Feeds:
Pos
Komentar

Archive for April, 2016

 

Aku melihatnya lagi. Ia tampak baik-baik saja. Masih dengan senyuman yang ku kenal 10 tahun yang lalu, bahkan lebih. Ingin sekali bertemu dengannya. Menyapanya melalui senyuman, hingga aku dapat melihat senyum khas darinya. “Apa kabar mu?” Itu yang hendak ku tanyakan padanya. Meski aku tau, sejujurnya aku ingin menerima jawaban yang lebih dari sekedar “aku sehat”.

Dari kisahnya, selama kita berpisah sekian tahun. Aku pasti. Aku yakin. Bahwa ada hal yang dapat membuatku bangga terhadapnya. Senang bisa mengenalmu. Senang bisa turut dalam cerita kehidupanmu. Ingin sekali segera bertemu. Menyapa. Bersalaman. Bercerita banyak hal. Meski yang aku inginkan adalah kedua bibirmu yang berbicara banyak kisah. Terima kasih. Aku sangat berterima kasih. Atas hari-hari dalam pertemuanmu denganku. Dari awal. Sejak melihatmu. Aku merasa sangat kecil bagai debu. Ingin ku raih apa yang kau raih. Ingin aku gapai apa yang telah kau gapai. Tetapi, kita sungguhlah berbeda. Bahagianya menjadi dirimu, bukan? Aku rindu, membaca blogmu yang kini tak lagi kau urusi. Dia sudah berdebu, kau tau? Kau sangatlah luar biasa dalam pandangan mataku. Bahkan ketika fotomu yang muncul, aku merasa sangat bahagia.

 

Terimakasih…

Terima kasih banyak…

 

Untuk teman yang tidaklah dekat. Untuk teman yang ku kenal sejak lama.

 

Kala sendiri.

17.52

Purwakarta

Iklan

Read Full Post »

“Ummi, tadi Isniah melihat berita di televisi. Palestina lagi-lagi diserang oleh Israel. Mengerikan sekali Ummi. Isniah sampai tidak bisa menahan tangis. Kasihan anak-anak di sana, mereka harus merasakan ketegangan di malam hari ketika kita di sini tertidur lelap,” ucap Isniah dengan raut wajah sedih.

Ummi menatapnya pilu. Ummi tau pasti bahwa anak gadisnya ini memiliki empati terhadap hal kecil sekalipun. Waktu itu pernah Isniah menangis karena Abang Mochtar tidak sengaja melempar sarung keatas anak kucing yang sedang tertidur lelap di sofa hingga mengeong minta tolong. Isniah sampai ngambek pada Abang Mochtar dan tidak mau melepaskan pelukannya dari anak kucing malang itu. Akhirnya setelah Abang Mochtar membujuk Isniah dan meminta maaf (dibantu Ummi juga), Isniah mau untuk berhenti ngambek. Sekarang, Isniah turut prihatin dan ikut sedih atas musibah juga ujian yang menimpa negeri Palestina. Terkadang Ummi tidak sengaja mencuri dengar doa Isniah setelah shalat maghrib di kamarnya. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim, saudara Isniah tertimpa lagi ujian dari-Mu Ya Rabb. Semoga saudara Isniah di Palestina bisa terus bersabar dan bertawakal atas apa yang Engkau timpakan. Ya Rabb, pasti anak-anak di sana terus kehilangan ayahnya, kehilangan tempat bermainnya, tapi yang Isniah tau, anak-anak Palestina tak pernah merasa kekurangan makanan, karena apa yang Engkau beri, sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan perut mereka. Ya Allah Ya Rahim, jika Isniah menjadi salah satu anak Palestina, mungkin kah Isniah bisa setegar mereka?. Ummi terenyuh mendengar isi doa anak gadisnya itu dan mengaminkan dari balik pintu kamar Isniah.

“Ummi, Abang besok akan pergi keliling kompleks, remaja masjid kompleks mau meminta sumbangan untuk dikirimkan ke Palestina nantinya. Jadi, sepulang sekolah Abang langsung pergi ya Ummi,” izin Abang Mochtar sambil menyuapkan sarapannya ke dalam mulut. Isniah yang mendengar hal itu buru-buru tancap gas untuk berbicara, meski nasi goreng di mulutnya belum terkunyah semua.

“Bang, Isniah juga ingin ikutan, boleh kan bang?” bujuk Isniah. Abang Mochtar menanggapinya dengan mengernyitkan dahi, seakan menjawab dengan isyaratnya bahwa Isniah kan harus mengaji nanti sore. “Isniah nanti izin ke ustadzah Salamah tidak ikut mengaji dulu sore ini… Ya Bang ya… Ummi boleh ya Isniah ikut dengan Abang?” bujuk Isniah lagi. Ia benar-benar ingin ikut dengan Abang Mochtar, semoga dengan Isniah ikut meminta sumbangan untuk Palestina. Isniah bisa ikut membahagiakan anak-anak Palestina di sana.

“Setoran hapalanmu itu loh Isniah, kamu mau nunggak hapalan ke Ustadzah Salamah?” jawab Abang Mochtar. Baginya, meminta bantuan sumbangan itu penting, tapi setor hapalan juga penting. Apalagi hanya tinggal beberapa halaman lagi Isniah sudah hampir hapal 5 juz. Abang Mochtar bukan tidak mau Isniah ikut, tapi nanti ada masa nya Isniah bisa ikut menjadi penggalang bantuan sumbangan. Tentu setelah setor hapalan nanti.

Isniah tampak kecewa dengan jawaban Abang Mochtar. Ingin sekali rasanya Isniah ikut ambil bagian untuk menggalang sumbangan bagi Palestina. Ummi yang melihat raut kekecewaan di wajah Isniah, segera menghiburnya dengan sebuah solusi. “Coba Isniah bantu Abang Mochtar menggalang sumbangan ketika Isniah mengaji nanti. Inshaa Allaah kawan-kawan Isniah bersedia menyisihkan uang jajannya untuk disumbangkan,” ucap Ummi lembut, sambil mengelus kepala Isniah yang terbalut kerudung syar’i. Ucapan Ummi tadi benar-benar manjur. Isniah kembali sumringah dan dengan senyum lebar bersedia menjadi penggalang dana untuk Palestina di tempatnya mengaji.

“Nah, kalau itu Abang setuju. Biar kami yang sudah gede aja yang keliling kompleks. Isniah bisa bantu di tempat mengaji!” seru Abang Mochtar.

Pagi itu sangat cerah, secerah wajah Isniah yang beranjak pergi ke sekolah bersama Abang Mochtar dengan sepeda. Ya Allah mudahkanlah Isniah untuk meminta sumbangan bagi Palestina nanti ya. Semoga yang lain bisa mendapat pahala atas apa yang mereka berikan dengan ke-ikhlasannya. Hanya Engkau yang mengetahui isi hati makhluk-Mu Ya Rabb. Doa Isniah dalam hati.

Jam dinding di pojok ruang tamu menunjukkan pukul setengah tiga lebih lima menit. Waktunya Isniah pergi mengaji. Tak lupa Isniah membawa stoples ukuran sedang yang nantinya akan digunakan untuk menggalang sumbangan.

“Buat apa itu?” tanya Fafa sambil menunjuk kearah stoples yang dijinjing Isniah dengan tas tangan. Sobat Isniah yang satu ini nampak penasaran dengan stoples tanpa kue di dalamnya itu.

“Aku mau menggalang dana untuk Palestina,” ujar Isniah. “Tapi nanti aku akan jelaskan lagi di tempat mengaji,” lanjutnya. Fafa menggangguk tanda mengerti.

Dengan senyuman ramah khas ustadzah Salamah. Kegiatan mengaji di rumah ustadzah Salamah dimulai dengan tilawah masing-masing murid, sambil menunggu adzan ashar berkumandang. Isniah yang sudah melakukan tilawah, segera berlari kecil mendekati ustadzah Salamah yang sedang membetulkan bacaan salah satu anak muridnya.

“Assalamu’alaikum ustadzah…” salam Isniah pelan lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan ustadzah. Stoples yang dipeluk dengan tangan kirinya ia simpan disampingnya.

“Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh, ada apa nak?” jawab ustadzah lembut, melirik stoples yang ada di sisi Isniah.

“Ustadzah, bolehkah Isniah menggalang sumbangan untuk Palestina di sini?” izin Isniah sopan, kemudian Isniah menjelaskan alasan mengapa ia meminta sumbangan di sini dan menceritakan betapa sedihnya ia ketika melihat anak-anak Palestina. Ustadzah Salamah menggangguk dan terus tersenyum ketika Isniah bercerita. Sekali-kali ustadzah ikut mengernyitkan dahi tanda prihatin. Tentu saja ustadzah juga tau perihal ujian yang menimpa Palestina kini. Dan ustadzah semakin terharu mengetahui anak muridnya ini juga begitu tinggi rasa kepeduliannya terhadap kejadian yang menimpa Palestina.

“Tentu saja boleh nak. Kamu bisa menggalang dana ketika nanti selesai mengaji. Inshaa Allaah yang lain juga akan membantu, dan Ustadzah juga akan membantu,” kata Ustadzah Salamah. Tak henti-hentinya Isniah tersenyum dan berterimakasih telah diberi kesempatan. Alhamdulillah Ya Allah atas kesempatan yang Engkau berikan kepada Isniah.

Seluruh murid sudah selesai menyetorkan hapalannya. Begitu juga Isniah yang bersiap dengan stoplesnya untuk menggalang sumbangan. Sebelumnya Ustadzah meminta Isniah untuk menceritakan kondisi Palestina yang diketahuinya dihadapan murid lainnya. Semua murid begitu iba. Fafa yang mendengarkan cerita Isniah dengan seksama pun hampir mengucurkan air mata.

“Teman-teman, Alhamdulillah. Kita lebih beruntung daripada anak-anak lainnya. Kita masih bisa sekolah dengan tenang dan tidur dengan nyenyak. Semoga yang teman-teman sumbangkan nanti akan dibalas oleh Allah dengan balasan yang baik,” ucap Isniah dipenghujung ceritanya. Para murid mulai menyerbu kedepan, memasukan sumbangannya kedalam toples yang Isniah pegang. Semuanya memberikan seluruh uang jajannya tanpa ragu. Murid yang masih kecil pun ikut menyumbang. Kini, stoples yang tadinya kosong, menjadi penuh dengan uang yang diberikan oleh kawan-kawan Isniah. Alhamdulillah.

Malam hari sebelum tidur, Isniah menyempatkan diri untuk menulis di buku harian miliknya. Sambil memandangi stoples yang hampir penuh dengan uang koin dan uang kertas. Isniah tersenyum dan mulai menulis.

Bismillahirahmannirahim.

Hai buku harian, aku mau cerita nih. Tadi di tempat ustadzah Salamah aku menggalang dana untuk saudara Muslim ku di Palestina. Kata Fafa, dia ingin sekali pergi ke sana dan bertemu terus bermain dengan anak-anak Palestina. Alhamdulillah, uangnya banyak. Tadi aku dibantu ustadzah menghitung uangnya dan dapat dua ratus ribu lho. Aku senang banget! Alhamdulillah… uangnya mau aku kasih ke Bang Mochtar, biar Abang nanti yang kasih ke Palestina langsung. Oh iya, aku nanti mau minta sumbangan juga di kelas. Supaya banyak teman-teman yang menyumbang dan membantu saudara Muslim Palestina.

Doaku untuk Saudara Muslim Palestina, semoga mereka bisa bertahan dalam kondisi sulit karena Allah subhanahu wata’ala akan tetap merahmati mereka sampai kapan pun.

Udah dulu ya buku harian, aku mau tidur, besok harus bangun tahajud bareng Ummi.

==========================================

Curhat Penulis

Tulisan yang sudah lama tersimpan di folder kumpulan cerpen. Semoga bermanfaat! 🙂

7:10am

Bandung

Read Full Post »

prtsc ktb shun

Perkenalkan, aku Raga. Seorang siswa kelas 2 SMA yang akan menceritakan sedikit kehidupanku. Aku akan menceritakan kisah aku dan adikku Firma. Umur kami berbeda 3 tahun. Namun rasanya, dia jauh lebih mengetahui banyak hal dibandingkan diriku.

Ketika dia kecil dulu. Rasanya sangat bahagia bisa menggenggam kedua tangannya yang lebih kecil dari tanganku saat itu. Senyumnya juga lebih manis daripada senyumku. Tapi, semua berbeda ketika dia tumbuh. Ia lebih kuat dibandingkan aku. Kata orang, aku lebih kewanitaan daripada kelelakian. Aku tidak pernah menganggap hal itu benar. Tubuhku masih tubuh seorang lelaki meski suaraku yang sudah mengalami tahap pubertas ini rasanya tidak berubah dan terdengar lebih lembut. Lagi, ketika temanku melihat aku dan kemudian melihat Firma. Pasti kami akan dibandingkan. Selalu begitu. Kakak dan adik tak pernah luput dari adanya perbandingan. Dari sisi manapun itu.

“Oy Raga,” Eba menepuk kepalaku pelan. Aku sedang melamun saat itu. Memikirkan Firma, tentu saja bekal yang harusnya dibawa olehnya tertinggal di rumah. Pada akhirnya aku hanya bisa membawa bekal tertinggal miliknya. Akan sangat menghamburkan makanan jika tidak ada yang memakannya.

Aku menoleh kearah Eba yang duduk tepat dibelakangku dan melirik pada guru yang tengah menjelaskan materi penyimpangan sosial, Sosiologi. “Apa?” tanyaku pada Eba.

Eba memberikan sebuah kertas padaku dan kembali bersikap seakan fokus pada apa yang guru terangkan. Aku membuka secarik kertas yang dia berikan dan membaca jelas tulisan yang tertera,

Aku melihat Firma pergi bersama seorang wanita tadi pagi

Aku terhenyak, seorang wanita? Bahkan aku tidak tau teman seperti apa yang Firma miliki.

#NulisRandom2015

#day24

24 Juni 2015

7 Ramadan 1436 H

12:17 pm

==========================

Curhat Penulis

Terinspirasi dari sebuah anime. Kakak dan adik, Shun Matsuoka dan Fuyuki Matsuoka. I really love to see ’em in a chibi form~

“Mampu bekerja keras adalah bakat yang terbaik.”

Read Full Post »