Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Sekelumit

Bismillahirahmanirrahim…

Alhamdulillah. I met with my lovely best friend since high school, Inggrid. We shared some stories of our struggle as fresh graduate and as newcomer in work environment. We knew that we also faced some plus and minus. Many time we could find difficulties, it made our heart becoming weak. Well that’s life, isn’t it? We could not prevent all of the problems, but we could deal with it, InsyaAllah…

Tentu saya berbahagia setelah berbulan-bulan tak berjumpa–meski sering menyapa lewat twitter–akhirnya saya bisa bertemu dengan sahabat saya. Percakapan kami tak jauh dari membicarakan aktivitas masing-masing. Karena kami saling percaya, satu sama lain mampu mendengarkan keluh kesahnya.

Kami sama-sama fresh graduate, well masih kah fresh? mungkin masih, karena baru setahun kurang kami lulus dari almamater masing-masing. Awalnya setelah skripsi selesai, berat beban di punggung terlepas begitu hebatnya, membuat diri jadi ringan. Sampai-sampai terlupa, ada dunia lain yang harus dimasuki setelah lulus dari perkuliahan.

“Selamat masuk ke dunia kerja!” begitu ungkap seorang teteh yang saya kenal baik, setelah mengabari bahwa saya telah lulus sidang skripsi. Saya dulu hanya menanggapi biasa saja, karena rencana saya saat itu adalah langsung lanjut S2 dengan berburu beasiswa. Namun, Allah ta’ala menuliskan takdir yang lain untuk saya sehingga akhirnya saya terjun payung pula dalam dunia kerja.

Saya dan Inggrid saling bercerita tentang kekhawatiran kami. Saya yang  khawatir karena baru saja akan pindah ke tempat kerja yang lain, yaitu sekolah yang baru dan Inggrid yang bercerita tentang sekelumit kisah antara dia dan koleganya. Lagi-lagi satu permasalahan yang menyatukan kami, kenyamanan. Iya ngga grids? Iyain aja ya hahahaa (In case Inggridious baca tulisan ini 🙂 )

Saya paling susah untuk merasa nyaman di awal menginjakkan kaki di lingkungan baru sebenarnya, namun saya yakin semua butuh proses sehingga kenyamanan itu bisa kita temukan, tapi dasar saya-nya kadang kurang sabar, jadi ingin segera cepat-cepat nyaman, kalau tidak nyaman maka saya akan pergi. Titik.

Apakah yang lain pula merasakan hal yang sama? Apakah mereka juga butuh adaptasi yang lama? Bagaimana untuk menumpas ketidaknyamanan yang dirasakan? Beragam pertanyaan muncul dalam benak saya. Saya sejujurnya merasa khawatir dengan lingkungan kerja yang baru. Khawatir saya tidak nyaman dan memilih untuk pergi dalam waktu yang terbilang singkat. Jika muncul rasa tidak nyaman itu bahkan saya jadi bertanya-tanya pada diri, apakah menjadi guru adalah keinginan saya? Meski dahulu ketika kuliah saya dapati bahwa mengajar adalah pekerjaan mulia yang mengasyikkan. Terutama berinteraksi dengan anak-anak.

Sambil menuliskan ini, saya jadi berpikir banyakkk…. begituuu banyaakk halll…

Ibu saya adalah seorang guru, begitu juga bapa. Ibu dan bapa bahkan telah lama mengajar. Saya yakin ada pula kesulitan yang dihadapi oleh ibu dan bapa. Namun memilih untuk tetap bertahan meski pahit. Aah… indah sekali… Ingin pula saya memiliki rasa kecintaan pada pekerjaan yang saya geluti. Ah din baru saja beberapa bulan dirimu bekerja, tapi sudah banyak mengeluh. hmm… keluhan ini jadi refleksi diri pula kedepannya….

Beberapa video pernah membuka mata saya tentang pekerjaan…

dan

Diri ini masih belum berpengalaman untuk menyikapi persoalan di lingkungan pekerjaan dari sisi manapun. Semoga Allah ta’ala mempermudah langkah saya dalam menghadapi masalah yang mungkin muncul, karena hidup tidak selamanya mulus.

Barangkali pekerjaan yang sekarang akan meninggalkan jejak yang baik bagi saya di masa depan. Sama seperti ketika saya mengajar murid pertama saya sejak bulan Januari. Pada awalnya sangat sulit sekali, hingga butuh adaptasi yang begitu lama. Hingga akhirnya saya mampu untuk dekat dengannya.

Keinginan saya masih sama, tahun depan saya sudah belajar lagi. Duduk di bangku kuliah… Entah akan terwujud atau tidak… Atau tiba-tiba berganti haluan… Wallahu’alam


6:42PM
23 Juni 2018
@ Rumah Pwk
Menghitung hari libur yang menipis. Diri ini malah mencari-cari tanggal merah pada kalender untuk bulan-bulan kedepannya.

Iklan

Read Full Post »

Bismillahirohmanirohim…

Let me quote one of someone’s words at the opening event ceremony that I’ve joined couple days ago.

“Ibarat air. Jika ia mengalir maka ia akan memberikan manfaat ketika melewati jalurnya. Sedangkan, jika air diam saja dalam suatu tempat atau wadah, maka air hanya akan berubah warna dan berbau. Seperti manusia yang bergerak mencari ilmu. Seperti para salafus shalih mereka pergi menuntut ilmu begitu jauh, dan ilmu itu bermanfaat bagi penerimanya.”

Baru saja berlalu beberapa hari yang penuh makna bagi diri saya. 10 hari yang bermakna dan membuat saya bermuhasabah tentang keadaan diri yang penuh ke-alpha-an ini.

Pada awalnya muncul keraguan untuk ikut, karena saya harus kembali ke Bandung sedangkan rumah masih menjadi tempat terenak untuk berpuasa dengan keluarga. Namun, ada suatu bagian dari acara yang sangat menarik bagi saya, yaitu tentang mempelajari Alquran dari suatu matan. Saya benar-benar membawa kepala saya yang masih kosong ke acara yang saya ikuti itu. Tanpa terlebih dahulu membaca referensi sehingga ada gambaran. Hingga sampailah pada hari-H yang ibaratnya saya menampung banyak air dengan gelas kaca saya yang masih kosong, ia meluber. Tak sanggup menampung semuanya.

Pada pematerian pertama saya benar-benar melongo, tidak mengerti satupun apa yang tengah dibahas. Ditambah lagi kitabnya berbahasa Arab, hingga saya yang belum pernah belajar bahasa Arab tetap melongo. Kecepatan penjelasan pemateri benar-benar ngebut, dan lagi teman-teman lain sudah ada yang memahami sehingga bisa menjawab pertanyaan dari pemateri dengan begitu lancar. MasyaAllah, ketika pematerian rasanya saya bagai butir debu di antara kumpulan benih emas yg bertebaran. Apa kabar kamu din?

Dari semua kemelongoan itu saya sadar. Saya tidak tau apa-apa.

Selama acara saya mempelajari qiroat dan matan. Itu merupakan pengalaman baru bagi saya. Meski banyak melongo, tetapi pada hari berikutnya saya mencoba berusaha mengikuti alurnya sedikit-sedikit. Dari sana pun saya baru menyadari bahwa ilmu memang harus dihafal untuk menjaganya. Itulah mengapa setiap peserta diharapkan untuk dapat menghafalkan materi agar ilmu yang diterimanya dapat ia jaga meski ia berada jauh dari bukunya.

Setiap hari, terutama pada Materi pertama yang dimulai selepas subuh, saya dibuat terkagum dengan Alquran. Banyak yang tidak saya ketahui ternyata. Ketika diri merasa sudah tau banyak, rasanya itu hanyalah kesombongan diri saja. Sesudah belajar pun saya merasa bahwa ilmu yang saya dapatkan itu ibarat saya mencelupkan jari keluasnya samudera kemudian mengangkat jari saya yang terkena air, nah, sebegitulah rasanya ilmu yang baru saya dapatkan. Hanya sanggup membasahi bahkan tidak setetespun ia jatuh. Sangat sedikit.

Lagi, saya tersadar untuk bersegera mendongkrak diri agar terus bergerak maju. Kerja boleh. Namun, menuntut ilmu di majelis harus tetap dilakukan. Saya jadi berkeinginan untuk dapat belajar banyak tentang Alquran. Jadi, ada yang mau bopong saya ke Mekah atau Madinah? Saya ingin sekali ke sana sejak lama. Berharap Mekah dan Madinah adalah kota di luar negeri yang dapat saya kunjungi pertama kali. Ah… saya hanya sanggup berdoa dan ikhtiar sekemampuan saya saja.

Hmm… Pada 10 hari itu pun saya bertemu dengan teman-teman yang baik hati. Mereka sangat ramah dan bersahaja sekali. Semoga saya dapat bertemu dengan mereka suatu saat nanti.

Ingin rasanya membagi banyak hal di sini. Tapi, sepertinya sekian saja curhatan saya tentang 10 hari yang penuh makna itu. Semoga Allah ta’ala memberikan usia panjang yang barokah untuk saya dan siapapun yang membaca ini…


13 Juni 2018
29 Ramadan 1439H
9:40PM
@ Rumah Purwakarta

Ramadan sudah dipenghujung waktu. Sedih rasanya harus melewati Ramadan. Alhamdulillah Allah ta’ala memberikan usia yang panjang kepada saya dan mengizinkan saya untuk bisa merasakan Ramadan tahun ini. Ramadan… ku kan rindu…

Read Full Post »

Jadi… Saya Introvert?

Saya dibuat tertawa dengan sebuah tulisan yang nyatanya “gue banget”. Tulisan itu berisi tentang karakteristik seorang yang introvert, dan saya menjadi berpikir bahwa sebenarnya saya ini memang introvert dan itu bukan merupakan sebuah kesalahan :’)

Ya, saya adalah seorang introvert

Ya, saya adalah seorang introvert

Hari ini saya surfing di internet tentang cerita orang-orang introvert dan ternyata apa yang mereka alami juga pernah saya alami dalam kehidupan. WAW! Suatu hari adik saya pun pernah berkata “dasar introvert” pada saya, saya tertawa super kencang karena apa yang dia sebut memang benar adanya. Adik saya ini memiliki kepribadian yang berbeda jauh dengan saya. Ia cenderung cerewet dan supel, ia seorang ekstrovert. Meski berbeda sangaaaattt jauuuhhh, kami tetap bisa bisa berinteraksi dengan baik. Yaiyalaaah we are family and I’m okay with that LOL! Sedikit bercerita tentang kehidupan saya di rumah. Kalau ibu menyuruh saya ke warung, di siang hari! harus jalan kaki keluar rumah! ditambah lagi harus melewati kumpulan ibu-ibu! maka saya akan teriak memanggil adik saya agar dia yang pergi hahahah~ XD Saya lebih memilih untuk berada di dapur saja, ngulek atau memotong bawang merah (meski akibatnya tangan jadi bau bawang) hahaha~ XD hingga saat ini ibu dan bapak tau bahwa saya adalah anaknya yang tidak mau keluar rumah apalagi ke warung atau sekedar mengirim kiriman makanan untuk tetangga (kecuali saya disuruh keluar dengan adik, maka saya akan mau pergi berdua dengannya, tapi teuteuppp dia yang kudu ngomong saya mah jinjing makanannya aja ahaha XD) Di lingkungan keluarga, bapak saya adalah orang yang paling bisa berinteraksi dengan orang lain, bahkan dengan manner  yang menurut saya luar biasa. Selain didukung oleh suara bapak yang kencang (kalau beliau memanggil saya dari halaman rumah, maka 4 rumah tetangga saya sanggup mendengar teriakan bapak saya itu LOL~ XD), bapak juga punya banyak pengalaman. Saya selalu menganggap bapak adalah contoh teladan yang baik, suatu hari saya juga ingin seperti bapak yang bisa berinteraksi dengan orang lain meski harus mencabut urat malu hihiii.

Most of the time, beberapa orang bilang pada saya “jangan malu, berani…” Dalam hati saya menjawab (ah saya cuma sanggup jawab dalam hati), “lha saya kagak malu, cuma ngerasa ngga penting aja makanya kagak ngomong dan kagak nanggepin-__-” tapi orang lain sering menganggap pendiamnya saya adalah sisi “pemalu” saya. Padahal di waktu-waktu tertentu saya bisa berani berbicara, bercerita banyak hal bahkan mengutarakan pendapat. Sayangnya di waktu tertentu itu, orang yang mengatakan “jangan malu” itu tidak ada. Jadi kalau ada yang bilang begitu, saya diamkan saja. You’ll see someday when I can speak up with my mouth, then you will realize how deep my thoughts are.

Honetsly...

Honestly…

“Keluar coba, jangan didaleeemmm terus meni jiga naon wae,” (ind- keluar coba, jangan di dalem terus kayak apaan aja). Kata itu selalu dilontarkan oleh beberapa orang yang dekat dengan saya, mereka selalu risih kalau saya ada di kamar dan terus berkutat dengan laptop atau goleran sambil baca buku atau nulis atau ngegambar dan semua itu saya lakukan diatas kasur kesayangan saya. Mau gimana lagi, itu udah posisi terwuenak untuk nonton, ngetik, baca dan gambar 😥 Ada sih saatnya saya mau keluar rumah tapi itu juga kalau sudah terlalu suntuk sama kegiatan di dalam rumah yang itu-itu aja. But, keluar rumah pun harus ada tujuannya, entah itu duduk-duduk di depan rumah atau cuma sekedar main sama si menel anak kucing punya bapak saya, secara itu kucing masih belum saya terima sebagai bagian dari keluarga saya kecuali bapak yang memang sayang sama si itu kucing (FYI, menel itu dalam bahasa sunda artinya anak gajah, jadi saya namai dia menel sebagai bentuk sarcasm LOL)

this picture describes my whole life

“Din, kok kamu beda banget sih aslinya sama yang di fesbuk,” beberapa orang juga pernah mengatakan kalimat ini kepada saya. Orang pertama adalah teman SMP saya, dia tau kalau di fesbuk saya yang lama (sekarang udah di deactivated untuk menghilangkan jejak ke-ALAY-an masa labil) saya sering sekali curhat, nulis puisi dan juga bikin cerita pendek. Mungkin dia pula heran ketika saya membalas pesan dari teman-teman saya menggunakan banyak emoticon sehingga dia mengira saya orang yang “asyik” se-asyik emoticon yang saya gunakan. Kalau boleh jujur, bagi teman dekat saya yang merupakan sahabat dekat seperti Inggrid dan Novia (sahabat SMA saya), mereka ini tau banget kalau saya sebenarnya orang yang seru, namun begitulah… saya harus dekat dulu dengan seseorang baru bisa membuka diri tentang saya yang sesungguhnya. I always observe people before interact with them. It usualy takes time for me to open up myself. I don’t want people to think of me as a weirdo, but being like that make them think of me as a weirdo indeed.

966f9379afb2a9167911d8f902d62341--introvert-problems-isfp-problems

I’m not fake

Saya bangga jadi introvert? Lah introvert tuh kepribadian bukan sesuatu pencapaian -__-‘ Saya selalu kagum malah dengan orang ekstrovert, yang bisa menghibur orang-orang dengan caranya sendiri, mereka yang bisa mengumpulkan banyak orang dan tanpa segan berbicara di depan umum. Well… introvert dan anti-sosial itu beda guys. Dan saya akui saya mah ngga mau jadi seseorang yang anti-sosial. Meski suka untuk sendirian, tapi ada saatnya saya butuh orang lain meski cuma duduk disamping saya tanpa bicara sepatah kata pun, cuma duduk. Saya tidak terlalu suka atensi dari orang lain, jadi saya terkesan tidak peduli padahal aslinya saya peka juga sih, in certain time. Saya paling suka menghabiskan waktu menggambar meski itu sampai malam, tapi kalau kebanyakan gambar ya saya lelah juga (rekor terbanyak ketika teman-teman pada wisuda dan saya kudu buat kartu ucapan dalam sehari semalam). Berada dilingkungan yang terlalu banyak orang membuat saya uneasy alias gelisah, ingin segera pulang dan memeluk guling, sekalinya pulang saya langsung tiduran di kasur buat menyenangkan hati saya pribadi LOL. Aneh? iya! tapi itu kenyataannya hmm… dan mungkin tidak banyak yang mengerti keadaan saya sehingga judge jelek sering saya terima. But it’s okay, they said and think that I’m shy, quite, spiritless because they don’t know me well…

Meski begini adanya, saya juga berharap suatu hari nanti saya tidak menjadi “pemalu” yang kata orang-orang itu. Saya bisa lebih terbuka pada siapapun untuk mengutarakan sesuatu. Someday insyaAllah, I need more time…

———————————————————————————————————————-
8:28pm
15 Maret 2018 – Kamis
@Bandung
Ketika relaxing sunday mornings list songs saya dengarkan sedangkan ini malam jumat LOL

Read Full Post »

Untukmu yang Berapi-api

Bismillah…

Sore ini gerimis telah mereda dari kota tempatku tinggal. Sudah 4 tahun lebih aku berada di sini. Kota yang sempat aku tangisi karena harus jauh dari keluarga, tapi ternyata menyimpan banyak kenangan pula setelah bersamanya.

“Semua butuh proses din,” itu yang selalu aku katakan pada diri sendiri. Bahwa semua aktivitas yang dijalani butuh proses. Aku memang begini, ingin segalanya instant. Hingga sampailah Allah subhanahu wata’ala mengingatkanku lewat berbagai peristiwa. Membelajarkan aku untuk tahu bahwa diri ini perlu banyak bersabar dan bersyukur. Menjadi seseorang yang disebut sebagai mukmin, “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2999 dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu).

Ini merupakan tulisan pertama di tahun 2018, aku harapkan dapat ku baca lagi di kemudian hari agar aku ambil pelajaran darinya. Apakah kamu termasuk orang yang juga senang membaca tulisan yang terdahulu? Selamat! kita sama!

Untukmu yang berapi-api.

Kutuliskan kalimat itu, karena aku sedang berapi-api. Oh! tubuhku secara harfiah sedang tidak terbakar. Namun, semangatku yang saat ini tengah bergelora. Karena apa? Karena aku sedang berikhtiar menggapai keinginanku yang sudah sejak lama tertanam, bahkan sempat ku rasakan gagal di tahun lalu.

“Aku mah kangen kuliah…” begitu ucapku pada teman. Ada yang menjawab sedikit berbeda, “aku mah capek. Sudah cukup skripsi yang kemarin. Nanti lagi aja sekarang mah kerja dulu aja cari uang sendiri, bahagiain orang tua…” Ooh, kata-katanya membuka perlahan pikiranku. “Kerja?” aku bertanya pada diriku sendiri. Iya aku juga ingin bekerja, ingin bisa memberikan sesuatu untuk kedua orang tua yang selalu memberi tanpa pamrih kepadaku. Tapi, ada mimpi yang ingin aku raih setelah kelulusan kuliahku juga. Apakah bisa bekerja sambil mengejar impianku ini? Serangkaian pertanyaan mampir dipikiranku. Baru ku sadari, menjadi orang dewasa itu ada juga tidak enaknya ya… Banyak pertimbangan. Namun, kemudian Allah tunjukkan jalan bagiku agar dapat melalui keduanya. Bekerja sambil sedikit demi sedikit ikhtiar untuk mencapai impianku. Beruntung, kedua orang tua sangat mendukungku. Ibu dan bapak selalu menyemangatiku, dan itu membuat aku terharu.

Untukmu yang berapi-api.

Pada akhirnya Allah subhanahu wata’ala menempatkan aku pada sebuah pekerjaan yang disitu aku diuji kesabarannya. Setelah lebih dari seminggu kulalui, aku mulai jatuh hati pada murid yang selalu bersamaku itu. Semakin aku mengajarinya, semakin aku sadar ilmuku tak begitu cukup untuk mengenalnya lebih. “Aku ingin belajar lagi… di bangku kuliah… bersama guru…” itu yang aku ucapkan pada diriku.

Hari demi hari aku lalui tentu dengan menghitung jarak hari ini dan deadline untuk menggapai impianku itu. Jantungku sempat berdebar tak karuan saat ku lihat sederet pengumuman khusus untuk tahun ini. “Ya Allah…” aku memanggil-Nya dengan jantung yang masih berdebar itu. “Ya Allah… semoga ini rezeki yang Engkau tuliskan untuk hamba-Mu ini yang ingin belajar lagi…” kalimat itu yang terlontar dari hatiku. Allah subhanahu wata’ala yang selalu ada. Tak pernah tidur mengurusi makhluk-Nya. Allah subhanahu wata’ala yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Allah yang Maha Mendengar, Maha Melihat serta Maha Mengetahui.

Untukmu yang berapi-api.

Aku tidak tau apa yang akan terjadi padaku di masa depan. Tapi, yang aku jalani adalah hari ini. Aku tidak ingin menyiakannya… Ku dapati diriku sekarang masih berapi-api untuk mempersiapkan segalanya… mental, fisik dan… hati…

Semoga jika benar telah ku dapatkan mimpiku itu, semoga aku tak banyak mengeluh diluaran sana. Namun, banyak bersyukur dan bersabar atas apa yang telah Allah subhanahu wata’ala telah tuliskan untukku dalam jalan takdir yang memang harus aku lalui. “Bersemangatlah!” itu yang ingin aku katakan pada diriku di masa depan yang mungkin sedang membaca tulisan ini. “Bersemangatlah! ingatlah hari-hari yang kau habiskan untuk mengumpulkan semangat, mengangkat kedua tanganmu dan bermunajat dengan doa yang sama setiap harinya. Bersemangatlah! ingatlah agar segala aktivitasmu ini Allah ta’ala ridhoi.

“Adinda… pastikanlah bahwa apa pun yang kau kerjakan, Allah meridhoinya… Maka luruskanlah niat dari setiap aktivitas yang kau jalani yaa… Karena dunia hanya sementara” itulah serangkaian kalimat yang aku tuliskan pada selembar kertas, kemudian ku tempel di dinding kamar. Bagi diri yang selalu lupa, dan selalu ingin mengingat tujuan hidupnya di dunia.

Untukmu yang Berapi-api.

“Lakukanlah sebaik-baik ikhtiar. Lantunkan sekhusyuk-khusyuk doa. Libatkan Allah dalam segala perkara. Lalu, yakinlah Allah yang Maha Baik itu takkan tega membuat hamba yang mengharapkan keridhoan-Nya kecewa. Pasti Allah beri dengan yang terbaik disisi-Nya dan ketahuilah apa yang di sisi Allah itu lebih utama kebaikannya.” seorang teteh nan baik hati yang selalu berbagi pesan bermakna lewat status WA-nya memposting kata-kata ini. Diri ini diingatkan kembali. Tersentuh akan kebaikan Allah ta’ala lewat makhluk-Nya untuk mengingatkan diri yang penuh ke-alpha-an ini.

Untukmu pula yang tengah terpuruk, karena urusan dunia.

Semoga dirimu ingat, bahwa Allah berkuasa atas segala sesuatu, mintalah kepada-Nya kemudahan, Ia Maha Mengetahui. Tanyakan pada diri, sudahkah bermunajat pada-Nya?

 

 


5:55pm
12 Februari 2017 – Senin
@ Bandung
Bersama deru kendaraan yang terdengar dari kamar

Read Full Post »

Bukan Genggengan

Bismillah…

Apakah menulis ini disebut terburu? tentu tidak… karena diri ini berharap memori hari ini tidaklah luntur… juga, sedikit ingatan tentang awal bertemu…

Pernahkah kalian bertemu teman-teman yang tak diduga hingga kemudian bersamanya menjalani hari-hari? Ya, aku pernah…
Aku tidak pernah lupa saat itu temanku Diska melontarkan senyumnya padaku… senyum terbaik kala itu ketika aku masih mahasiswa baru… sosok Diska dulu belum pernah aku lihat karena yang aku ingat, Diska tidak masuk kuliah selama seminggu karena sakit. Hingga suatu hari seorang perempuan berjilbab panjang duduk membelakangiku. Ketika dia menoleh padaku, dia tersenyum…

Aku tidak pernah lupa, saat seorang teman bersuara lembut menyapaku. Anggi namanya… Dia pernah bilang bahwa aku pernah mengatakan padanya kalau gantungan kunci yang dipakainya di tas begitu ramai hingga mengeluarkan suara nyaring ketika ia berjalan… Aku paling senang jika berkunjung ke rumahnya, karena dia selalu menyediakan makanan enak untuk dimakannnnn!

Aku tidak pernah lupa, saat seseorang yang wajahnya mirip denganku (bahkan orang lain selalu salah panggil) itu juga memiliki banyak kesamaan denganku… anime, manga, detektif-detektifan. Hingga akhirnya berbagi banyak cerita. Aku sangat menyukai ketika mendengar banyak ceritanya dan dengannya aku bisa banyak berbicara… Indah namanya… kunjungi wordpress serunya di ispasier.wordpress.com

Aku tidak pernah lupa, seorang teman yang aku pangil Jannah itu sering aku kunjungi kossannya dan paling sering mengajak aku menginap. Padahal kami sungguh berbeda sekali, tapi semakin hari diri ini menyadari bahwa mendengar ceritanya dan celotehannya selalu buat tertawa… Ada hal unik pada dirinya, yaitu caranya berpikir dan memandang sesuatu… kunjungi wordpress berfaedahnya di enje14.wordpress.com

Suka… duka… hal absurd juga sering kita bagi bersama… ah rasanya banyak hal yang patut disyukuri karena aku dipertemukan dan dipersaudarakan dengan kalian…

Meski masing-masing memiliki sahabat dan teman lainnya… kita tetap menjadi bagian dari “bukan genggengan”…. iya “bukan genggengan” karena kita memang bukan geng… tapi yang entah apa selalu bersama dan ingin bersama…

Setelah hampir satu tahun sudah tidak berkumpul berlima, akhirnya hari ini jadi juga… kalimat yang terucap malah… “kira-kira kapan ya kita bisa kumpul begini lagi?” ya… wallahu’alam… :’) namun semoga suatu hari yang entah kapan itu, kita dipertemukan pula seperti hari ini… Meski hanya hitungan jam… :’)

Alhamdulillahirabil’alamin…

IMG-20170901-WA0005

Sebenarnya aku terharu waktu kalian sampai nyusul ke kossan untuk kasih mahkota kembang2an beserta kembang kertas… (habis sidang ngibrit ingin segera pulang karena lebaran hajiii esok hariii)

Jpeg

11 Desember 2017. Semoga bukan menjadi moment terakhir kita.

Read Full Post »

002

Pohon Nangka berdiri tegak di halaman depan rumahku. Rasanya sudah hampir 11 tahun ia tumbuh meski sempat batangnya patah karena terlalu banyak menopang buah yang terlanjur dihasilkannya. Pohon itu berbatang coklat, berdaun hijau dan seringkali tumbuh tunas diantara rantingnya. Buahnya selalu muncul bergerumul di tempat tertentu pada bagian tubuhnya. Pohon nangka ini berbeda dari pohon nangka lainnya yang tumbuh menjulang tinggi keatas, pohon nangka satu ini begitu rendah, jika dibandingkan dengan pohon jambu batu disampingnya, ia kalah tinggi… itulah gambaran pohon nangka yang pernah aku tanam 11 tahun lalu.

Dapat aku katakan bahwa pohon nangka ini lebih bersejarah bagiku pribadi daripada pohon lainnya yang ada di halaman rumahku. Karena ia kudapatkan sendiri seusai Konferensi Anak Bobo yang aku hadiri di tahun 2006 lalu, ketika aku masih kelas 6 SD. Saat itu aku pergi ke Jakarta bersama bapak, beberapa hari berkenalan dengan teman-teman dari penjuru Indonesia lainnya untuk menghadiri Konferensi Anak tersebut. Pada hari terakhir, setelah Konferensi Anak dilaksanakan, Bobo–panggillah begitu—membagikan satu bibit pohon nangka untuk masing-masing delegasi. Hingga saat itu akhirnya dari Jakarta hingga kota Purwakarta, aku dan bapak membawa bibit pohon nangka yang sebenarnya sudah cukup besar. Jika diimajinasikan sebagai seorang manusia, pohon nangka yang aku dan Bapak bawa itu seumuran anak TK. Kecil namun siap untuk tumbuh.

Esoknya, bapak meminta seseorang menggali lubang yang cukup dalam untuk menanam pohon nangka kecil itu. Akhirnya lubang itulah yang menjadi tempat tumbuhnya hingga saat ini. Hampir setiap sore aku menyiramnya ketika ia masih kecil, namun kini aku tidak menyiramnya lagi, karena ia telah memiliki akar yang kuat untuk mendapat asupan makanan yang ia butuhkan.

Seringkali ku lihat ketika musim berbuah tiba, ia mengeluarkan begitu banyak calon buah nangka yang akan membesar, hingga bergerumul menutupi batangnya. Ia seperti memperlihatkan bahwa ia telah dewasa dan bisa menghasilkan banyak buah untuk keluarga kami makan bersama nantinya.

Aku rasa… ketika bahkan melihatnya berbuah, aku masih kalah dibandingkan dengan pohon nangka ini… Aku yang kini sudah beranjak dewasa masih belum menghasilkan “buah” sendiri yang juga dapat dinikmati oleh orang lain. Allah ta’ala selalu menunjukkan caranya membelajarkan diri ini untuk lebih bermanfaat bagi orang lain, meski dari sebatang pohon nangka bersejarah itu… Allah ta’ala selalu membelajarkan manusia melalui makhluk lainnya, asalkan manusia itu mau untuk melihat sekeliling kemudian tadabbur atas apa yang dilihatnya…

Pohon nangka itu membelajarkan aku untuk dapat juga bersegera menghasilkan buah, meski batang sempat patah… meski diri ini sempat menyerah… suatu hari… iya… suatu hari, apa yang diimpikan akan jua tercapai… with Allah ta’ala by my side nothing is impossible

Pohon nangka itu dulu sempat berbuah sangat kecil, namun kemudian entah mengapa buah itu mati dan ia hampir tak pernah menghasilkan buah setelah itu… namun bertahun kemudian ia kembali berbuah, malah lebih banyak dan rasa buahnya terbilang manis…

Seseorang seperti aku yang bahkan bisa bergerak, seakan kalah dengan perjuangan pohon nangka. Aku yang kini… tengah membandingkan diriku dengan sebatang pohon nangka, agar aku dapat belajar bahwa manusia juga kelak harus “berbuah” entah apa bentuknya…

Aku begitu berterimakasih pada Bobo yang saat itu memberikan hadiah bibit pohon nangka… karena selain bisa dinikmati hasilnya… pohon nangka itu juga membelajarkan aku banyak hal…

Teman… aku harap kita semua dapat juga mengahasilkan buah… ranum, manis, dan orang lain yang menikmatinya berbahagia karenanya…

Jangan pernah lupa… semoga tidak akan pernah lupa… bahwa Allah ta’ala Maha Mendengar doa hamba-Nya… Maha Melihat atas apa yang telah diperjuangkan hamba-Nya…

————————————————————————————————–
9:09 pm
Rabu, 1 November 2017
@Purwakarta
Gambar itu saya buat di kertas yang berbeda, jadi begitulah haha :’)

Read Full Post »

Anak-Anak Dandelion

o-DANDELION-facebook.jpg

Bismillah…

Dulu dari Majalah Bobo saya pernah membaca sebuah cerita yang saya masih ingat bahkan hingga sekarang, yaitu tentang Ibu Dandelion yang melepaskan anak-anaknya untuk pergi mencari tempat tumbuh lain bagi mereka.

Ceritanya sangatlah singkat. Sebuah Dandelion hidup ditengah padang, hendak melepaskan anak-anaknya pergi. Diantara anak-anak tersebut ada yang sangat takut untuk mencoba terbang bersama angin. Anak dandelion ini sangat takut untuk lepas dari ibunya. Hingga sang ibu berkata, sudah tiba saatnya untuk sang anak mencari tempat tumbuh lain baginya, sudah merupakan takdir bagi anak-anak yang siap tumbuh untuk beranjak pergi dari tempat ia tumbuh bersama ibunya. Anak dandelion tersebut meragu, karena ia sama sekali tidak tau, darimana ia bisa tau bahwa tempatnya nanti adalah tempat terbaik baginya untuk tumbuh. Kemudian sang ibu dandelion meyakinkan anaknya tersebut bahwa angin akan terus menemaninya mencari tempat tumbuh yang terbaik baginya. Pada akhirnya, dengan keterpaksaan karena angin berhembus begitu kencang, anak dandelion berat hati terbang menjauh dari ibunya. Perjalanan ia lalui seperti seorang penjelajah, ia bertemu dengan kereta api dan temuan lainnya yang membuat ia tau bahwa dunia ini bukan sebatas tempat ia tumbuh di padang luas. Perjalanan akhir tersebut membuat anak dandelion menyadari, bahwa dandelion pasti akan selalu terbang bersama angin dan menemukan tempatnya tumbuh. Hingga saatnya nanti, anak dandelion beranjak menjadi ibu dandelion, ia pun akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh ibunya. Melepaskan anak-anak dandelion untuk kembali mencari tempat tumbuh dan belajar dari perjalanan yang dilaluinya bersama hembusan angin.

Sejak saat saya membaca cerita itu, saya jadi “aware” (ciyyee aware~) jika ada dandelion yang terbang. Saya bantu dengan mengibas-ngibaskannya untuk kembali terbang lebih tinggi, atau sekedar saya tiup agar ia kembali terbang mencari tempat tumbuh terbaik baginya.

Tetapi… hikmah lain yang sebenarnya mengena adalah, bahwa pasti manusia akan melakukan hal yang sama pula. Ia harus pergi dari kenyamanan hidup bersama orang tua. Pergi ke suatu tempat untuk belajar banyak hal dari apa yang ditemuinya… sama seperti anak dandelion yang terbang bersama angin. Anak manusia akan terus melangkah menjauh pergi dari tempat asalnya, berhijrah… berpindah ke tempat lain… Selama perjalanan yang dilalui pasti akan ada halang melintang yang menjadikan itu ujian. Namun… ada Allah ta’ala yang tak pernah tidur mengurusi makhluk-Nya pasti akan membantu langkah itu untuk terus bergerak maju… Allah ta’ala tidak akan pernah membebankan sesuatu melebihi kemampuan hamba-Nya… sebagai seorang makhluk yang lemah kita pula tak bisa mengandalkan kemampuan sendiri…

Diri ini pun merasa masih harus terus ingat untuk mengandalkan ketentuan Allah ta’ala, berdoa dan berikhtiar… agar Allah ta’ala ridho… Siapa sih yang tidak ingin di cintai oleh Allah subhanahu wata’ala?

Suatu hari pun saya akan terbang pergi, ke tempat lain yang akan menjadi tempat tumbuh bagi saya menjadi pribadi yang baru… rasa khawatir? tentu hadir… Namun, saya yakin Allah ta’ala akan menolong saya dalam setiap urusan yang saya lakukan di mana pun  saya berada… InsyaAllah…


3:36 pm
Di asrama seorang teman @ Bandung
Ketika hujan yang turun belum mereda

Read Full Post »

Older Posts »