Feeds:
Pos
Komentar

Archive for September, 2014

Kaca tembus pandang dihadapan anak itu tampak begitu lebar dari biasanya. Seakan melebarkan dirinya sendiri agar gadis kecil berkuncir kuda itu dapat leluasa memandangi ikan-ikan yang berenang di dalamnya. Pemandangan didalam akuarium besar tampak begitu menakjubkan dimata anak umur 4 tahun itu.

“Ayah, itu ada ikan mirip layang-layangnya Kakak. Namanya Ikan Pari ya Ayah?” seru sang anak dengan wajah berseri ketika Ikan Pari berenang dihadapannya. Ayah mengangguk dan mengelus kepala anaknya.

“Hebat, Salamah bisa kalau yang tadi Ikan Pari. Kalau yang itu ikan apa coba?” tunjuk Ayah pada sebuah Ikan yang berwarna jingga dengan belang putih. Salamah meletakkan tangannya didepan kaca tembus pandang sambil mengingat nama ikan yang ditunjuk dalam memori otaknya.

“Apa ya yah? Salamah lupa.” ucap Salamah kecewa karena tak bisa menjawab pertanyaan Ayah. Ayah tersenyum dan agak berjongkok agar sejajar dengan tinggi Salamah.

“Namanya Ikan Badut. Lucu kan?” hibur Ayah sambil menunjuk ikan jingga belang putih ang kini menari-nari dengan ikan lainnya. Salamah tertawa riang, “Ooh namanya ikan badut ya yah?, pantas saja Salamah bisa tertawa ketika melihatnya, dia lucu sih! kayak badut! hihiii.” Ayah ikut tertawa cekikikan. Pengunjung lain melirik kearah mereka dengan tatapan aneh, melihat seorang ayah dan anak yang tertawa cekikikan ditengah pengunjung bermata sipit lainnya.

“Yuk, kita lanjutkan jalan-jalan di dalam lautnya.” ajak Ayah kemudian menggandeng tangan Salamah yang mungil. Sambil melompat riang, Salamah terus menunjuk ikan yang ia tau namanya. “Ikan buntal! Ikan ekor kuning! Ikan cantik! Ikan manis! Ikan tembem! Ikan hitam manis!” teriak Salamah gembira. Ayahpun ikut bergembira. Liburan kali ini mungkin termasuk liburan yang tidak Salamah inginkan, tapi Alhamdulillah ia tetap bahagia karena ada Ayah disampingnya.

Sebelum berangkat ke akuarium raksasa, Salamah agak ngambek karena yang ia inginkan adalah liburan ke peternakan. Sayang, karena tempatnya terlalu jauh maka ayah menolak dengan halus keinginan Salamah itu. Untunglah, Salamah anak yang baik dan penurut, akhirnya acara ngambeknya hilang dan berganti menjadi kegembiraan karena bisa berlibur bersama ayah di Yokohama Hakkeijima Sea Paradise. Salamah awalnya bosan selama diperjalanan, namun tak lupa ayah membawakan buku ensiklopedia yang Salamah sukai.

Sudah lebih dari 2 jam ayah dan Salamah berkeliling melihat berbagai jenis ikan dan atraksi yang ada. “Ayah, lain kali kita ajak Kakak ya. Ajak nenek juga kesini.” bisik Salamah pelan dalam gendongan ayah. Ayah tersenyum mendengar ucapan anak bungsunya itu. “Insyaa Allah, kita ajak Kakak ya kalau Kakak tidak sibuk. Kita ajak juga nenek kalau nenek kuat jalan jauh ya. Kalau mau, musim semi nanti kita makan-makan dibawah pohon sakura ya.” hibur ayah. Ayah tau, pasti Salamah kecewa berat karena Kakak dan Nenek tidak ikut melihat ikan-ikan cantik hari ini.

“Ibu. Salamah kangen Ibu yah.” bisik Salamah lagi. Kalimat terakhir itu membuat ayah terdiam. Ayah juga sangat merindukan ibu. Jika ibu ada mungkin ayah yang menggandeng tangan kanan Salamah dan ibu menggandeng tangan kiri Salamah. Jika ibu ada, mungkin ibu juga tersenyum melihat ikan-ikan itu. Tapi, kata “jika” hanyalah bayangan semu. Ibu tak akan bisa kembali. “Ucapkan selamat tinggal pada ikan-ikannya.” kata Ayah. Salamah mengangkat kepalanya dari bahu ayah dan melambaikan tangannya tanda perpisahan.

————————————————–
Pengen nulis karena tugas numpuk :<
Nulis karena emang lagi bosen ngerjain tugas :<
mending bosan tapi pelampiasannya nulis,
daripada bosan pelampiasannya melakukan sesuatu yang tidak jelas seperti ngitung benang karpet :”<
Setelah nulis lanjutin lagi ngerjain tugasnya :<
eh terjebak di artikel yang memuat tentang Jepang :<
keasyikan baca, dan buka artikel lainnya lagi .__.
ku terjebak~ di ruang artiiikeeeelll~ *nyanyi ceritanya.__.*
Tugas nya…. baca2 buat besok presentasi.__.
Merasa sok pinter dan sok bisa jadi ngga baca2 ulang
Padahal sejujurnya aku tak mengerti beberapa poin (padahal itu seluruhnya)
Hatiku rapuh hanya membacanya saja
Membayangkan wajah dosen yang mirip dengan sosok kontroversial abad ini di Indonesia
Eh, ngebayangin doi yang lain-__-
Udah deh cerita diatas terinspirasi dari seseorang dan seorang anak

BTW, anak kecil dicerita itu pokoknya imut banget wajahnya
Neneknya yang selalu nyisir rambutnya dan kepang rambutnya, kuncir kuda sih seringnya
Ayahnya keren gitu pakai kacamata dan ke-bapak-an
Kadang mereka naik sepeda bareng
Kakaknya anak paling ganteng, karena emang satu-satunya anak cowok hee

Iklan

Read Full Post »

WP_000933
From anggi with love *sob*

Anggi tadi pagi memberikan hadiah berupa dango lucu pada saya, *totwiitt*. Di balut kertas kado warna-warni, anggi memberikan dango itu sekaligus roti manis. :”3
Ada surat kecil yang ia selipkan dalam kado tersebut, ada kalimat yang membuat saya tersentuh. Begini kalimatnya,
“…kalau boleh saran, Adin jangan terlalu berprasangka ya.. πŸ˜€ Aku sayang Adin :3. Balik lagi ke Dango hehe~ Adin jangan dibuang ya Dangonya walaupun ngga mirip :p hehe karena disetiap jahitannya ada cinta #eaa ….” dan seterusnya ada kalimat yang AL4Y beudht!

Anggi adalah teman kuliah saya. Sosoknya yang luarbiasa begitu saya kagumi. Seringkali ketika orang tuanya menelpon, bnada bicaranya berubah menjadi lembut. Keibuan dan pintar adalah kedua sifat yang ada pada Anggi :”D sayangnya akhir-akhir ini Anggi agak berbeda, mudah sekali memperlihatkan emosi yang bahkan dulu ia sembunyikan.__. saya pun berbicara padanya (saya sampai berharap anggi tidak sakit hati), akhirnya anggi menjawab atas apa yang saya katakan kepadanya melalui surat dan si unyu dango :3

Kenapa ya setiap ada yang lagi badmood itu kerasa banget sama saya -__- dan satu hal yang saya tanyakan, “kamu badmood?”, “gara-gara aku yaaa?” itu adalah pertanyaan andalan saya._. ada yang berakhir jadi curhat. dan ada yang berakhir biasa aja tanpa berpengaruh ._.

habisnyaaaa, rasanya ngga enak banget kalau ada yang lagi badmood-___-

Read Full Post »

Temanku Masyari

Dia tertidur begitu pulas di tempat tidur kosan ku. Ingin rasanya membangunkan dia karena adzan ashar sudah berkumandang. Namun ku urungkan niat itu. aku kasihan melihatnya. Ketika dia datang, raut wajahnya nampak begitu kelelahan. Akhirnya aku meninggalkannya sendirian untuk berwudhu.

Namanya, Masyari. Kawan baru yang aku kenal di tempat aku berkuliah kini. Di Universitas yang bisa dibilang beken se-Indonesia. Masyari bukan anak kosan, bukan juga anak gaul lainnya. Ia anak pesantren yang jaraknya lumayan dekat dengan kampus. Tidak tanggung-tanggung, dia seorang hafidzah. Hebatkan? Aku saja kagum padanya. Ketika melihatnya pertama kali, rasanya begitu tenang dan seperti melihat sesosok bidadari pada dirinya. Ia begitu pendiam, namun begitu bersahaja ketika berbincang dengannya. Wanita luarbiasa, aku begitu kagum padanya.

Aku masuk perlahan ke kamar kos, agar tidak membangunkan Masyari. Namun, ternyata ia sudah bangun sedari tadi. Jilbabnya tampak kusut, mungkin karena ia tidur dalam posisi yang sama. “Linoo, aku jadi ketiduran niih. Maaf yaa.” ucapnya menyesal lalu mengucek matanya. Aku hanya tersenyum dan berkata, “Gapapa. Tidur aja yang pulas. hehe” Masyari ikut tersenyum, menggerakkan kepalan tangannya hendak menjitak kepalaku. Ia beranjak dari tempat tidur untuk berwudhu. Sengaja aku tunggu dia agar kami bisa sholat berjamaah bersama.

“Pengen deh kayak kamu Masy. Jadi penghapal Al-Quran. Apalagi keutamaannya banyak banget. Aku baca artikel di internet dan aku jadi tau pentingnya menghapal Al-Quran.” curhatku padanya setelah sholat ashar berjamaah. Dia memperhatikanku serius. “Kamu punya niat sebagus itu Insyaa Allah, Allah akan mempermudah kamu untuk menghapalkan Al-Quran. Linn.” jawabnya dengan senyum yang lebih terlihat seperti lengkungan bulan sabit.

“Tapi Masy, semakin aku ingin mulai menghapal. Semakin aku ragu. Apa memang aku belum siap ya?” tanyaku lagi padanya.

Masyari masih menatapku serius, “Keraguan itu mungkin saja karena perbuatan syaiton. Mana mau tuuh dia melihat kamu menghapalkan Al-Quran. Dia pasti bete banget deeh kalau di dada kamu sudah tertanam ayat-ayat suci Al-Quran. So, guwe saranin ke eloh supaya mulai menghapal dan terus berdoa supaya ngga ada keraguan dihati eloh.” jawab Masyari sok gaul. Hihi, ketika ia berbicara “guwe-eloh” rasanya lucu sekali. Masyari tersenyum-senyum, melihat tingkahnya sendiri yang sok gaul.

“Oke guwe bakalan mulai. Tapi plis eloh jadi pendamping guwe, Masy.” ucapku yang juga sok gaul. Masyari terlihat syok. “Apa maksud loeh? pendamping? pendamping hidup? oh nooo~” katanya sambil menggoyang-goyangkan telunjuknya didepan wajah. Aku menjitak kepalanya perlahan. Dasar anak sok gaul, hihi.

“Maksudnya, pendamping membacanya. Gimana kalau misalnya bacaan aku salah tajwid plus tahsinnya dan ternyata karena kesalahan itu aku jadi berdosa. Huwaaa, aku tak akan kuat menanggungnya.” kataku dengan gaya yang di dramatisir. Tapi aku memang menyadarinya. Bacaanku masih belum bisa dibilang baik. Masih terbata-bata. Aku juga tidak terlalu paham. Maka dari itu, keraguan yang muncul adalah, aku tak bisa membaca Al-Quran dengan tartil. Tapi berkeinginan kuat untuk menghapalkan Al-Quran. KePeDean banget kan?

“Aku mau kok jadi pendamping bacaan kamu. Asalkan ada syaratnya.” Masy sekarang bergaya sok keren. Layaknya tukang ambil tagihan utang yang melihat si peminta. Hehe, tapi dia ini pengambil tagihan yang solehah kok. Ups.

“Apa tuh syaratnya” tanyaku yang mulai serius.

“Kamu sanggupkan memenuhi syarat aku?” tanya Masyari balik. Aku mengangguk tanda mengiyakan. Masyari menarik napas. Hal itu membuat suasana makin mencekam dan serius.

“Syaratnya adalah…..” ucapnya sengaja buat aku penasaran.

“Syaratnya adalah…..” ucapnya lagi sambil menyipitkan matanya dan memanyunkan bibirnya.

“Lama amat bu. Nyebut syarat doang.” kataku. Habis dia usil sekali padaku. Aku jitak perlahan lagi kepalanya.

“Eits! ngga boleh menjitak pendamping!” tepis Masyari ketika kepalan tanganku hampir mendarat di kepalanya.

“Oke, oke. Syaratnya adalah kamu rutin mengaji, menjaga wudhu, terus berdzikir, terus berdoa, kurangin mendengarkan musik malah kalau kamu ngga dengerin musik lagi bakalan lebih baik, kurangi melakukan hal-hal yang ngga penting buat kamu dan jagalah pandangan. oke? siap?” ucap Masyari, lalu menepuk bahuku pelan tapi menusuk pikiranku. Otakku terus berpikir tentang berbagai kejadian yang ia katakan, aku bahkan tak pernah melakukan hal diatas kecuali terus berdoa pada Allah ta’ala. Tapi tekadku sudah bulat! Aku akan menjadi hafidzah! Bismillah.

“Aku siap!” kataku penuh kepercaya dirian. Aku harap keputusanku ini adalah keputusan yang aku siap hadapi konsekuensinya. Semoga aku bisa terus istiqomah menghapalkan Al-Quran.

“Oke! good!” Masyari menodongkan tangan kanannya padaku. Agar aku berjabat tangan dengannya tanda aku benar-benar berjanji untuk memenuhi syarat tersebut. Agak berat, entah mengapa. Namun aku harus cepat! Sebelum syaiton datang dengan sejuta kata-kata untuk merayuku mengurungkan niat menghapal Al-Quran.

“Yup!” seruku lalu menjabat tangannya. Masyari memelukku erat. Dan berbisik, “luruskan niat. Pastikan ikhlas dalam menjalankannya. Allah selalu melihatmu dan memandangimu. Allah bahkan tau isi hatimu yang sesungguhnya. Allah mengerti apa yang kau pikirkan. Allah akan mempermudah jalanmu ketika kamu berniat untuk dekat dengan-Nya.”

Aku mengaminkan apa yang Masyari ucapkan padaku. Ini sebuah permulaan. Semoga aku bisa istiqomah. Bismillah. La hawla wala quwwata illa billah.

“Sipp.. mulai besok harus lebih semangat yaa. Solehah.” ucap Masyari lalu menepuk kedu pundakku memberikan semangat.

————————————————————————
10:33PM-end
Teman-teman saya ada yang hafidzah. Perjuangan luarbiasa mereka sangat menginspirasi saya. Pembagian waktu antara kuliah dan setoran ayat. Plus muroja’ah. :”) AAAAAA mereka kereeen!!!!

Read Full Post »

Tak peduli

Ku lihat sosoknya yang sok alim itu melintas dihadapan mataku. Jilbab panjang biru tua dan gamis panjang berwarna senada dengan jilbab yang dipakainya. Kepala yang tertunduk kebawah dan tak pernah tersenyum juga jarang sekali bicara. Kalau tak sengaja ku sapa, pasti ia tak akan menengokkan kepalanya padaku. Hari itu, kuliah pagi. Aku basa-basi dengannya. Ya, menyapanya adalah tanda bahwa aku berbasa-basi dengannya.
“Hei, Puu. Selalu pagi-pagi ya datengnya. Luar biasa banget.” pujiku. Ia tersenyum sok alim dan ber-he-he-ria. Seharusnya dia tau bahwa aku sedang berbasa-basi. Dari pada bosen dengerin lagunya Tylee yang membosankan itu.
“Baju kamu bagus banget Nid. Aku suka.” ucapnya yang bagiku adalah sebuah balasan dari basa-basi yang terlontar dari mulutku tadi. Aku jawab dengan perasaan malas dalam hati, “hehe.. iya dooong..”

Entah berawal darimana dan kapan aku mulai membencinya. Mungkin karena sikapnya yang bagiku terlihat sok alim dan sok diem itu. Dikelasku, hanya dia yang paling pendiam. Kelihatannya sih kayak orang yang pintar. Padahal beeeeuuuhh.. Nilai UTS nya jelek, udah gitu kalau ngerjain tugas mepet waktu gitu. Beda dengan sohibku yang aku panggil ‘Ree’. Sudah cantik, menarik, pintar dan benar-benar seseorang yang luarbiasa dimataku. Huh! Din itu orang yang nyebelin abis! Kuper dan agak bodoh. Coba deh, kalau ditanya pendapat, pasti jawabannya ngaco abis! beda kayak Ree yang retorikanya bagus banget! Kagum banget deh sama dia! Aku juga berandai-andai bisa jadi seseorang yang seperti Ree!

Kembali lagi ke kelas kuliah ku. Masih sepi. Hanya ada aku dan Din yang saling terdiam dan sibuk dengan masing-masing kegiatannya. Aku yang sibuk menatap keluar jendela dan Din yang sok pinter baca-baca buku yang entah tentang apa. Ih sebel banget sih sama dia! Cuma lihat punggungnya aja aku sebel banget! Tapi… aku harus baik sama dia! Ree juga baik tuuh sama siapapun.

“Din, kamu mau lanjut kuliah dimana kalau S1 nya udah lulus?” tanyaku padanya dan ia masih terlihat sok serius baca buku. Heuh, terpaksa aku nanya gini supaya ngga sepi banget. Ter-pak-sa.

Din menutup bukunya dan menghadap kearaku dengan ekspresi wajah yang seolah berpikir. “Mmmm, aku mau banget ke Madinah.” jawabnya sederhana dan aku cuma ber-ooh-ria. “Madinah? keren dong!” masih dengan keterpaksaan aku komen begitu. Din hanya tersenyum dan berkata, ” aku pengeeeennn banget mempelajari Al-Quran disana. Dan jadi orang yang sukses disana, Nid.” Aku cuma menggangguk-anggukan kepala sok menghargai ucapannya.

Din balik bertanya padaku, “Kalau kamu mau kemana Nid lanjutin kuliah S2 nya?” Aku merasa ia hebat juga dalam berbasa-basi denganku. “Aku mau kuliah disini aja di Indonesia. Ngga mau jauh-jauh karena ilmu disini juga sama hebatnya kayak diluar sana.” jawabku seadanya. Din tampak tidak merasa sakit hati dengan apa yang aku katakan. Padahal aku menyinggungnya saat itu. Yaiyalah, PeDe banget dia mau ke Madinah. Pinter aja kagak. Eeeeh, mimpi kesana. Parah bangetlah dia itu PeDenya. Coba kalau Ree yang ngomong begitu. Aku percaya dia bisa pergi kuliah kemanapun yang dia mau.
**
Semakin hari, semakin menjadi-jadi rasa benciku kepadanya. Banyak orang yang peduli padanya. Padahal orang-orang yang peduli padanya itu hanya pura-pura. Aku tau. Karena mereka pernah curhat kalau mereka ngga suka dengan Din. Huh sebel! Aku sih ngga munafik. Tapi tetep aja sih basa-basi dengan Din is numero uno! hihii..
**
Hari Rabu, jadwal mata kuliah yang aku paling suka. Sekaligus mata kuliah yang paling Din tidak kuasai. Iyalah.. Dosen nanya apa ke dia. Eh jawabnya engga nyambung sama sekali. Ree tuh yang paling jago! Jawabannya bukan hanya bikin temen sekelas pada tercengang. Tapi dosen juga dibuat kagum dengan jawaban Ree. Udahlah.. antara Ree dan Din itu bagaikan langit dan bumi.. Posisi aku sendiri? Hmm.. aku angin deh..hihiiii

Seringkali aku lihat Din sudah datang paling pagi. Tumben banget dia belum datang. Ah, gapapa lah. Aku enak. Jadi engga usah lagi basa-basi ngga penting sama dia. Ngga usah lihatin dia yang sok alim diem-diem gitu.

Jam 07:30. Dosennya ngaret 30 menit! bayangkan! 30 menit! BeTe banget kan! Berasa kehilangan waktu berharga untuk belajar mata kuliah yang aku suka! Ih!

Ditengah asyiknya berbincang dengan Ree. Tiba-tiba Mon berdiri dari tempat duduknya. Ketua kelasku yang satu itu menunjukkan ekspresi sedih. “Teman-teman mohon diam sejenak. Ada yang ingin saya sampaikan kepada kalian.” ucap Mon serius. Semua yang tadi lagi berisik-berisiknya ngobrol langsung terdiam, penasaran dengan ucapan Mon selanjutnya.

Mon menghela napas dan membacakan isi SMS yang ada di handphonenya.
“SMS pertama jam 06:58, “Assalamu’alaikum. Mon sudah ada dosen? Maaf, sepertinya Din izin kuliah hari ini. Ada keperluan yang ngga bisa ditinggalkan. Makasih ya Mon.” dan ini sms barusan. “Punten, ini ketua kelasnya Din ya? Ini dengan kakaknya Din. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Din tadi mengalami kecelakaan. Dia meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit.” Minta doanya bagi teman2 kelasnya untuk Din ya.”

Aku yang mendengar kata-kata itu tertohok. Din? Meninggal? Din? Yang kemarin pagi aku basa-basi dengannya. Yang aku benci? Yang aku bilang sok alim itu? Meninggal? Kepalaku pening. Seperti mimpi.

“Nah, dosennya telat banget hari ini. Kayaknya memang ngga akan masuk kelas karena bentrok jadwalnya dengan kelas lain. Bagi teman2 yang bersedia. Kita segera ke rumahnya Din untuk takziyah sekaran juga.” ajak Mon.

Ree yang pertama kali bilang, “aku ikut.” akhirnya mempengaruhi aku untuk datang melihat Din yang sudah tak bernyawa.
Hah, beneran ya Din udah ngga ada? Masa sih?
**
Tubuh Din dibalut kain kaffan putih, wajahnya ditutup kain, tak ada bercak darah sedikitpun meski Kakaknya Din bilang ia kecelakaan terjatuh dari motor dan kepalanya terbentur di trotoar. Ya, Din lupa menggunakan helm saking pentingnya urusan itu.
“Kakak sendiri ngga nyangka dapet kabar kalau Din udah tiada.” ucap kakaknya Din yang wajahnya mirip sekali dengan adiknya itu. Bagai pinang dibelah lonjong, hii.
Ree mengangguk-angguk menunjukkan ekspresi sedih. Ree, kamu tuh baik banget ya sama siapapun.
“Boleh saya lihat wajahnya Din untuk terakhir kalinya Kak?” pinta Ree. Kakaknya menggangguk. Sebenarnya aku heran. Kenapa kakaknya terlihat tidak sedih meski tau adik satu-satunya telah tiada. Dan terjawablah semuanya ketika penutup wajah Din dibuka,

Ya, ia tengah tersenyum. Tersenyum. Din yang pendiam dan berwajah datar itu tersenyum meski wajahnya putih pucat seperti mayat lainnya. “Masya Allah…” ucap Ree. Ia hampir menitikkan airmata. Aku pun terhenyak. Kaget dan bertanya-tanya. Benarkah Din tersenyum?

“Din pergi untuk menemui ibu. Katanya, ibu ingin sekali makan sayur sop. Tanpa pikir panjang. Meski ada kuliah. Din tetap pergi membelikan ibu sop. Setelah pulang dari menemui ibu. Helmnya tertinggal, ketika dia berbelok. Dia lihat ada anak kucing di pinggir jalan yang terus mengeong mencari induknya. Din menolong kucing itu. Dalam perjalanan ia gendong kucing kecil itu ditangannya, sedangkan sebelah tangannya lagi mengendalikan motor. Oleng. Dan tersenggol truk besar. Akhirnya ia terjatuh dengan kucing yang masih ada dipelukan tangan kirinya.” cerita kakaknya Din. Kata kakaknya, Din sempat berpesan agar orang lain menjaga anak kucing itu. Ia tak tega. Dan abru ku tau. Ayah dan ibu dari Din itu bercerai ketika ia masih kecil. Din dulu nakal sekali dan akhirnya ia berhijrah menjadi lebih baik ketika ia dibangku SMA. Sebuah buku yang temannya pinjamkan padanya membuat hatinya tersentuh hidayah dan mulai memperbaiki dirinya. Kulihat dirumahnya ini banyak sekali buku-buku Islami. Dan baru kutau bahwa Din membelinya dengan hasil keringatnya sendiri sebagai tukang cuci piring di warteg dekat kampus. tak kusangka dirimu begitu baik Din.

Teringat olehku, ketika kamu berkata untuk lanjut kuliah ke Madinah. Ternyata, kau pergi ke tempat yang lebih baik dari itu. Insyaa Allah, menuju syurga-Nya. Aku kagum. Kau bukan hanya seorang yang sok alim. Tapi benar-benar alim. Satu hal yang mengagetkanku. Kau tengah menghapal Al-Quran. Sungguh aku kini kagum padamu, Din.

————————–
Terinspirasi dari seseorang dan oranglainnya πŸ™‚ terima kasiiiiiih

Read Full Post »