Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Bukan Genggengan

Bismillah…

Apakah menulis ini disebut terburu? tentu tidak… karena diri ini berharap memori hari ini tidaklah luntur… juga, sedikit ingatan tentang awal bertemu…

Pernahkah kalian bertemu teman-teman yang tak diduga hingga kemudian bersamanya menjalani hari-hari? Ya, aku pernah…
Aku tidak pernah lupa saat itu temanku Diska melontarkan senyumnya padaku… senyum terbaik kala itu ketika aku masih mahasiswa baru… sosok Diska dulu belum pernah aku lihat karena yang aku ingat, Diska tidak masuk kuliah selama seminggu karena sakit. Hingga suatu hari seorang perempuan berjilbab panjang duduk membelakangiku. Ketika dia menoleh padaku, dia tersenyum…

Aku tidak pernah lupa, saat seorang teman bersuara lembut menyapaku. Anggi namanya… Dia pernah bilang bahwa aku pernah mengatakan padanya kalau gantungan kunci yang dipakainya di tas begitu ramai hingga mengeluarkan suara nyaring ketika ia berjalan… Aku paling senang jika berkunjung ke rumahnya, karena dia selalu menyediakan makanan enak untuk dimakannnnn!

Aku tidak pernah lupa, saat seseorang yang wajahnya mirip denganku (bahkan orang lain selalu salah panggil) itu juga memiliki banyak kesamaan denganku… anime, manga, detektif-detektifan. Hingga akhirnya berbagi banyak cerita. Aku sangat menyukai ketika mendengar banyak ceritanya dan dengannya aku bisa banyak berbicara… Indah namanya… kunjungi wordpress serunya di ispasier.wordpress.com

Aku tidak pernah lupa, seorang teman yang aku pangil Jannah itu sering aku kunjungi kossannya dan paling sering mengajak aku menginap. Padahal kami sungguh berbeda sekali, tapi semakin hari diri ini menyadari bahwa mendengar ceritanya dan celotehannya selalu buat tertawa… Ada hal unik pada dirinya, yaitu caranya berpikir dan memandang sesuatu… kunjungi wordpress berfaedahnya di enje14.wordpress.com

Suka… duka… hal absurd juga sering kita bagi bersama… ah rasanya banyak hal yang patut disyukuri karena aku dipertemukan dan dipersaudarakan dengan kalian…

Meski masing-masing memiliki sahabat dan teman lainnya… kita tetap menjadi bagian dari “bukan genggengan”…. iya “bukan genggengan” karena kita memang bukan geng… tapi yang entah apa selalu bersama dan ingin bersama…

Setelah hampir satu tahun sudah tidak berkumpul berlima, akhirnya hari ini jadi juga… kalimat yang terucap malah… “kira-kira kapan ya kita bisa kumpul begini lagi?” ya… wallahu’alam… :’) namun semoga suatu hari yang entah kapan itu, kita dipertemukan pula seperti hari ini… Meski hanya hitungan jam… :’)

Alhamdulillahirabil’alamin…

IMG-20170901-WA0005

Sebenarnya aku terharu waktu kalian sampai nyusul ke kossan untuk kasih mahkota kembang2an beserta kembang kertas… (habis sidang ngibrit ingin segera pulang karena lebaran hajiii esok hariii)

Jpeg

11 Desember 2017. Semoga bukan menjadi moment terakhir kita.

Iklan

Read Full Post »

002

Pohon Nangka berdiri tegak di halaman depan rumahku. Rasanya sudah hampir 11 tahun ia tumbuh meski sempat batangnya patah karena terlalu banyak menopang buah yang terlanjur dihasilkannya. Pohon itu berbatang coklat, berdaun hijau dan seringkali tumbuh tunas diantara rantingnya. Buahnya selalu muncul bergerumul di tempat tertentu pada bagian tubuhnya. Pohon nangka ini berbeda dari pohon nangka lainnya yang tumbuh menjulang tinggi keatas, pohon nangka satu ini begitu rendah, jika dibandingkan dengan pohon jambu batu disampingnya, ia kalah tinggi… itulah gambaran pohon nangka yang pernah aku tanam 11 tahun lalu.

Dapat aku katakan bahwa pohon nangka ini lebih bersejarah bagiku pribadi daripada pohon lainnya yang ada di halaman rumahku. Karena ia kudapatkan sendiri seusai Konferensi Anak Bobo yang aku hadiri di tahun 2006 lalu, ketika aku masih kelas 6 SD. Saat itu aku pergi ke Jakarta bersama bapak, beberapa hari berkenalan dengan teman-teman dari penjuru Indonesia lainnya untuk menghadiri Konferensi Anak tersebut. Pada hari terakhir, setelah Konferensi Anak dilaksanakan, Bobo–panggillah begitu—membagikan satu bibit pohon nangka untuk masing-masing delegasi. Hingga saat itu akhirnya dari Jakarta hingga kota Purwakarta, aku dan bapak membawa bibit pohon nangka yang sebenarnya sudah cukup besar. Jika diimajinasikan sebagai seorang manusia, pohon nangka yang aku dan Bapak bawa itu seumuran anak TK. Kecil namun siap untuk tumbuh.

Esoknya, bapak meminta seseorang menggali lubang yang cukup dalam untuk menanam pohon nangka kecil itu. Akhirnya lubang itulah yang menjadi tempat tumbuhnya hingga saat ini. Hampir setiap sore aku menyiramnya ketika ia masih kecil, namun kini aku tidak menyiramnya lagi, karena ia telah memiliki akar yang kuat untuk mendapat asupan makanan yang ia butuhkan.

Seringkali ku lihat ketika musim berbuah tiba, ia mengeluarkan begitu banyak calon buah nangka yang akan membesar, hingga bergerumul menutupi batangnya. Ia seperti memperlihatkan bahwa ia telah dewasa dan bisa menghasilkan banyak buah untuk keluarga kami makan bersama nantinya.

Aku rasa… ketika bahkan melihatnya berbuah, aku masih kalah dibandingkan dengan pohon nangka ini… Aku yang kini sudah beranjak dewasa masih belum menghasilkan “buah” sendiri yang juga dapat dinikmati oleh orang lain. Allah ta’ala selalu menunjukkan caranya membelajarkan diri ini untuk lebih bermanfaat bagi orang lain, meski dari sebatang pohon nangka bersejarah itu… Allah ta’ala selalu membelajarkan manusia melalui makhluk lainnya, asalkan manusia itu mau untuk melihat sekeliling kemudian tadabbur atas apa yang dilihatnya…

Pohon nangka itu membelajarkan aku untuk dapat juga bersegera menghasilkan buah, meski batang sempat patah… meski diri ini sempat menyerah… suatu hari… iya… suatu hari, apa yang diimpikan akan jua tercapai… with Allah ta’ala by my side nothing is impossible

Pohon nangka itu dulu sempat berbuah sangat kecil, namun kemudian entah mengapa buah itu mati dan ia hampir tak pernah menghasilkan buah setelah itu… namun bertahun kemudian ia kembali berbuah, malah lebih banyak dan rasa buahnya terbilang manis…

Seseorang seperti aku yang bahkan bisa bergerak, seakan kalah dengan perjuangan pohon nangka. Aku yang kini… tengah membandingkan diriku dengan sebatang pohon nangka, agar aku dapat belajar bahwa manusia juga kelak harus “berbuah” entah apa bentuknya…

Aku begitu berterimakasih pada Bobo yang saat itu memberikan hadiah bibit pohon nangka… karena selain bisa dinikmati hasilnya… pohon nangka itu juga membelajarkan aku banyak hal…

Teman… aku harap kita semua dapat juga mengahasilkan buah… ranum, manis, dan orang lain yang menikmatinya berbahagia karenanya…

Jangan pernah lupa… semoga tidak akan pernah lupa… bahwa Allah ta’ala Maha Mendengar doa hamba-Nya… Maha Melihat atas apa yang telah diperjuangkan hamba-Nya…

————————————————————————————————–
9:09 pm
Rabu, 1 November 2017
@Purwakarta
Gambar itu saya buat di kertas yang berbeda, jadi begitulah haha :’)

Read Full Post »

Anak-Anak Dandelion

o-DANDELION-facebook.jpg

Bismillah…

Dulu dari Majalah Bobo saya pernah membaca sebuah cerita yang saya masih ingat bahkan hingga sekarang, yaitu tentang Ibu Dandelion yang melepaskan anak-anaknya untuk pergi mencari tempat tumbuh lain bagi mereka.

Ceritanya sangatlah singkat. Sebuah Dandelion hidup ditengah padang, hendak melepaskan anak-anaknya pergi. Diantara anak-anak tersebut ada yang sangat takut untuk mencoba terbang bersama angin. Anak dandelion ini sangat takut untuk lepas dari ibunya. Hingga sang ibu berkata, sudah tiba saatnya untuk sang anak mencari tempat tumbuh lain baginya, sudah merupakan takdir bagi anak-anak yang siap tumbuh untuk beranjak pergi dari tempat ia tumbuh bersama ibunya. Anak dandelion tersebut meragu, karena ia sama sekali tidak tau, darimana ia bisa tau bahwa tempatnya nanti adalah tempat terbaik baginya untuk tumbuh. Kemudian sang ibu dandelion meyakinkan anaknya tersebut bahwa angin akan terus menemaninya mencari tempat tumbuh yang terbaik baginya. Pada akhirnya, dengan keterpaksaan karena angin berhembus begitu kencang, anak dandelion berat hati terbang menjauh dari ibunya. Perjalanan ia lalui seperti seorang penjelajah, ia bertemu dengan kereta api dan temuan lainnya yang membuat ia tau bahwa dunia ini bukan sebatas tempat ia tumbuh di padang luas. Perjalanan akhir tersebut membuat anak dandelion menyadari, bahwa dandelion pasti akan selalu terbang bersama angin dan menemukan tempatnya tumbuh. Hingga saatnya nanti, anak dandelion beranjak menjadi ibu dandelion, ia pun akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh ibunya. Melepaskan anak-anak dandelion untuk kembali mencari tempat tumbuh dan belajar dari perjalanan yang dilaluinya bersama hembusan angin.

Sejak saat saya membaca cerita itu, saya jadi “aware” (ciyyee aware~) jika ada dandelion yang terbang. Saya bantu dengan mengibas-ngibaskannya untuk kembali terbang lebih tinggi, atau sekedar saya tiup agar ia kembali terbang mencari tempat tumbuh terbaik baginya.

Tetapi… hikmah lain yang sebenarnya mengena adalah, bahwa pasti manusia akan melakukan hal yang sama pula. Ia harus pergi dari kenyamanan hidup bersama orang tua. Pergi ke suatu tempat untuk belajar banyak hal dari apa yang ditemuinya… sama seperti anak dandelion yang terbang bersama angin. Anak manusia akan terus melangkah menjauh pergi dari tempat asalnya, berhijrah… berpindah ke tempat lain… Selama perjalanan yang dilalui pasti akan ada halang melintang yang menjadikan itu ujian. Namun… ada Allah ta’ala yang tak pernah tidur mengurusi makhluk-Nya pasti akan membantu langkah itu untuk terus bergerak maju… Allah ta’ala tidak akan pernah membebankan sesuatu melebihi kemampuan hamba-Nya… sebagai seorang makhluk yang lemah kita pula tak bisa mengandalkan kemampuan sendiri…

Diri ini pun merasa masih harus terus ingat untuk mengandalkan ketentuan Allah ta’ala, berdoa dan berikhtiar… agar Allah ta’ala ridho… Siapa sih yang tidak ingin di cintai oleh Allah subhanahu wata’ala?

Suatu hari pun saya akan terbang pergi, ke tempat lain yang akan menjadi tempat tumbuh bagi saya menjadi pribadi yang baru… rasa khawatir? tentu hadir… Namun, saya yakin Allah ta’ala akan menolong saya dalam setiap urusan yang saya lakukan di mana pun  saya berada… InsyaAllah…


3:36 pm
Di asrama seorang teman @ Bandung
Ketika hujan yang turun belum mereda

Read Full Post »

Bismillah…

7 Agustus kemarin, masih kulihat teman-teman satu departemen dengan wajah yang stress dan panik. Karena batas pengumpulan berkas untuk sidang tanggal 16 Agustus dimajukan menjadi tanggal 7.  Aku yang sedang duduk di dekat ruang departemen, memperhatikan wajah mereka satu persatu. Ada yang bahkan tak menyapaku, padahal biasanya ia menyapaku, sambil menjinjing banyak berkas di tas jinjingnya. Temanku yang lain bahkan membawa setumpuk buku yang belum sempat ia fotocopy bagian yang dikutipnya. Semua orang tampak sibuk kecuali aku yang sedang menanti dosen untuk bimbingan saat itu. Aku terlihat santai, iya… santai… bahkan terlampau santai. Karena aku yakin, Allah ta’ala akan mengizinkan aku ikut sidang di bulan Agustus ini. Meski bukan ditanggal 16 Agustus bersama puluhan orang lainnya.

Ah, ya. Mungkin aku akan rindu saat-saat ini. Saat di mana aku menunggu dosen selama tiga jam dan ketika bertemu sang dosen menjawab, “besok saja ya, masih ada kegiatan.” Yang artinya aku menunggu dengan berujung kepada kesia-siaan karena tidak bimbingan. Mungkin juga aku akan kangen ketika dosen berkomentar agak miring pada hasil penelitianku. Ya, itu karena aku kurang memahami. Aku yang salah… padahal banyak referensi sudah dibaca dan mulai dipahami ternyata… pemahaman yang aku tuangkan pun tetaplah salah… MasyaAllah… perjuangan seorang pelajar itu… seperti ini…

Lelah menunggu… lelah dikomentari… lelah dengan revisi… Ah ya Allah.. rasanya ingin sekali berteriak mengeluh sekuat-kuatnya. Sekencang-kencangnya. Memang hanya Allah ta’ala yang paling mengerti kondisi hamba-Nya. Hanya Allah ta’ala yang mampu menerima segala tangis dan keluhan yang senantiasa hadir sambil berdoa mengharap pada-Nya.

Tau kah? Aku pribadi merasa… setiap kali dosen tersenyum ketika bimbingan, saat itulah aku juga turut bahagia. Meski ada coretan, meski ada sedikit kata-kata yang agak nyelekit itu tak mengapa. Karena senyuman itu mendukung diri ini untuk menjadi optimis pula. Jika sang dosen tak tersenyum. Biarlah diri ini yang tersenyum menanggapi. Sudah cukup banyak pula mungkin, pekerjaan yang beliau harus kerjakan, ditambah lagi beban melihat mahasiswanya yang cemberut. Tak enak juga lihat orang lain cemberut, ya?

Aku belajar dari seorang teman yang mungkin dia tak sadari, bahwa senyumnya telah menyelamatkan aku. Saat itu dia menyapaku, dia yang biasanya tidak pernah tersenyum pada siapa pun. Tiba-tiba tersenyum sambil menyapaku. Menanyakan bagaimana  kondisi diriku. Ia tersenyum. MasyaAllah… senyum terindah yang aku dapat lihat pada hari itu. Hingga aku mengucap syukur pada Allah ta’ala telah membuatku bahagia meski sekedar dari senyuman rekah seorang temanku itu… masyaAllah… masyaAllah… hingga saat itu aku ingin juga melakukan hal yang sama pada siapa pun ketika berjumpa… Rasulullah shallallahu alaihi wasalam memang benar, bahwa tersenyum kepada saudaramu adalah sedekah. Aku berbahagia dengan senyuman yang diberikan orang lain padaku.

InsyaAllah, 30 Agustus nanti aku akan di sidang. Sidang pendadaran. Iya, sidang skripsi. Skripsi ku adalah skripsi tertipis, haha… namun, yang aku harapkan, skripsi yang telah aku kerjakan adalah skripsi jujur apa adanya. Bukanlah sebuah manipulasi… Aku yakin, akan banyak komentar bermunculan terkait skripsiku ini… namun, hanya Allah ta’ala yang akan membantuku menjalaninya.

Senyum yang membahagiakan… aku ingin sekali, ketika aku tersenyum, orang lain pun ikut bersama tersenyum bahagia. Aku ingin sekali orang lain juga tersenyum kepada yang lain.

Terkadang hati selalu menduakan Allah ta’ala… padahal kunci kesuksesan bukan berada pada dosen pembimbing, bukan pula nilai yang tertera, bukan pula koneksi teman, bukan pula kepintaran… namun kesuksesan diraih karena Allah ta’ala… Ya… carilah keridhoan Allah din… gapailah… karena cita-cita terbesar seorang muslim adalah melihat wajah Allah ta’ala… melihat wajah penciptanya yang peduli kepadanya dan tak putus memberikan nikmat sampai ia mati. Allah ta’ala yang harus selalu kau ingat din… Allah ta’ala yang harusnya kau cari keridhoan-Nya…

Ya Allah… Ya Rabb… maafkan makhluk-Mu yang selalu lupa. Selalu banyak masalah dan dosa…  Ingatkanlah selalu diri ini Ya Rabb… akan senantiasa bersyukur, bersabar dan sholat…

Temanku yang akan merayakan kebahagiannya esok hari dengan acara wisuda. Semuanya aku harap berbahagia… Alhamdulillah… Allah mencatatkan jalan hidup manusia dengan sebaik-baiknya, sehingga kitalah yang perlu berprasangka baik pada apa yang Allah pilihkan… apa yang telah Allah ta’ala pilih…


3:13 pm
21 Agustus 2017
Di Kossan sendiri untuk terakhir kalinya(?)

Read Full Post »

Bismillah…

Judulnya sok asyik gitu ya hahaha 🙂 karena saya merasa asyik bisa nulis lagi di sini setelah lama tidak menanggapi challenge Nulis Random 2017. Awalnya semangat sih, tapi… akhirnya malah jadi kayak menikmati “libur” sementara ahhaha~

Kita yang berjuang. Kita? “Lo aja kali guwe enggak~” jadi inget dulu ada yang sering dijawab gitu kalau ada kata “Kita” yang terucap, kapan ya? SMP? SMA? lupa lah sayaa~ tapi rasanya jawaban itu kurang tepat jika dijawab oleh yang sama-sama mahasiswa akhir. Karena mahasiswa akhir lagi berjuang mengerjakan skripsi. Tersumak eeeh termasuk saya 🙂

Saya lagi berjuang niiih. Kamu juga kan?? iya kamu yang lagi baca tulisan iniih, kita sama-sama berjuang saat ini dan mencoba untuk mengalahkan rasa malas dan menunda itu.

Ah, saya baru sadar akhir-akhir ini kalau jadi deadliner itu ngga baik. Enak sih bisa santai di awal dan menunda-nunda, tapi di akhir capek banget. Eh saya deadliner bukan ya saat ini? kok kayak iya yaaa ngga koook X”3 tidaaaakkkk tidaaaaaaaaakkkkk *ngetik ini sambil geleng-geleng seriussssann* karena saya masihmengerjakan dengan penuh semangat saat iniii… godaan “nanti aja diiin” itu sering muncul, tapi seiring saya melihat teman yang juga sedang mengerjakan skripsweet dengan penuh semangat dan perjuangan mental baja tulang besi kaki kawat(?) saya jadi terinspirasi super pooolll. Apalagi kalau udah ada yang lulus sidang waaah waaaah waaahhhh semakin ingin cepat-cepat merasakan berdiri dihadapan dosen dan merasakan degdegan jelasin hasil penelitian yang mirip seperti nunggu hasil SNMPTN ahahhaha X”3 (akhir-akhir ini udah ngga pernah rasain degdegan pengumuman sih, jadi kangen LOL~)

Kamu! Iya kamu! yang lagi males yang lagi nunda! huh! Ingat! skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai kata Pak Anies Baswedan dan itu bener banget! Kalau saya sih melawan malas dan menunda itu dengan pergi dari kamar koss… ke perpus contohnya, jadi bisa lebih semangat gituuuh…. dan lagi kalau saya ke perpus adaaa ajaa yang nyapa, “eh adin!” :’3 terus patanya-tanya “udah sampai mana?” meski saya ngga pernah nanya itu, karena jujur, ngga enak nanyanya. Saya yang juga sering ditanya begitu, ngga enak jawabnya, khawatir yang nanya pace-nya masih jauh dari saya 😦 kalau saya mah sih it’s okay~ kalau denger temen udah jauh, karena kapasitas saya memang berbeda dengan doi, ya kann? saya mah sering nanya-nya, “target sidang kapan?” biar dia inget tuh kapan kudu mempersiapkan diri. Eitsss, memang sih ada beberapa orang yang terkesan “basa-basi” kalau nanya “skripsi udah sampai mana?” ah, semakin bertambah usia saya, semakin saya bisa membaca gesture seseorang yah hmmm… semoga bukan terkesan suudzon sih, but that is common gesture yang orang lain pun kayaknya masih bisa deh baca makna sebenarnya dari gesture yang ditunjukkan.

Kalau ada yang nanya begitu, jawab aja, kadang sih saya lihat dulu orangnya kayak apa, kalau dia bakalan respon prihatin ya saya cuma senyumin dan bilang “hmmm… sampai mana yaaa heuu~ masih segitu aja sih…” padahal udah sampai mana ciikk wkkwkwk~

Kembali lagi deh ke bahasan deadliner. Ternyata yah! enakan ngga jadi deadliner! istirahatnya bisa lebih cepet! pokoknya saya ngga mau ah jadi pemalas 😦 apalagi mahasiswa akhir tuh salah satu pantangannya malas ngerjain skripsi malah nonton drakor. Drakor atau anime itu godaan ya? iya godaan, kata temen sayah Enung waktu ngobrol depan ruang jurusan nunggu Pak Nia.

Akhir kata (eh ini kita akhiri saja ya, saya mau lanjut aktivitas lain lagi hahaha~). “Success is from Allah alone. So, go towards Allah and Allah will bring you closer to success” InsyaAllah akan menulis lagi jika saatnya tiba bagi saya untuk berkeinginan nulis di wordpress kesayangan iniiii~ :’3

Berjuanglah kita mahasiswa akhirr. Berjuanglah. Jadikan segala tujuan hanyalah karena Allah supaya jadi ibadah 🙂

=====================================

Bandung, 18 Juli 2017
Ketika laptop jadi teman setia. Kasian dia capek. Semoga kamu kuat ya menemani sampai lulusnya bahkan sampai nanti…

Read Full Post »

When I Fall In Love

Bismillah…

Ciye banget judulnya hahaha 🙂 and yeah, love is normal… semua orang pun pasti pernah merasakan namanya jatuh cinta. Jika bukan pada manusia bisa jadi dirasakan pada sesuatu yang lain. Seperti benda atau tumbuhan atau suasana alam. Mungkin saja. Saya tidak tahu 🙂

Kalau saya? Tentu pernah dong. Teman saya @InggridWandana yang tau bagaimana saya dulu pernah suka pada seseorang di masa SMA. Betapa banyaknya rahasia antara saya dan Inggrid masih tersimpan begitu rapat dalam dada kami. Hanya Allah ta’ala yang tau betapa dulu saya dan Inggrid berbagi cerita tentang rasa dan asa. Inggrid adalah sahabat saya hingga sekarang, Alhamdulillah 🙂

Beberapa orang mengatakan, suka dan jatuh cinta juga kagum itu 3 perasaan yang berbeda. Saya yakin pun begitu. Jatuh cinta itu memang membuat mabuk? Iya mabuk. Segala apapun yang dilakukan doi, selalu baik di mata orang yang jatuh cinta, iya atau tidak? Hahhaha… 2 pantun pernah saya baca di buku novel remaja dulu. Jika cinta sudah melekat, tahi kucing rasa alpukat. Jika cinta sudah terpatri, kentut pun wangi stroberi. Jorok sih. Tapi bener. Saya saja sampai tertawa membaca pantun itu hahaha :)) Itulah kenapa menasihati saudara kita yang jatuh cinta itu sulit, soalnya ya gitu… tahi kucing rasa alpukat, dia udah dibuat mabuk sama doi.

Kalau saya? Jujur, saya pribadi paling menghindari dengan yang namanya jatuh cinta. Takut. Jujur saya takut. Perasaan degdegan yang ngga penting itu selalu datang ketika doi tiba-tiba menghubungi berasa apa gituh ya(padahal mah orangnya diujung sana biasa aja kali). Ya Allah, rasanya dosa banget punya perasaan suka dan cinta sama seseorang tuh. Tapi ya… sekali lagi, itu normal… dan semoga takutnya saya untuk jatuh cinta pun adalah normal :’)

Saya belum pernah sih sampai jatuh ke lubang pacaran. Alhamdulillah. Kenapa lubang? Karena dalamnya gelap banget. Sekalinya terjurumus bisa jadi lebih dalaaammmmm lagiiii tenggelam. Tapi, Insya Allah selalu ada jalan bagi dirimu yang mau berubah kok :’)

Dirimu pernah jatuh cinta? Ceritakan dong di kotak komentar :’) anonim juga boleh hahaha :))

Saya pernah baca tulisan yang super bagus banget yaitu Aku Mencintaimu Utuh Tak Tersentuh, sampai saya buat cerpennya juga karena saking super bagus pisan itu tulisan buat anak SMA yang lagi jatuh cinta hehhe, saya sampai print juga dan kasih lihat ke teman-teman SMA saya dulu. Semoga mereka masih ingat isi tulisan itu. Intinya cobalah untuk tidak mengumbar rasa yang entah berlabuh di mana kelak. Mungkin saja orang yang dicinta itu tak membersamai dalam mahligai kehidupan. (Iya din makhluk megane 2D itu ngga akan pernah membersamai mu :’) ) Karena jodoh itu seperti kematian yang kita tidak tau kapan ia akan datang mengetuk pintu rumah dan dengan sopannya meminta izin pada sang pemilik rumah, hehe… dan lagi temans, kita tidak tau yang mana yang akan datang duluan. Pernikahan ataukah kematian kan? Hmmmm…

Tau kah? Jatuh cinta itu super menyiksa. SUPER! Doi cuma kirim pengingat aja, udah baper (bawa perasaan) udah mikir jauh ke mana-mana. Doi nge-like status wanita lain aja, cemburunya udah kebangetan (padahal doi bukan syapah syapah plis~), doi update pengingat aja rasa udah berbunga-bunga padahal itu mah cuma #self_reminder untuk dia, eh kitanya udah GR. Waduuuuh waduuuuuh hati udah siaga 1, hampir meledak tapi masih ditahan heheh. Apalagi kalau udah dihadapkan sama oppa-oppa gitu, meski umur udah disebut noona, manggil cowok korea jadi oppa semua gegara di Sunda mah ke yang muda juga manggil Aa atau Akang, aigoo~ :3

Tulisan ini bukan mengajak untuk stop jatuh cinta, seperti yang sudah saya katakan itu normal meski kadang ada sebagian orang berlebihan menyikapinya sampai-sampai berpacaran dianggap salah satu bukti “cinta” padahal isinya mah hawa nafsu doang 😦 Kalau beneran cinta mah datangi Orangtuanya langsung Teteh… Akang… Nikah deh sampai punya keturunan yang membanggakan Rasullullah karena ummatnya ada banyak kelak ❤ Saya pun pernah jatuh cinta, hampir pula berpacaran. Tapi, Allah berkehendak lain, hingga memperlihatkan pada saya siapa laki-laki itu sebenarnya hingga saya tau pada akhirnya. Saat saya menyukainya, semuanya serasa ada dibalik tabir, saya tidak melihat adanya sesuatu yang lain kecuali kebaikan pada dirinya. Yah, itulah jatuh cinta girls. Dibuat mabuk 🙂 Kamu yang tau pasti perasaan yang hinggap di hati mu itu. Apakah jatuh cinta ini kelalaian? Karena diri terlalu disibukkan oleh perasaan, bukannya mengingat Allah ta’ala, ya… mungkin saja… :’)

Ah ya, dirimu masihlah muda. Nikmatilah hidup ini, sibukkan diri menuntut ilmu. Baik di majelis ilmu mau pun lewat buku. By the way, tulisan ini pun jadi self reminder saya juga. Karena saya paling sering scroll baca tulisan terdahulu di wordpress saya ini daaannn merasa lucu karena tulisan saya yang dulu berasa masih kanak-kanak hahaha :))

Dirimu yang sedang jatuh cinta. Virus Merah Jambu itu merambat kuat hingga membuatmu mabuk cinta. Duhai, semoga dirimu temukan bahwa cinta pada Allah ta’ala adalah yang terpenting. Cinta pada manusia seringkali buat kecewa di hati apalagi pada seseorang yang belum pasti. Hanya Allah ta’ala yang memberikan jaminan keselamatan dunia akhirat. Semoga diri ini tersadarkan bahwa hidup akan baik-baik saja tanpa pacaran. Aktivitas pacaran yuk hentikanlah. Lebih baik perbaiki diri kearah positif yang membuat bangga. Untuk dirimu yang belum pernah pacaran dan berkomitmen untuk tidak pacaran. Semoga istiqomah 🙂

Purwakarta

21 Mei 2017

8:16pm

Ketika keluarga berkumpul, itu adalah kebahagian pula 🙂

Read Full Post »

Puisi Tanpa Judul

002

Jika hidup ibarat tanah, maka tak indah jika tak ada tanaman. Diriku kan gersang, tanpa hadirnya ia yang datang menorehkan cerita.

Ia memang tak sering muncul menyapaku, hanya akhir-akhir ini saja ku mulai merangkai cerita dengannya…
Seperti yang lainnya ia biasa saja, tak ada yang istimewa…
Detik demi detik ceritaku bertambah… ia semakin ku kenal. Ia tak sebeku es lagi, tak sedingin angin malam beriring hujan.
Ia mulai bercerita, bahwa ia ingin bercerita pada seseorang yang ingin mendengarnya tanpa ia undang.
Ia ingin berbagi pada seseorang yang datang tanpa ia pikir sebelumnya.
Ia tak suka bercerita, ia penyimpan rahasia, tapi tak semua cerita harus ia simpan… karena ia butuh berbagi kisah…
dan ia datang menyapaku, hingga tak bisa ku hitung berapa kali ia menyapaku akhir ini…
Ia tak merindu, namun ia ingin dirindu… ahhh sudahlah.
yang jelas ia bukan orang asing dan biasa lagi bagiku. Ia sahabat lamaku yang menjadi orang baru
BY E.R.F

——————————————————————————

:: Behind the (poem) story ::
Masihlah diri ini ada di Sumedang saat itu. 2 April 2017. Merasa kesepian karena tak ada yang bisa diajak bicara selain suara hati. Tiba-tiba seorang teman nan baik hati muncul dengan sebuah pernyataan bahwa ia kangen. Aku sambut pernyataan itu, aku jawab seakan dia benar-benar sedang menyapaku. Aku rasa, itulah caranya mencoba menarik diriku dari kesepian (haha). Aku mengobrol dengannya melalui chatting, tidaklah kami bertatap muka. Ku katakan padanya untuk membuatkan satu puisi sebagai bukti bahwa dia benar-benar kangen (haha). Satu teman ini memang terlalu baik, hingga rela menyisakan waktunya membuat puisi diatas. Terima kasih, meski kata ini terlampau telat untuk diucapkan 🙂

Read Full Post »

Older Posts »