Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juni, 2018

Sekelumit

Bismillahirahmanirrahim…

Alhamdulillah. I met with my lovely best friend since high school, Inggrid. We shared some stories of our struggle as fresh graduate and as newcomer in work environment. We knew that we also faced some plus and minus. Many time we could find difficulties, it made our heart becoming weak. Well that’s life, isn’t it? We could not prevent all of the problems, but we could deal with it, InsyaAllah…

Tentu saya berbahagia setelah berbulan-bulan tak berjumpa–meski sering menyapa lewat twitter–akhirnya saya bisa bertemu dengan sahabat saya. Percakapan kami tak jauh dari membicarakan aktivitas masing-masing. Karena kami saling percaya, satu sama lain mampu mendengarkan keluh kesahnya.

Kami sama-sama fresh graduate, well masih kah fresh? mungkin masih, karena baru setahun kurang kami lulus dari almamater masing-masing. Awalnya setelah skripsi selesai, berat beban di punggung terlepas begitu hebatnya, membuat diri jadi ringan. Sampai-sampai terlupa, ada dunia lain yang harus dimasuki setelah lulus dari perkuliahan.

“Selamat masuk ke dunia kerja!” begitu ungkap seorang teteh yang saya kenal baik, setelah mengabari bahwa saya telah lulus sidang skripsi. Saya dulu hanya menanggapi biasa saja, karena rencana saya saat itu adalah langsung lanjut S2 dengan berburu beasiswa. Namun, Allah ta’ala menuliskan takdir yang lain untuk saya sehingga akhirnya saya terjun payung pula dalam dunia kerja.

Saya dan Inggrid saling bercerita tentang kekhawatiran kami. Saya yang  khawatir karena baru saja akan pindah ke tempat kerja yang lain, yaitu sekolah yang baru dan Inggrid yang bercerita tentang sekelumit kisah antara dia dan koleganya. Lagi-lagi satu permasalahan yang menyatukan kami, kenyamanan. Iya ngga grids? Iyain aja ya hahahaa (In case Inggridious baca tulisan ini 🙂 )

Saya paling susah untuk merasa nyaman di awal menginjakkan kaki di lingkungan baru sebenarnya, namun saya yakin semua butuh proses sehingga kenyamanan itu bisa kita temukan, tapi dasar saya-nya kadang kurang sabar, jadi ingin segera cepat-cepat nyaman, kalau tidak nyaman maka saya akan pergi. Titik.

Apakah yang lain pula merasakan hal yang sama? Apakah mereka juga butuh adaptasi yang lama? Bagaimana untuk menumpas ketidaknyamanan yang dirasakan? Beragam pertanyaan muncul dalam benak saya. Saya sejujurnya merasa khawatir dengan lingkungan kerja yang baru. Khawatir saya tidak nyaman dan memilih untuk pergi dalam waktu yang terbilang singkat. Jika muncul rasa tidak nyaman itu bahkan saya jadi bertanya-tanya pada diri, apakah menjadi guru adalah keinginan saya? Meski dahulu ketika kuliah saya dapati bahwa mengajar adalah pekerjaan mulia yang mengasyikkan. Terutama berinteraksi dengan anak-anak.

Sambil menuliskan ini, saya jadi berpikir banyakkk…. begituuu banyaakk halll…

Ibu saya adalah seorang guru, begitu juga bapa. Ibu dan bapa bahkan telah lama mengajar. Saya yakin ada pula kesulitan yang dihadapi oleh ibu dan bapa. Namun memilih untuk tetap bertahan meski pahit. Aah… indah sekali… Ingin pula saya memiliki rasa kecintaan pada pekerjaan yang saya geluti. Ah din baru saja beberapa bulan dirimu bekerja, tapi sudah banyak mengeluh. hmm… keluhan ini jadi refleksi diri pula kedepannya….

Beberapa video pernah membuka mata saya tentang pekerjaan…

dan

Diri ini masih belum berpengalaman untuk menyikapi persoalan di lingkungan pekerjaan dari sisi manapun. Semoga Allah ta’ala mempermudah langkah saya dalam menghadapi masalah yang mungkin muncul, karena hidup tidak selamanya mulus.

Barangkali pekerjaan yang sekarang akan meninggalkan jejak yang baik bagi saya di masa depan. Sama seperti ketika saya mengajar murid pertama saya sejak bulan Januari. Pada awalnya sangat sulit sekali, hingga butuh adaptasi yang begitu lama. Hingga akhirnya saya mampu untuk dekat dengannya.

Keinginan saya masih sama, tahun depan saya sudah belajar lagi. Duduk di bangku kuliah… Entah akan terwujud atau tidak… Atau tiba-tiba berganti haluan… Wallahu’alam


6:42PM
23 Juni 2018
@ Rumah Pwk
Menghitung hari libur yang menipis. Diri ini malah mencari-cari tanggal merah pada kalender untuk bulan-bulan kedepannya.

Read Full Post »

Bismillahirohmanirohim…

Let me quote one of someone’s words at the opening event ceremony that I’ve joined couple days ago.

“Ibarat air. Jika ia mengalir maka ia akan memberikan manfaat ketika melewati jalurnya. Sedangkan, jika air diam saja dalam suatu tempat atau wadah, maka air hanya akan berubah warna dan berbau. Seperti manusia yang bergerak mencari ilmu. Seperti para salafus shalih mereka pergi menuntut ilmu begitu jauh, dan ilmu itu bermanfaat bagi penerimanya.”

Baru saja berlalu beberapa hari yang penuh makna bagi diri saya. 10 hari yang bermakna dan membuat saya bermuhasabah tentang keadaan diri yang penuh ke-alpha-an ini.

Pada awalnya muncul keraguan untuk ikut, karena saya harus kembali ke Bandung sedangkan rumah masih menjadi tempat terenak untuk berpuasa dengan keluarga. Namun, ada suatu bagian dari acara yang sangat menarik bagi saya, yaitu tentang mempelajari Alquran dari suatu matan. Saya benar-benar membawa kepala saya yang masih kosong ke acara yang saya ikuti itu. Tanpa terlebih dahulu membaca referensi sehingga ada gambaran. Hingga sampailah pada hari-H yang ibaratnya saya menampung banyak air dengan gelas kaca saya yang masih kosong, ia meluber. Tak sanggup menampung semuanya.

Pada pematerian pertama saya benar-benar melongo, tidak mengerti satupun apa yang tengah dibahas. Ditambah lagi kitabnya berbahasa Arab, hingga saya yang belum pernah belajar bahasa Arab tetap melongo. Kecepatan penjelasan pemateri benar-benar ngebut, dan lagi teman-teman lain sudah ada yang memahami sehingga bisa menjawab pertanyaan dari pemateri dengan begitu lancar. MasyaAllah, ketika pematerian rasanya saya bagai butir debu di antara kumpulan benih emas yg bertebaran. Apa kabar kamu din?

Dari semua kemelongoan itu saya sadar. Saya tidak tau apa-apa.

Selama acara saya mempelajari qiroat dan matan. Itu merupakan pengalaman baru bagi saya. Meski banyak melongo, tetapi pada hari berikutnya saya mencoba berusaha mengikuti alurnya sedikit-sedikit. Dari sana pun saya baru menyadari bahwa ilmu memang harus dihafal untuk menjaganya. Itulah mengapa setiap peserta diharapkan untuk dapat menghafalkan materi agar ilmu yang diterimanya dapat ia jaga meski ia berada jauh dari bukunya.

Setiap hari, terutama pada Materi pertama yang dimulai selepas subuh, saya dibuat terkagum dengan Alquran. Banyak yang tidak saya ketahui ternyata. Ketika diri merasa sudah tau banyak, rasanya itu hanyalah kesombongan diri saja. Sesudah belajar pun saya merasa bahwa ilmu yang saya dapatkan itu ibarat saya mencelupkan jari keluasnya samudera kemudian mengangkat jari saya yang terkena air, nah, sebegitulah rasanya ilmu yang baru saya dapatkan. Hanya sanggup membasahi bahkan tidak setetespun ia jatuh. Sangat sedikit.

Lagi, saya tersadar untuk bersegera mendongkrak diri agar terus bergerak maju. Kerja boleh. Namun, menuntut ilmu di majelis harus tetap dilakukan. Saya jadi berkeinginan untuk dapat belajar banyak tentang Alquran. Jadi, ada yang mau bopong saya ke Mekah atau Madinah? Saya ingin sekali ke sana sejak lama. Berharap Mekah dan Madinah adalah kota di luar negeri yang dapat saya kunjungi pertama kali. Ah… saya hanya sanggup berdoa dan ikhtiar sekemampuan saya saja.

Hmm… Pada 10 hari itu pun saya bertemu dengan teman-teman yang baik hati. Mereka sangat ramah dan bersahaja sekali. Semoga saya dapat bertemu dengan mereka suatu saat nanti.

Ingin rasanya membagi banyak hal di sini. Tapi, sepertinya sekian saja curhatan saya tentang 10 hari yang penuh makna itu. Semoga Allah ta’ala memberikan usia panjang yang barokah untuk saya dan siapapun yang membaca ini…


13 Juni 2018
29 Ramadan 1439H
9:40PM
@ Rumah Purwakarta

Ramadan sudah dipenghujung waktu. Sedih rasanya harus melewati Ramadan. Alhamdulillah Allah ta’ala memberikan usia yang panjang kepada saya dan mengizinkan saya untuk bisa merasakan Ramadan tahun ini. Ramadan… ku kan rindu…

Read Full Post »