Feeds:
Pos
Komentar

Archive for November, 2016

CERPEN: Dia

Aku melihatnya penuh selidik, menerka tentang apa yang sedang dia bicarakan dengan seseorang di hadapannya. Kedua tangan mereka terus bergerak, saling menimpali satu sama lain. Aku masih penuh selidik, menerka tentang apa yang sedang dia bicarakan.

Akhirnya dia memandangiku dari jauh, mimik wajahnya menandakan bahwa ia terkaget melihat aku berdiri dikejauhan, menatapnya masih dengan dahi yang mengernyit. Ia tersenyum, melambaikan tangan dan berlari kearahku.

“Janji jam 11. Datang jam 9, sangat pagi!” isyaratnya dari jauh. Kali ini aku mengerti apa yang ia ucapkan padaku. Ia menggunakan isyarat yang aku pelajari di kampus.

Aku dan dia sungguh berbeda. Ketika dia berbincang denganku, ketika dia berbincang dengan kawan seperti dirinya, akan sangat berbeda. Ah, aku hanya ingin benar-benar mengenalnya.

“Gak apa-apa. Aku tahu, kamu pasti datang lebih pagi!” balasku. Dia tersenyum kemudian segera membawaku ke tempat pertemuan.

Sekumpulan orang berada di sana. Saling berbincang lewat isyarat. Isyarat yang hanya sedikit aku pahami, isyarat yang hanya bisa aku temukan diluar kelas.

“Di sini dilarang keluar suara ya,” ucap seseorang berambut cepak kepadaku, ia berkata dengan wajah yang menurutku kurang ramah. Tidak seperti dia yang menyambutku dengan senyuman. “Dilarang keluar suara ya,” ucapnya lagi, kini pada yang lain. Pada seseorang dibelakangku, seorang wanita yang baru saja datang dengan wajah kebingungan. Aneh, si rambut cepat menyuruh untuk tidak keluar suara, tapi dirinya yang sejak tadi nyerocos.

“Kak, di sini tempat latihan isyarat itu kan ya?” tanya wanita dengan wajah yang masih bingung itu.

Aku mengangguk, “iya, baru ya? Sini duduk dekat saya saja,” tawarku. Wanita itu tersenyum, manis sekali.

“Saya Nada,” ia memperkenalkan dirinya sambil menyerahkan tangannya agar aku jabat.

Aku balas tersenyum dan menjabat kedua tangannya, “Saya Zara,” jawabku dengan isyarat.

Suasana semakin ramai pada pukul setengah sebelas, kelas belum di mulai karena dia belum juga membuka kelas dengan ucapan “selamat siang” dan senyuman khas darinya.

“Kamu tau kelas ini dari siapa?” tanyaku pada Nada yang sedang memperhatikan dia yang tadi tertawa-tawa dengan temannya.

“Ah, ya? Kenapa kak? maaf tadi melamun hehe” Nada gelagapan, arah matanya berbalik kearahku kemudian sejenak menatap dia yang sekarang memperhatikan kami dari jauh.

“Kamu tau kelas isyarat ini dari siapa?” tanyaku ulang.

Nada berdehem, “dari dia kak,” jari telunjuk lentiknya menunjuk kearah dia, kemudian wajahnya menjadi wajah tersipu.

“Dia? Ozi maksudmu?” tanyaku lagi.

“Iya kak, dia mantan pacarku di SMA. Dia keren sekali loh kak, meski memang agak terlambat ketika awal semester di kelas 1, tapi dia bisa menyusul dengan mengukir prestasi. Dia sangat keren.” Jawab Nada dengan mata berbinar, matanya tak henti memandang Ozi. Ozi yang tadi menjemputku, Ozi yang tadi menyambutku dengan senyuman yang aku sukai.

“Eh? lalu kalian pacaran?” tanyaku lagi.

“Hmmm, bisa dibilang begitu kak. Kami saling suka, dia pun sangat perhatian ke pada saya. Dia selalu mengantar saya pulang sampai ke depan pintu rumah. Dia juga selalu membantu saya ketika ada yang menjahili. Dia sangat peka terhadap sekitar. Kami sering berdua kemana-mana, sampai-sampai orang mengira kami pacaran. Dan aku pun menyetujuinya, kak.” jawab Nada. Senyumnya semakin merekah ketika Ozi mendekati kami.

Ozi berbincang dengan Nada, dengan suara yang begitu jelas. Dia mengatakan bahwa Nada tampak sangat berbeda, baru kali ini mereka berjumpa.

Dia sangat berbeda. Ketika berbincang denganku, ketika dia berbincang dengan kawan sepertinya, ketika dia berbincang dengan Nada. Tapi senyum itu masihlah sama. Bagaimana aku harus mengartikan perasaan yang ada? Aku hanya ingin mata itu tertuju ke padaku saja.

======================================

Ketika dua orang teman berkata, bahwa sudahlah lama diri ini tidak menulis di WordPress, itulah saatnya jemari ini tersadar untuk menceritakan suatu kisah di sini.

Purwakarta

7:58am

11-22-2016

Read Full Post »