Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Desember, 2016

Bismillah,

Hari istimewa karena saya memposting tulisan di sore hari (biasanya jadi cewek malam, postingnya malam-malam hehe). Sore ini langit tampak cerah. Saya saja sangat menikmatinya ketika saya berjalan menuju pulang bersama seorang teman, sebut saja D. Barusan saya mengunjunginya. Bukan tanpa alasan, karena memang ingin sekali pergi menemuinya. Sudah lama tidak bertemu dengannya. Berbincang lama. Mampir ke asramanya, yang terasa seperti tengah mengunjungi asrama orang Malaysia, haha, di sana menggunakan bahasa daerah dan itu terdengar seperti bahasa Melayu bagi saya.

Lagi Hush dari Lasse Lindh masih mengalun, ketika saya mengetik di sini. Saya merasa bahagia karena masih bisa berjalan di hari yang cerah ini. Akan lebih menyenangkan jika bisa dihabiskan dengan seseorang yang suka jalan-jalan menikmati angin, menikmati sinar cerah mentari meski buat gerah. Sayangnya, D harus pergi untuk mengajar, sehingga saya tidak terlalu lama bersamanya. Hanya sepanjang 1 film yang kami tonton bersama di kamarnya.

Dalam perjalanan pulang sungguh sangat menyenangkan, saya bisa melihat bayangan saya sendiri. Biasanya sore-sore sudah disuguhi mendung yang menggantung dan hujan yang terus turun hingga malam tiba. Tapi, kali ini istimewa, karena matahari begitu cerah menyinari, awan putih berarak oleh angin kencang, langit biru menunjukkan pesonanya. Ah, suasana yangg sangat saya nantikan.

Pernahkah merasakan saat di mana tiba-tiba merindukan masa lalu. Merindukan wewangian yang dulu pernah terhirup. Merindukan cahaya yang dulu pernah menyinari. Dalam benak saya, saya kangen sekali semester awal kuliah. Di ruangan yang begitu luas, di mana belum di pusingkan tugas. Saya masih mengatakan pada diri sendiri saat ini, bahwa yang sekarang bukanlah diri saya. Diri yang mulai merasakan lelahnya perkuliahan, merasakan sedih dan kecewa ketika dosen tidak ada atau tim dosen yang missed communication sehingga berpengaruh pada mahasiswanya yang akhirnya kebingungan. I miss those moments. Dear my old self, please, please I beg you to be with me again. I miss you. Dulu saya suka sekali bangun super pagi untuk menantikan pergantian cahaya gelap menjadi terang, untuk memotret langit pagi. Tapi… sekarang…

Sungguh, diri ini harus benar-benar berubah menjadi yang lebih baik lagi ๐Ÿ™‚

Saya yang kini senang sekali pergi sendiri, untuk pergi ke suatu tempat menyendiri di sana. Karena seringkali, teman yang saya ajak memiliki agendanya tersendiri. Sangat sedih menerima penolakannya, jadi, lebih baik pergi sendiri saja. Meski lebih baik pergi bersama teman ๐Ÿ™‚ Berdua lebih menyenangkan, karena memang bisa lebih banyak berbicara dari pada beramai kemudian ada seseorang yang tertinggal. Sedih ya…

Hai langit, semoga esok kita dapat bertemu lagi ๐Ÿ™‚

3:47 pm

22 Desember 2016

Bandung, di kala sendiri bersama sebotol teh dingin.

Iklan

Read Full Post »

Musim Gugur Telah Datang!

Bismillah,

tumblr_nsqnvhkocs1rv4wc4o1_1280

“Musim Gugur Telah Datang!” itulah yang ingin sekali saya katakan, jika saya berada di negara yang tengah merayakan kedatangan pergantian warna daun itu. Sayangnya, saya tidak berada di negara yang bermusim gugur, tapi rasanya senang ikut merasakan kehadirannya, meski melalui jepretan foto dari orang-orang yang tidak saya ketahui.

Musim gugur, kenapa ya, indah sekali?

Kenapa menjadi musim yang saya sukai meski saya pun belum pernah merasakannya sekali pun? Karena seringkali fotografer di luar sana menyajikan keindahan musim gugur lewat jepretan kamera milik mereka. Seakan musim gugur turut bergaya dalam senandung “klik klik klik” yang dinyanyikan kamera itu.

Musim gugur, kenapa ya, indah sekali?

Rasanya sudah dari dulu mengagumi film dengan setting tempat musim gugur, salah satunya adalah The Odd Life of Timothy Green, di tambah lagi alur cerita yang disajikan luar biasa membuat saya terhanyut dalam film. Angin musim gugur yang kencang. Cahaya matahari yang jingga, seakan dia lah yang bekerjasama dengan pepohonan mewarnai dedaunan hingga menjadi jingga pula. Tak lupa, hujan yang senantiasa datang, menitikkan airnya seperti memberikan daun jingga itu kesempatan untuk bisa merasakan air ketika ia masih berada pada ranting.

Musim gugur, bisa kah kita bertemu?

Musim gugur, hanya Allah ta’ala berikan kesempatannya pada sebagian negara di dunia. Agar bumi yang kita pijaki ini masih bisa dipijaki hingga Allah menetapkan kiranya kapan ia harus berhenti berputar. Ada kah kiranya waktu untuk saya bisa memijaki negara yang memiliki musim gugur? Sebelum kiranya saya berada di bawah tanah tanpa pernah melihat indahnya jingga dedaunan dari satu bukit dikejauhan? Dari jalanan yang di payungi daun berguguran?

Musim gugur, bisa kah aku datang menemuimu?

We’ve been so far away. I doubt that I could see you. I hope the day will come, when you already to meet my feet touch your ground that covered by leaves. When I’m ready to see you smiled at me through the leaves that fly from its branches. Then, I would say, “Autumn has arrived.”

tumblr_notyh8vcy41rza3wxo1_1280

10.11 pm

Purwakarta

Read Full Post »

Biarkan Aku

starry%e9%98%bf%e6%98%9f-6

Art by starry้˜ฟๆ˜Ÿ

“Tak bisa, kita tak bisa saling melengkapi,” begitu katanya, tanpa menatapku. “Sungguh, lebih baik kita berpisah,” ucapnya, mengambil tas gendong besar miliknya kemudian beranjak dari tempat duduk.

Aku terdiam, tidak menghentikannya, tidak pula bergerak untuk segera menarik tangannya. Aku… tidak mengerti tentang apa yang harus aku katakan padanya.

Perlahan ia berjalan, meninggalkan bangkunya yang tepat menghadap padaku. Aku berteriak, “Mengapa?!” Ia menghentikan langkahnya. Tanpa menatapku, dengan wajah tertunduk, memunggungiku. Orang ini bukanlah dia yang aku kenal.

“Mengapa lagi-lagi ada orang lain yang merusak? Mengapa?!” aku kembali berteriak.

Aku ingin berterima kasih ke pada angin yang mebuat suasana berhawa panas antara aku dan dia menjadi sejuk. Meski hatiku terus berkecamuk.

“Aku ingin menyalahkan orang lain! Tapi siapa?! Aku yang salah? Lagi-lagi aku yang salah?!” hati berkecamuk ini berbuah air mata. Aku tak tau, apakah kedua mata yang dibingkai kacamata miliknya itu juga menangis? Aku tak tau.

Tangan kiri miliknya yang memakai jam tangan itu mengepal. Aku yakin, deretan kata panjang itu akan ia ucapkan. “Biarkan aku sendiri!” Benar apa yang aku katakan barusan, bukan?. “Ini bukan tentang orang lain. Tapi, tentang mimpiku yang sungguh terhambat jika aku terus bersamamu. Aku harus membuangmu di sini. Selamanya. Biarkan aku. Sungguh, biarkan aku sendiri. Menggunakan buku lainnya untuk dapat aku tulis. Untuk dapat aku gambar. Sungguh! Jangan berteriak di kepalaku! Akan ada orang lain yang lebih baik menyertaimu, dan orang itu bukanlah aku!”

Akhirnya ia pergi, meninggalkan aku beserta angin melambaikan lembar yang sempat ia torehkan tinta diatasnya. Ia meninggalkanku, untuk kesekian kalinya.

Aku, buku coretan yang ia miliki 2 tahun lamanya. Aku, yang ia anggap sebagai penghalang mimpinya. Hanya karena aku, bukanlah yang ia beli tapi diberi, oleh seseorang yang ia benci. Mengapa benci itu harus menerpaku juga? Aku tak mengerti. Biarlah. Biarkan aku sendiri. Biarkan dia sendiri.

Bersamaan dengan angin yang mereda, seorang wanita mendatangiku, lalu tersenyum. “Sungguh bagus gambar ini!” katanya. Aku geli ketika ia membuka lembaranku.

“Biarkan aku sendiri,” ucap wanita itu, membaca kalimat pada lembar akhir yang lelaki itu tulis.


Ketika di Bandung. Sendirian lagi. Adakah yang berkenan bermain ke sini? Yang aku harap bukan hawa dingin yang menusuk kaki. Butuh teman bicara, meski hanya menertawakan diri sendiri dan kisahnya.

Bandung di kala sendiri.

7.16 pm

13 Desember 2016. Selasa.

Read Full Post »

Bismillah.

Sebelum waktu berakhir, 7 Desember menjadi 8 Desember, di mana orang lain akan berulang tahun setelahku.

Selamat ulang tahun untukku. Untuk Yuzuru Hanyu. Umur kami sama, namun rezeki yang Allah berikan sungguh berbeda. Di usianya yang menginjak sama denganku, sudah banyak medali yang ia raih. Juara dunia figure skating di sana sini. Sedangkan aku di sini, masih belajar banyak hal, masih memikirkan banyak hal tentang masa depan. Malu rasanya, sudah dewasa namun berpikiran begitu rendah, masih ada rasa pesimis. Ya Allah, untuk apa mengkhawatirkan dunia? Raihlah mimpi dengan doa dan ikhtiar. Insyaa Allah usaha tidak akan mengkhianati hasil bukan?

Tadi pagi mendapat sms dari bapak, kalimat terakhir membuat sedih. “Bapak sayang teteh,” Masyaa Allah, diri ini bahkan merasa rasa sayang ku terhadap bapak masihlah jauh dari rasa sayang bapak terhadapku. Bahkan Allah bisa jadi lebih mencintai bapak ketimbang diriku mencintai bapak.

Hanya segelintir orang yang mengucapkan, “Selamat ulang tahun” untukku. Tak mengapa, karena aku ingin hanya diriku yang merayakannya sendiri. Ulang tahunku tidaklah penting bagi orang yang tidak mengenalku dekat, bukan? Karena ujungnya hanya menjadi penghias nisan.

Ya Allah, masih banyak impian yang belum teraih. Mungkin esok? Atau nanti di hari lain ia bisa terwujud. Allahu’alam. Hanya Allah yang tau.

Selamat ulang tahun untukku. Perempuan yang beranjak dewasa. Yang tengah menitikkan air matanya, mengingat bahwa umur sudah bertambah kian hari, di tiap detiknya. Semoga cita mu tercapai. Jika pun belum, janganlah bersedih hati, karena pilihan Allah adalah yang terbaik.

Read Full Post »