Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘cerpen buatan sendiri’ Category

Biarkan Aku

starry%e9%98%bf%e6%98%9f-6

Art by starry阿星

“Tak bisa, kita tak bisa saling melengkapi,” begitu katanya, tanpa menatapku. “Sungguh, lebih baik kita berpisah,” ucapnya, mengambil tas gendong besar miliknya kemudian beranjak dari tempat duduk.

Aku terdiam, tidak menghentikannya, tidak pula bergerak untuk segera menarik tangannya. Aku… tidak mengerti tentang apa yang harus aku katakan padanya.

Perlahan ia berjalan, meninggalkan bangkunya yang tepat menghadap padaku. Aku berteriak, “Mengapa?!” Ia menghentikan langkahnya. Tanpa menatapku, dengan wajah tertunduk, memunggungiku. Orang ini bukanlah dia yang aku kenal.

“Mengapa lagi-lagi ada orang lain yang merusak? Mengapa?!” aku kembali berteriak.

Aku ingin berterima kasih ke pada angin yang mebuat suasana berhawa panas antara aku dan dia menjadi sejuk. Meski hatiku terus berkecamuk.

“Aku ingin menyalahkan orang lain! Tapi siapa?! Aku yang salah? Lagi-lagi aku yang salah?!” hati berkecamuk ini berbuah air mata. Aku tak tau, apakah kedua mata yang dibingkai kacamata miliknya itu juga menangis? Aku tak tau.

Tangan kiri miliknya yang memakai jam tangan itu mengepal. Aku yakin, deretan kata panjang itu akan ia ucapkan. “Biarkan aku sendiri!” Benar apa yang aku katakan barusan, bukan?. “Ini bukan tentang orang lain. Tapi, tentang mimpiku yang sungguh terhambat jika aku terus bersamamu. Aku harus membuangmu di sini. Selamanya. Biarkan aku. Sungguh, biarkan aku sendiri. Menggunakan buku lainnya untuk dapat aku tulis. Untuk dapat aku gambar. Sungguh! Jangan berteriak di kepalaku! Akan ada orang lain yang lebih baik menyertaimu, dan orang itu bukanlah aku!”

Akhirnya ia pergi, meninggalkan aku beserta angin melambaikan lembar yang sempat ia torehkan tinta diatasnya. Ia meninggalkanku, untuk kesekian kalinya.

Aku, buku coretan yang ia miliki 2 tahun lamanya. Aku, yang ia anggap sebagai penghalang mimpinya. Hanya karena aku, bukanlah yang ia beli tapi diberi, oleh seseorang yang ia benci. Mengapa benci itu harus menerpaku juga? Aku tak mengerti. Biarlah. Biarkan aku sendiri. Biarkan dia sendiri.

Bersamaan dengan angin yang mereda, seorang wanita mendatangiku, lalu tersenyum. “Sungguh bagus gambar ini!” katanya. Aku geli ketika ia membuka lembaranku.

“Biarkan aku sendiri,” ucap wanita itu, membaca kalimat pada lembar akhir yang lelaki itu tulis.


Ketika di Bandung. Sendirian lagi. Adakah yang berkenan bermain ke sini? Yang aku harap bukan hawa dingin yang menusuk kaki. Butuh teman bicara, meski hanya menertawakan diri sendiri dan kisahnya.

Bandung di kala sendiri.

7.16 pm

13 Desember 2016. Selasa.

Read Full Post »

CERPEN: Dia

Aku melihatnya penuh selidik, menerka tentang apa yang sedang dia bicarakan dengan seseorang di hadapannya. Kedua tangan mereka terus bergerak, saling menimpali satu sama lain. Aku masih penuh selidik, menerka tentang apa yang sedang dia bicarakan.

Akhirnya dia memandangiku dari jauh, mimik wajahnya menandakan bahwa ia terkaget melihat aku berdiri dikejauhan, menatapnya masih dengan dahi yang mengernyit. Ia tersenyum, melambaikan tangan dan berlari kearahku.

“Janji jam 11. Datang jam 9, sangat pagi!” isyaratnya dari jauh. Kali ini aku mengerti apa yang ia ucapkan padaku. Ia menggunakan isyarat yang aku pelajari di kampus.

Aku dan dia sungguh berbeda. Ketika dia berbincang denganku, ketika dia berbincang dengan kawan seperti dirinya, akan sangat berbeda. Ah, aku hanya ingin benar-benar mengenalnya.

“Gak apa-apa. Aku tahu, kamu pasti datang lebih pagi!” balasku. Dia tersenyum kemudian segera membawaku ke tempat pertemuan.

Sekumpulan orang berada di sana. Saling berbincang lewat isyarat. Isyarat yang hanya sedikit aku pahami, isyarat yang hanya bisa aku temukan diluar kelas.

“Di sini dilarang keluar suara ya,” ucap seseorang berambut cepak kepadaku, ia berkata dengan wajah yang menurutku kurang ramah. Tidak seperti dia yang menyambutku dengan senyuman. “Dilarang keluar suara ya,” ucapnya lagi, kini pada yang lain. Pada seseorang dibelakangku, seorang wanita yang baru saja datang dengan wajah kebingungan. Aneh, si rambut cepat menyuruh untuk tidak keluar suara, tapi dirinya yang sejak tadi nyerocos.

“Kak, di sini tempat latihan isyarat itu kan ya?” tanya wanita dengan wajah yang masih bingung itu.

Aku mengangguk, “iya, baru ya? Sini duduk dekat saya saja,” tawarku. Wanita itu tersenyum, manis sekali.

“Saya Nada,” ia memperkenalkan dirinya sambil menyerahkan tangannya agar aku jabat.

Aku balas tersenyum dan menjabat kedua tangannya, “Saya Zara,” jawabku dengan isyarat.

Suasana semakin ramai pada pukul setengah sebelas, kelas belum di mulai karena dia belum juga membuka kelas dengan ucapan “selamat siang” dan senyuman khas darinya.

“Kamu tau kelas ini dari siapa?” tanyaku pada Nada yang sedang memperhatikan dia yang tadi tertawa-tawa dengan temannya.

“Ah, ya? Kenapa kak? maaf tadi melamun hehe” Nada gelagapan, arah matanya berbalik kearahku kemudian sejenak menatap dia yang sekarang memperhatikan kami dari jauh.

“Kamu tau kelas isyarat ini dari siapa?” tanyaku ulang.

Nada berdehem, “dari dia kak,” jari telunjuk lentiknya menunjuk kearah dia, kemudian wajahnya menjadi wajah tersipu.

“Dia? Ozi maksudmu?” tanyaku lagi.

“Iya kak, dia mantan pacarku di SMA. Dia keren sekali loh kak, meski memang agak terlambat ketika awal semester di kelas 1, tapi dia bisa menyusul dengan mengukir prestasi. Dia sangat keren.” Jawab Nada dengan mata berbinar, matanya tak henti memandang Ozi. Ozi yang tadi menjemputku, Ozi yang tadi menyambutku dengan senyuman yang aku sukai.

“Eh? lalu kalian pacaran?” tanyaku lagi.

“Hmmm, bisa dibilang begitu kak. Kami saling suka, dia pun sangat perhatian ke pada saya. Dia selalu mengantar saya pulang sampai ke depan pintu rumah. Dia juga selalu membantu saya ketika ada yang menjahili. Dia sangat peka terhadap sekitar. Kami sering berdua kemana-mana, sampai-sampai orang mengira kami pacaran. Dan aku pun menyetujuinya, kak.” jawab Nada. Senyumnya semakin merekah ketika Ozi mendekati kami.

Ozi berbincang dengan Nada, dengan suara yang begitu jelas. Dia mengatakan bahwa Nada tampak sangat berbeda, baru kali ini mereka berjumpa.

Dia sangat berbeda. Ketika berbincang denganku, ketika dia berbincang dengan kawan sepertinya, ketika dia berbincang dengan Nada. Tapi senyum itu masihlah sama. Bagaimana aku harus mengartikan perasaan yang ada? Aku hanya ingin mata itu tertuju ke padaku saja.

======================================

Ketika dua orang teman berkata, bahwa sudahlah lama diri ini tidak menulis di WordPress, itulah saatnya jemari ini tersadar untuk menceritakan suatu kisah di sini.

Purwakarta

7:58am

11-22-2016

Read Full Post »

“Ummi, tadi Isniah melihat berita di televisi. Palestina lagi-lagi diserang oleh Israel. Mengerikan sekali Ummi. Isniah sampai tidak bisa menahan tangis. Kasihan anak-anak di sana, mereka harus merasakan ketegangan di malam hari ketika kita di sini tertidur lelap,” ucap Isniah dengan raut wajah sedih.

Ummi menatapnya pilu. Ummi tau pasti bahwa anak gadisnya ini memiliki empati terhadap hal kecil sekalipun. Waktu itu pernah Isniah menangis karena Abang Mochtar tidak sengaja melempar sarung keatas anak kucing yang sedang tertidur lelap di sofa hingga mengeong minta tolong. Isniah sampai ngambek pada Abang Mochtar dan tidak mau melepaskan pelukannya dari anak kucing malang itu. Akhirnya setelah Abang Mochtar membujuk Isniah dan meminta maaf (dibantu Ummi juga), Isniah mau untuk berhenti ngambek. Sekarang, Isniah turut prihatin dan ikut sedih atas musibah juga ujian yang menimpa negeri Palestina. Terkadang Ummi tidak sengaja mencuri dengar doa Isniah setelah shalat maghrib di kamarnya. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim, saudara Isniah tertimpa lagi ujian dari-Mu Ya Rabb. Semoga saudara Isniah di Palestina bisa terus bersabar dan bertawakal atas apa yang Engkau timpakan. Ya Rabb, pasti anak-anak di sana terus kehilangan ayahnya, kehilangan tempat bermainnya, tapi yang Isniah tau, anak-anak Palestina tak pernah merasa kekurangan makanan, karena apa yang Engkau beri, sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan perut mereka. Ya Allah Ya Rahim, jika Isniah menjadi salah satu anak Palestina, mungkin kah Isniah bisa setegar mereka?. Ummi terenyuh mendengar isi doa anak gadisnya itu dan mengaminkan dari balik pintu kamar Isniah.

“Ummi, Abang besok akan pergi keliling kompleks, remaja masjid kompleks mau meminta sumbangan untuk dikirimkan ke Palestina nantinya. Jadi, sepulang sekolah Abang langsung pergi ya Ummi,” izin Abang Mochtar sambil menyuapkan sarapannya ke dalam mulut. Isniah yang mendengar hal itu buru-buru tancap gas untuk berbicara, meski nasi goreng di mulutnya belum terkunyah semua.

“Bang, Isniah juga ingin ikutan, boleh kan bang?” bujuk Isniah. Abang Mochtar menanggapinya dengan mengernyitkan dahi, seakan menjawab dengan isyaratnya bahwa Isniah kan harus mengaji nanti sore. “Isniah nanti izin ke ustadzah Salamah tidak ikut mengaji dulu sore ini… Ya Bang ya… Ummi boleh ya Isniah ikut dengan Abang?” bujuk Isniah lagi. Ia benar-benar ingin ikut dengan Abang Mochtar, semoga dengan Isniah ikut meminta sumbangan untuk Palestina. Isniah bisa ikut membahagiakan anak-anak Palestina di sana.

“Setoran hapalanmu itu loh Isniah, kamu mau nunggak hapalan ke Ustadzah Salamah?” jawab Abang Mochtar. Baginya, meminta bantuan sumbangan itu penting, tapi setor hapalan juga penting. Apalagi hanya tinggal beberapa halaman lagi Isniah sudah hampir hapal 5 juz. Abang Mochtar bukan tidak mau Isniah ikut, tapi nanti ada masa nya Isniah bisa ikut menjadi penggalang bantuan sumbangan. Tentu setelah setor hapalan nanti.

Isniah tampak kecewa dengan jawaban Abang Mochtar. Ingin sekali rasanya Isniah ikut ambil bagian untuk menggalang sumbangan bagi Palestina. Ummi yang melihat raut kekecewaan di wajah Isniah, segera menghiburnya dengan sebuah solusi. “Coba Isniah bantu Abang Mochtar menggalang sumbangan ketika Isniah mengaji nanti. Inshaa Allaah kawan-kawan Isniah bersedia menyisihkan uang jajannya untuk disumbangkan,” ucap Ummi lembut, sambil mengelus kepala Isniah yang terbalut kerudung syar’i. Ucapan Ummi tadi benar-benar manjur. Isniah kembali sumringah dan dengan senyum lebar bersedia menjadi penggalang dana untuk Palestina di tempatnya mengaji.

“Nah, kalau itu Abang setuju. Biar kami yang sudah gede aja yang keliling kompleks. Isniah bisa bantu di tempat mengaji!” seru Abang Mochtar.

Pagi itu sangat cerah, secerah wajah Isniah yang beranjak pergi ke sekolah bersama Abang Mochtar dengan sepeda. Ya Allah mudahkanlah Isniah untuk meminta sumbangan bagi Palestina nanti ya. Semoga yang lain bisa mendapat pahala atas apa yang mereka berikan dengan ke-ikhlasannya. Hanya Engkau yang mengetahui isi hati makhluk-Mu Ya Rabb. Doa Isniah dalam hati.

Jam dinding di pojok ruang tamu menunjukkan pukul setengah tiga lebih lima menit. Waktunya Isniah pergi mengaji. Tak lupa Isniah membawa stoples ukuran sedang yang nantinya akan digunakan untuk menggalang sumbangan.

“Buat apa itu?” tanya Fafa sambil menunjuk kearah stoples yang dijinjing Isniah dengan tas tangan. Sobat Isniah yang satu ini nampak penasaran dengan stoples tanpa kue di dalamnya itu.

“Aku mau menggalang dana untuk Palestina,” ujar Isniah. “Tapi nanti aku akan jelaskan lagi di tempat mengaji,” lanjutnya. Fafa menggangguk tanda mengerti.

Dengan senyuman ramah khas ustadzah Salamah. Kegiatan mengaji di rumah ustadzah Salamah dimulai dengan tilawah masing-masing murid, sambil menunggu adzan ashar berkumandang. Isniah yang sudah melakukan tilawah, segera berlari kecil mendekati ustadzah Salamah yang sedang membetulkan bacaan salah satu anak muridnya.

“Assalamu’alaikum ustadzah…” salam Isniah pelan lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan ustadzah. Stoples yang dipeluk dengan tangan kirinya ia simpan disampingnya.

“Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh, ada apa nak?” jawab ustadzah lembut, melirik stoples yang ada di sisi Isniah.

“Ustadzah, bolehkah Isniah menggalang sumbangan untuk Palestina di sini?” izin Isniah sopan, kemudian Isniah menjelaskan alasan mengapa ia meminta sumbangan di sini dan menceritakan betapa sedihnya ia ketika melihat anak-anak Palestina. Ustadzah Salamah menggangguk dan terus tersenyum ketika Isniah bercerita. Sekali-kali ustadzah ikut mengernyitkan dahi tanda prihatin. Tentu saja ustadzah juga tau perihal ujian yang menimpa Palestina kini. Dan ustadzah semakin terharu mengetahui anak muridnya ini juga begitu tinggi rasa kepeduliannya terhadap kejadian yang menimpa Palestina.

“Tentu saja boleh nak. Kamu bisa menggalang dana ketika nanti selesai mengaji. Inshaa Allaah yang lain juga akan membantu, dan Ustadzah juga akan membantu,” kata Ustadzah Salamah. Tak henti-hentinya Isniah tersenyum dan berterimakasih telah diberi kesempatan. Alhamdulillah Ya Allah atas kesempatan yang Engkau berikan kepada Isniah.

Seluruh murid sudah selesai menyetorkan hapalannya. Begitu juga Isniah yang bersiap dengan stoplesnya untuk menggalang sumbangan. Sebelumnya Ustadzah meminta Isniah untuk menceritakan kondisi Palestina yang diketahuinya dihadapan murid lainnya. Semua murid begitu iba. Fafa yang mendengarkan cerita Isniah dengan seksama pun hampir mengucurkan air mata.

“Teman-teman, Alhamdulillah. Kita lebih beruntung daripada anak-anak lainnya. Kita masih bisa sekolah dengan tenang dan tidur dengan nyenyak. Semoga yang teman-teman sumbangkan nanti akan dibalas oleh Allah dengan balasan yang baik,” ucap Isniah dipenghujung ceritanya. Para murid mulai menyerbu kedepan, memasukan sumbangannya kedalam toples yang Isniah pegang. Semuanya memberikan seluruh uang jajannya tanpa ragu. Murid yang masih kecil pun ikut menyumbang. Kini, stoples yang tadinya kosong, menjadi penuh dengan uang yang diberikan oleh kawan-kawan Isniah. Alhamdulillah.

Malam hari sebelum tidur, Isniah menyempatkan diri untuk menulis di buku harian miliknya. Sambil memandangi stoples yang hampir penuh dengan uang koin dan uang kertas. Isniah tersenyum dan mulai menulis.

Bismillahirahmannirahim.

Hai buku harian, aku mau cerita nih. Tadi di tempat ustadzah Salamah aku menggalang dana untuk saudara Muslim ku di Palestina. Kata Fafa, dia ingin sekali pergi ke sana dan bertemu terus bermain dengan anak-anak Palestina. Alhamdulillah, uangnya banyak. Tadi aku dibantu ustadzah menghitung uangnya dan dapat dua ratus ribu lho. Aku senang banget! Alhamdulillah… uangnya mau aku kasih ke Bang Mochtar, biar Abang nanti yang kasih ke Palestina langsung. Oh iya, aku nanti mau minta sumbangan juga di kelas. Supaya banyak teman-teman yang menyumbang dan membantu saudara Muslim Palestina.

Doaku untuk Saudara Muslim Palestina, semoga mereka bisa bertahan dalam kondisi sulit karena Allah subhanahu wata’ala akan tetap merahmati mereka sampai kapan pun.

Udah dulu ya buku harian, aku mau tidur, besok harus bangun tahajud bareng Ummi.

==========================================

Curhat Penulis

Tulisan yang sudah lama tersimpan di folder kumpulan cerpen. Semoga bermanfaat! 🙂

7:10am

Bandung

Read Full Post »

prtsc ktb shun

Perkenalkan, aku Raga. Seorang siswa kelas 2 SMA yang akan menceritakan sedikit kehidupanku. Aku akan menceritakan kisah aku dan adikku Firma. Umur kami berbeda 3 tahun. Namun rasanya, dia jauh lebih mengetahui banyak hal dibandingkan diriku.

Ketika dia kecil dulu. Rasanya sangat bahagia bisa menggenggam kedua tangannya yang lebih kecil dari tanganku saat itu. Senyumnya juga lebih manis daripada senyumku. Tapi, semua berbeda ketika dia tumbuh. Ia lebih kuat dibandingkan aku. Kata orang, aku lebih kewanitaan daripada kelelakian. Aku tidak pernah menganggap hal itu benar. Tubuhku masih tubuh seorang lelaki meski suaraku yang sudah mengalami tahap pubertas ini rasanya tidak berubah dan terdengar lebih lembut. Lagi, ketika temanku melihat aku dan kemudian melihat Firma. Pasti kami akan dibandingkan. Selalu begitu. Kakak dan adik tak pernah luput dari adanya perbandingan. Dari sisi manapun itu.

“Oy Raga,” Eba menepuk kepalaku pelan. Aku sedang melamun saat itu. Memikirkan Firma, tentu saja bekal yang harusnya dibawa olehnya tertinggal di rumah. Pada akhirnya aku hanya bisa membawa bekal tertinggal miliknya. Akan sangat menghamburkan makanan jika tidak ada yang memakannya.

Aku menoleh kearah Eba yang duduk tepat dibelakangku dan melirik pada guru yang tengah menjelaskan materi penyimpangan sosial, Sosiologi. “Apa?” tanyaku pada Eba.

Eba memberikan sebuah kertas padaku dan kembali bersikap seakan fokus pada apa yang guru terangkan. Aku membuka secarik kertas yang dia berikan dan membaca jelas tulisan yang tertera,

Aku melihat Firma pergi bersama seorang wanita tadi pagi

Aku terhenyak, seorang wanita? Bahkan aku tidak tau teman seperti apa yang Firma miliki.

#NulisRandom2015

#day24

24 Juni 2015

7 Ramadan 1436 H

12:17 pm

==========================

Curhat Penulis

Terinspirasi dari sebuah anime. Kakak dan adik, Shun Matsuoka dan Fuyuki Matsuoka. I really love to see ’em in a chibi form~

“Mampu bekerja keras adalah bakat yang terbaik.”

Read Full Post »

Joy

Kepercayaan dirinya seakan luntur seketika. Tak ada sebaris namanya tercantum dalam daftar penerima penghargaan. Ia kembali memeriksa jika ternyata ia salah lihat. Ia mungkin hanya salah lihat. Atau mungkin terlalu percaya diri bahwa dirinya pasti akan masuk dalam daftar itu. Tapi, sudah jelas. Dari 102 nama, tak ada namanya. Kepalanya tertunduk. Tubuhnya terdorong oleh gerombolan orang lain yang juga ingin memeriksa namanya pada daftar yang terpasang di papan pengumuman.

“Lolos, Joy?” tanya Lana yang sekarang duduk disamping pria yang murung itu.

Joy hanya terdiam, masih menundukkan kepalanya sambil terus memegang map yang berisi berkas miliknya. Lana mengerti tanda itu. Lana tau, Joy tidak lolos.

“Masih ada kesempatan lain Joy. Semangatlah,” Lana menyemangati sambil menepuk bahu Joy.

“Tidak akan ada lagi kesempatan!” ucap Joy sedikit berteriak lalu beranjak pergi tanpa menatap wajah temannya itu.

Hati Joy berkecamuk. Pupus sudah harapannya selama ini untuk mendapatkan uang. Jika saja ia lolos, berkas dalam genggamannya akan ia urus hari ini juga agar uang yang ia butuhkan langsung cair dan segera ia bisa membeli barang yang ia butuhkan. Dompet Joy kosong. Entahlah, tugas kuliah benar-benar menguras isi dompetnya. Belum lagi kebanyakan perlombaan yang diikutinya haruslah membayar biaya pendaftaran. Joy tidak tau lagi harus bagaimana. Ia sudah mencoba bekerja di warteg dekat kossnya. Namun, ia tidak bisa mengatur waktu antara bekerja sebagai pencuci piring sekaligus harus mengerjakan tugas kuliah yang menumpuk. Jarak antara kampus dan koss yang lumayan jauh juga membuatnya kelelahan. Maklum, Joy mencari rumah koss yang harganya lebih murah. Sayangnya, sekalipun murah, jaraknya lumayan jauh.

Joy menghembuskan nafas berat. Kepalanya pusing. Ingin sekali ia berteriak mengeluarkan kekecewaannya. Pada siapa ia harus mengadu? Pada siapa ia harus meluapkan kesedihan yang dialaminya.

Adzan ashar berkumandang lantang dari masjid kampus. Joy masih berjalan perlahan. Ia tidak pernah lagi sholat. Ia merasa kalau sholat tidak akan merubah dirinya. Joy yang malang bahkan sudah lama tidak berwudhu. Tapi, kali ini berbeda. Suara adzan yang didengarnya membuat langkahnya terarah menuju masjid. Baru tersadar, Joy sedang duduk membuka sepatunya yang sudah usang di batas suci masjid. Joy juga mengikuti jamaah laki-laki yang mengantri untuk wudhu. Untunglah, Joy masih hapal caranya untuk berwudhu. Hingga akhirnya, dirinya menyadari seutuhnya bahwa dirinya berada pada shaf pertama. Joy ingin sekali meluapkan segalanya dari tiap gerakan sholat yang dilakukannya.

Setelah salam di rakaat terakhir. Joy menutup kedua wajahnya. Ia ingin sekali menangis tersedu saat itu juga. Kepala yang sebelumnya pusing jadi terasa ringan. Namun, suasana hatinya yang berkecamuk masih belum juga menjadi tenang.

Ya Allah, baru kali ini Joy sholat. Sudah lama. Mungkin sudah seminggu yang lalu atau dua minggu lalu terakhir sholat. Hidup ini berat Ya Allah. Berat sekali untuk setidaknya mendapatkan uang. Untuk setidaknya lulus, untuk setidaknya bisa menang lomba. Kenapa Ya Allah? Engkau masih belum memberikan kesempatan pada Joy untuk bisa menjadi seorang pemenang? Joy harus apa Ya Allah? Harus ngapain? Harus bagaimana? Supaya bisa sukses. Supaya bisa jadi kebanggaan orang tua. Punya uang banyak. Harus bagaimana?

Pada wajahnya yang masih tertutup, air mata Joy mengalir. Rasanya sudah lama sekali ia tak menangis setenang ini. Ya, sudah lama sekali. Setelah merasa cukup tenang. Joy beranjak dari tempat duduknya sambil menenteng tasnya.

“Kang! Kang! Ini map-nya ketinggalan!” seseorang berbaju rapi menyusul Joy yang sudah keluar dari tempat sholat.

“Eh iya, makasih ya,” ucap Joy pada lelaki itu lalu mengambil map berkasnya. Joy mengernyitkan dahi, rasanya ia kenal betul dengan lelaki itu. “Kok, kayak pernah ketemu ya?” tanya Joy.

Lelaki itu kemudian menyalami Joy, “saya Salim kang, dulu pernah dibantu akang waktu registrasi kampus,” jawabnya sambil tersenyum.

“Oh iya! Salim! gimana kuliahnya? sibuk apa sekarang?” Joy sumringah. Ia kembali teringat ketika dulu di himpunan membantu salah seorang adik tingkat untuk registrasi karena ada masalah pada berkas pendaftarannya.

“Alhamdulillah, kuliahnya lancar kang. Sekarang lagi ngajar nih kang. Kang Joy sibuk tidak? Kalau mau mah ikut yuk kang, kekurangan pengajar banget,” Salim cengengesan.

“Wah, boleh deh,”

“Tapi, ini mah relawan loh kang jadi ngga dibayar, dibayarnya oleh Allah saja,” Salim lagi-lagi cengengesan.

“Sip deh, sekarang nih?”

Sepanjang perjalanan menuju sekolah, Salim menceritakan tentang pendirian sekolah darurat. Disebut darurat karena memang sekolah ini mendadak sekali dibangun, oleh mahasiswa, karena kepedulian terhadap anak-anak dilingkungan sekitar yang masih belum bisa membaca dan menulis. Sedangkan kebanyakan anak membantu orang tuanya berdagang. Bagi Salim, membaca dan menulis itu modal bagi anak-anak agar nantinya bisa berdagang cerdas. Disekolah juga diajarkan caranya berdagang sendiri. Agar anak-anak menjadi mandiri kelak, begitu kata Salim.

Sekolah yang Salim tunjukkan bukanlah terlihat seperti sekolah. Tapi, sebuah rumah milik Pak RW yang dijadikan tempat belajar. Anak-anak berlarian menyambut Salim dan Joy. Mereka menyalami Salim dan Joy secara bergantian. Tak ayal, tangan Joy jadi basah karena anak-anak menyalami sekaligus mencium tangan Joy dengan mulut-mulut mungilnya. Joy tertawa kecil.

Joy memilih untuk duduk, menyaksikan bagaimana Salim mengajarkan anak-anak. Sejujurnya, Joy belum pernah sebelumnya berhadapan dengan anak kecil. Apalagi mengajar. Itu bukan passion, begitu kata Joy dalam hati. Tetapi, melihat anak-anak tertawa. Melihat Salim begitu antusias mengajar. Joy menjadi terharu. Ternyata masih banyak orang yang membutuhkan uluran tangan sesamanya. Anak-anak kecil itu membaca dengan semangat namun serius. Mereka benar-benar ingin bisa membaca dan menulis. Joy mengingat kondisinya dulu. Waktu kecil, Joy benar-benar susah diatur.

“Sekarang, Kak Joy mau mengajak kalian menggambar lho!” kata Salim sambil melirik Joy. Joy yang tadinya tengah melamun jadi terkaget.

“Asik euy menggambar!” anak-anak ribut. Mereka menatap Joy antusias.

Joy jadi geleng-geleng kepala. Harus ngajarin apanya nih? Akhirnya, Joy mengajarkan cara menggambar anak yang sedang menendang bola. Karena rata-rata anaknya adalah laki-laki yaang hobi main bola. Menggambar sambil tertawa, belum pernah Joy sebahagia ini. Karena selama ini ia hanya menggambar untuk tugas kuliah semata. Ia lupa, benar-benar lupa bahwa tugas kuliahnya bisa jadi bermanfaat diluar status “tugas”nya.

“Makasih nih Kang,” ucap Salim pada Joy, setelah dirinya dipanggil Pak RW.

“Seru ya ngajar, kapan-kapan saya datang lagi deh,” janji Joy.

“Wah! asik nih punya pengajar baru! Biasanya ada yang lain Kang, tapi lagi pada sibuk mengurusi berkas untuk dapat uang itu loh Kang,” kata Salim.

Joy terdiam, hanya ia yang tidak disibukkan oleh berkas yang sekarang masih dalam genggamannya. Joy kembali teringat bahwa ia tidak punya uang lagi. Ia bingung harus bagaimana.

“Oh iya Kang. Tadi Pak RW lagi cari orang untuk bantu dekorasi tempat acara. Katanya butuh orang untuk mewarnai background panggungnya. Tadi, Salim diminta cari mahasiswa yang jago gambar. Kang Joy bisa kan ya? Salim mah ngga bisa da,” Salim tertawa. “Dibayar kang ini mah, malah bakalan dikasih makan juga. Pak RW nya baik Kang. Baik pisan!”

Joy mengangguk semangat. “Bisa bisa!”

“Besok datang lagi aja Kang ke sini. Bareng sama Salim. Salim mah bantu-bantu sebar surat undangan ke warga,” ucap Salim.

Alhamdulillah… Terima kasih Ya Allah, bisa makan juga besok. Joy terharu. Ada hikmah ketika berkasnya tertinggal tadi di masjid.

“Ternyata, berkas itu punya banyak hikmah ya,” kata Joy tiba-tiba.

“Kenapa kang?” tanya Salim yang heran dengan ucapan Joy.

“Ngga… itu mah asal ngomong aja,” jawab Joy.

Mereka melangkang menuju masjid untuk sholat maghrib. Karena adzan telah berkumandang. Joy berjanji, dirinya tidak akan lagi tinggal sholat.

===============================

Selalu ada hikmah dari setiap kejadian.

Ketika apa yang kita inginkan, tidak jua kita dapatkan…

Mungkin Allah ingin memberikan apa yang kita butuhkan dan bisa dipastikan bahwa apa yang Allah pilihkan adalah yang terbaik…

Itulah mengapa kita di sini. Berdiri…

8:08 pm

3 Desember 2015

Bandung

Read Full Post »

Isyaratmu

Tangannya terus bergerak-gerak, jemarinya ikut pula menari. Bibirnya terlihat tengah bergumam. Bahasa Isyarat. Itu yang ia gunakan ketika berbincang denganku. Aku dengan pendengaran yang normal dan ia dengan segala keterbatasannya. Bagaimanapun dirinya, aku tetap mencintainya. Teringat olehku bibirnya yang mengucap kata tanpa bunyi seiring jemari tangannya yang terus bergerak, ia berkata kepadaku dengan tatapan penuh kasih sayang yang tulus bagai tak bernoda. “Aku tau dan kaupun tau bahwa aku tak bisa berbicara. Namun percayalah, meski mulut ini hanya mengeluarkan suara yang tak enak didengar dan hanya tangan ini yang mampu berkata-kata padamu. Percayalah bahwa hanya engkau yang aku cintai. Maafkan aku yang tak sempurna ini, tetapi cinta ini, kuharap sempurna untuk kubagi denganmu.” Dan dengan cepat, airmataku jatuh. Ku peluk dirinya erat. Tak ingin ku lepas cinta tulus itu, meski dari seseorang yang tak sempurna ini.  Ya, aku sungguh mencintainya.

===========================

Sejak kapan jadi cinta-cintaan? hahahaaa~

Ini tulisan udah lama berlumut di ’email keluar’. Entahlah di baca atau tidak oleh doi :”)

Akhirnya terpikir untuk unggah saja di wordpress supaya ada yang baca. Karena itulah tujuan tulisan diatas dibuat :”)

Read Full Post »

Gadis itu duduk diatas sofa, sambil memeluk bantal dan meletakkan kepalanya diatas bantal dengan nyaman. Matanya tak henti menatap tetesan hujan yang jatuh keatas tanaman di taman rumahnya. Tak ada yang lebih asik daripada meletakkan handphone melepaskan earphone dari kedua telinga kemudian mendengarkan suara hujan yang menenangkan dan menatap dedaunan dan rumput yang mengering terkena air hujan.

Berbulan-bulan sudah hujan tak turun. Hari ini, di Senin ini, hujan akhirnya tiba di tanah yang kering dan membutuhkan air. Melihat air hujan yang jatuh, seperti ada gerakan tersendiri dari rerumputan di luar sana. Mereka bersorak merayakan datangnya berkah. Rerumputan serta tanaman lainnya pasti bersyukur memuji Allah ta’ala atas karunia yang diberikan oleh-Nya.

Piiip! Piip! Piiip! Sebuah pesan masuk di handphone milik gadis yang masih termenung itu.

Kau ada di rumah Vie? Aku ikut berteduh ya!

Kemudian sebuah sticker kelinci berpayung menyertai isi pesan itu.

Aku tidak mengundangmu untuk berteduh di rumahku

Sticker seorang wanita berambut pirang tengah mengusir menyertai isi pesan balasannya.

Jahat sekali! Aku sudah ada di depan pagar rumah mu! Cepatlah buka!

Vie mengernyitkan dahi membacanya, tapi sejurus kemudian ia berlari kecil menuju pintu depan.

Dilihatnya dari balik jendela seorang wanita dengan payung rusak ditangan kiri dan handphone di tangan kanan tengah menunggu dengan tidak sabar. Pintu pagar terkunci rapat, ia tidak bisa masuk.

Vie menekan tombol di samping foto keluarga yang terpampang di dekat pintu masuk. Secara otomatis, kunci gerbang terbuka perlahan. Wanita diluar terburu-buru berlari menuju bagian depan pintu masuk yang berbentuk kanopi. Ia menepuk-menepuk tubuhnya yang kebasahan.

“Buka pintunya, Vie!” ucap wanita itu dengan nada yang memaksa.

“Sudah ku buka kok,” jawab Vie. Meski sebenarnya Vie membuka pintu sedang rantai pintu masih terpasang.

“Kamu ini, pelit sekali sih. Tenang saja! Tidak akan aku tagih tugasmu!”

Vie terdiam, sedang berpikir keras. Kalau ia biarkan masuk, maka wanita itu pasti akan menganggu harinya yang santai. Jika ia tidak dibiarkan masuk, kemudian kedua orangtuanya pulang, Vie pasti akan dimarahi habis-habisan karena tidak menghargai tamu. Harus ada taktik lainnya.

“Ada syarat yang harus kamu penuhi, Mar. Jika kamu menyanggupinya, kamu boleh masuk,” tawar Vie.

Mar mengernyitkan dahinya lagi. “Apa syaratnya?” tanyanya, ia mulai menggigil.

“Selama di dalam, kamu hanya diizinkan duduk di atas sofa ruang tengah. Hanya boleh berbicara padaku tentang hal yang penting saja, kau sanggup kan? Cukup mudah!” ucap Vie enteng.

Mar mendengus, dalam hatinya ia ngedumel. “Oke!” jawabnya tanpa pikir panjang.

****

“Vie, sekarang aku boleh bicara?” ucap Mar tanpa menatap Vie, ia masih menghangatkan tubuhnya di depan penghangat ruangan. Sudah satu jam berlalu sedangkan tak ada satu pun yang membuka mulutnya. Hanya secangkir teh hangat yang setia mengepulkan asapnya, Mar menyeruputnya perlahan.

“Kalau memang penting silakan,”

“Tentu saja ini penting,”

Hujan mulai mereda, tetapi masih enggan untuk pergi sehingga menyisakan gerimis. Rerumputan terlihat serperti bernafas lega, dirinya kembali dikuatkan.

“Bagaimana tugasmu? Sudah selesai?” Mar menatap Vie yang terlihat melamun.

“Tugas animasi? Sudah selesai dari 2 minggu yang lalu,”

“Lalu kenapa tidak masuk kelas lagi?”

“Ada hal yang lebih penting dari itu,” jawab Vie tanpa menatap wajah Mar yang agak marah.

“Seperti apa?”

“Menunggu hujan turun,”

Mar terdiam mendengar jawaban Vie. Mar baru menyadari, bahwa perkataan teman-temannya di kampus ternyata memang benar. Awalnya Mar sama sekali tidak percaya dan memilih menanyakan langsung pada Vie. Namun, entah sudah lama sekali Mar belum bertemu Vie di kelas. Bahkan ketika ia menelpon, Vie tidak menjawab. Maka dari itu, ia merasa beruntung ketika Vie membalas pesannya tadi.

Belum sempat Mar berkomentar, Vie tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya dan segera membuka pintu menuju taman. Mar terheran dan segera mengikutinya dari belakang. Vie berhenti sambil menghadap pagar samping sambil menatap rumah tetangganya.

Seseorang tengah bernyanyi. Suaranya sangat merdu. “Seperti biasa, Rondo of the house of sunflowers,” ucap Vie.

Mar tahu betul lagu yang satu itu.

“Mar, tetanggaku ini memiliki sebuah ke unikkan. Ketika hujan reda, ia akan bernyanyi lagi Rondo of the house of sunflowers, itulah alasan lainnya aku tidak masuk ke kelas. Hal penting semacam ini tidak boleh terlewatkan, karena musim hujan belum juga datang,” ungkap Vie kemudian terlihat menikmati lagu yang dinyanyikan tetangganya itu.

**

“Mar! bagaimana! Kemarin kamu bertemu dengan Vie kan?” seorang pria berambut gondrong menepuk bahu Mar.

“Iya aku bertemu dengannya,”

“Lalu? Dia akan masuk kelas lagi kan?” tanya pria itu lagi. Ketika ia mengangguk, rambut kuncir kudanya bergoyang-goyang.

“Tidak, dia akan pindah jurusan, ia tidak akan melanjutkan lagi kuliahnya di sini.”

“Benarkah?!” teriak pria itu tidak percaya. “Pindah jurusan? Ke mana?”

“Dia ingin menjadi seorang guru bagi anak-anak berkebutuhan khusus.”

Mar menyunggingkan senyum. Ia tau, pilihan Vie adalah yang terbaik baginya sendiri. Sebagai seorang teman, Mar harus merasa bangga. Meski Vie harus mengorbankan apa yang telah ia raih selama berkuliah, tapi seperti yang dikatakan oleh Vie bahwa ada hal lebih penting lainnya yang harus Vie lakukan.

**

“Mar, tetanggaku itu seorang tunanetra. Dulu aku masih bermain dengannya ketika kecil. Ia masih bisa melihat saat itu, meski penglihatannya agak kabur. Ia seringkali di ejek oleh teman sekelasku. Padahal, ia adalah orang yang sangat bersemangat. Menginjak SMP, ia mulai bersekolah di rumah. Entah mengapa, baru aku sadari, ia sering sekali menyanyi ketika hujan telah reda. Mar, aku ingin melanjutkan kuliahku di jurusan lain. Aku ingin menjadi seorang guru bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Membantu mereka.”

 

 

==================================

Tertawa sendiri, menangis sendiri…

Selama ini memang tak pernah dengan siapapun. Mengapa merasa kesepian?

Read Full Post »

Older Posts »