Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘cerita gituuu’ Category

Kamu Tahu, Tidak?

img_0016Bismillah…

Tulisan ini akan penuh dengan kalimat, “kamu tahu tidak?” Karena aku hanya ingin bercerita. Bercerita kisah Pe-pe-el dan sebagainya. Tulisan pertama di bulan Februari.

Kamu tahu, tidak?
Awalnya merasa kecewa karena harus berada jauh dari kota kembang. Perlahan-lahan, semakin bisa untuk meyakinkan diri berada disini. Tidaklah lama, hanya perlu bersabar. Selalu bersabar itu kuncinya. Tak mudah menyerah juga salah satunya.

Kamu tahu, tidak?
Ada gunung yang kehijauan terlihat setiap kali berangkat menuju sekolah. Menanjak, kelelahan, tapi gunung dan kabut yang menghiasinya seperti memberikan semangat tersendiri

Kamu tahu, tidak?
Aku belajar banyak kosakata baru BISINDO di sini. BISINDO khas anak-anak murid. Mereka dengan senang hati mengajari aku. Meski aku guru Pe-pe-el. Aku bertanya, “isyarat S-u-r-g-a, apa?” sambil mengeja kata “Surga” dengan abjad jari. Kemudian mereka memberitahukannya. Pelajaran yang paling menyenangkan aku ajarkan adalah Agama Islam di kelas XII.

Kamu tahu, tidak?
Sudah sangat merindukan rumah. Kossan. Kampus. Ternyata, kehidupan kampus juga ada memori indah yang menyisa. Rumah dengan kenyamanannya. Kossan dengan ketersendiriannya dan Kampus dengan lika-liku aktivitasnya.

Kamu tahu, tidak?
Di sini sering hujan. Sehingga bisa terus berdoa. Karena berdoa di waktu hujan termasuk waktu mustajab.

Kamu tahu, tidak?
Aku sering meneriakan, “I love you, (nama murid),” ketika mereka sedang mengerjakan tugas yang aku berikan. Semua bergeming. Diam. Tidak mendengar yang aku teriakkan. Karena teriakan kata itu hanya untuk memberi aku kekuatan. Meski sejujurnya aku katakan pada mereka tanpa bahasa isyarat. Aku mencintai mereka sungguh-sungguh.

Kamu tahu, tidak?
Ada murid yang difficult to deal with dan aku hampir menangis dihadapannya. Hahahaaa… sambil menatapnya lama. Mataku memandangnya berkaca-kaca, sedangkan ia menunduk ke bawah, memainkan sepatunya. Namun kemudian aku duduk dihadapannya, berharap perhatiannya kembali kepadaku. Aku usahakan segala macam cara. Aku harus bisa menarik perhatiannya, lebih dari sepatu yang dimainkannya mau pun permen yang dia kunyah bukan di jam istirahat.

Kamu tahu, tidak?
Pelajaran yang paling sulit aku jelaskan adalah Bahasa Indonesia. Karena kekurangan yang aku miliki, sungguh, tantangan terbesar adalah mengajarkan berbahasa tertulis. Maafkan gurumu ini, muridku… Diri ini harus banyak belajar lagi, agar apa yang disampaikan bisa kalian pahami…

Kamu tahu, tidak?
Ada seorang anak berinisial D yang kadang menyebalkan terkadang ingin sekali aku beri kasih sayang karena sedang lucu-lucunya. Dia anak yang paling rajin salim tangan jika bertemu dengan guru. Paling komunikatif dan hiperaktif.

Kamu tahu, tidak?
Kenapa gambar ilustrasinya seperti itu? Karena… aku hanya ingin menggambar…

Kamu tahu, tidak?
Ada dua tawaran untuk bisa pergi ke Jepang. Tawaran pertama datang dari seorang teman yang menghubungi bahwa ada program untuk bisa berada satu tahun ke Jepang. Tapi, bermodalkan seharga 1 kali naik haji. Tawaran kedua adalah pergi selama beberapa hari di Jepang, seharga 2 laptop baru. Wah. Lebih baik menabung buat naik haji ya? InsyaAllah, Allah kan memberikan jalan lain untuk bisa pergi ke negara impian itu πŸ™‚ Hanya perlu bersabar sambil terus berusaha, ya? Persiapkan diri di tahun selanjutnya, ya?

Kamu tahu, tidak?
Aku ingin sekali menggambar sekolah tempat aku pe-pe-el. Ingin pergi mendaki gunungnya.

Kamu tahu, tidak?
Aku kangen pada sahabatku I, yang katanya menanti tulisanku di wordpress ini. Kangen pada D, untuk bisa berbincang banyak hal. Kangen A, yang semoga dirinya dikuatkan di kota lainnya.

Kamu tahu, tidak?
Aku ingin menulis banyak hal di sini. Tapi khawatir terkesan mengeluh. Bisa aku pastikan, aku akan lancar berbahasa isyarat sepulangnya dari sini :’)

Sumedang
4:35pm
Ketika yang lain sedang sibuk dengan aktivitasnya untuk mempersiapkan mengajar esok hari

Read Full Post »

Butir Ingatan

Illustrasi oleh Adinda

Setiap orang memiliki butir ingatannya sendiri. Butir-butir itu berterbangan disekitar mereka, menunggu saat yang tepat untuk dapat merasuk pada bagian ingatan. Melalui aroma parfum yang pernah ia hirup, melalui bunyi yang pernah ia dengar, melalui alunan lagu yang dulu pernah dinikmati. Melalui banyak hal butir itu bisa melesat masuk. Kemudian memberikan ingatan yang sempurna untuk hari seseorang, mengingat kembali masa lalu yang pernah ia lewatkan dan sempat ia terlupakan.

Sama seperti aku, yang tetiba merasakan kehadiran aku yang dulu. Ditemani sebuah buku Anak Ini Mau Mengencingi Jakarta? Aku terhanyut ke dalam setiap cerita yang disuguhkan. Pertama kali terhisap dalam karya Ahmad Tohari yang aku baca dalam bahasa Indonesia. Meski sebelumnya aku membaca karyanya yang sudah diterjemahkan menjadi Kind Looking Eyes dan juga Karyamin’s Smile, aku tetap menyukai gayanya dalam bercerita.

Aku menemukan diriku lagi. Diriku yang suka membaca, diriku yang terlalu adiktif pada buku. Apapun itu. Komik. Majalah Bobo hingga KaWanku yang sempat aku beli. Novel Anak hingga Dewasa dan agak thriller hingga membuat aku mual dibuatnya. Ada diriku yang dulu, aku temukan ia. Ketika aku menyentuh buku, membaca ceritanya. Membaca sambil berbaring atau telungkup kemudian terduduk, itulah aku yang dulu.

Butir ingatan yang berterbangan itu berhasil masuk pada ingatanku. Melalui aroma buku yang aku hirup, melalui sentuhan lembar per lembar buku yang aku buka dari sore hingga malam ini. Melalui aroma kamar ketika menyendiri. Tidak bersama handphone dan deringnya yang membuat berisik. Tidak bersama internet yang membuat aku lupa diri akan waktu. Tidak juga bersama pensil warna yang akhir-akhir ini sering sekali bersinggungan denganku diatas kertas mana pun yang bisa aku lukis. Kini, hanya aku, dan buku. Kami berdua bersama.

Teringat lagi bahwa dulu, jalan ke toko buku adalah waktu terfavorit sepanjang masa. Ketika Bapak bersedia menghabiskan uangnya agar anaknya bisa membeli buku yang anaknya mau. Buku apa pun, beli di mana pun, bapak tetap bersedia mengeluarkan rupiah dari dompetnya.

Aku. Buku. Tak kenal waktu. Membaca hingga terkantuk. Membaca hingga menangis karena suguhan cerita. Membaca hingga berlembar buku berhasil masuk menyeruak seakan menjadi film yang terputar. Diriku yang dulu kembali muncul. Halo. Apa kabar? Ia menyapa diriku hangat sambil menggenggam sebuah buku yang aku kenal. Aku kangen bersamamu lagi, mau kah kembali ke duniaku? Ia bertanya pada ku sambil mengayunkan buku dalam genggamannya. Aku dibuat tersenyum oleh diriku yang dulu. Aku sangat merindukanmu, merindukanmu sebelum sempat handphone dan internet memisahkan kita berdua, katanya lagi. Dia mengulurkan tangannya yang kosong, mencoba mendapatkan perhatianku lagi.

Aku merindukan aku yang dulu, aku meraih tangannya dan menjabatnya, mengucap terima kasih dan tenggelam dalam kabut bersama diriku yang dulu. Butir ingatan itu membawa ku begitu jauh. Membawa pada ingatan yang telah lalu.

Pernahkah kalian merasakan hal yang sama denganku? Butir ingatan apa yang berhasil memasuki ingatanmu hingga merindukanmu yang dulu? Ceritakanlah, agar kisah ini menjadi alasan bagimu dan menjadi jalan bagi butir ingatan lain untuk merasuk.

 

Purwakarta

7 Januari 2017

7:40pm

Ketika jemari merindu untuk menulis diatas keyboard laptop. Ketika diri ini selalu merasa ingin menulis sehabis membaca buku.

Read Full Post »

Bismillah,

Hari istimewa karena saya memposting tulisan di sore hari (biasanya jadi cewek malam, postingnya malam-malam hehe). Sore ini langit tampak cerah. Saya saja sangat menikmatinya ketika saya berjalan menuju pulang bersama seorang teman, sebut saja D. Barusan saya mengunjunginya. Bukan tanpa alasan, karena memang ingin sekali pergi menemuinya. Sudah lama tidak bertemu dengannya. Berbincang lama. Mampir ke asramanya, yang terasa seperti tengah mengunjungi asrama orang Malaysia, haha, di sana menggunakan bahasa daerah dan itu terdengar seperti bahasa Melayu bagi saya.

Lagi Hush dari Lasse Lindh masih mengalun, ketika saya mengetik di sini. Saya merasa bahagia karena masih bisa berjalan di hari yang cerah ini. Akan lebih menyenangkan jika bisa dihabiskan dengan seseorang yang suka jalan-jalan menikmati angin, menikmati sinar cerah mentari meski buat gerah. Sayangnya, D harus pergi untuk mengajar, sehingga saya tidak terlalu lama bersamanya. Hanya sepanjang 1 film yang kami tonton bersama di kamarnya.

Dalam perjalanan pulang sungguh sangat menyenangkan, saya bisa melihat bayangan saya sendiri. Biasanya sore-sore sudah disuguhi mendung yang menggantung dan hujan yang terus turun hingga malam tiba. Tapi, kali ini istimewa, karena matahari begitu cerah menyinari, awan putih berarak oleh angin kencang, langit biru menunjukkan pesonanya. Ah, suasana yangg sangat saya nantikan.

Pernahkah merasakan saat di mana tiba-tiba merindukan masa lalu. Merindukan wewangian yang dulu pernah terhirup. Merindukan cahaya yang dulu pernah menyinari. Dalam benak saya, saya kangen sekali semester awal kuliah. Di ruangan yang begitu luas, di mana belum di pusingkan tugas. Saya masih mengatakan pada diri sendiri saat ini, bahwa yang sekarang bukanlah diri saya. Diri yang mulai merasakan lelahnya perkuliahan, merasakan sedih dan kecewa ketika dosen tidak ada atau tim dosen yang missed communication sehingga berpengaruh pada mahasiswanya yang akhirnya kebingungan. I miss those moments. Dear my old self, please, please I beg you to be with me again. I miss you. Dulu saya suka sekali bangun super pagi untuk menantikan pergantian cahaya gelap menjadi terang, untuk memotret langit pagi. Tapi… sekarang…

Sungguh, diri ini harus benar-benar berubah menjadi yang lebih baik lagi πŸ™‚

Saya yang kini senang sekali pergi sendiri, untuk pergi ke suatu tempat menyendiri di sana. Karena seringkali, teman yang saya ajak memiliki agendanya tersendiri. Sangat sedih menerima penolakannya, jadi, lebih baik pergi sendiri saja. Meski lebih baik pergi bersama teman πŸ™‚ Berdua lebih menyenangkan, karena memang bisa lebih banyak berbicara dari pada beramai kemudian ada seseorang yang tertinggal. Sedih ya…

Hai langit, semoga esok kita dapat bertemu lagi πŸ™‚

3:47 pm

22 Desember 2016

Bandung, di kala sendiri bersama sebotol teh dingin.

Read Full Post »

Bismillah.

Sebelum waktu berakhir, 7 Desember menjadi 8 Desember, di mana orang lain akan berulang tahun setelahku.

Selamat ulang tahun untukku. Untuk Yuzuru Hanyu. Umur kami sama, namun rezeki yang Allah berikan sungguh berbeda. Di usianya yang menginjak sama denganku, sudah banyak medali yang ia raih. Juara dunia figure skating di sana sini. Sedangkan aku di sini, masih belajar banyak hal, masih memikirkan banyak hal tentang masa depan. Malu rasanya, sudah dewasa namun berpikiran begitu rendah, masih ada rasa pesimis. Ya Allah, untuk apa mengkhawatirkan dunia? Raihlah mimpi dengan doa dan ikhtiar. Insyaa Allah usaha tidak akan mengkhianati hasil bukan?

Tadi pagi mendapat sms dari bapak, kalimat terakhir membuat sedih. “Bapak sayang teteh,” Masyaa Allah, diri ini bahkan merasa rasa sayang ku terhadap bapak masihlah jauh dari rasa sayang bapak terhadapku. Bahkan Allah bisa jadi lebih mencintai bapak ketimbang diriku mencintai bapak.

Hanya segelintir orang yang mengucapkan, “Selamat ulang tahun” untukku. Tak mengapa, karena aku ingin hanya diriku yang merayakannya sendiri. Ulang tahunku tidaklah penting bagi orang yang tidak mengenalku dekat, bukan? Karena ujungnya hanya menjadi penghias nisan.

Ya Allah, masih banyak impian yang belum teraih. Mungkin esok? Atau nanti di hari lain ia bisa terwujud. Allahu’alam. Hanya Allah yang tau.

Selamat ulang tahun untukku. Perempuan yang beranjak dewasa. Yang tengah menitikkan air matanya, mengingat bahwa umur sudah bertambah kian hari, di tiap detiknya. Semoga cita mu tercapai. Jika pun belum, janganlah bersedih hati, karena pilihan Allah adalah yang terbaik.

Read Full Post »

Bismillahirahmanirrahim…

Seorang sahabat meminta saya untuk menceritakan pengalaman 3 hari saya menjadi Rapporteur. Saya rasa saya perlu mengabulkan permintaannya. Karena sahabat saya ini adalah salah satu alasan mengapa saya tetap mengisi wordpress ini.

img-20160924-wa0030

Alhamdulillah, saya diberikan kesempatan oleh Allah ta’ala untuk menjadi bagian dalam kegiatan Governing Board Meeting (GBM) SEAMEO SEN pada 21 hingga 23 September 2016. Saya dan kedua teman saya (Verra dan Dheru) dimandatkan untuk membantu Rapporteur, di bawah bimbingan Ibu Mazmi dan Ibu Moni yang keduanya kami anggap sebagai Ibu kami. Ibu Mazmi dan Ibu Moni keduanya merupakan warga negara Malaysia. Sehingga dalam 5 hari kami bekerja bersama, kami disuguhkan bahasa Malaysia. Unik sekali. Jika tidak mengerti, saya dan kawan berbicara dalam bahasa Inggris.

Apa yang saya rasakan selama jadi Rapporteur?
Saya merasa sangat beruntung dan bahagia. Banyak pengalaman yang dapat saya petik selama berhari-hari berada di sana. Rapporteur bertugas untuk mencatat perjalanan meeting, tentu berbeda dari meeting yang pernah saya hadiri. Di dalam ruangan yang super dingin, hingga mengetik percakapan pun dengan jemari yang terasa kaku hehee πŸ™‚

Uniknya, ketika mengikuti GBM, saya seperti sedang melakukan test listening TOEFL versi Asia Tenggara. Di mana perwakilan setiap negara asia tenggara yang hadir membawa logatnya masing-masing. Itu lhoo, contohnya ketika teman saya Dheru berbicara bahasa Indonesia masih dengan medok jawa mengikuti. Sungguhlah unik πŸ™‚ Saya dan kawan, dituntut untuk bisa memahami sekaligus harus mempertajam pendengaran kami. Tentu, kali pertama bagi saya pribadi disuguhkan percakapan dalam Bahasa Inggris selama beberapa hari berturut-turut. Alhamdulillah, karena sering menonton vlog bule-bule(an) di youtube saya jadi bisa mempertajam pendengaran saya, hehe.

Jika di check di twitter saya ( @adindaqt ), saya sering men-tweet foto di spot yang sama. Di mana saya duduk di tempat itu untuk mencatat jalannya acara. Meski seringkali mengandalkan rekaman dari kedua kawan saya untuk menulis laporan dan mengecek kembali ucapan participants. SEAMEO SEN juga memiliki facebook fanpage, silakan di like SEAMEO SEN.

Selama di sana, saya benar-benar keluar dari zona nyaman. Siap menghadapi tantangan setiap harinya karena menjadi Rapporteur merupakan bagian dari tanggung jawab. Saya berpikir untuk bisa pergi ke suatu tempat lainnya di mana saya bisa belajar lebih. Sebagai penuntut ilmu, rasa malas seringkali muncul. Lingkungan baru atau aktivitas baru bisa jadi menjadi pemicu untuk bisa bersemangat lagi. Baru saja saya membaca artikel Fatwa Ulama tentang Fenomena Lemah dan Lesunya dalam Menimba Ilmu, di semester 7 ini harus lebih bersemangat lagi ya!

Insyaa Allah, aktif di UKM atau di Himpunan akan membawa pada pengalaman dan pelajaran baru. Mungkin lelah akan lebih kentara terasa namun setelah melawati serangkaian nano-nano perasaan, akan bertemulah pada titik di mana kesyukuran muncul, karena pernah menjadi bagian darinya.

Diakhir acara, setelah dinner seorang Bapak dari Brunei Darussalam (yang lebih terlihat seperti Kakek super keren bagi saya) mengucapkan terima kasih, layaknya saya telah melakukan pekerjaan yang luar biasa di beberapa hari terakhir. Saya tersentuh sekali dan hanya bisa tersenyum sambil berucap “thank you for coming here, sir”. Selain itu, saya juga bertemu dengan seorang Bapak, Dr. Jess dari SEAMEO Biotrop yang memiliki program untuk melatih anak autis belajar berkebun. Ketika saya mendengar ide yang dilontarkannya, saya merasa kagum, dan menyadari bahwa ada banyak ide yang muncul untuk membantu anak-anak berkebutuhan khusus untuk dapat mandiri bekerja setelah lulus dari sekolah. Asalkan guru mau mengeksplorasi kemampuan anak didiknya dan berusaha mencari organisasi yang mau mendukung idenya itu. Bapak super keren itu pun berucap “I adore you” kepada saya dan Dheru setelah kami mengatakan bahwa kami adalah mahasiswa Pendidikan Khusus yang merupakan calon guru bagi anak berkebutuhan khusus.

Alhamdulillah, aktivitas selama 5 hari yang di dalam tiga harinya saya banyak belajar ini membawa saya kepada kesyukuran. Allah ta’ala tau yang terbaik bagi makhluk-Nya. So, jangan pernah suudzon pada keputusan Allah yang telah dituliskan untuk kita sebagai makhluk-Nya.
10505345_1464716197111369_7153744117694080340_n

====================================

1:00 pm

Senin, 26 September 2016

Kemarin kembali mendengar suara Inggrid setelah lama tidak berbincang. Kangen sekali. Esok hari akan bertemu dengan Novia. Senangnya :’)

 

Read Full Post »

Bismillah…

“Ketika Bukan Aku yang Terpilih”, terpilih apa atuh, hehe…

Rasanya sudah lama ketika hasil telah diumumkan. Tapi, rasa syukur masihlah tetap ada karena Allah ta’ala telah menuliskan kisah yang indah dalam hidup seorang seperti saya ini. Seperti yang teman dekat saya telah ketahui, bahwa saya ingiiinnnnn sekali pergi ke suatu negara. Negara yang menjadi impian saya sejak dari kecil. Keinginan yang terus meningkat, ikhtiar berusaha dilakukan. Sampailah pada sebuah kesempatan untuk berada satu tahun di negara itu. Tapi, bukanlah saya yang terpilih untuk pergi.

Pergi menikmati langit yang berbeda. Pergi untuk menikmati disiplinnya. Pergi untuk bisa berkenalan dengan kawan dari belahan dunia lain. Pergi untuk suatu alasan agar saya bisa belajar lebih. Sedih? Tentu! Siapa yang tidak? Kecewa? Saya rasa tidak, rasa kecewa tidaklah ada, saya sangat berterima kasih kepada Pak Dosen yang mewawancara saya saat itu. Melalui lisan beliau lah diri ini dikuatkan. Kemudian Allah ta’ala membantu diri ini mengolah hati. Diriku pun ikut senang ketika salah seorang teman terpilih untuk pergi. Seperti rasa senang ketika mengetahui teman SMA saya pergi juga ke negara itu. Alhamdulillah…

Betapa bijaknya bapak saat itu memberi kekuatan, bapak lah orang pertama saya beritahu. Masih terngiang kata-kata bapak ketika berucap “Allah pasti punya pilihan terbaik buat teteh. Selalu husnuzhon pada Allah nak.” kurang lebih begitu, air mata tak terbendung, meski bapak tak melihat saat itu. Sengaja aku sembunyikan. Menangis karena penolakan itu? oh bukan. Menangis karena perkataan bapak, betapa Allah ta’ala teramat baik dengan memberikan banyak kekuatan. Alhamdulillah…

Kemudian sahabat J pun sama, dengan bahasanya yang unik dia berkata bahwa “Insyaa Allah pasti diganti dengan yang lebih baik ya din. Mungkin Allah sayang ama kalian yang cewe kalau harus ke sana tanpa mahrom eheheee,” lucu sekali. Terima kasih J.

Allah ta’ala selalu memberikan rasa tenang. Bahkan ketika scroll facebook. Entah mengapa rasanya ingin sekali berterima kasih pada orang-orang yang berbaik hati membagikan tulisannya, posternya, kata mutiara-nya di facebook. Dari jalan mana pun Allah tetap melindungi hati ini. Dari rasa sedih yang berlebihan. Dari rasa kecewa yang tidak perlu. Karena rasa sayang Allah ta’ala melebihi amarah-Nya.

Di mulai dari sekarang hingga nanti. Jangan lah pernah menyerah. Semoga dunia bukan lah tujuan utama.

Ketika Allah ta’ala belum juka memakbulkan do’a yang selama ini terucap, itu karena Allah menundanya atau akan menggantinya dengan yang lebih baik, Insyaa Allah…

11329945_993162770728802_7617727618851428269_n

Read Full Post »

Lega Sudah

Bismillah…

Lega Sudah…

Untuk apa? Diri ini sudah hampir merasa lega untuk beberapa hari ke depan. Apakah kegiatan yang dijalankan ini terasa berat? Sebut saja KKN. Karena memang ini namanya.

Lelah ku sebut? Ya Lelah… fisik… perasaan… hati ini… sangat lelah… Namun Allah ta’ala selalu menguatkan dengan kondisi yang melemah ini. Bukan tempat yang menjadi masalah, bukan pula teman-teman yang berada di samping dan sudah sudi bersama selama beberapa minggu. Tapi karena diri ini saja…

Perasaan lega akan terasa, ketika sudah sampai rumah. Istirahat. Istirahat sebelum menghadapi banyak hal lainnya. Sudah cukupkan saja. KKN yang satu ini sudah cukup memberi pelajaran. Meski sudah bersyukur selama berada di KKN, tapi sudah, cukup saja hanya sekali aku rasakan perasaan campur aduk ini.

Berhari-hari dalam perasaan lelah yang sama. Perasaan sakit yang sama. Serta perut kenyang yang sama.

Ah, rasanya banyak ketidaksyukuran yang banyak disebutkan. Sedang Allah ta’ala, aku yakin, memberikan banyak pelajaran kepada makhluk-Nya yang satu ini.

Allah ta’ala sangatlah baik. Meski diri sering meronta-ronta dalam kemaksiatan namun Allah ta’ala masih tetap memberikan kebaikan-Nya. Hingga mata kembali terbuka. Terbuka selebar-lebarnya. Terkadang menutup mata lagi secara perlahan.

“TOLONG! AKU BUTUH DI TOLONG DI JAM SEPERTI INI. ORANG LAIN BICARA TERUS! AMBIL ALIH TERUS! TOLONG IKAT MULUTNYA! IKAT DIRINYA! SUNGGUH LELAH MENDENGAR SUARANYA BERGEMA DI RUANGAN INI!” begitu ingin aku berteriak di 9:28 pm ini. Maafkan, diri ini masih memiliki sakit yang mendalam. Meski mungkin separuhnya yang lain memiliki rasa sakit yang sama pula.

========================================

9:29 pm

2-Agustus-2016

Subang

Kala hati berdiam, sudah ingin tidur. Sudah lelah berkompetisi dalam volume suara.

Read Full Post »

Older Posts »