Feeds:
Pos
Komentar

Archive for November, 2017

002

Pohon Nangka berdiri tegak di halaman depan rumahku. Rasanya sudah hampir 11 tahun ia tumbuh meski sempat batangnya patah karena terlalu banyak menopang buah yang terlanjur dihasilkannya. Pohon itu berbatang coklat, berdaun hijau dan seringkali tumbuh tunas diantara rantingnya. Buahnya selalu muncul bergerumul di tempat tertentu pada bagian tubuhnya. Pohon nangka ini berbeda dari pohon nangka lainnya yang tumbuh menjulang tinggi keatas, pohon nangka satu ini begitu rendah, jika dibandingkan dengan pohon jambu batu disampingnya, ia kalah tinggi… itulah gambaran pohon nangka yang pernah aku tanam 11 tahun lalu.

Dapat aku katakan bahwa pohon nangka ini lebih bersejarah bagiku pribadi daripada pohon lainnya yang ada di halaman rumahku. Karena ia kudapatkan sendiri seusai Konferensi Anak Bobo yang aku hadiri di tahun 2006 lalu, ketika aku masih kelas 6 SD. Saat itu aku pergi ke Jakarta bersama bapak, beberapa hari berkenalan dengan teman-teman dari penjuru Indonesia lainnya untuk menghadiri Konferensi Anak tersebut. Pada hari terakhir, setelah Konferensi Anak dilaksanakan, Bobo–panggillah begitu—membagikan satu bibit pohon nangka untuk masing-masing delegasi. Hingga saat itu akhirnya dari Jakarta hingga kota Purwakarta, aku dan bapak membawa bibit pohon nangka yang sebenarnya sudah cukup besar. Jika diimajinasikan sebagai seorang manusia, pohon nangka yang aku dan Bapak bawa itu seumuran anak TK. Kecil namun siap untuk tumbuh.

Esoknya, bapak meminta seseorang menggali lubang yang cukup dalam untuk menanam pohon nangka kecil itu. Akhirnya lubang itulah yang menjadi tempat tumbuhnya hingga saat ini. Hampir setiap sore aku menyiramnya ketika ia masih kecil, namun kini aku tidak menyiramnya lagi, karena ia telah memiliki akar yang kuat untuk mendapat asupan makanan yang ia butuhkan.

Seringkali ku lihat ketika musim berbuah tiba, ia mengeluarkan begitu banyak calon buah nangka yang akan membesar, hingga bergerumul menutupi batangnya. Ia seperti memperlihatkan bahwa ia telah dewasa dan bisa menghasilkan banyak buah untuk keluarga kami makan bersama nantinya.

Aku rasa… ketika bahkan melihatnya berbuah, aku masih kalah dibandingkan dengan pohon nangka ini… Aku yang kini sudah beranjak dewasa masih belum menghasilkan “buah” sendiri yang juga dapat dinikmati oleh orang lain. Allah ta’ala selalu menunjukkan caranya membelajarkan diri ini untuk lebih bermanfaat bagi orang lain, meski dari sebatang pohon nangka bersejarah itu… Allah ta’ala selalu membelajarkan manusia melalui makhluk lainnya, asalkan manusia itu mau untuk melihat sekeliling kemudian tadabbur atas apa yang dilihatnya…

Pohon nangka itu membelajarkan aku untuk dapat juga bersegera menghasilkan buah, meski batang sempat patah… meski diri ini sempat menyerah… suatu hari… iya… suatu hari, apa yang diimpikan akan jua tercapai… with Allah ta’ala by my side nothing is impossible

Pohon nangka itu dulu sempat berbuah sangat kecil, namun kemudian entah mengapa buah itu mati dan ia hampir tak pernah menghasilkan buah setelah itu… namun bertahun kemudian ia kembali berbuah, malah lebih banyak dan rasa buahnya terbilang manis…

Seseorang seperti aku yang bahkan bisa bergerak, seakan kalah dengan perjuangan pohon nangka. Aku yang kini… tengah membandingkan diriku dengan sebatang pohon nangka, agar aku dapat belajar bahwa manusia juga kelak harus “berbuah” entah apa bentuknya…

Aku begitu berterimakasih pada Bobo yang saat itu memberikan hadiah bibit pohon nangka… karena selain bisa dinikmati hasilnya… pohon nangka itu juga membelajarkan aku banyak hal…

Teman… aku harap kita semua dapat juga mengahasilkan buah… ranum, manis, dan orang lain yang menikmatinya berbahagia karenanya…

Jangan pernah lupa… semoga tidak akan pernah lupa… bahwa Allah ta’ala Maha Mendengar doa hamba-Nya… Maha Melihat atas apa yang telah diperjuangkan hamba-Nya…

————————————————————————————————–
9:09 pm
Rabu, 1 November 2017
@Purwakarta
Gambar itu saya buat di kertas yang berbeda, jadi begitulah haha :’)

Read Full Post »