Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Februari, 2018

Untukmu yang Berapi-api

Bismillah…

Sore ini gerimis telah mereda dari kota tempatku tinggal. Sudah 4 tahun lebih aku berada di sini. Kota yang sempat aku tangisi karena harus jauh dari keluarga, tapi ternyata menyimpan banyak kenangan pula setelah bersamanya.

“Semua butuh proses din,” itu yang selalu aku katakan pada diri sendiri. Bahwa semua aktivitas yang dijalani butuh proses. Aku memang begini, ingin segalanya instant. Hingga sampailah Allah subhanahu wata’ala mengingatkanku lewat berbagai peristiwa. Membelajarkan aku untuk tahu bahwa diri ini perlu banyak bersabar dan bersyukur. Menjadi seseorang yang disebut sebagai mukmin, “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2999 dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu).

Ini merupakan tulisan pertama di tahun 2018, aku harapkan dapat ku baca lagi di kemudian hari agar aku ambil pelajaran darinya. Apakah kamu termasuk orang yang juga senang membaca tulisan yang terdahulu? Selamat! kita sama!

Untukmu yang berapi-api.

Kutuliskan kalimat itu, karena aku sedang berapi-api. Oh! tubuhku secara harfiah sedang tidak terbakar. Namun, semangatku yang saat ini tengah bergelora. Karena apa? Karena aku sedang berikhtiar menggapai keinginanku yang sudah sejak lama tertanam, bahkan sempat ku rasakan gagal di tahun lalu.

“Aku mah kangen kuliah…” begitu ucapku pada teman. Ada yang menjawab sedikit berbeda, “aku mah capek. Sudah cukup skripsi yang kemarin. Nanti lagi aja sekarang mah kerja dulu aja cari uang sendiri, bahagiain orang tua…” Ooh, kata-katanya membuka perlahan pikiranku. “Kerja?” aku bertanya pada diriku sendiri. Iya aku juga ingin bekerja, ingin bisa memberikan sesuatu untuk kedua orang tua yang selalu memberi tanpa pamrih kepadaku. Tapi, ada mimpi yang ingin aku raih setelah kelulusan kuliahku juga. Apakah bisa bekerja sambil mengejar impianku ini? Serangkaian pertanyaan mampir dipikiranku. Baru ku sadari, menjadi orang dewasa itu ada juga tidak enaknya ya… Banyak pertimbangan. Namun, kemudian Allah tunjukkan jalan bagiku agar dapat melalui keduanya. Bekerja sambil sedikit demi sedikit ikhtiar untuk mencapai impianku. Beruntung, kedua orang tua sangat mendukungku. Ibu dan bapak selalu menyemangatiku, dan itu membuat aku terharu.

Untukmu yang berapi-api.

Pada akhirnya Allah subhanahu wata’ala menempatkan aku pada sebuah pekerjaan yang disitu aku diuji kesabarannya. Setelah lebih dari seminggu kulalui, aku mulai jatuh hati pada murid yang selalu bersamaku itu. Semakin aku mengajarinya, semakin aku sadar ilmuku tak begitu cukup untuk mengenalnya lebih. “Aku ingin belajar lagi… di bangku kuliah… bersama guru…” itu yang aku ucapkan pada diriku.

Hari demi hari aku lalui tentu dengan menghitung jarak hari ini dan deadline untuk menggapai impianku itu. Jantungku sempat berdebar tak karuan saat ku lihat sederet pengumuman khusus untuk tahun ini. “Ya Allah…” aku memanggil-Nya dengan jantung yang masih berdebar itu. “Ya Allah… semoga ini rezeki yang Engkau tuliskan untuk hamba-Mu ini yang ingin belajar lagi…” kalimat itu yang terlontar dari hatiku. Allah subhanahu wata’ala yang selalu ada. Tak pernah tidur mengurusi makhluk-Nya. Allah subhanahu wata’ala yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Allah yang Maha Mendengar, Maha Melihat serta Maha Mengetahui.

Untukmu yang berapi-api.

Aku tidak tau apa yang akan terjadi padaku di masa depan. Tapi, yang aku jalani adalah hari ini. Aku tidak ingin menyiakannya… Ku dapati diriku sekarang masih berapi-api untuk mempersiapkan segalanya… mental, fisik dan… hati…

Semoga jika benar telah ku dapatkan mimpiku itu, semoga aku tak banyak mengeluh diluaran sana. Namun, banyak bersyukur dan bersabar atas apa yang telah Allah subhanahu wata’ala telah tuliskan untukku dalam jalan takdir yang memang harus aku lalui. “Bersemangatlah!” itu yang ingin aku katakan pada diriku di masa depan yang mungkin sedang membaca tulisan ini. “Bersemangatlah! ingatlah hari-hari yang kau habiskan untuk mengumpulkan semangat, mengangkat kedua tanganmu dan bermunajat dengan doa yang sama setiap harinya. Bersemangatlah! ingatlah agar segala aktivitasmu ini Allah ta’ala ridhoi.

“Adinda… pastikanlah bahwa apa pun yang kau kerjakan, Allah meridhoinya… Maka luruskanlah niat dari setiap aktivitas yang kau jalani yaa… Karena dunia hanya sementara” itulah serangkaian kalimat yang aku tuliskan pada selembar kertas, kemudian ku tempel di dinding kamar. Bagi diri yang selalu lupa, dan selalu ingin mengingat tujuan hidupnya di dunia.

Untukmu yang Berapi-api.

“Lakukanlah sebaik-baik ikhtiar. Lantunkan sekhusyuk-khusyuk doa. Libatkan Allah dalam segala perkara. Lalu, yakinlah Allah yang Maha Baik itu takkan tega membuat hamba yang mengharapkan keridhoan-Nya kecewa. Pasti Allah beri dengan yang terbaik disisi-Nya dan ketahuilah apa yang di sisi Allah itu lebih utama kebaikannya.” seorang teteh nan baik hati yang selalu berbagi pesan bermakna lewat status WA-nya memposting kata-kata ini. Diri ini diingatkan kembali. Tersentuh akan kebaikan Allah ta’ala lewat makhluk-Nya untuk mengingatkan diri yang penuh ke-alpha-an ini.

Untukmu pula yang tengah terpuruk, karena urusan dunia.

Semoga dirimu ingat, bahwa Allah berkuasa atas segala sesuatu, mintalah kepada-Nya kemudahan, Ia Maha Mengetahui. Tanyakan pada diri, sudahkah bermunajat pada-Nya?

 

 


5:55pm
12 Februari 2017 – Senin
@ Bandung
Bersama deru kendaraan yang terdengar dari kamar

Read Full Post »