Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Desember, 2015

Hadiahi Diri

Bismillah

Judulnyaaaa, haha

Tulisan saya yang satu ini bertujuan untuk memberikan sebuah ide yang mungkin sudah banyak dilakukan orang lain. Tapi, saya rasa, ide ini harus dibekukan dalam sebuah tulisan ๐Ÿ™‚

Hadiahi Diri. Dua kata yang tepat bagi orang-orang malas tapi ingin dapat hadiah mantap. Kan aneh, malas bekerja tapi ingin di kasih gaji besar. Waw kan…

Well, yang ingin saya balas bukanlah “malas”nya itu. Tapi, bagi orang-orang yang sekarang mungkin sedang miskin reward, miskin hadiah pada diri sendiri…

Saya berpikir, kenapa harus menunggu datangnya hadiah dari orang lain? Kenapa tidak hadiahi saja diri saya sendiri? Begitu… hingga akhirnya muncul istilah “hadiahi diri sendiri” pada diri saya pribadi (-i di mana-mana)

Seringkali saya dihadapkan pada tugas berat yang sengaja saya tumpuk sendiri, lol. Karena kurang motivasi, karena toh nilai hanya bisa dilihat di akhir dan adanya tugas ini belum terasa manfaatnya secara langsung, hmmm… Akhirnya membawa saya kepada ide untuk menghadiahi diri saya ketika ada tugas yang terselesaikan.

Hadiahnya mudah saja, tidak muluk-muluk seperti rumah mewah beserta isinya misalnya. Tidak, bukan itu hadiahnya. Hadiah yang saya sukai dan saya inginkan saat itu juga.

Ketika ada sebuah tugas yang ada deadline seperti tugas kuliah. Saya mengatakan pada diri, “din, kamu akan diizinkan baca buku kalau tugasnya beres!”. Setelah itu, saya pergi lah ke toko buku untuk membeli buku yang memang saya ingin baca. Pulang dari sana, saya bersegera untuk mengerjakan tugas. Buku baru itu sengaja saya tidak buka plastik pembungkusnya, saya biarkan ia masih di segel. Saya biarkan buku itu berteriak-teriak (dalam imajinasi saya) mengatakan “semangat din! semangat! nanti kamu boleh baca aku!” gitu.

Setelah tugas beres, rampung sebagaimana mestinya. Akhirnya saya memberikan hadiah pada saya yang berhasil mengerjakannya dengan buku yang masih saya segel itu. Kebayangkan? Bahagianya terasa seperti mendapat hadiah dari orang lain secara ajaib.

Hadiahnya, tidak terpaku pada buku saja. Terkadang, saya memilih makanan. Jadi, saya beli makanan yang saya suka seperti puding. Dan diizinkan makan kalau saya berhasil melakukan kegiatan yang harus saya lakukan.

Hadiahi diri sendiri. Istimewa bagi diri sendiri ๐Ÿ™‚

Semoga bisa menjadi ide dikala motivasi turun ya… hahaaa ๐Ÿ˜€

 

Read Full Post »

Pengalaman di Desember

Bismillah…

Pengalaman yang cukup membuat saya haru di Desember ini. Eh? sekarang tanggal 12 Desember ya? waah… 12-12-2015. Angka cantik!

Baru saja tadi pagi hingga siang di hari ini saya melakukan observasi ke sebuah SLB di kota kembang. Meski satu kota, letak SLB ini sangatlah jauh. Bahkan baru pertama kali rasanya saya menginjakkan kaki ke daerah itu.

Perasaan saya campur aduk. Karena ini tugas kelompok, dan satu kelompok memiliki 8 orang anggota. Saya rasa tugas ini akan menjadi ringan dan menyenangkan. Ternyata tugas observasi kali ini tidak seindah yang saya harapkan. Dari 8 orang, yang bisa ikut observasi hanya 3 orang saja. Sedih sekali. Anggota yang tidak ikut memiliki agendanya tersendiri. Entahlah, sudah tidak bisa diganggu gugat mungkin. Sedangkan aku sendiri memiliki alasan pula jika ternyata tidak ikut. Tapi… aku merasa bahwa aku harus observasi untuk tugas mata kuliah yang satu ini.

Akhirnya, setelah banyak drama, banyak kejadian, banyak keanehan… Saya pun pergi dengan motor. Ngeeeeeeeeng begitu bunyinya.

Singkat cerita, sesampainya di SLB, saya memberitahukan bahwa saya mengobservasi anak Cerebral Palsy-Tunagrahita. Kemudian salah seorang guru menunjukkan anak tersebut dan bersegera memindahkan sang anak ke sebuah ruangan yang kondusif agar saya bisa mengobservasi. Guru menyebutkan bahwa anak tersebut hambatannya B-C-dan CP. Yang artinya bahwa anak tersebut mengalami hambatan pendengaran, intelektual dan motorik.

Setelah berada pada ruangan, saya menggunakan bahasa isyarat pada anak tersebut, karena guru mengatakan bahwa anak tersebut adalah anak dengan hambatan pendengaran. Ternyata! Anak tersbeut bisa menjawab dengan gesture tubuh. Dia paham apa yang saya katakan ketika saya berkata tanpa isyarat. Saya heran, jangan-jangan anak ini tidak ada hambatan pendengaran. Jelas sekali, ketika saya tanya kelas berapa tanpa bahasa isyarat, dia menjawab dengan isyarat jari bahwa dia kelas 4. Meski jarinya agak kaku untuk dibentuk menjadi angka 4. Ah! dari situ saya sadar. Maksud dari guru tadi, anak ini memiliki hambatan B itu bukan pada pendengaran tapi lebih kepada komunikasi verbalnya. Wah… ternyata antara saya dan gurunya berbeda persepsi.

Anak itu, sebut saja Ri. Dia tampan sekali. Mirip salah satu aktor kenamaan. Tapi, tubuhnya kaku. Tangannya terlipat, jari-jarinya seperti keriting, kakinya terlipat kebelakang. Jadi, ketika dia berjalan, dia merangkak dengan kaki terangkat keatas.

Dia tau warna, dia tau huruf dan angka. Yang dia tidak bisa hanya mengungkapkan apa yang dia inginkan lewat kedua mulutnya. Mulutnya memang bergerak, berkata-kata. Tetapi tidak jelas, terdengar seperti gumaman, tapi jika memperhatikan lebih dalam, selalu ada makna dari tiap gesture yang dia berikan. Seperti ketika dia ingin keluar dari ruangan karena itu adalah waktu istirahat. Saya baru tau… maafkan ya Ri… aku tidak tau kau ingin istirahat saat itu :”(

Tibalah sesi di mana saya harus wawancara kepada orang tua. Ketika saya berhadapan dengan ibu dari Ri. Saya melihat wajahnya yang menerima segala keadaan. Dalam menjawab pertanyaan pun tak ada sepatah kata yang menyatakan bahwa ibu dari Ri menyesal telah melahirkannya. Bahkan ibu Ri panjang lebar menceritakan pada saya tentangย  Ri yang membuatnya bangga.

“Dulu, Ri yang minta di sekolahkan. Dia semangat sekolah. Jadi, ibu sekolahkan di PAUD di dekat rumah, ” begitu ceritanya. Saya mengangguk-angguk dan membayangkan saat itu Ri sedang ditengah-tengah temannya di kelas PAUD.

“Ri juga rajin sholat jum’at,” ucap ibunya.

“Wah? Digendong ya bu?” tanya saya.

“Iya, digendong, dianterin, nanti dijemput lagi di masjid,” jawab ibunya.

Saya mulai tersentuh.

“Ri, ini kalau denger adzan ribut. Ingin buru-buru sholat,” ucap ibunya lagi.

Saya masih mengangguk-angguk mengagumi.

“Kalau ada adzan, dia langsung ingin sholat, dan berdoa, berdoa supaya bisa jalan nantinya,”

Jlebb! Hati saya tersentuh. Terkoyak habis-habisan oleh cerita Ri yang ternyata adalah anak sholeh. Mashaa Allah… seorang anak yang bahkan jalannya saja merangkak, kakinya terlipat. Bahkan bersila saja harus dibantu. Ternyata memiliki doa yang luar biasa yang saya sendiri yakin, bahwa Ri selalu memanjatkan doa yang sama pada Allah ta’ala agar dirinya suatu hari bisa berjalan.

Ah… Ri… Saya tersentuh…. sangat tersentuh… Saya turut mendoakan semoga Allah memberikanmu yang terbaik dalam hidup. Tak pernah putus asa. Bersemangat untuk sekolah.

Alhamdulillah, Ri ternyata menjalani fisioterapi serta terapi wicara. Semoga dari situlah Allah memberikan nikmatnya berjalan dan berbicara kepadamu ya Ri.

Kawan…

Sekali-kali. Meski hanya sekali. Cobalah untuk duduk berdampingan dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Perhatikan mereka. Dengar mereka. Dan bermain, berbincang bersama mereka. Agar dirimu lebih banyak bersyukur atas apa yang Allah ta’ala berikan kepadamu. Berbincang dengan orang tuanya akan memberikanmu banyak pengetahuan.

Semoga Allah ta’ala memudahkan jalan kita untuk bertemu dengan-Nya ๐Ÿ™‚

Ri, dia akan punya sepasang kaki yang bisa berjalan kelak… di surga… Inshaa Allah…

Read Full Post »

tumblr_mkga6i26W71rxzliio1_1280.png

Thanks for SK. who draw this very beautifully :”)

Entah mengapa hari ini hati berkecamuk cukup kencang. Membaca semuanya. Menerima semuanya. Berat deh. Seperti membawa batu… Batu kali itu. Tau kan? yang berat dan sangat berat bahkan saya sendiri tidak sanggup mengangkatnya dengan kedua tangan saya ini.

Membaca chat dari teman sekelas di LINE. Kenapa ya? Saya membaca semuanya sebagai sebuah keluhan. Keluhan akan dikeluarkannya uang yang besar untuk menyelesaikan salah satu tugas kuliah yang saya yakini memang tugas kuliah termahal yang pernah ada.

Diri ini terlalu memandang negatif terhadap apa yang orang lain bicarakan. Rasanya, tak bisa mengubah segalanya menjadi menyegarkan…

Diriku pribadi tidak melarang untuk mengeluh, silakan saja. Tapi, mendengar keluhan orang lain itu sama sekali tidak enak. Sangat tidak enak.

Aku katakan bahwa sebaiknya memang kita ini tidak tergantung uang-uang dan uang… uang mah bisa dicari. Uang mah memang untuk dihabiskan… tapi lebih dari itu… tugas kuliah bukan semata-mata jadi keluhan, bukan semata-mata menjadi ajang penghabisan uang… tapi lebih dari itu…

Ah, teman… aku hanya ingin bertanya… “apalagi yang ingin kau keluhkan?” “apalagi yang ingin kau katakan?” “bahkan kepadaku yang lebih terlihat tidak berempati” “atau termasuk orang yang paling disalahkan karena tidak menyimpan rasa prihatin akan kondisi kalian.” Tapi, teman… solusi tidak hanya satu… aku sendiri hanya memandang pada solusi lain…

Ah, aku bingung bagaimana harus menghadapimu… menghadapi keluh kesahmu… aku bukan orang yang bisa memandang secara bijak, bukan? tidak seperti dia yang mengantarkan kepada kebahagiaan dan kesegaran ditiap katanya…

Harus bagaimana? Harus seperti apa?

================

8:05 pm

Jumat, 4 Desember 2015

Ketika semuanya terasa memusingkan… tidak hanya urusan sendiri… urusan orang lain juga musti dipikirkan… karena hidup tidak hanya sendiri ya? ya, hidup tidak hanya sendiri…

Terkadang ingin cepat lulus karena ada hal yang menyebalkan

Terkadang ingin tidak terburu-buru karena hal menyenangkan

Hati manusia…

Read Full Post »

Joy

Kepercayaan dirinya seakan luntur seketika. Tak ada sebaris namanya tercantum dalam daftar penerima penghargaan. Ia kembali memeriksa jika ternyata ia salah lihat. Ia mungkin hanya salah lihat. Atau mungkin terlalu percaya diri bahwa dirinya pasti akan masuk dalam daftar itu. Tapi, sudah jelas. Dari 102 nama, tak ada namanya. Kepalanya tertunduk. Tubuhnya terdorong oleh gerombolan orang lain yang juga ingin memeriksa namanya pada daftar yang terpasang di papan pengumuman.

“Lolos, Joy?” tanya Lana yang sekarang duduk disamping pria yang murung itu.

Joy hanya terdiam, masih menundukkan kepalanya sambil terus memegang map yang berisi berkas miliknya. Lana mengerti tanda itu. Lana tau, Joy tidak lolos.

“Masih ada kesempatan lain Joy. Semangatlah,” Lana menyemangati sambil menepuk bahu Joy.

“Tidak akan ada lagi kesempatan!” ucap Joy sedikit berteriak lalu beranjak pergi tanpa menatap wajah temannya itu.

Hati Joy berkecamuk. Pupus sudah harapannya selama ini untuk mendapatkan uang. Jika saja ia lolos, berkas dalam genggamannya akan ia urus hari ini juga agar uang yang ia butuhkan langsung cair dan segera ia bisa membeli barang yang ia butuhkan. Dompet Joy kosong. Entahlah, tugas kuliah benar-benar menguras isi dompetnya. Belum lagi kebanyakan perlombaan yang diikutinya haruslah membayar biaya pendaftaran. Joy tidak tau lagi harus bagaimana. Ia sudah mencoba bekerja di warteg dekat kossnya. Namun, ia tidak bisa mengatur waktu antara bekerja sebagai pencuci piring sekaligus harus mengerjakan tugas kuliah yang menumpuk. Jarak antara kampus dan koss yang lumayan jauh juga membuatnya kelelahan. Maklum, Joy mencari rumah koss yang harganya lebih murah. Sayangnya, sekalipun murah, jaraknya lumayan jauh.

Joy menghembuskan nafas berat. Kepalanya pusing. Ingin sekali ia berteriak mengeluarkan kekecewaannya. Pada siapa ia harus mengadu? Pada siapa ia harus meluapkan kesedihan yang dialaminya.

Adzan ashar berkumandang lantang dari masjid kampus. Joy masih berjalan perlahan. Ia tidak pernah lagi sholat. Ia merasa kalau sholat tidak akan merubah dirinya. Joy yang malang bahkan sudah lama tidak berwudhu. Tapi, kali ini berbeda. Suara adzan yang didengarnya membuat langkahnya terarah menuju masjid. Baru tersadar, Joy sedang duduk membuka sepatunya yang sudah usang di batas suci masjid. Joy juga mengikuti jamaah laki-laki yang mengantri untuk wudhu. Untunglah, Joy masih hapal caranya untuk berwudhu. Hingga akhirnya, dirinya menyadari seutuhnya bahwa dirinya berada pada shaf pertama. Joy ingin sekali meluapkan segalanya dari tiap gerakan sholat yang dilakukannya.

Setelah salam di rakaat terakhir. Joy menutup kedua wajahnya. Ia ingin sekali menangis tersedu saat itu juga. Kepala yang sebelumnya pusing jadi terasa ringan. Namun, suasana hatinya yang berkecamuk masih belum juga menjadi tenang.

Ya Allah, baru kali ini Joy sholat. Sudah lama. Mungkin sudah seminggu yang lalu atau dua minggu lalu terakhir sholat. Hidup ini berat Ya Allah. Berat sekali untuk setidaknya mendapatkan uang. Untuk setidaknya lulus, untuk setidaknya bisa menang lomba. Kenapa Ya Allah? Engkau masih belum memberikan kesempatan pada Joy untuk bisa menjadi seorang pemenang? Joy harus apa Ya Allah? Harus ngapain? Harus bagaimana? Supaya bisa sukses. Supaya bisa jadi kebanggaan orang tua. Punya uang banyak. Harus bagaimana?

Pada wajahnya yang masih tertutup, air mata Joy mengalir. Rasanya sudah lama sekali ia tak menangis setenang ini. Ya, sudah lama sekali. Setelah merasa cukup tenang. Joy beranjak dari tempat duduknya sambil menenteng tasnya.

“Kang! Kang! Ini map-nya ketinggalan!” seseorang berbaju rapi menyusul Joy yang sudah keluar dari tempat sholat.

“Eh iya, makasih ya,” ucap Joy pada lelaki itu lalu mengambil map berkasnya. Joy mengernyitkan dahi, rasanya ia kenal betul dengan lelaki itu. “Kok, kayak pernah ketemu ya?” tanya Joy.

Lelaki itu kemudian menyalami Joy, “saya Salim kang, dulu pernah dibantu akang waktu registrasi kampus,” jawabnya sambil tersenyum.

“Oh iya! Salim! gimana kuliahnya? sibuk apa sekarang?” Joy sumringah. Ia kembali teringat ketika dulu di himpunan membantu salah seorang adik tingkat untuk registrasi karena ada masalah pada berkas pendaftarannya.

“Alhamdulillah, kuliahnya lancar kang. Sekarang lagi ngajar nih kang. Kang Joy sibuk tidak? Kalau mau mah ikut yuk kang, kekurangan pengajar banget,” Salim cengengesan.

“Wah, boleh deh,”

“Tapi, ini mah relawan loh kang jadi ngga dibayar, dibayarnya oleh Allah saja,” Salim lagi-lagi cengengesan.

“Sip deh, sekarang nih?”

Sepanjang perjalanan menuju sekolah, Salim menceritakan tentang pendirian sekolah darurat. Disebut darurat karena memang sekolah ini mendadak sekali dibangun, oleh mahasiswa, karena kepedulian terhadap anak-anak dilingkungan sekitar yang masih belum bisa membaca dan menulis. Sedangkan kebanyakan anak membantu orang tuanya berdagang. Bagi Salim, membaca dan menulis itu modal bagi anak-anak agar nantinya bisa berdagang cerdas. Disekolah juga diajarkan caranya berdagang sendiri. Agar anak-anak menjadi mandiri kelak, begitu kata Salim.

Sekolah yang Salim tunjukkan bukanlah terlihat seperti sekolah. Tapi, sebuah rumah milik Pak RW yang dijadikan tempat belajar. Anak-anak berlarian menyambut Salim dan Joy. Mereka menyalami Salim dan Joy secara bergantian. Tak ayal, tangan Joy jadi basah karena anak-anak menyalami sekaligus mencium tangan Joy dengan mulut-mulut mungilnya. Joy tertawa kecil.

Joy memilih untuk duduk, menyaksikan bagaimana Salim mengajarkan anak-anak. Sejujurnya, Joy belum pernah sebelumnya berhadapan dengan anak kecil. Apalagi mengajar. Itu bukan passion, begitu kata Joy dalam hati. Tetapi, melihat anak-anak tertawa. Melihat Salim begitu antusias mengajar. Joy menjadi terharu. Ternyata masih banyak orang yang membutuhkan uluran tangan sesamanya. Anak-anak kecil itu membaca dengan semangat namun serius. Mereka benar-benar ingin bisa membaca dan menulis. Joy mengingat kondisinya dulu. Waktu kecil, Joy benar-benar susah diatur.

“Sekarang, Kak Joy mau mengajak kalian menggambar lho!” kata Salim sambil melirik Joy. Joy yang tadinya tengah melamun jadi terkaget.

“Asik euy menggambar!” anak-anak ribut. Mereka menatap Joy antusias.

Joy jadi geleng-geleng kepala. Harus ngajarin apanya nih? Akhirnya, Joy mengajarkan cara menggambar anak yang sedang menendang bola. Karena rata-rata anaknya adalah laki-laki yaang hobi main bola. Menggambar sambil tertawa, belum pernah Joy sebahagia ini. Karena selama ini ia hanya menggambar untuk tugas kuliah semata. Ia lupa, benar-benar lupa bahwa tugas kuliahnya bisa jadi bermanfaat diluar status “tugas”nya.

“Makasih nih Kang,” ucap Salim pada Joy, setelah dirinya dipanggil Pak RW.

“Seru ya ngajar, kapan-kapan saya datang lagi deh,” janji Joy.

“Wah! asik nih punya pengajar baru! Biasanya ada yang lain Kang, tapi lagi pada sibuk mengurusi berkas untuk dapat uang itu loh Kang,” kata Salim.

Joy terdiam, hanya ia yang tidak disibukkan oleh berkas yang sekarang masih dalam genggamannya. Joy kembali teringat bahwa ia tidak punya uang lagi. Ia bingung harus bagaimana.

“Oh iya Kang. Tadi Pak RW lagi cari orang untuk bantu dekorasi tempat acara. Katanya butuh orang untuk mewarnai background panggungnya. Tadi, Salim diminta cari mahasiswa yang jago gambar. Kang Joy bisa kan ya? Salim mah ngga bisa da,” Salim tertawa. “Dibayar kang ini mah, malah bakalan dikasih makan juga. Pak RW nya baik Kang. Baik pisan!”

Joy mengangguk semangat. “Bisa bisa!”

“Besok datang lagi aja Kang ke sini. Bareng sama Salim. Salim mah bantu-bantu sebar surat undangan ke warga,” ucap Salim.

Alhamdulillah… Terima kasih Ya Allah, bisa makan juga besok. Joy terharu. Ada hikmah ketika berkasnya tertinggal tadi di masjid.

“Ternyata, berkas itu punya banyak hikmah ya,” kata Joy tiba-tiba.

“Kenapa kang?” tanya Salim yang heran dengan ucapan Joy.

“Ngga… itu mah asal ngomong aja,” jawab Joy.

Mereka melangkang menuju masjid untuk sholat maghrib. Karena adzan telah berkumandang. Joy berjanji, dirinya tidak akan lagi tinggal sholat.

===============================

Selalu ada hikmah dari setiap kejadian.

Ketika apa yang kita inginkan, tidak jua kita dapatkan…

Mungkin Allah ingin memberikan apa yang kita butuhkan dan bisa dipastikan bahwa apa yang Allah pilihkan adalah yang terbaik…

Itulah mengapa kita di sini. Berdiri…

8:08 pm

3 Desember 2015

Bandung

Read Full Post »