Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Desember, 2018

Ia berlari begitu kencang hendak menggapai tali temali yang terikat pada kapal pesiar langit, tali yang menjuntai ke bumi agar ia bisa pergi bersama kapal pesiar langit.  Namun, seseorang memanggil namanya. Teriakan yang menggelegar dihatinya. Bersegera ia menoleh ke belakang. Seseorang  berkemeja biru dengan air mata diujung sana berdiri tegak. Tubuhnya turun naik seakan telah lelah ia berlari. Ia yang tadinya berlari mengejar tali terhenti, menatap si kemeja biru yang masih bercucuran air mata. Ia berlari kearahnya namun tersungkur jatuh tiba-tiba, air matanya mengalir begitu deras, ia tak bisa menggapai si kemeja biru. Ia berteriak memanggil namanya. Si kemeja biru pula memanggilnya dan hendak menggapai tangannya. Kemudian akar pohon menjalar begitu cepat diantara mereka. Si kemeja biru tertohok melihat ia yang terperangkap dalam perangkap akar pohon. Si kemeja biru  berlari dan bisa menyentuh ia dari balik perangkap. Mereka berpelukan seperti ada yang salah, ada yang keliru. Masing-masing saling membutuhkan satu sama lain. Namun mereka hanya berjarak sebuah perangkap. Si kemeja biru hendak bertahan di sisi ia. Tetapi, awak kapal pesiar langit menariknya keatas, untuk ikut bermigrasi dengan penduduk lain. Ia melihat kearah kemeja biru yang tak bisa berkutik ketika dibawa paksa oleh awak kapal pesiar langit. “Tunggu aku!” seru kemeja biru hampir sampai diufuk. “Tunggu aku!” serunya lagi. Ia hanya diam dengan sisa air mata terakhir yang mampu ia keluarkan dari mata besarnya. Tak mampu ia menangis, tak mampu ia untuk dapat menepis rasa sedihnya. “Aku… Tak akan bisa menunggu… Sampai kapal pesiar langit karam. Itu tidak akan pernah terjadi selamanya…” ucap Ia sambil memeluk lututnya. 

Read Full Post »