Feeds:
Pos
Komentar

Archive for November, 2015

Sedih

Bismillah…

Malam ini sedang membuat cerpen. Banyak sekali yang tidak saya ketahui dan harus saya cari via gugel. Salah satunya adalah “penggunaan hearing-aid“. Tau kan? alat bantu dengar untuk tunarungu. Sebuah blog saya buka, isinya sangat bermanfaat. Membawa saya terbawa untuk mengetahui siapa penulisnya. Walhasil, setelah membaca profil penulis. Segeralah saya cek keberadaan penulis di facebook. Saya hendak mengklik “add friend”, namun sebuah status membuat saya mengurungkan niat klik “add friend” itu.

Status itu, membuat saya sedih. Meski saya baru membaca profil penulis itu. Tapi… saya sangat sedih. Isi statusnya adalah ucapan duka. Bahwa pemilik akun-nya telah meninggal. Atas nama adiknya, ia mengucapkan terima kasih pada banyak orang yang mendukungnya.

Ketika saya scroll-down wall facebook-nya, membaca statusnya. Saya menilai bahwa beliau adalah orang yang optimis dan selalu berpikir positif. Beliau orang yang mudah bersyukur.

Mashaa Allah, kemudian saya baru mengetahui bahwa beliau adalah seorang tunarungu.

Seseorang dengan hambatan pendengaran. Namun, mengisi blognya dengan hal-hal bermanfaat. Bukan mengutuk keadaan dirinya. Bukan mengutuk dirinya yang harus pakai hearing-aid. Beliau bersyukur pada Allah ta’ala atas apa yang diberikan oleh-Nya.

Saya terharu. Menyadari bahwa wordpress saya ini masih jauh dari kata ” wordpress bermanfaat”. Seringkali posting tulisan yang tidak berguna. Astagfirullah…

Semoga saya lebih belajar, untuk bisa mengisi wordpress ini dengan tulisan bermanfaat sebagai amal jariyah saya kelak. Jika saya telah meninggalkan dunia ini dan terbaring di dalam kubur.

Allahu akbar…

Iklan

Read Full Post »

Isyaratmu

Tangannya terus bergerak-gerak, jemarinya ikut pula menari. Bibirnya terlihat tengah bergumam. Bahasa Isyarat. Itu yang ia gunakan ketika berbincang denganku. Aku dengan pendengaran yang normal dan ia dengan segala keterbatasannya. Bagaimanapun dirinya, aku tetap mencintainya. Teringat olehku bibirnya yang mengucap kata tanpa bunyi seiring jemari tangannya yang terus bergerak, ia berkata kepadaku dengan tatapan penuh kasih sayang yang tulus bagai tak bernoda. “Aku tau dan kaupun tau bahwa aku tak bisa berbicara. Namun percayalah, meski mulut ini hanya mengeluarkan suara yang tak enak didengar dan hanya tangan ini yang mampu berkata-kata padamu. Percayalah bahwa hanya engkau yang aku cintai. Maafkan aku yang tak sempurna ini, tetapi cinta ini, kuharap sempurna untuk kubagi denganmu.” Dan dengan cepat, airmataku jatuh. Ku peluk dirinya erat. Tak ingin ku lepas cinta tulus itu, meski dari seseorang yang tak sempurna ini.  Ya, aku sungguh mencintainya.

===========================

Sejak kapan jadi cinta-cintaan? hahahaaa~

Ini tulisan udah lama berlumut di ’email keluar’. Entahlah di baca atau tidak oleh doi :”)

Akhirnya terpikir untuk unggah saja di wordpress supaya ada yang baca. Karena itulah tujuan tulisan diatas dibuat :”)

Read Full Post »

Kenapa harus?

Minggu. Hari libur yang menyenangkan, karena ini lah saatnya untuk setidaknya rehat dari banyaknya kesibukan yang tak henti di kampus. Tapi tentu saja, selama rehat, pribadi harus tetap produktif. Rehat sejenak, ketika tubuh tidak dibawa terlalu jauh dari kamar koss dan hanya berdiam sambil mengerjakan tugas yang dirasa tidak menguras tenaga lebih.

Handphone aku pegang ditangan, sebelumnya si doi sempat mati karena baterai yang tidak mencukupi untuk bertahan selama berjam-jam. Baru aku nyalakan kembali handphone ke sayangan itu. Banyak chat dan sms yang masuk. Sms dari adik tingkat, sms dari seorang teman yang membutuhkan reader. Tapi, ada sms yang aku nantikan sejak tadi malam. Sms yang aku harapkan untuk dibalas hari ini.

Aku mengajaknya pergi ke toko buku minggu ini. Sebelumnya seorang temanku yang lain mengajaknya di hari Kamis, tapi tak mungkin karena ada pelatihan yang akan kami datangi. Sehingga setidaknya acara pergi ke toko buku bertiga diundur ke hari Minggu. Seperti yang aku bilang, hari di mana orang-orang beristirahat. Ke toko buku merupakan tempat istirahat paling menakjubkan bagi diriku pribadi. Melihat buku, menyentuhnya, membacanya, menjadi keasyikan tersendiri. Meski tidak membeli, setidaknya rasa rindu menyentuh buku yang berderet rapi telah terobati.

Sekali lagi, aku coba sms. Dia membalas dengan cepat, yang aku yakin dia berada dekat dengan handphone barunya itu. Dia berkata kalau dia sudah membalas pesanku tadi malam. Percakapan kami berlanjut panjang. Entahlah aku merasa bahwa balasan smsku dan smsnya terasa seperti sebuah permusuhan sengit. Dia sibuk, aku tau. Aku selalu tidak sibuk, aku tau. Di tahun sebelumnya aku tidak sibuk, aku tau. Dan dia tidak sibuk juga, aku tau. Hanya saja, semester ini begitu spesial. Pertemanan kami yang berlima orang ini terasa begitu renggang. Kami jarang bersama. Ada D yang seringkali tidak masuk karena berbagai hal. Ada A yang seringkali langsung pulang ke rumah karena kondisi rumahnya yang cukup jauh. Ada I yang sekarang memegang 2 organisasi kampus dan dalam kepanitiaan ditempatkan menjadi orang yang penting sehingga membuatnya cukup sibuk. Ada J yang entahlah dia sering bersamaku akhir-akhir ini, meski aku tau dia jauh lebih sibuk daripada aku.

Aku menulis ini, entahlah mengapa. Kenapa harus?
Mungkin karena hujan yang turun dan gerimis yang turun dari kedua mata lah yang mengantarkan aku untuk bisa menulis di sini. Betapa waktu bersama teman termasuk berharga. Bayangkan, hanya 4 tahun kita diizinkan untuk bersama mereka. Karena asal muasal, rumah tinggal, suku kami yang berbeda, mengantarkan kami untuk kembali ke tempat yang berbeda setelah selesai menuntut ilmu di kota ini. Betapa harus aku ingat kembali bahwa kami bersama adalah takdir yang Allah ta’ala tentukan. Untuk terus bersama di sisa 2 tahun ini. 2 tahun yang memungkinkan kami untuk tidak lagi bersama karena kondisi kami yang nantinya akan memilih spesialisasi, artinya kami harus berpisah kelas, berpisah jadwal belajar, berbeda kelas artinya berbeda waktu kuliah, berbeda waktu senggang. Sedih bukan? Di sisa tahun harus berpisah, sedangkan 2 tahun awal tidaklah terasa cukup karena aku yang terkadang menghindar.

Kembali lagi ke persoalan aku dan dia yang cek to the cok lewat sms. Akhirnya dia membalas lewat grup Line kami berlima. Dia mengatakan bahwa dia ingin sekali mengeluh pada kami, meski aku rasa ia telah mengeluh duluan lewat doa pada Allah ta’ala… belum aku baca isi chat darinya karena aku ingin menulis dulu di sini, haha.

Yang pasti, aku ingin menghabiskan sisa waktuku lebih sering bersama teman-teman di kelas. Karena 4 tahun bersama belum tentu meninggalkan kesan yang mendalam. Meski, aku sudah merasakan nostalgia yang ada.

Akhir-akhir ini, aku sering sekali merindukan hujan yang tak kunjung datang. Aku merindukan ruang kelas yang dulu, ruang kelas yang masih bisa aku rasakan semilir angin kencang dan masih bisa aku lihat tetesan hujan. Aku merasa bersyukur saat itu, di tempatkan pada ruangan yang tepat dan lebih lega. Saat ini, aku berdoa untuk bisa ditempatkan diruangan yang kini menjadi favoritku itu. Aku juga sekarang mengingat-ingat ketika dulu aku jalan di jalanan yang becek. Menikmati rintik hujan meski rok kebasahan dan sepatu yang juga basah. Aku suka itu. Sangat suka. Itulah mengapa sekarang hujan turun dan aku merasa bahagia.

Ah, teman… aku menangis… aku dengar kau pun menangis…
Aku tidak mengerti kenapa aku harus menangis…
Aku tidak tau mengapa kamu menangis…
Mungkin air mata ini adalah pertanda, ketika kita harus mengeluh pada Allah ta’ala…
Air mata merupakan pertanda bahwa bagian di hati kecil tersentuh dengan kejadian ini…
Kita tak bisa mengharapkan waktu itu berulang agar kita memperbaiki segalanya…
Tapi, kita masih bisa berdoa agar Allah ta’ala membimbing kita melangkah beriringan…

“Allah takes everything away from us so we can learn the value of everything He gave us”

===========================================

Ketika hujan turun di siang hari. Ketika tidak ada kegiatan selain menulis. Ketika hari ini terasa menyenangkan sekaligus mengharukan.

why am I crying for something that I really shouldn’t cry over

 

Read Full Post »

Gadis itu duduk diatas sofa, sambil memeluk bantal dan meletakkan kepalanya diatas bantal dengan nyaman. Matanya tak henti menatap tetesan hujan yang jatuh keatas tanaman di taman rumahnya. Tak ada yang lebih asik daripada meletakkan handphone melepaskan earphone dari kedua telinga kemudian mendengarkan suara hujan yang menenangkan dan menatap dedaunan dan rumput yang mengering terkena air hujan.

Berbulan-bulan sudah hujan tak turun. Hari ini, di Senin ini, hujan akhirnya tiba di tanah yang kering dan membutuhkan air. Melihat air hujan yang jatuh, seperti ada gerakan tersendiri dari rerumputan di luar sana. Mereka bersorak merayakan datangnya berkah. Rerumputan serta tanaman lainnya pasti bersyukur memuji Allah ta’ala atas karunia yang diberikan oleh-Nya.

Piiip! Piip! Piiip! Sebuah pesan masuk di handphone milik gadis yang masih termenung itu.

Kau ada di rumah Vie? Aku ikut berteduh ya!

Kemudian sebuah sticker kelinci berpayung menyertai isi pesan itu.

Aku tidak mengundangmu untuk berteduh di rumahku

Sticker seorang wanita berambut pirang tengah mengusir menyertai isi pesan balasannya.

Jahat sekali! Aku sudah ada di depan pagar rumah mu! Cepatlah buka!

Vie mengernyitkan dahi membacanya, tapi sejurus kemudian ia berlari kecil menuju pintu depan.

Dilihatnya dari balik jendela seorang wanita dengan payung rusak ditangan kiri dan handphone di tangan kanan tengah menunggu dengan tidak sabar. Pintu pagar terkunci rapat, ia tidak bisa masuk.

Vie menekan tombol di samping foto keluarga yang terpampang di dekat pintu masuk. Secara otomatis, kunci gerbang terbuka perlahan. Wanita diluar terburu-buru berlari menuju bagian depan pintu masuk yang berbentuk kanopi. Ia menepuk-menepuk tubuhnya yang kebasahan.

“Buka pintunya, Vie!” ucap wanita itu dengan nada yang memaksa.

“Sudah ku buka kok,” jawab Vie. Meski sebenarnya Vie membuka pintu sedang rantai pintu masih terpasang.

“Kamu ini, pelit sekali sih. Tenang saja! Tidak akan aku tagih tugasmu!”

Vie terdiam, sedang berpikir keras. Kalau ia biarkan masuk, maka wanita itu pasti akan menganggu harinya yang santai. Jika ia tidak dibiarkan masuk, kemudian kedua orangtuanya pulang, Vie pasti akan dimarahi habis-habisan karena tidak menghargai tamu. Harus ada taktik lainnya.

“Ada syarat yang harus kamu penuhi, Mar. Jika kamu menyanggupinya, kamu boleh masuk,” tawar Vie.

Mar mengernyitkan dahinya lagi. “Apa syaratnya?” tanyanya, ia mulai menggigil.

“Selama di dalam, kamu hanya diizinkan duduk di atas sofa ruang tengah. Hanya boleh berbicara padaku tentang hal yang penting saja, kau sanggup kan? Cukup mudah!” ucap Vie enteng.

Mar mendengus, dalam hatinya ia ngedumel. “Oke!” jawabnya tanpa pikir panjang.

****

“Vie, sekarang aku boleh bicara?” ucap Mar tanpa menatap Vie, ia masih menghangatkan tubuhnya di depan penghangat ruangan. Sudah satu jam berlalu sedangkan tak ada satu pun yang membuka mulutnya. Hanya secangkir teh hangat yang setia mengepulkan asapnya, Mar menyeruputnya perlahan.

“Kalau memang penting silakan,”

“Tentu saja ini penting,”

Hujan mulai mereda, tetapi masih enggan untuk pergi sehingga menyisakan gerimis. Rerumputan terlihat serperti bernafas lega, dirinya kembali dikuatkan.

“Bagaimana tugasmu? Sudah selesai?” Mar menatap Vie yang terlihat melamun.

“Tugas animasi? Sudah selesai dari 2 minggu yang lalu,”

“Lalu kenapa tidak masuk kelas lagi?”

“Ada hal yang lebih penting dari itu,” jawab Vie tanpa menatap wajah Mar yang agak marah.

“Seperti apa?”

“Menunggu hujan turun,”

Mar terdiam mendengar jawaban Vie. Mar baru menyadari, bahwa perkataan teman-temannya di kampus ternyata memang benar. Awalnya Mar sama sekali tidak percaya dan memilih menanyakan langsung pada Vie. Namun, entah sudah lama sekali Mar belum bertemu Vie di kelas. Bahkan ketika ia menelpon, Vie tidak menjawab. Maka dari itu, ia merasa beruntung ketika Vie membalas pesannya tadi.

Belum sempat Mar berkomentar, Vie tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya dan segera membuka pintu menuju taman. Mar terheran dan segera mengikutinya dari belakang. Vie berhenti sambil menghadap pagar samping sambil menatap rumah tetangganya.

Seseorang tengah bernyanyi. Suaranya sangat merdu. “Seperti biasa, Rondo of the house of sunflowers,” ucap Vie.

Mar tahu betul lagu yang satu itu.

“Mar, tetanggaku ini memiliki sebuah ke unikkan. Ketika hujan reda, ia akan bernyanyi lagi Rondo of the house of sunflowers, itulah alasan lainnya aku tidak masuk ke kelas. Hal penting semacam ini tidak boleh terlewatkan, karena musim hujan belum juga datang,” ungkap Vie kemudian terlihat menikmati lagu yang dinyanyikan tetangganya itu.

**

“Mar! bagaimana! Kemarin kamu bertemu dengan Vie kan?” seorang pria berambut gondrong menepuk bahu Mar.

“Iya aku bertemu dengannya,”

“Lalu? Dia akan masuk kelas lagi kan?” tanya pria itu lagi. Ketika ia mengangguk, rambut kuncir kudanya bergoyang-goyang.

“Tidak, dia akan pindah jurusan, ia tidak akan melanjutkan lagi kuliahnya di sini.”

“Benarkah?!” teriak pria itu tidak percaya. “Pindah jurusan? Ke mana?”

“Dia ingin menjadi seorang guru bagi anak-anak berkebutuhan khusus.”

Mar menyunggingkan senyum. Ia tau, pilihan Vie adalah yang terbaik baginya sendiri. Sebagai seorang teman, Mar harus merasa bangga. Meski Vie harus mengorbankan apa yang telah ia raih selama berkuliah, tapi seperti yang dikatakan oleh Vie bahwa ada hal lebih penting lainnya yang harus Vie lakukan.

**

“Mar, tetanggaku itu seorang tunanetra. Dulu aku masih bermain dengannya ketika kecil. Ia masih bisa melihat saat itu, meski penglihatannya agak kabur. Ia seringkali di ejek oleh teman sekelasku. Padahal, ia adalah orang yang sangat bersemangat. Menginjak SMP, ia mulai bersekolah di rumah. Entah mengapa, baru aku sadari, ia sering sekali menyanyi ketika hujan telah reda. Mar, aku ingin melanjutkan kuliahku di jurusan lain. Aku ingin menjadi seorang guru bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Membantu mereka.”

 

 

==================================

Tertawa sendiri, menangis sendiri…

Selama ini memang tak pernah dengan siapapun. Mengapa merasa kesepian?

Read Full Post »