menulis. Inshaa Allah…

Ingin sekali segera mengirimkan cerpen-cerpen yang saya buat ke majalah. Semoga tercapai. 🙂

Dengan begitu, saya akan lebih berusaha.

Namun, saya harus mengurangi beberapa hal. Atau mungkin menghilangkannya… Semoga istiqomah.. Aamiin

#NulisRandom2015

#day29

29 Juni 2015

13 Ramadhan 1436 H

8:41

Read Full Post »

Rasi mengetuk-ketukan pensilnya diatas kertas. Sudah sepuluh menit berlalu dan ia masih belum menemukan ide cerita. Jalan cerita yang dibuatnya selalu tiba-tiba berubah ditengah. Kesannya jadi aneh, begitu pikir Rasi. Ia dikejar tenggat waktu, harus mengupload komiknya malam ini atau akan ada banyak orang yang terus berkomentar menunggu komiknya. Terpikir olehnya untuk memposting bahwa dirinya akan mengupload lusa. Tapi, itu tidak akan menyelesaikan masalah. Ia harus tepat waktu dan konsisten. Biasanya semakin dekat tenggat waktu, ide cepat sekali mengalir. Hanya saat ini saja ia mentok ide. Mungkin karena dirinya sibuk mengerjakan tugas SMA nya akhir-akhir ini.

Blue Hippo, aku harus bikin cerita seperti apa?” tanya Rasi sambil menekan pajangan kuda nil di atas mejanya. Kepala Blue Hippo bergoyang-goyang. Rasi bertopang dagu.

Langit diluar sudah berwarna jingga. Malam akan tiba. Tenggat waktu hanya tinggal menghitung jam.

“Rasi, malam ini kita makan sup. Nggak apa-apa kan?” Jaki muncul dari balik pintu. Ia tengah memenuhi perintah Jaka untuk bertanya pada Rasi.

“Sup apa?” Rasi balik tanya.

Jaki mengangkat bahu, “Jaka cuma bilang sup.”

Rasi mengangguk pelan, “boleh deh…”

Jaki berteriak cukup kencang dari kamar Rasi, “nggak apa-apa katanya.” Kemudian melangkah mendekat pada Rasi.

Di dapur Jaka bersungut-sungut, “huh! Ngga perlu teriak deh.”

“Kehabisan ide?” tanya Jaka, ia melihat kertas kosong dihadapan Rasi. Rasi mengangguk.

“Akhir-akhir ini ngga ada kejadian aneh sih antara Kak Ja dan Kak Ji,” ucap Rasi. Seperti yang telah diketahui, Jaka dan Jaki adalah dua tokoh yang dijadikan peran utama dalam cerita Rasi. Kisah dua kakak kembar. Tentu saja, namanya disamarkan. Nama karakter Jaka di komik menjadi Akuro, selalu identik dengan warna hitam. Sedangkan karakter Jaki menjadi Ishiro yang identik dengan warna putih. Dengan nama pena jajidai-suki ia terus mengupdate karyanya di sosial media. Langkah awal sebelum ia berikan naskahnya ke penerbit.

“Kak Ji ada ide?” tanya Rasi pada Jaki yang terlihat seperti sedang berpikir keras.

“Hmmm… Ada suatu kejadian unik hari ini. Tapi, entahlah… mungkin cerita ini biasa saja jika divisualisasikan ke dalam komik.”

Mata Rasi berbinar, “ceritakan saja Kak Ji. Ceritakan…”

Jaki berdehem, berlagak seperti pendongeng. “Tadi di kampus, ada yang salah mengira Kak Ji dan Kak Ja.”

“Ha?” Rasi heran. Kejadian seperti itu sih sudah sering terjadi. Malah seharusnya tidak ada lagi yang salah membedakan. Jaka kan memakai kacamata.

“Sebentar, ceritanya belum lengkap…” potong Jaki sebelum Rasi berkomentar lain. “Jadi, tadi siang. Teman Kak Ji pergi bertemu temannya ke fakultas biologi. Saat itu ia melihat Jaka yang lewat dihadapannya dan tidak memakai kacamata. Akhirnya teman Kak Ji itu berteriak heboh dan menertawakan Kak Ja yang memakai jas lab. Dia mengira, Jaka adalah Kak Ji yang sedang berpura-pura lewat dihadapannya untuk mengelabuinya. Katanya, ‘Ya ampun Jak, lo pantes banget pakai begituan, tinggal lo botakin deh pala lo supaya mirip einstein. Cocok lo.’ Lalu teman Kak Ji itu tertawa begitu keras hingga membuat orang sekitar menatap dia dan Jaka. Kamu tau ekspresi Jaka seperti apa? Dia mengernyitkan dahinya seakan berkata ‘Siapa lo?’ gitu…”

Rasi tertawa-tawa membayang ekspresi Jaka saat itu. Dirinya pasti kebingungan. “Terus… terus?”

“Nah, terus akhirnya. Teman Kak Ji yang lain menepuk pundak kawan Kak Ji yang tertawa-tawa. Dia bilang, ‘gila lo. Itu Jaka. Kakaknya Jaki. Salah orang lo. Mana kenceng pula suara lo. Aduh…’ Teman Kak Ji yang tadinya tertawa lebar akhirnya hanya bisa senyum kuda. Dia malu dan akhirnya lari ke tempat asalnya. Ketika ketemu dengan Kak Ji, dia cerita panjang lebar. Kak Ji cuma bisa cengengesan. Ya, kasihan juga sih. Dia sudah terlanjur malu… Apalagi yang dia ejek itu Jaka. Pria masa kini yang doyan nongkrong di lab dan tatapannya garang itu…”

Rasi tertawa. Ia tidak menyangka, Jaka akan mengalami kejadian buruk seperti itu. “Lagipula, kenapa Kak Ja nggak langsung pakai kacamatanya aja sih? Biasanya kan gitu. Kalau ada yang menurutnya nyebelin, dia langsung membenarkan posisi kacamatanya dan memunculkan tatapan garang. Ahahaha…”

“Harusnya sih begitu. Tapi sayang, kacamatanya Jaka keinjak Kak Ji tadi pagi.”

“Eh?” Rasi kaget. Kacamata? Terinjak? Barang keramat Jaka itu terinjak?

“Waktu di parkiran. Jaka membuka helmnya dan kacamatanya jatuh. Tak sengaja Kak Ji injak karena nggak tau. Kak Ji diomeli habis-habisan di tempat parkir. Sudah mirip anak SD yang diomeli ibunya gara-gara menghilangkan cincin berbatu akik.”

“Kak Ji… parah banget… Rasi turut prihatin,” ucap Rasi sambil tertawa lalu menepuk pelan lengan Jaki.

“Sudah selesai ngerumpinya?” Jaka muncul. Dengan sebilah pisau ditangan kanannya.

Jaki dan Rasi terperanjat kaget melihat kemunculan Jaka yang tiba-tiba juga pose Jaka yang terlihat seperti algojo.

“Serem…” Jaki memeluk Rasi.

Secara paksa Jaka menarik Jaki, “ayo bantu di dapur. Tadi aku dengar Rasi tertawa. Aku pikir kalian bercanda-canda. Tega. Sedangkan aku masih berkutat dengan wortel,” ucap Jaka bersungut-sungut. Rasi hanya terkekeh melihat kakaknya ditarik sang algojo.

“Sebentar… sebentar…” Jaki menahan Jaka yang menyeretnya. “Sudah kepikiran ide ceritanya?” tanya Jaki pada Rasi.

Rasi mengangguk bersemangat, “sudah! Siap posting malam ini!” Rasi mengepalkan jarinya dan mengangkatnya ke udara bersama pensil. “Terima kasih Kak Ji… Kak Ja juga, hehe…”

Jaka berhasil membawa Jaki ke dapur. Jaki dipaksa menyiapkan bahan masakan yang dibutuhkannya. Di dapur, mereka terlihat seperti koki dan asistennya yang kelimpungan.

Rasi tertawa lagi mengingat kejadian yang diceritakan Jaki. Sambil terus menggambar, ia ketawa-ketiwi. Hampir dua puluh lima menit dan dirinya masih terus menggambar. Ide mengalir deras. Semuanya tergambar pada jalan cerita yang dibuat Rasi. Aktivitasnya itu ia hentikan ketika Jaka memanggilnya untuk makan malam.

“Jadi, kali ini judul komiknya apa?” tanya Jaki sambil menyuapkan sup kedalam mulutnya.

“Judulnya, Karma Kacamata,” Rasi tersenyum senang.

Jaka mengernyitkan dahi. Ia tau, Rasi pasti memakai ceritanya tadi siang. Sang dalang, tidak lain dan tidak mungkin orang lain pastilah Jaki. Ya, tak apalah. Kacamata cadangan masih ia miliki. Ia tak akan lagi mengalami kejadian buruk seperti tadi siang. Tak akan pernah lagi.

 

#NulisRandom2015

#day28

28 Juni 2015

12 Ramadhan 1436 H

10:30 pm

====================

Curhat Penulis

Pengen dijadikan komik :”)

 

Read Full Post »

Pagi ini lebih sunyi dari biasanya. Ya, biasanya Jaka berteriak untuk membangunkan Jaki dan Rasi sebelum alarm masing-masing dari mereka berbunyi. Hanya suara kokok ayam tetangga yang berhasil membangunkan Jaki dan Rasi pagi ini.

Suasana yang sepi membuat Jaki terheran dan segera ia mengecek kamar Jaka. Jangan-jangan Jaka kesiangan bangun, ucap Jaki dalam hati. Meskipun kesiangan bangun adalah hal yang tidak mungkin terjadi bagi Jaka. Di intipnya Jaka dari pintu yang dibuka setengah oleh Jaki. Dibalik selimut terlihat Jaka yang sudah membuka mata namun terlihat kepayahan.

“Jaka… kesiangan?” tanya Jaki kemudian berjalan mendekat. Dilihatnya Jaka yang wajahnya nampak tidak sehat. Disentuhnya kening Jaka dengan punggung tangan kanannya. “Panas banget. Kamu sakit?” Jaki terkaget. Padahal tadi malam Jaka terlihat sehat-sehat saja.

“Kepala pening. Badan demam. Nggak enak badan…” ucap Jaka dengan suara parau. Jelas sekali terlihat. “Kamu dan Rasi sudah sarapan?” tanya Jaka melihat Jaki yang sudah rapi hendak ke kampus.

“Belum…” jawab Jaki enteng.

“Sarapan dulu. Aku nggak kuat bangun untuk buat sarapan dan bekal Rasi,” keluh Jaka.

Jaki berpikir keras, ia tidak bisa masak seperti Jaka. Ia bingung harus masak apa untuk sarapan. Sempat terpikir olehnya untuk makan sereal saja. Tapi, bekal untuk Rasi?

“Kak Ja?” Rasi muncul dan berjalan kearah Jaka yang terkulai lemah. “Kak Ja sakit?” tanya Rasi, melirik Jaki kemudian meletakkan punggung tangannya keatas kening Jaka. “Panas…”

Jaka menelan ludah, terasa menyakitkan tubuhnya saat ini. “Kalian sarapan ya jangan lupa. Rasi, nanti Jaki yang akan buatkan bekal,” kata Jaka masih dengan suaranya yang parau.

Rasi menatap Jaka khawatir, “urusan bekal mah gampang. Tapi, Kak Ja…”

“Aku ambilkan kompresan ya,” Jaki beringsut pergi ke dapur untuk mengambil kompres.

Rasi duduk disisi tempat tidur Jaka, dirinya tidak menyangka kakaknya yang paling cerewet ini bisa sakit. Agak lucu sih, padahal kemarin kakaknya sempat makan es krim cukup banyak dari kulkas, “Kak Ja terlalu banyak makan es krim sih…” ejek Rasi.

Jaka diam, tangan kanannya disentuhkan dikeningnya. “Kamu sarapan dulu. Nanti telat,” ucap Jaka.

Rasi tidak menanggapi dan memilih untuk tetap duduk ditempatnya, “masih jam setengah enam kok…” Tiba-tiba muncul ide yang menurutnya cemerlang, “Kak Ja, gimana kalau Rasi jagain Kak Ja aja dirumah?” ucap Rasi kemudian memijiti tangan kiri Jaka yang sebenarnya tidak perlu.

Jaka melirik garang tanda menolak. Rasi menelan ludah, “kan kasihan kalau ngga ada yang ngurus Kak Ja,” bela Rasi tanpa menatap Jaka.

“Ngga. Harus tetap sekolah.” Tegas Jaka. Dirinya tau kalau Rasi hanya beralasan saja. Agar Rasi bisa terus menggambar dikamarnya. Jaka pasti ditelantarkan.

Rasi manyun. Rencana emasnya gagal. Tapi, dalam hatinya yang terdalam sejujurnya ia memang ingin merawat Jaka. Dia ingat sekali Jaka pernah izin kuliah beberapa hari untuk merawatnya yang ketika itu sakit. Padahal saat itu Jaka dan Jaki bisa bergantian menjaga Rasi. Namun, Jaka memilih mengorbankan dirinya sendiri agar Rasi kembali sehat. Rasi agak terharu mengingat kejadian itu.

“Jaka, nih minum dulu. Nanti aku buatkan bubur,” Jaki muncul dengan pack kompres. Memberikan segelas air minum pada Rasi agar Rasi membantu Jaka untuk minum.

Susah payah Jaka mencoba untuk duduk. Tubuhnya seakan remuk. Perlahan ia meneguk air dari gelas yang dipegangi oleh Rasi.

“Rasi, sarapan dulu. Sereal aja ya? Ngga masalah kan?” tanya Jaki. Rasi mengangguk pelan. Kemudian meletakkan gelas diatas meja disamping kasur lalu beranjak ke dapur untuk menyiapkan serealnya sendiri.

Perlahan Jaka kembali membaringkan tubuhnya. Jaki menempelkan kompres ke kening Jaka. “Makasih…” ucap Jaka pelan. Suaranya sudah tidak parau lagi.

“Aku izin nggak kuliah hari ini,” ujar Jaki.

Jaka melirik garang kearah Jaki tanda menolak pernyataan Jaki tadi. “Nggak. Harus tetap kuliah.”

“Biar saja…” ucap Jaki enteng. Ia beranjak pergi dari kamar Jaka yang dari wajahnya terlihat ingin marah-marah pada Jaki.

Di dapur Rasi tengah melahap serealnya. Jam sudah menunjukkan pukul enam. Ia harus buru-buru sebelum bis sekolah tiba. “Kak Ji, aku tidak buat bekal. Jangan bilang-bilang Kak Ja ya.” Ucap Rasi.

Jaki mengangguk, “maaf ya Kak Ji nggak bisa buatkan bekal. Bikin bubur juga cari cara masaknya di youtiibee,” sesal Jaki. Dirinya sangat berbeda dengan Jaka yang sudah telaten untuk masak dan mengurus pekerjaan rumah lainnya. Entah mengapa hari ini, ketika Jaka sakit, Jaki semakin menyadari dirinya belum bisa apa-apa dibanding kakaknya.

Jam menunjukkan pukul enam lebih enam belas, Rasi bersiap pergi untuk pergi ke halte, menunggu bis sekolah. “Rasi pergi ya…” pamit Rasi. Ia pun berlari ke kamar Jaka berniat pamit juga. Tapi, dilihatnya Jaka sedang tertidur. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi tanpa pamit pada Jaka.

“Hati-hati, jangan kesandung batu,” pesan Jaki. Rasi tertawa. Jaki tau betul Rasi seringkali tersandung batu di jalan.

Jaki masih berkutat dengan resep bubur. Kembali ia mengecek resep sebelum memasukan bahan dan bekerja sesuai resep yang ada. Jaki garuk kepala, ternyata membuat bubur itu susah juga. Harus terus diaduk. Sudah satu jam lewat namun bubur buatannya dirasa belum matang.

“Lama banget masaknya…” Jaka tiba-tiba muncul dari balik punggung Jaki.

Jaki terperanjat kaget, “Loh, kenapa bangun? Sebentar lagi kok,” ucap Jaki.

Jaka berjalan terhuyung mendekat pada kompor. Dilihatnya nasi yang kekurangan air didalam panci. Jaka mendesah pelan, “Kurang air nih…”

Jaki melirik kearah panci, “Masa sih?” Jaki kemudian memasukan setengah gelas air.

Jaka duduk di meja makan, melipat tangannya dan meletakkan kepalanya yang masih terasa pusing diatas tangan.

Jaki merasa kasihan pada Jaka. Ia benar-benar tidak bisa merawat orang sakit. “Maaf…” ucap Jaki menyesal. “Aku nggak bisa diandalkan ya?”

“Iya,” jawab Jaka singkat. “Makanya aku minta kamu untuk pergi kuliah aja.” Ucap Jaka.

Jaki diam, dirinya terus mengaduk bubur yang hampir jadi.

“Kamu belum sarapan kan?” tanya Jaka, ia mengangkat kepalanya dan menatap punggung Jaki.

“Nggak masalah…” Jaki menoleh.

Jaka mendesah lagi, “itulah mengapa kamu nggak bisa diandalkan. Mengurus diri sendiri aja belum benar.”

Jaki diam. Jaka memang benar. Ia bagai parasit. Tidak bisa tumbuh sendiri tanpa menjadi hama bagi tanaman lainnya.

“Kita sarapan pakai bubur buatan kamu ya…” ucap Jaka.

Tak lama, bubur telah tersaji dihadapan Jaka dan Jaki. Perlahan Jaka melahap sesendok bubur. Ia mengangguk, “enak…” pujinya kemudian menelan lagi sesendok.

Jaki lega, meskipun lama membuatnya. Setidaknya bubur buatannya di beri label enak oleh Jaka.

“Sejujurnya ngga kerasa apa-apa. Lidahku terasa pahit,” ucap Jaka pada akhirnya. Kembali pada Jaka yang jarang memuji.

Jaki melahap bubur dihadapannya. Enak.

Mereka berdua pada akhirnya makan dalam keheningan. Hingga percakapan itu terjadi ketika mereka selesai makan, “Jaki…” ucap Jaka pada Jaki yang tengah mencuci piring kotor dan bekas masaknya. Jaki hanya menanggapi dengan berdehem.

“Kamu sebenarnya bisa diandalkan kok. Daripada aku,” aku Jaka. “Sebenarnya aku agak tenang kamu ada di rumah. Jadi ada yang merawat…”

Jaki menoleh dan mendapati Jaka yang tersenyum tanda terima kasih. Jaki balas tersenyum dan kembali berkutat dengan tugas bersih-bersihnya.

Jaka, harusnya ia lebih jujur pada Jaki ketika butuh bantuan. Daripada menyiksa dirinya. Jaki sendiri menyadari, bahwa Jaka membutuhkan bantuannya. Namun, Jaka tak mau terlihat lemah.

 

#NulisRandom2015

#day27

27 Juni 2015

11 Ramadhan 1436

10:50 pm

Read Full Post »

“Rasi lagi apa sih di kamarnya? Betah banget.” Ucap Jaka, kakak pertama dari Rasi. Dirinya merasa heran dengan adiknya yang tidak kunjung keluar dari kamar sejak tadi pagi. Setelah sarapan, Rasi menutup diri di kamarnya.

Jaki, kakak kedua Rasi menoleh ke pintu kamar Rasi. Tak ada suara keributan yang terdengar. “Mungkin dia tidur.” Jawabnya enteng kemudian kembali sibuk memindahkan channel televisi.

Jaka mendecak kesal. “Nggak mungkin! Ini sudah jam 3. Masa tidur?” Sebenarnya yang membuat dirinya makin kesal adalah sikap Rasi yang berubah menjadi diam. Ketika Jaka bertanya mengapa, Rasi hanya berkata, “tidak apa,” tanpa ekspresi. Jaka merasa ada hal yang aneh yang terjadi pada Rasi akhir-akhir ini. “Jaki, coba kamu intip deh. Lagi apa dia di dalam sana,” perintah Jaka.

Jaki menempelkan tubuhnya pada sofa, ia menolak.” Kamu saja sana.”

Jaka hendak menjitak adik kembarnya itu namun Jaki berhasil menghindar. 20 tahun hidup bersama membuat mereka sudah memiliki insting perlindungan antar saudara yang semakin meningkat.

Jaka beranjak dari tempat duduk, sebenarnya mengintip bukan hal yang disukainya. Ia lebih memilih untuk langsung menerobos masuk. BRAAAKK. Suara pintu terdengar begitu keras akibat Jaka yang membukanya dengan paksa. Padahal pintu kamar Rasi tidak di kunci.

“Lebay deh Jaka.” Sindir Jaki dari balik sofa. Jaka menatapnya mengancam.

“Ya ampun Kak Ja. Ada apa sih heboh banget?” Rasi yang tadinya tengah menggambar di mejanya heran dengan tingkah kakaknya yang tiba-tiba itu. Ia bergumam dalam hati, bahwa rumahnya bukan sarana adegan film action.

“Maaf… nggak ada yang rusak kok,” ucap Jaka kemudian mengecek bagian pintu.

“Ada apa Kak Ja?” tanya Rasi lagi pada Jaka yang menghampiri Rasi. Dilihatnya meja belajar Rasi yang penuh tumpukan sketsa dan panel yang telah rapi.

“Bikin komik?” tanya Jaka kemudian meraih selembar kertas yang sebenarnya masih di gambar Rasi.

“Aduh… Kak Ja, jangan ganggu Rasi deh.” Rasi segera menarik kertas dari tangan Jaka.

“Parah. Mengurung diri untuk menggambar?” ucap Jaka dengan nada tak percaya dan sedikit menyindir Rasi.

“Iya lah, daripada cuma nonton TV,” sindir Rasi balik.

Jaki ikut menoleh dan melipat kedua tangannya di atas sofa. Memperhatikan Jaka dan Rasi yang saling bertatapan bermusuhan. “Sudah lah Jaka. Biar Rasi menggambar. Lagipula ini kan hari libur.” Jaki unjuk suara membela Rasi. Rasi tersenyum menang. Dua lawan satu.

Jaka diam, ia merasa dirinya memang sudah kalah jumlah. “Ya, sudah… sana lanjutkan… tapi jangan terlalu mengurung diri. Kamu juga butuh istirahat. Leher kamu pasti pegal harus menunduk terus. Jari tangan kamu nanti keriting karena terus menggambar. Istirahat. Keluar kamar. Makan bersama kami…,” pesan Jaka panjang lebar.

“Iya penasihat Jaka,” ucap Rasi.

Jaka kemudian pergi, kembali menonton TV bersama Jaki. Ia meninggalkan pintu terbuka sedikit agar dirinya bisa memantau Rasi.

“Posesif banget sih kakak yang satu ini,” ejek Jaki yang menusukkan jarinya ke pipi Jaka.

“Apa sih?” Jaka menepis jari Jaki. “Kalau nggak diatur nanti dia sakit.”

“Aku juga mau dong diperhatiin…,” ucap Jaki kemudian mendekatkan dirinya dan bersikap seperti anak manja.

“Ogah!” Jaka menggeserkan tubuhnya. Menjaga jarak dengan Jaki. Jaki tertawa dan kembali melahap kacang pedas.

 

“Ada-ada aja Kak Ja ini,” Rasi geleng-geleng kepala. “Tapi baguslah, Kak Ja dan Kak Ji bisa jadi ide cerita komik yang selanjutnya.” Rasi bersemangat.

Dirinya hanya lah mangaka biasa. Yang mengupload karyanya ke media sosial untuk dibaca banyak orang. Nama penanya adalah jajidai-suki. Coba, apakah kamu bisa menemukannya? 🙂

 

#NulisRandom 2015

#day26

26 Juni 2015

9 Ramadhan 1436 H

22:44

================================

Curhat Penulis

Cerita ini akan dibuat versi komiknya. Kalau memang ada yang mau gambar… hehee Sampai sekarang belum ada. Ya sudah, tunggu saja nanti… berdoa terusss

Read Full Post »

Pandangan mata Kei menjadi buram. Tentu saja, ini karena darah segar yang mengalir dari keningnya hingga jatuh mengenai matanya. Hanya sebelah saja, mata kiri. Meski begitu ia merasakan perih yang tidak terkira.

 

Selain kepala yang behasil dipukul dengan kayu oleh seseorang berwajah garang. Kei terluka di bagian kaki. Seluruh tulangnya seakan remuk. Ia duduk terikat di atas kursi. Seperti film aksi. Tetapi, ini nyata baginya. Ia benar-benar disekap. Tidak tau ia ada dimana. Yang ia ketahui dirinya kini ada ditengah ruangan. Hanya ada dua orang seperti algojo dihadapannya. Suasanya sangat pengap karena banyaknya debu dan barang rongsok yang ada. Kei terbatuk.

 

“Jawab!!” teriak pria berwajah garang itu. Dengan kasar ia pukulkan kayu balok ditangannya ke pelipis kiri Kei. Menambah kesakitan yang sebelumnya disebabkan oleh pria itu. Kei hanya bisa meringis meski sebenarnya ia ingin berteriak sangat kencang untuk melepaskan perih yang dirasakannya.

 

“Bisu dia itu, Wik!” kata seseorang berwajah garang lainnya. Namun tubuhnya lebih kecil dibandingkan dengan seseorang yang dipanggilnya dengan “Wik” itu. Ia berdiri dan mengambil alih tongkat yang dipegang Wik. Nampaknya hanya tongkat itu satu-satunya alat mereka untuk menghabisi Kei.

 

Pria bertubuh kecil itu kini menunduk dan memiringkan tubuhnya agar wajahnya setara dengan wajah Kei. Kei hanya meliriknya sebentar dan mengacuhkan pandangan mata yang mengancam dari pria itu. “Heh! Jawab! Dimana markas gerombolanmu itu?!” tanyanya dengan nada berteriak, membuat telinga Kei menjadi sakit.

 

Kei hanya diam. Ia tak menjawab pertanyaan sama yang diajukan oleh kedua orang itu.

 

Pria bertubuh kecil itu sangat kesal dengan sikap Kei yang tak acuh. Hingga akhirnya ia menjenggut keras rambut Kei dan berteriak tepat diwajahnya, “Jawab! Hah!”

 

Tepat ketika pria kecil itu berteriak, Kei meludah hingga liurnya masuk kedalam mulut pria yang kini terbatuk dan berusaha memuntahkan cairan yang baginya menjijikan. Kei tersenyum puas, senjata liur berhasil membuat seorang tumbang. Meski ia tau, kawan dari pria itu akan membalasnya lebih dari apa yang ia lakukan.

 

“Sialan!” pria bertubuh gemuk itu memukuli Kei lagi dengan kayu yang dilemparkan temannya. Kali ini pukulan bertubi-tubi hingga Kei hanya bisa meringis. Ia tak menangis. Ia tau tangisan hanya sia-sia. Namun, diamnya Kei pada pertanyaan berulang yang dilontarkan dua pria itu adalah hal yang penting.

 

Meski dipukuli sebanyak apapun. Sekeras apapun. Ia tak akan mengeluarkan sepatah kata pun. Kecuali rintihan. Ia akan menyimpan erat rahasia markasnya. Ia akan mengorbankan dirinya demi puluhan orang. Ia rela mati asalkan semua kawan seperjuangannya selamat. Yang harus ia lakukan adalah bersabar menahan sakit yang ia rasa.

 

Pria bertubuh besar itu berkeringat. Ia sudah mulai lelah. Lelah terus bertanya pada seseorang yang tak akan pernah menjawab. Ia tak sabar ingin segera membunuh Kei. Matanya mengancam Kei yang sekarang tertunduk kesakitan. Kepala Kei terus menjadi sasaran empuk, begitupun bahunya. Semakin ia bergerak, ikatan ditubuhnya semakin kencang melilit dirinya.

 

“Sudahlah! Si bodoh ini memang tak akan pernah menjawab kita, Wik!” ucap pria kecil yang akhirnya bisa bernafas lega meski dirinya masih mual karena menelan ludah Kei yang bercampur darah. “Kita tunggu saja perintah dari Tuan Tinggi untuk langkah selanjutnya. Kita laporkan bahwa pria bodoh ini tidak mengatakan apapun,” lanjutnya kemudian meraih sebuah handphone dari saku jaket kulitnya. Mencari sebuah nomor dan menelepon seseorang yang dikenal oleh Kei sebagai Tuan Tinggi, yang merasa memiliki seluruh lahan kampungnya itu.

 

Kei mendengar percakapan singkat itu. Jelas terdengar ditelinganya yang terus berdenging. Dirinya akan dibakar, bersama bangkai kambing di sebuah peternakan yang Kei mengetahui tempatnya. Ia berpasrah. Ia memasrahkan dirinya pada Allah. Bagaimanapun ia akan melindungi daerahnya. Tempat ia dilahirkan dan tumbuh dengan tenang. Sebelum akhirnya ada gerombolan lain yang berusaha mengambil alih tanah kelahirannya untuk dijadikan tempat wisata modern. Bermodalkan pria-pria kekar yang setiap hari datang dan memerangi warga kampungnya. Bersamaan dengan itu alat-alat besar ikut turun dan memasuki jalan desa. Menghancurkan pepohonan yang dari dulu sudah berdiri disana dengan kokoh. Barisan anak muda kampung geram dibuatnya. Hingga akhirnya ikut melawan dengan alat yang sering mereka gunakan untuk bekerja. Mereka berkumpul. Tidak meninggalkan kampungnya. Hanya anak-anak, para wanita dan orang yang telah renta yang mereka minta untuk mengungsi ke wilayah lain. Tanpa adanya bantuan darimana pun. Tanpa adanya orang yang berempati yang mengetahui bahwa mereka membutuhkan bantuan.

 

Salah satu gerombolan pemuda desa itu adalah Kei. Pejuang muda yang maju bermodalkan batu yang dikumpulkannya. Ia mempari alat berat. Ia tak takut jika lemparannya akan membuat orang lain terluka. Karena dirinya sudah cukup terluka dengan sikap para penguasa yang seenaknya merebut sebuah wilayah dengan cara yang semena-mena. Hatinya terluka ketika banyak warga yang ketakutan. Namun, dirinya tak pernah takut. Ada Allah yang selalu menjaganya. Ia akan mati dengan membela kampungnya. Membela seluruh keluarga dan warga desa lainnya. Tetapi, sekarang ini tidak bisa berkutik. Tubuhnya lemah karena ikatan.

 

“Dengar itu? Mati! Dibakar!” ucap pria bertubuh gemuk sambil menjenggut rambut Kei dan berteriak tepat ditelinganya yang masih berdenging.

 

Kei hanya diam, mungkin ini memang saatnya ia untuk mati. Takdir yang telah dituliskan sebelum ia lahir ke dunia. Ia hanya mampu berdoa. Berdoa dengan berharap dan penuh rasa takut bila doanya tidak di kabulkan oleh Allah. Dalam hatinya ia merintih dan berkata, Ya Rabb, semoga kampung hamba aman kembali seperti dahulu. Seperti ketika kami bersujud diatas tanah yang Engkau berikan pada kami sebagai nikmat atas kasih sayang-Mu. Ya Rabb, kami hanyalah makhluk lemah, namun kami akan menjadi kuat ketika Engkau menjadikan kami hamba yang kuat. Ya Rabb, kepada siapa lagi hamba meminta… Selain kepada-Mu wahai Rabb seluruh alam semesta. Engkau lah yang mengatur jalan takdir setiap manusia. Jadikanlah kami manusia yang mampu melawan kekuatan yang bagi-Mu adalah lemah dan kecil… Kuatkanlah hati kami Ya Rabb…

 

Tak terasa air mata Kei jatuh. Ia ingin sekali tersungkur untuk bersujud. Untuk mengangkat kedua tangannya. Untuk meminta kepada Allah melalui bibirnya yang nyeri. Namun, sebuah suara membuatnya bergidik sekaligus merasakan ada harapan di dadanya. Teriakan takbir dan dentuman ledakan dahsyat yang terdengar dari luar.

 

Seseorang berlari tergopoh-gopoh menghadap pria kecil yang keheranan, “Ada apa?” tanyanya panik. Terlihat jelas di wajahnya.

 

“Ada yang membakar sisi barat markas kita Bos! Gerombolan menyerang kita dan mengendalikan alat berat yang kita miliki!” lapor seseorang yang sepertinya penjaga itu. Pria kecil akhirnya berlari keluar dari ruangan. Yang kini tersisa hanya tinggal Kei dan pria bertubuh gemuk yang mencoba menahan Kei. Pria itu mencari-cari suatu alat dari tumpukan dipojok ruangan.

 

Kei menengadahkan kepalanya, ia bersyukur bahwa bantuan yang Allah turunkan begitu cepat. Malah sangat cepat. Ia berharap gerombolan pemuda berhasil merebut wilayah ini. Agar pergerakan lawan semakin sempit.

 

“Kei! Kei! Kei!” banyak suara yang memanggilnya. Begitu dekat. Seakan merasakan ketenangan. Suara yang sebelumnya tidak bisa keluar dari mulutnya akibat perutnya dihantam balok kayu, akhirnya bisa keluar dengan lancar. Kei berteriak, “Ada! Ada! Ada!” terus Kei menjawab panggilan. Namun, pria bertubuh besar itu mengambil langkah cepat. Setelah menemukan alat yang dicarinya ia bersegera bergerak untuk menusuk jantung Kei. Tetapi, ada kekuatan yang tiba-tiba muncul dari dalam diri Kei. Kekuatan itu disebut pertahanan diri. Kei yang sebelumnya terkulai lemah bisa menghindar dari tusukkan pria itu.

 

“Sial!” pria itu mencoba menusuk lagi Kei. Namun Kei terus menghindar.

 

“Disini!” teriak salah seorang dari gerombolan pemuda yang berhasil menemukan Kei. Ia memberikan tanda kepada temannya yang berpencar.

 

Tanpa banyak kata lagi, ada 4 orang pemuda termasuk Kei yang kini berusaha melawan pria yang wajahnya memerah dan matanya melotot karena marah. Sebuah pisau melawan satu pisau lainnya dan dua senjata api. Pria itu jelas kalah jumlah dan kalah alat.

 

“Kei…” ucap seseorang yang Kei kenal sebagai Bang Pek. Bang Pek mencoba membuka ikatan Kei dengan pisau yang dimilikinya. Kei akhirnya terbebas. Bang Pek segera menyelamatkan Kei. Sebelumnya ia sempat memberikan tanda pada 2 orang kawannya yang membawa senjata api untuk melanjutkan tugasnya. Menghabisi pria berkeringat yang penuh amarah dihadapan mereka.

 

Bang Pek yang bertubuh kekar mencoba menggendong Kei. Hal ini dilakukan agar mereka bisa berlari ditengah perlawanan dua pihak yang semakin sengit. Sebagian gedung dibakar. Tentu saja gerombolan pemuda harus cepat bergerak.

 

“Kei…” ucap Bang Pek sambil terus berlari. Kawan-kawan yang melihatnya lewat melindungi dirinya dari serangan pihak musuh. Kei terdiam, namun pendengarannya masih bisa fokus mendengarkan suara Bang Pek. “Aku melihat cahaya yang turun dari langit. Ketika kami tengah melemparkan minyak untuk membakar. Aku memiliki firasat bahwa dirimu ada di sisi lain gedung ini. Di sisi di mana cahaya itu turun jelas terlihat oleh mataku,” jelasnya lagi.

 

Kei terdiam. Ia menangis, namun tak terdengar oleh Bang Pek. Namun, air matanya jatuh tepat di bahu kanan Bang Pek. Bang Pek pun merasakannya.

 

Kalimat syukur terucap dari bibir Kei, “Alhamdulillah… Alhamdulillah… Alhamdulillah…”

 

Kei mengucapkan doanya yang lain. Yang ia panjatkan hanya pada pencipta-Nya. Allah ta’ala yang akan selalu mendengar segala doa yang tercurah. Tak pernah tidur dan tak pernah istirahat dari mengurusi makhluk-Nya.

 

 

#NulisRandom2015

#day25

25 Juni 2015

8 Ramadan 1436 H

11:24 pm

=========================

Curhat Penulis

Yakusoku wa “mata ashita”

Read Full Post »

Meskipun judul tulisan ini adalah “akhirnya”. Namun tulisan saya tidak akan berakhir kecuali saya mati atau banting setir kepada hobi lainnya…

Akhirnya, saya menemukan kenapa motivasi saya naik turun. Berkat sebuah kenangan yang tiba-tiba terbesit dan pikiran yang selalu menjalankan tugasnya.

Yang membuat motivasi saya naik untuk terus menulis ternyata adalah komentar dari kawan atau reader lainnya yang berhasil membuat saya lebih bersemangat untuk terus menulis dan memberikan harapan agar tulisan selanjutnya dikomentari… Selain itu, sehabis dari seminar motivasi kepenulisan lah saya kembali bersemangat untuk mengukir kata *ceilee~*

Di sisi lain ketika ada yang naik pasti akan ada saatnya untuk turun. Seperti kebiasaan menulis saya juga yang sering turun alias ngga nulis dalam satu hari… hmmm… saya menyadari, ketika tak ada yang mengomentari tulisan saya, rasanya semangat itu memudar. Meski tau ada seseorang atau beberapa orang (mungkin) yang membaca tulisan saya. Rasanya akan sangat menyedihkan jika tidak ada yang berkomentar… seperti seorang koki yang makanannya dicicipi kemudian tanpa kata, sang pencicip itu pergi begitu saja, seakan menandakan bahwa rasa makanannya sungguh tidak enak…

Teringat oleh saya sebuah kenangan *hmmm kenangan~* waktu SMA dulu, tepatnya kelas 10. Saya pernah membawa puding yang awalnya akan saya jual. Kebetulan ada acara pensi gitu… teman saya sebut saja Vi sangat bersemangat untuk membantu saya menjualkan puding yang saya buat… *terharu* Pada akhirnya, jualan puding diurungkan. Kenapa? Karena puding saya bagikan pada teman kelas 10 saya. Kenapa? Karena kelas kita akan tampil drama. Jadi? Ya… akhirnya saya memilih untuk membagikannya daripada menjualnya. Hitung-hitung promosi dulu, baru nanti jualan yang sebenarnya *lhoo
Teringat oleh saya, teman saya Re *saya pernah menulis tentang beliau di postingan yaaaaaaaaaang sudah lamaaaaa seeeekkaaaaalliiii dengan judul Setetes Saja Re*. Dia memuji-muji puding buatan saya. Padahal mah itu puding resepnya sederhana. Cuma puding coklat instant, terus di kasih sedikit air supaya hasilnya lebih tebel, ditambah bubuk susu coklat dan*cow … udah cuma gitu… tapi rasanya dia muji saya laksana koki handal. Tentu saja, pujiannya membuat saya terharu. Teman saya Dw juga turut berkata, “enak din…” gitu… hmmm… kenangan itu yang jadi motivasi awal saya untuk jadi koki. Meski hanya puding sederhana. Namun, komentar yang dilontarkan membuat saya bersemangat.

Tentu saja, ketika ada orang lain yang mengapresiasi karya kita. Rasanya diri ini menjadi mampu dan ingin terus berjuang membuat yang lebih baik lagi. Bukan begitu? Hmmm… Sebenarnya ketika saya ingin sekali tulisan saya dikomentari, ada hal mudah yang bisa saya lakukan. Yaitu, ngechat secara pribadi ke beberapa orang dan meminta atau dalam istilah lain memaksa dia untuk membaca tulisan di wordpress saya dan wajib memberikan komentar. Ya, hal itu bisa saja saya lakukan. Tapi, sensasinya akan sangat berbeda ketika ada orang tak dikenal yang dari antah berantah mengomentari tulisan saya meski komentarnya terbilang menyakitkan atau lainnya. Meski pahit dan menusuk. Di sisi lain saya merasakan kebahagiaan. Bahwa ada orang yang mampu membaca tulisan saya sampai selesai dan mau mengorbankan waktunya untuk sekedar berkomentar…

Well, saya menulis ini bukan untuk dikasihani dan membuat orang lain tersentuh agar mau mengomentari tulisan saya setelah membaca yang satu ini. Bukan… saya hanya ingin memberitahukan motivasi saya yang selalu naik turun… bisa saja hal itu juga dirasakan oleh penulis lainnya… setiap orang juga begitu, hati seseorang juga begitu… hmmm…

Kepanjangan ngga sih curcolnya?
Maybe yes~ maybe no~

Kenapa saya posting curhatan saya disini?
Karena saya lebih sering buka wordpress dibanding buku diary… kalau pun jarang buka wordpress pasti deh buku harian akan lebih jarang lagi…

Semoga tidak jadi sampah postingan lainnya… :”)

Nah, sekarang saya rangkai kembali jejak yang lain… berharap ada motivasi terkuat yang dimiliki agar diri tidak goyah dan fokus dalam menulis. Serius banget ya kelihatannya? Padahal kan cuma nulis. Nulis mah gampang atuh… Kurang penting… mungkin akan ada sebagian orang yang berkata seperti. Tetapi, bagi saya pribadi. Menulis itu sulit. Ada masa nya ketika malas menggerogoti. Jadi penulis juga hanya akan jadi impian jika tidak ada keseriusan di dalamnya… maka dari itu saya sangat sangat serius untuk terus menulis. Hingga akhirnya menghasilkan karya yang luar biasa. Hmmm… ukuran luar biasa itu masih tak terhingga sebenarnya…

Kok, kayak anak eSeMA yang galau sih =_=

#NulisRandom2015
#day24
24 Juni 2015
8 Ramadan 1436 H
20:22

Read Full Post »

Dalam tahap membangun.

Membangun sebuah bangunan yang masih belum tau akan seperti apa.

 

Dalam tahap membangun.

Sebelumnya membangun saung kecil,

namun beralih membangun sebuah rumah.

Setelah banyak melihat bagaimana orang lain membangun.

Kemudian mencoba lagi membangun sebuah gedung dengan pondasi yang kuat.

Lagi-lagi terinspirasi dengan bangunan orang lain.

Pada akhirnya meninggalkan proyek yang lama,

dan mencoba membangun jembatan.

 

Belum mampu, menguatkan niat yang ada.

Masih terombang ambing.

Katanya, harus menemukan motivasi agar tidak goyah.

Namun, masih belum menemukan.

 

Tapi, sejalannya waktu.

Terus membangun dan belajar di sana-sini.

Harapan itu semakin ada dan terlihat.

Semoga terus berlanjut.

 

Hingga akhirnya, bangunan kokoh itu siap dihuni.

Ditinggali oleh banyak orang.

Memberikan inspirasi bagi orang lain yang juga pernah goyah.

 

#NulisRandom2015

#day23

23 Juni 2015

6 Ramadan 1436 H

3:00 pm

 

Read Full Post »

Older Posts »