Feeds:
Pos
Komentar

Bismillah,

Hari istimewa karena saya memposting tulisan di sore hari (biasanya jadi cewek malam, postingnya malam-malam hehe). Sore ini langit tampak cerah. Saya saja sangat menikmatinya ketika saya berjalan menuju pulang bersama seorang teman, sebut saja D. Barusan saya mengunjunginya. Bukan tanpa alasan, karena memang ingin sekali pergi menemuinya. Sudah lama tidak bertemu dengannya. Berbincang lama. Mampir ke asramanya, yang terasa seperti tengah mengunjungi asrama orang Malaysia, haha, di sana menggunakan bahasa daerah dan itu terdengar seperti bahasa Melayu bagi saya.

Lagi Hush dari Lasse Lindh masih mengalun, ketika saya mengetik di sini. Saya merasa bahagia karena masih bisa berjalan di hari yang cerah ini. Akan lebih menyenangkan jika bisa dihabiskan dengan seseorang yang suka jalan-jalan menikmati angin, menikmati sinar cerah mentari meski buat gerah. Sayangnya, D harus pergi untuk mengajar, sehingga saya tidak terlalu lama bersamanya. Hanya sepanjang 1 film yang kami tonton bersama di kamarnya.

Dalam perjalanan pulang sungguh sangat menyenangkan, saya bisa melihat bayangan saya sendiri. Biasanya sore-sore sudah disuguhi mendung yang menggantung dan hujan yang terus turun hingga malam tiba. Tapi, kali ini istimewa, karena matahari begitu cerah menyinari, awan putih berarak oleh angin kencang, langit biru menunjukkan pesonanya. Ah, suasana yangg sangat saya nantikan.

Pernahkah merasakan saat di mana tiba-tiba merindukan masa lalu. Merindukan wewangian yang dulu pernah terhirup. Merindukan cahaya yang dulu pernah menyinari. Dalam benak saya, saya kangen sekali semester awal kuliah. Di ruangan yang begitu luas, di mana belum di pusingkan tugas. Saya masih mengatakan pada diri sendiri saat ini, bahwa yang sekarang bukanlah diri saya. Diri yang mulai merasakan lelahnya perkuliahan, merasakan sedih dan kecewa ketika dosen tidak ada atau tim dosen yang missed communication sehingga berpengaruh pada mahasiswanya yang akhirnya kebingungan. I miss those moments. Dear my old self, please, please I beg you to be with me again. I miss you. Dulu saya suka sekali bangun super pagi untuk menantikan pergantian cahaya gelap menjadi terang, untuk memotret langit pagi. Tapi… sekarang…

Sungguh, diri ini harus benar-benar berubah menjadi yang lebih baik lagi πŸ™‚

Saya yang kini senang sekali pergi sendiri, untuk pergi ke suatu tempat menyendiri di sana. Karena seringkali, teman yang saya ajak memiliki agendanya tersendiri. Sangat sedih menerima penolakannya, jadi, lebih baik pergi sendiri saja. Meski lebih baik pergi bersama teman πŸ™‚ Berdua lebih menyenangkan, karena memang bisa lebih banyak berbicara dari pada beramai kemudian ada seseorang yang tertinggal. Sedih ya…

Hai langit, semoga esok kita dapat bertemu lagi πŸ™‚

3:47 pm

22 Desember 2016

Bandung, di kala sendiri bersama sebotol teh dingin.

Iklan

Bismillah,

tumblr_nsqnvhkocs1rv4wc4o1_1280

“Musim Gugur Telah Datang!” itulah yang ingin sekali saya katakan, jika saya berada di negara yang tengah merayakan kedatangan pergantian warna daun itu. Sayangnya, saya tidak berada di negara yang bermusim gugur, tapi rasanya senang ikut merasakan kehadirannya, meski melalui jepretan foto dari orang-orang yang tidak saya ketahui.

Musim gugur, kenapa ya, indah sekali?

Kenapa menjadi musim yang saya sukai meski saya pun belum pernah merasakannya sekali pun? Karena seringkali fotografer di luar sana menyajikan keindahan musim gugur lewat jepretan kamera milik mereka. Seakan musim gugur turut bergaya dalam senandung “klik klik klik” yang dinyanyikan kamera itu.

Musim gugur, kenapa ya, indah sekali?

Rasanya sudah dari dulu mengagumi film dengan setting tempat musim gugur, salah satunya adalah The Odd Life of Timothy Green, di tambah lagi alur cerita yang disajikan luar biasa membuat saya terhanyut dalam film. Angin musim gugur yang kencang. Cahaya matahari yang jingga, seakan dia lah yang bekerjasama dengan pepohonan mewarnai dedaunan hingga menjadi jingga pula. Tak lupa, hujan yang senantiasa datang, menitikkan airnya seperti memberikan daun jingga itu kesempatan untuk bisa merasakan air ketika ia masih berada pada ranting.

Musim gugur, bisa kah kita bertemu?

Musim gugur, hanya Allah ta’ala berikan kesempatannya pada sebagian negara di dunia. Agar bumi yang kita pijaki ini masih bisa dipijaki hingga Allah menetapkan kiranya kapan ia harus berhenti berputar. Ada kah kiranya waktu untuk saya bisa memijaki negara yang memiliki musim gugur? Sebelum kiranya saya berada di bawah tanah tanpa pernah melihat indahnya jingga dedaunan dari satu bukit dikejauhan? Dari jalanan yang di payungi daun berguguran?

Musim gugur, bisa kah aku datang menemuimu?

We’ve been so far away. I doubt that I could see you. I hope the day will come, when you already to meet my feet touch your ground that covered by leaves. When I’m ready to see you smiled at me through the leaves that fly from its branches. Then, I would say, “Autumn has arrived.”

tumblr_notyh8vcy41rza3wxo1_1280

10.11 pm

Purwakarta

Biarkan Aku

starry%e9%98%bf%e6%98%9f-6

Art by starry阿星

“Tak bisa, kita tak bisa saling melengkapi,” begitu katanya, tanpa menatapku. “Sungguh, lebih baik kita berpisah,” ucapnya, mengambil tas gendong besar miliknya kemudian beranjak dari tempat duduk.

Aku terdiam, tidak menghentikannya, tidak pula bergerak untuk segera menarik tangannya. Aku… tidak mengerti tentang apa yang harus aku katakan padanya.

Perlahan ia berjalan, meninggalkan bangkunya yang tepat menghadap padaku. Aku berteriak, “Mengapa?!” Ia menghentikan langkahnya. Tanpa menatapku, dengan wajah tertunduk, memunggungiku. Orang ini bukanlah dia yang aku kenal.

“Mengapa lagi-lagi ada orang lain yang merusak? Mengapa?!” aku kembali berteriak.

Aku ingin berterima kasih ke pada angin yang mebuat suasana berhawa panas antara aku dan dia menjadi sejuk. Meski hatiku terus berkecamuk.

“Aku ingin menyalahkan orang lain! Tapi siapa?! Aku yang salah? Lagi-lagi aku yang salah?!” hati berkecamuk ini berbuah air mata. Aku tak tau, apakah kedua mata yang dibingkai kacamata miliknya itu juga menangis? Aku tak tau.

Tangan kiri miliknya yang memakai jam tangan itu mengepal. Aku yakin, deretan kata panjang itu akan ia ucapkan. “Biarkan aku sendiri!” Benar apa yang aku katakan barusan, bukan?. “Ini bukan tentang orang lain. Tapi, tentang mimpiku yang sungguh terhambat jika aku terus bersamamu. Aku harus membuangmu di sini. Selamanya. Biarkan aku. Sungguh, biarkan aku sendiri. Menggunakan buku lainnya untuk dapat aku tulis. Untuk dapat aku gambar. Sungguh! Jangan berteriak di kepalaku! Akan ada orang lain yang lebih baik menyertaimu, dan orang itu bukanlah aku!”

Akhirnya ia pergi, meninggalkan aku beserta angin melambaikan lembar yang sempat ia torehkan tinta diatasnya. Ia meninggalkanku, untuk kesekian kalinya.

Aku, buku coretan yang ia miliki 2 tahun lamanya. Aku, yang ia anggap sebagai penghalang mimpinya. Hanya karena aku, bukanlah yang ia beli tapi diberi, oleh seseorang yang ia benci. Mengapa benci itu harus menerpaku juga? Aku tak mengerti. Biarlah. Biarkan aku sendiri. Biarkan dia sendiri.

Bersamaan dengan angin yang mereda, seorang wanita mendatangiku, lalu tersenyum. “Sungguh bagus gambar ini!” katanya. Aku geli ketika ia membuka lembaranku.

“Biarkan aku sendiri,” ucap wanita itu, membaca kalimat pada lembar akhir yang lelaki itu tulis.


Ketika di Bandung. Sendirian lagi. Adakah yang berkenan bermain ke sini? Yang aku harap bukan hawa dingin yang menusuk kaki. Butuh teman bicara, meski hanya menertawakan diri sendiri dan kisahnya.

Bandung di kala sendiri.

7.16 pm

13 Desember 2016. Selasa.

Bismillah.

Sebelum waktu berakhir, 7 Desember menjadi 8 Desember, di mana orang lain akan berulang tahun setelahku.

Selamat ulang tahun untukku. Untuk Yuzuru Hanyu. Umur kami sama, namun rezeki yang Allah berikan sungguh berbeda. Di usianya yang menginjak sama denganku, sudah banyak medali yang ia raih. Juara dunia figure skating di sana sini. Sedangkan aku di sini, masih belajar banyak hal, masih memikirkan banyak hal tentang masa depan. Malu rasanya, sudah dewasa namun berpikiran begitu rendah, masih ada rasa pesimis. Ya Allah, untuk apa mengkhawatirkan dunia? Raihlah mimpi dengan doa dan ikhtiar. Insyaa Allah usaha tidak akan mengkhianati hasil bukan?

Tadi pagi mendapat sms dari bapak, kalimat terakhir membuat sedih. “Bapak sayang teteh,” Masyaa Allah, diri ini bahkan merasa rasa sayang ku terhadap bapak masihlah jauh dari rasa sayang bapak terhadapku. Bahkan Allah bisa jadi lebih mencintai bapak ketimbang diriku mencintai bapak.

Hanya segelintir orang yang mengucapkan, “Selamat ulang tahun” untukku. Tak mengapa, karena aku ingin hanya diriku yang merayakannya sendiri. Ulang tahunku tidaklah penting bagi orang yang tidak mengenalku dekat, bukan? Karena ujungnya hanya menjadi penghias nisan.

Ya Allah, masih banyak impian yang belum teraih. Mungkin esok? Atau nanti di hari lain ia bisa terwujud. Allahu’alam. Hanya Allah yang tau.

Selamat ulang tahun untukku. Perempuan yang beranjak dewasa. Yang tengah menitikkan air matanya, mengingat bahwa umur sudah bertambah kian hari, di tiap detiknya. Semoga cita mu tercapai. Jika pun belum, janganlah bersedih hati, karena pilihan Allah adalah yang terbaik.

CERPEN: Dia

Aku melihatnya penuh selidik, menerka tentang apa yang sedang dia bicarakan dengan seseorang di hadapannya. Kedua tangan mereka terus bergerak, saling menimpali satu sama lain. Aku masih penuh selidik, menerka tentang apa yang sedang dia bicarakan.

Akhirnya dia memandangiku dari jauh, mimik wajahnya menandakan bahwa ia terkaget melihat aku berdiri dikejauhan, menatapnya masih dengan dahi yang mengernyit. Ia tersenyum, melambaikan tangan dan berlari kearahku.

“Janji jam 11. Datang jam 9, sangat pagi!” isyaratnya dari jauh. Kali ini aku mengerti apa yang ia ucapkan padaku. Ia menggunakan isyarat yang aku pelajari di kampus.

Aku dan dia sungguh berbeda. Ketika dia berbincang denganku, ketika dia berbincang dengan kawan seperti dirinya, akan sangat berbeda. Ah, aku hanya ingin benar-benar mengenalnya.

“Gak apa-apa. Aku tahu, kamu pasti datang lebih pagi!” balasku. Dia tersenyum kemudian segera membawaku ke tempat pertemuan.

Sekumpulan orang berada di sana. Saling berbincang lewat isyarat. Isyarat yang hanya sedikit aku pahami, isyarat yang hanya bisa aku temukan diluar kelas.

“Di sini dilarang keluar suara ya,” ucap seseorang berambut cepak kepadaku, ia berkata dengan wajah yang menurutku kurang ramah. Tidak seperti dia yang menyambutku dengan senyuman. “Dilarang keluar suara ya,” ucapnya lagi, kini pada yang lain. Pada seseorang dibelakangku, seorang wanita yang baru saja datang dengan wajah kebingungan. Aneh, si rambut cepat menyuruh untuk tidak keluar suara, tapi dirinya yang sejak tadi nyerocos.

“Kak, di sini tempat latihan isyarat itu kan ya?” tanya wanita dengan wajah yang masih bingung itu.

Aku mengangguk, “iya, baru ya? Sini duduk dekat saya saja,” tawarku. Wanita itu tersenyum, manis sekali.

“Saya Nada,” ia memperkenalkan dirinya sambil menyerahkan tangannya agar aku jabat.

Aku balas tersenyum dan menjabat kedua tangannya, “Saya Zara,” jawabku dengan isyarat.

Suasana semakin ramai pada pukul setengah sebelas, kelas belum di mulai karena dia belum juga membuka kelas dengan ucapan “selamat siang” dan senyuman khas darinya.

“Kamu tau kelas ini dari siapa?” tanyaku pada Nada yang sedang memperhatikan dia yang tadi tertawa-tawa dengan temannya.

“Ah, ya? Kenapa kak? maaf tadi melamun hehe” Nada gelagapan, arah matanya berbalik kearahku kemudian sejenak menatap dia yang sekarang memperhatikan kami dari jauh.

“Kamu tau kelas isyarat ini dari siapa?” tanyaku ulang.

Nada berdehem, “dari dia kak,” jari telunjuk lentiknya menunjuk kearah dia, kemudian wajahnya menjadi wajah tersipu.

“Dia? Ozi maksudmu?” tanyaku lagi.

“Iya kak, dia mantan pacarku di SMA. Dia keren sekali loh kak, meski memang agak terlambat ketika awal semester di kelas 1, tapi dia bisa menyusul dengan mengukir prestasi. Dia sangat keren.” Jawab Nada dengan mata berbinar, matanya tak henti memandang Ozi. Ozi yang tadi menjemputku, Ozi yang tadi menyambutku dengan senyuman yang aku sukai.

“Eh? lalu kalian pacaran?” tanyaku lagi.

“Hmmm, bisa dibilang begitu kak. Kami saling suka, dia pun sangat perhatian ke pada saya. Dia selalu mengantar saya pulang sampai ke depan pintu rumah. Dia juga selalu membantu saya ketika ada yang menjahili. Dia sangat peka terhadap sekitar. Kami sering berdua kemana-mana, sampai-sampai orang mengira kami pacaran. Dan aku pun menyetujuinya, kak.” jawab Nada. Senyumnya semakin merekah ketika Ozi mendekati kami.

Ozi berbincang dengan Nada, dengan suara yang begitu jelas. Dia mengatakan bahwa Nada tampak sangat berbeda, baru kali ini mereka berjumpa.

Dia sangat berbeda. Ketika berbincang denganku, ketika dia berbincang dengan kawan sepertinya, ketika dia berbincang dengan Nada. Tapi senyum itu masihlah sama. Bagaimana aku harus mengartikan perasaan yang ada? Aku hanya ingin mata itu tertuju ke padaku saja.

======================================

Ketika dua orang teman berkata, bahwa sudahlah lama diri ini tidak menulis di WordPress, itulah saatnya jemari ini tersadar untuk menceritakan suatu kisah di sini.

Purwakarta

7:58am

11-22-2016

Bismillahirahmanirrahim…

Seorang sahabat meminta saya untuk menceritakan pengalaman 3 hari saya menjadi Rapporteur. Saya rasa saya perlu mengabulkan permintaannya. Karena sahabat saya ini adalah salah satu alasan mengapa saya tetap mengisi wordpress ini.

img-20160924-wa0030

Alhamdulillah, saya diberikan kesempatan oleh Allah ta’ala untuk menjadi bagian dalam kegiatan Governing Board Meeting (GBM) SEAMEO SEN pada 21 hingga 23 September 2016. Saya dan kedua teman saya (Verra dan Dheru) dimandatkan untuk membantu Rapporteur, di bawah bimbingan Ibu Mazmi dan Ibu Moni yang keduanya kami anggap sebagai Ibu kami. Ibu Mazmi dan Ibu Moni keduanya merupakan warga negara Malaysia. Sehingga dalam 5 hari kami bekerja bersama, kami disuguhkan bahasa Malaysia. Unik sekali. Jika tidak mengerti, saya dan kawan berbicara dalam bahasa Inggris.

Apa yang saya rasakan selama jadi Rapporteur?
Saya merasa sangat beruntung dan bahagia. Banyak pengalaman yang dapat saya petik selama berhari-hari berada di sana. Rapporteur bertugas untuk mencatat perjalanan meeting, tentu berbeda dari meeting yang pernah saya hadiri. Di dalam ruangan yang super dingin, hingga mengetik percakapan pun dengan jemari yang terasa kaku hehee πŸ™‚

Uniknya, ketika mengikuti GBM, saya seperti sedang melakukan test listening TOEFL versi Asia Tenggara. Di mana perwakilan setiap negara asia tenggara yang hadir membawa logatnya masing-masing. Itu lhoo, contohnya ketika teman saya Dheru berbicara bahasa Indonesia masih dengan medok jawa mengikuti. Sungguhlah unik πŸ™‚ Saya dan kawan, dituntut untuk bisa memahami sekaligus harus mempertajam pendengaran kami. Tentu, kali pertama bagi saya pribadi disuguhkan percakapan dalam Bahasa Inggris selama beberapa hari berturut-turut. Alhamdulillah, karena sering menonton vlog bule-bule(an) di youtube saya jadi bisa mempertajam pendengaran saya, hehe.

Jika di check di twitter saya ( @adindaqt ), saya sering men-tweet foto di spot yang sama. Di mana saya duduk di tempat itu untuk mencatat jalannya acara. Meski seringkali mengandalkan rekaman dari kedua kawan saya untuk menulis laporan dan mengecek kembali ucapan participants. SEAMEO SEN juga memiliki facebook fanpage, silakan di like SEAMEO SEN.

Selama di sana, saya benar-benar keluar dari zona nyaman. Siap menghadapi tantangan setiap harinya karena menjadi Rapporteur merupakan bagian dari tanggung jawab. Saya berpikir untuk bisa pergi ke suatu tempat lainnya di mana saya bisa belajar lebih. Sebagai penuntut ilmu, rasa malas seringkali muncul. Lingkungan baru atau aktivitas baru bisa jadi menjadi pemicu untuk bisa bersemangat lagi. Baru saja saya membaca artikel Fatwa Ulama tentang Fenomena Lemah dan Lesunya dalam Menimba Ilmu, di semester 7 ini harus lebih bersemangat lagi ya!

Insyaa Allah, aktif di UKM atau di Himpunan akan membawa pada pengalaman dan pelajaran baru. Mungkin lelah akan lebih kentara terasa namun setelah melawati serangkaian nano-nano perasaan, akan bertemulah pada titik di mana kesyukuran muncul, karena pernah menjadi bagian darinya.

Diakhir acara, setelah dinner seorang Bapak dari Brunei Darussalam (yang lebih terlihat seperti Kakek super keren bagi saya) mengucapkan terima kasih, layaknya saya telah melakukan pekerjaan yang luar biasa di beberapa hari terakhir. Saya tersentuh sekali dan hanya bisa tersenyum sambil berucap “thank you for coming here, sir”. Selain itu, saya juga bertemu dengan seorang Bapak, Dr. Jess dari SEAMEO Biotrop yang memiliki program untuk melatih anak autis belajar berkebun. Ketika saya mendengar ide yang dilontarkannya, saya merasa kagum, dan menyadari bahwa ada banyak ide yang muncul untuk membantu anak-anak berkebutuhan khusus untuk dapat mandiri bekerja setelah lulus dari sekolah. Asalkan guru mau mengeksplorasi kemampuan anak didiknya dan berusaha mencari organisasi yang mau mendukung idenya itu. Bapak super keren itu pun berucap “I adore you” kepada saya dan Dheru setelah kami mengatakan bahwa kami adalah mahasiswa Pendidikan Khusus yang merupakan calon guru bagi anak berkebutuhan khusus.

Alhamdulillah, aktivitas selama 5 hari yang di dalam tiga harinya saya banyak belajar ini membawa saya kepada kesyukuran. Allah ta’ala tau yang terbaik bagi makhluk-Nya. So, jangan pernah suudzon pada keputusan Allah yang telah dituliskan untuk kita sebagai makhluk-Nya.
10505345_1464716197111369_7153744117694080340_n

====================================

1:00 pm

Senin, 26 September 2016

Kemarin kembali mendengar suara Inggrid setelah lama tidak berbincang. Kangen sekali. Esok hari akan bertemu dengan Novia. Senangnya :’)

 

Bismillah…

“Ketika Bukan Aku yang Terpilih”, terpilih apa atuh, hehe…

Rasanya sudah lama ketika hasil telah diumumkan. Tapi, rasa syukur masihlah tetap ada karena Allah ta’ala telah menuliskan kisah yang indah dalam hidup seorang seperti saya ini. Seperti yang teman dekat saya telah ketahui, bahwa saya ingiiinnnnn sekali pergi ke suatu negara. Negara yang menjadi impian saya sejak dari kecil. Keinginan yang terus meningkat, ikhtiar berusaha dilakukan. Sampailah pada sebuah kesempatan untuk berada satu tahun di negara itu. Tapi, bukanlah saya yang terpilih untuk pergi.

Pergi menikmati langit yang berbeda. Pergi untuk menikmati disiplinnya. Pergi untuk bisa berkenalan dengan kawan dari belahan dunia lain. Pergi untuk suatu alasan agar saya bisa belajar lebih. Sedih? Tentu! Siapa yang tidak? Kecewa? Saya rasa tidak, rasa kecewa tidaklah ada, saya sangat berterima kasih kepada Pak Dosen yang mewawancara saya saat itu. Melalui lisan beliau lah diri ini dikuatkan. Kemudian Allah ta’ala membantu diri ini mengolah hati. Diriku pun ikut senang ketika salah seorang teman terpilih untuk pergi. Seperti rasa senang ketika mengetahui teman SMA saya pergi juga ke negara itu. Alhamdulillah…

Betapa bijaknya bapak saat itu memberi kekuatan, bapak lah orang pertama saya beritahu. Masih terngiang kata-kata bapak ketika berucap “Allah pasti punya pilihan terbaik buat teteh. Selalu husnuzhon pada Allah nak.” kurang lebih begitu, air mata tak terbendung, meski bapak tak melihat saat itu. Sengaja aku sembunyikan. Menangis karena penolakan itu? oh bukan. Menangis karena perkataan bapak, betapa Allah ta’ala teramat baik dengan memberikan banyak kekuatan. Alhamdulillah…

Kemudian sahabat J pun sama, dengan bahasanya yang unik dia berkata bahwa “Insyaa Allah pasti diganti dengan yang lebih baik ya din. Mungkin Allah sayang ama kalian yang cewe kalau harus ke sana tanpa mahrom eheheee,” lucu sekali. Terima kasih J.

Allah ta’ala selalu memberikan rasa tenang. Bahkan ketika scroll facebook. Entah mengapa rasanya ingin sekali berterima kasih pada orang-orang yang berbaik hati membagikan tulisannya, posternya, kata mutiara-nya di facebook. Dari jalan mana pun Allah tetap melindungi hati ini. Dari rasa sedih yang berlebihan. Dari rasa kecewa yang tidak perlu. Karena rasa sayang Allah ta’ala melebihi amarah-Nya.

Di mulai dari sekarang hingga nanti. Jangan lah pernah menyerah. Semoga dunia bukan lah tujuan utama.

Ketika Allah ta’ala belum juka memakbulkan do’a yang selama ini terucap, itu karena Allah menundanya atau akan menggantinya dengan yang lebih baik, Insyaa Allah…

11329945_993162770728802_7617727618851428269_n