Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Oktober, 2015

Kedua matanya tertutup oleh rangkaian bungaku. Tapi, ia masih bisa tersenyum. Meski aku tau pasti akan terasa gatal di pipinya.

“Terlalu besar lingkarangannya,” ucapnya padaku, kemudian melepaskan rangkaian bunga itu perlahan agar tidak rusak.

Aku tertawa kecil, “kepalamu terlalu kecil.”

Dia ikut tertawa sambil menatapku, “ya, kau harus menemukan orang yang tepat untuk rangkaian bungamu itu.”

“Bagiku kau adalah orang yang tepat,” jawabku padanya.

Aku benar-benar tidak mengetahui nama tempat ini. Yang aku ketahui hanya ia ya menjemputku di pagi hari, mengajakku mengowes sepeda. Sepanjang jalan aku hanya mendengar ia bercerita. Sambil sesekali tertawa karena ia menceritakan kejadian lucu ketika ia menemukan jalan kecil yang kami lalui. Ia juga bercerita ketika dua orang anak melakukan toss dengannya karena sama-sama sedang bersepeda. Hingga akhirnya kami berdua terjebak di tengah padang bunga yang luas. Adanya kursi, membuat kami memutuskan untuk beristirahat sambil memakan bekal seadanya dan air mineral secukupnya.

“Kapan kau akan pergi?” tanyaku padanya. Pertanyaan ini ingin sekali aku ajukan padanya sejak kemarin lusa. Namun, ia masih sibuk mengurusi banyak hal bersama gadis pujaannya.

“Tiga hari dari sekarang,” jawabnya, kemudian memainkan rangkaian bunga yang aku buat.

Aku mengalihkan pandanganku darinya dan menatap sekelilingku. Angin kencang berhembus menggoyangkan bunga-bunga.

“Kau tau, ada sebuah bunga yang dapat mengetahui perasaan yang menyentuhnya,” ucapnya, aku menatapnya heran. Adakah?. Dia memakaikan rangkaian bunga ke kepalaku, lalu berdiri dan melangkah. Seakan memberi tanda agar aku mengikuti langkahnya.

Aku hanya mengikutinya, berjalan dibelakang punggungnya. Melewati pepohonan rindang. Kicauan burung terdengar indah ditelingaku. Tak lama, kami sampai diujung jalan setapak yang kami lalui.

Aku kembali terheran, banyaknya warna-warni diatas tanah.

“Ini adalah warna yang dihasilkan dari bunga,” katanya. “Kemarilah,” ajaknya, kemudian melangkah melewati warna biru dan merah diatas tanah.

Sebuah bunga mawar berdiri tegak tengah menantang angin. Bentuknya lebih besar dari mawar kebanyakan selain itu warnanya biru gelap.

“Ini bunga perasaan itu, aku yang menanamnya,” katanya sambil menatapku. Aku bergantian memandanginya dan bunga dihadapanku.

Aku berjongkok, “mengapa disebut bunga perasaan?”

“Siapapun yang menanamnya akan mengetahui perasaan seseorang kepadanya melalui reaksi bunga ini,” jawabnya. Aku tidak begitu paham. “Sekarang, kau sentuh kelopaknya dengan kelima jarimu, seperti hendak memetiknya,” katanya kemudian sedikit memperagakannya.

Aku menurut. Perlahan aku sentuh bagian bawah dari kelopaknya dengan kelima jariku. Aku terheran kembali. Bunga itu hancur lebur menjadi bubuk berwarna biru. Membuat telapak tangankupun menjadi penuh dengan bubuk itu.

Aku menoleh kearahnya yang kini tengah tersenyum. “Itulah jawaban dari bunga itu, kita tidaklah cocok,” ujarnya kemudian berjongkok. “Jika kita cocok maka bunga itu dapat kau cabut dan akan bertahan lama sampai kapanpun hingga pemiliknya mati,”

Aku menatap telapak tanganku, dalam hati aku berkata, bunga tidak bisa mewakili perasaanku yang sebenarnya. Aku melepaskan rangkaian bunga dari atas kepalaku dengan kedua tangan. Bubuk biru itu mewarnai bunga yang putih.

 

terinspirasi dari:

Iklan

Read Full Post »