Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Januari, 2017

Butir Ingatan

Illustrasi oleh Adinda

Setiap orang memiliki butir ingatannya sendiri. Butir-butir itu berterbangan disekitar mereka, menunggu saat yang tepat untuk dapat merasuk pada bagian ingatan. Melalui aroma parfum yang pernah ia hirup, melalui bunyi yang pernah ia dengar, melalui alunan lagu yang dulu pernah dinikmati. Melalui banyak hal butir itu bisa melesat masuk. Kemudian memberikan ingatan yang sempurna untuk hari seseorang, mengingat kembali masa lalu yang pernah ia lewatkan dan sempat ia terlupakan.

Sama seperti aku, yang tetiba merasakan kehadiran aku yang dulu. Ditemani sebuah buku Anak Ini Mau Mengencingi Jakarta? Aku terhanyut ke dalam setiap cerita yang disuguhkan. Pertama kali terhisap dalam karya Ahmad Tohari yang aku baca dalam bahasa Indonesia. Meski sebelumnya aku membaca karyanya yang sudah diterjemahkan menjadi Kind Looking Eyes dan juga Karyamin’s Smile, aku tetap menyukai gayanya dalam bercerita.

Aku menemukan diriku lagi. Diriku yang suka membaca, diriku yang terlalu adiktif pada buku. Apapun itu. Komik. Majalah Bobo hingga KaWanku yang sempat aku beli. Novel Anak hingga Dewasa dan agak thriller hingga membuat aku mual dibuatnya. Ada diriku yang dulu, aku temukan ia. Ketika aku menyentuh buku, membaca ceritanya. Membaca sambil berbaring atau telungkup kemudian terduduk, itulah aku yang dulu.

Butir ingatan yang berterbangan itu berhasil masuk pada ingatanku. Melalui aroma buku yang aku hirup, melalui sentuhan lembar per lembar buku yang aku buka dari sore hingga malam ini. Melalui aroma kamar ketika menyendiri. Tidak bersama handphone dan deringnya yang membuat berisik. Tidak bersama internet yang membuat aku lupa diri akan waktu. Tidak juga bersama pensil warna yang akhir-akhir ini sering sekali bersinggungan denganku diatas kertas mana pun yang bisa aku lukis. Kini, hanya aku, dan buku. Kami berdua bersama.

Teringat lagi bahwa dulu, jalan ke toko buku adalah waktu terfavorit sepanjang masa. Ketika Bapak bersedia menghabiskan uangnya agar anaknya bisa membeli buku yang anaknya mau. Buku apa pun, beli di mana pun, bapak tetap bersedia mengeluarkan rupiah dari dompetnya.

Aku. Buku. Tak kenal waktu. Membaca hingga terkantuk. Membaca hingga menangis karena suguhan cerita. Membaca hingga berlembar buku berhasil masuk menyeruak seakan menjadi film yang terputar. Diriku yang dulu kembali muncul. Halo. Apa kabar? Ia menyapa diriku hangat sambil menggenggam sebuah buku yang aku kenal. Aku kangen bersamamu lagi, mau kah kembali ke duniaku? Ia bertanya pada ku sambil mengayunkan buku dalam genggamannya. Aku dibuat tersenyum oleh diriku yang dulu. Aku sangat merindukanmu, merindukanmu sebelum sempat handphone dan internet memisahkan kita berdua, katanya lagi. Dia mengulurkan tangannya yang kosong, mencoba mendapatkan perhatianku lagi.

Aku merindukan aku yang dulu, aku meraih tangannya dan menjabatnya, mengucap terima kasih dan tenggelam dalam kabut bersama diriku yang dulu. Butir ingatan itu membawa ku begitu jauh. Membawa pada ingatan yang telah lalu.

Pernahkah kalian merasakan hal yang sama denganku? Butir ingatan apa yang berhasil memasuki ingatanmu hingga merindukanmu yang dulu? Ceritakanlah, agar kisah ini menjadi alasan bagimu dan menjadi jalan bagi butir ingatan lain untuk merasuk.

 

Purwakarta

7 Januari 2017

7:40pm

Ketika jemari merindu untuk menulis diatas keyboard laptop. Ketika diri ini selalu merasa ingin menulis sehabis membaca buku.

Iklan

Read Full Post »