Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juni, 2019

Bismillahirrahmanirrahim…

[[[ Hello guys! Thank you for spare your time to read this not so that important post but I really appreciate you whoever gave me insight and positive suggestion. I’m really happy having you guys around ^ ^ ]]]

Through this post, I want to cherished the moment. Alhamdulillahirrabil’alamin.

I know that I am a visionary. Sometimes I feel relieved because I already plan everything in every situations, but… I always feel anxiety for anything that not happen yet and I don’t like having that feeling…

Seringkali saya merasakan bahwa saya terlalu mengkhawatirkan masa depan yang belum terjadi, harusnya yang saya khawatirkan adalah saat ini. Hari ini. Yang bahkan belum selesai saya jalani. Pernah ngga sih dirimu bertanya pada diri sendiri? “1 tahun lagi aku mau ngapain yak?”, “Kira-kira acara besok lusa gimana nih? sukses ngga yak?”, “Duh, ini laporan kapan ya selesainya?” Pertanyaan ngga penting itu muncul. Padahal katanya, untuk apa mengkhawatirkan masa depan sedangkan si “saat ini” saja belum menginjak waktu petang.

Dari satu tahun saya bekerja di sekolah yang sama, saya yang cepat bosan ini menjadi belajar. Belajar untuk cherished the moment, menghargai momen yang ada. Saya sangat percaya bahwa waktu yang kita habiskan di dunia ini hanya sementara, sebentar banget! Dan ya… untuk saat ini, saya benar-benar ingin menghargai waktu yang sedang saya jalani.

Sempat saya khawatirkan tentang rezeki berupa materi, “apakah cukup?” “apakah bisa saya hidup dengan jumlah sebegitu?”. Kemudian Allah tunjukkan tentang rezeki yang Allah berikan bahkan sejak dalam kandungan lewat ceramah aagym… Dulu ketika kita dalam janin, apakah Allah membiarkan kita? Oh tidak! Allah beri rezeki kita lewat makanan yang ibu kita makan, lalu kita tumbuh besar dari kecil hingga memiliki kaki, tangan dan jantung yang berdetak di dalam perut ibu. Saat kita lahir ke dunia, bayi yang masih kecil belum bisa kerja, belum bisa melakukan apa-apa, Allah berikan rezeki lewat air susu ibu, saat air susu ibu kering, Allah berikan rezeki dari air susu sapi… Allah tidak membiarkan kita. Kemudian kita bertumbuh dan berkembang. Saat dewasa, Allah berikan kita rezeki berupa kekuatan untuk mencari nafkah dan beribadah padanya… Jadi intinya, Allah telah jamin rizki kita sejak bahkan kita masih di dalam kandungan… Bahkan saat kita belum bisa apa-apa, Alla berikan itu… Jadi mau mengkhawatirkan apa?

Pesan seorang ustadz, bukan rizki kita yang harusnya dikhawatirkan, tapi akhir kehidupan kita yang masih belum jelas. Ke surga atau neraka? begitu katanya… saya berpikir, benar juga kata beliau. Saya teringat bahwa kita akan meninggal saat rizki kita sudah Allah selesaikan dan terpenuhi… Jadi sebenarnya memang Allah sudah catatkan bagi kita masing-masing tentang apa saja dan sampai kapan saja kita mendapatkannya di dunia… Harusnya yang diri ini ingat bukan “sudah dapat berapa?” tapi “sudahkah bersyukur?”

Allah Maha Kaya. Satu asma Allah itulah yang seharusnya diri ini ingat pula… Allah mempunyaiiii segalanya di dunia. Allah mengurus makhluk-Nya dan tidak tidur…

Kemarin saat saya menginap di suatu tempat yang berada diatas bukit, saya menafakuri pemandangan yang saya lihat di malam hari… Saat itu indah sekali lampu kota terlihat dari kejauhan, berkelap-kelip seperti bintang gemintang yang jatuh ke bumi. Salah satu stadion juga terlihat dari tempat saya berdiri. Melalui pemandangan yang saya lihat dan tampak kecil, saya menyadari kelemahan saya bahwa penglihatan ini sangatlah terbatas. Motor yang berada dikejauhan saja hanya terlihat lampunya dan tidak terlihat jelas siapakah pengemudinya, namun Allah Al-‘alim, Ia mengetahui siapa dan apa yang ada dipikiran si pengendara tersebut… Allahu Akbar… Saya tau apa? Saya bisa apa? Itulah mengapa di dzikir pagi-petang, kita benar-benar menunjukkan kelemahan kita pada Allah dan memohon agar jangan sampai urusan yang sedang kita hadapi, kita jalani hanya dengan kekuatan kita, padahal kita lemah… “Kalau Allah ridha, manusia tidak ridha, terjadi tidak? Pasti terjadi. Kalau Allah tidak ridha, manusia ridha. Terjadi tidak? Pasti tidak akan terjadi.” Bahwa ketawakalan adalah tidak PD pada apa yang telah kita bisa, tetapi menunjukkan ketergantungan kita pada Allah ta’ala dalam setiap urusan…

Waktu mendengar ceramah sih, mudah banget. Tapi prakteknya hmm…. pasti banyak sekali lika-likunya… ada doa yang saat ini saya sukai… doanya:

ALLAHUMMA A’INNI ‘ALA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI ‘IBADATIK [Ya Allah, tolonglah aku agar selalu berdzikir/mengingat-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu].”

Yuk baca artikel kesukaan saya ini https://rumaysho.com/627-dzikir-dan-syukur-yang-sebenarnya.html

Seringkali perasaan tidak sabaran itu muncul, mungkin saat itu diri ini sedang alpha dari mengingat Allah… 😥 Siapalah diri ini yang cuman remahan kerupuk udang 😥

Tetapi… Alhamdulillah… Menahun Allah ajarkan ilmu… Semoga Allah merahmati kita… Cherished the moment by do good deeds and say “Alhamdulillah…”


The event that I’ve joined already finished. I’m really happy to be the part of the committee. I learnt how to manage my time, how to treat others and how to straighten up my intention only because of Allah… It was hard once but when I tried, Alhamdulillah Allah helps me… I’ll miss the view from the 4th floor! One story once was told by Shaikh that I remember was about Uthman Ibn ‘Affan… His story is remarkable… I realize why we should learn from sahabah, the companions of Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam

Read Full Post »